Chapter Thirty Nine
Who Is The Hero
POV: Yoga
Pagi Lebaran itu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, HP-ku berdering bukan dari penagih.
Berdering dari semua orang.
Nadia menerbitkan semuanya pukul enam pagi. Email 14 Maret. Bukti dari brankas Sheren. Kesaksian Dimas, Wulan, Gilang. Kronologi malam takbiran. Semuanya, rapi, lengkap, tidak bisa dibantah.
Pukul delapan, berita itu sudah ada di mana-mana. Pukul sepuluh, nama Hendro Wirawan muncul di judul-judul yang dua tahun lalu memuat namaku. Pukul dua belas, pihak bank mengeluarkan pernyataan resmi: peninjauan ulang kasus, permintaan maaf, pemulihan nama baik mantan Kepala Keamanan Siber mereka.
Dua tahun. Butuh dua tahun untuk hancur, dan satu malam takbiran untuk pulih.
Aku membaca pernyataan resmi itu di teras Dapur Angel, dikelilingi orang-orang yang tidak pernah peduli pada pernyataan resmi apa pun. Bu Endang menangis. Tole membaca keras-keras sambil tersedak-sedak. Angelica duduk di sampingku, menggenggam tanganku, tidak berkata apa-apa.
Aku menatap layar yang menyatakan aku tidak bersalah.
Dan anehnya, aku tidak merasakan apa-apa. Atau lebih tepatnya, aku sudah merasakannya jauh sebelum pernyataan itu keluar. Aku sudah dibersihkan—bukan oleh bank, bukan oleh berita, tapi oleh delapan anak di teras, oleh dua debt collector yang pulang pucat, oleh Bu Sukesih yang menyebutku malaikat, oleh ayah yang membawa motherboard.
Pernyataan resmi itu hanya kertas yang menyusul apa yang sudah lama benar.
Lila tidak bicara padaku sepanjang pagi.
Dia duduk di pojok teras, membaca semua berita di HP-nya, menggulir, berhenti, menggulir lagi. Wajahnya pucat. Dan setiap kali aku meliriknya, dia buru-buru menunduk.
Menjelang siang, dia berdiri. Berjalan ke arahku. Berhenti dua langkah di depanku.
“Mas,” katanya. Suaranya kecil. “Aku mau nanya satu hal. Dan Mas harus jawab jujur.”
Aku menaruh HP. “Tanya.”
Dia menatapku lama. Matanya mulai basah.
“rising itu Mas, kan?”
Teras hening.
Aku menatap gadis tujuh belas tahun yang sejak umur dua belas mengidolakan nama yang ditulis dengan huruf kecil. Yang membelaku di sekolah sampai lututnya berdarah. Yang bilang kenapa Mas nggak kayak rising, tanpa tahu dia sedang bicara pada rising sendiri.
Aku bisa berbohong. Aku sudah ahli berbohong untuk melindungi orang.
Tapi aku sudah capek diam.
“Iya,” kataku. “rising itu aku.”
Lila tidak bergerak. Air matanya turun, satu per satu, tapi dia tidak menghapusnya.
“Dari kapan Mas tahu aku ngidolain rising?”
“Dari hari pertama kamu cerita soal dia. Di dapur. Soal biara di Tibet.”
“Dan Mas diem aja.” Suaranya bergetar. “Tiap aku ngebanggain rising di depan Mas, Mas diem aja. Tiap aku bilang kenapa Mas nggak kayak rising, Mas—” dia menutup mulutnya. “Ya Tuhan. Mas pasti ngerasa gimana.”
“Lila—”
“Aku ngatain idolaku sendiri di depan idolaku sendiri,” katanya, setengah menangis setengah tertawa, suara khas remaja yang emosinya terlalu besar untuk satu wajah. “Aku bilang rising pasti lebih keren dari Mas. Aku bilang Mas pasti nggak ngerti capture the flag. Aku—astaga, Mas, aku malu banget.”
Dan lalu dia memelukku. Keras. Menangis di bahuku, seperti adik yang menangis ke kakaknya, dan aku tahu—dengan cara yang membuat dadaku penuh—bahwa kata “kakak ipar” yang pernah disebut Sheren sudah mulai jadi kenyataan jauh sebelum ada yang menikah.
“Mas keren,” isaknya di bahuku. “Mas keren banget. Lebih keren dari rising yang aku bayangin. Soalnya rising yang aku bayangin nggak pernah ngajarin anak SD. rising yang aku bayangin nggak pernah ngilangin pinjol kakakku diem-diem. rising yang aku bayangin cuma—cuma legenda. Mas nyata.”
Aku memeluk adik yang belum resmi jadi adikku itu, di teras dapur katering, di pagi Lebaran, dan aku tidak menahan air mataku lagi.
Sore itu, aku pergi.
Sendirian. Dengan kereta lokal yang sama yang pernah membawa Angelica dua bulan lalu, meski aku belum tahu itu.
Dua jam perjalanan. Ke kota sebelah. Ke deretan kios di depan pasar tradisional, terjepit di antara toko emas dan penjual pulsa.
Broto Cell.
Bapak sedang menutup kios saat aku datang. Pintu rolling door setengah turun. Dia berhenti saat melihatku, tangan masih di gagang pintu.
“Yoga.”
“Bapak.”
Kami berdiri di situ, di depan kios kecil yang luasnya tidak sampai tiga kali tiga meter, di bawah langit sore yang berwarna seperti teh susu.
“Bapak baca beritanya,” katanya akhirnya. Suaranya serak. “Semuanya. Hari ini.”
“Iya.”
“Nama kamu udah bersih.”
“Iya, Pak.”
Dia mengangguk pelan. Lalu dia menaikkan kembali rolling door-nya, membukanya, dan masuk ke dalam kios. “Masuk,” katanya. “Bapak mau nunjukin sesuatu.”
Aku masuk.
Dan aku berhenti.
Papan gabus di dinding belakang. Papan gabus yang selama dua tahun kosong, dengan paku-paku bekas yang tidak pernah dicabut.
Tidak kosong lagi.
Di sana, tertancap di paku-paku yang menunggu dua tahun, foto-fotoku sudah kembali. Foto wisuda SMA. Foto menang lomba komputer umur lima belas, memegang piala plastik. Guntingan koran beasiswa. Dan di tengah, paling besar, foto hari pertamaku masuk Bank Nusa Raya—aku berdasi, canggung, dengan Bapak di sampingku dalam kemeja batik terbaiknya.
Dan di sampingnya, foto baru. Dicetak buru-buru, masih mengkilap. Foto dari berita hari ini: aku berdiri di teras Dapur Angel, berbicara di depan kamera, di malam takbiran.
Di bawah foto itu, dengan spidol, tulisan tangan Bapak yang miring dan besar-besar:
ANAK SAYA. YANG JAGA KEAMANAN DUIT ORANG SE-INDONESIA. PINTER DIA.
Persis kalimat yang dulu ia ucapkan ke setiap pelanggan. Kalimat yang kudengar dari Mang Ujang, bukan dari Bapak sendiri, karena Bapak tidak pernah bisa mengatakannya langsung ke aku.
Kali ini dia menuliskannya. Di mana aku bisa membacanya.
“Bapak pasang semuanya lagi,” kata Bapak, berdiri di sampingku, menatap papan gabus itu. “Tadi pagi. Begitu Bapak baca beritanya.” Suaranya pecah. “Paku-pakunya masih ada, Yog. Bapak nggak pernah nyabutnya. Bapak cuma—” dia berhenti. “Bapak cuma nunggu.”
Aku menatap papan gabus itu.
Lalu aku menatap laki-laki tua di sampingku, yang tidak pernah bisa bilang Bapak bangga, yang menunjukkannya dengan paku-paku yang tidak pernah dicabut.
“Bapak,” kataku. Suaraku hampir tidak keluar. “Ada yang mau aku kenalin ke Bapak.”
“Siapa?”
“Yang bawa tempe mendoan itu.”
Bapak menatapku. Lalu, pelan, di balik kacamata tebalnya, matanya menyipit jadi senyum—senyum yang persis, kata orang, seperti senyumku.
“Bapak tunggu,” katanya. “Bawa dia Lebaran kedua. Bapak masakin. Masakan ibumu.” Dia berhenti. “Bapak masih inget resepnya.”
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero reading
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.