← Rising.

Chapter Eleven

Proyek

POV: Yoga


Sesuatu berubah setelah hari itu, dan aku butuh tiga hari untuk menyadari apa.

Angelica tidak lagi menatapku seperti orang yang mengukur lubang kubur. Itu sudah berhenti sejak lama, sebenarnya. Tapi sekarang tatapannya punya isi baru, sesuatu yang lebih berbahaya daripada benci.

Dia menatapku seperti orang yang punya rencana.

Hari pertama, aku tidak curiga. Dia hanya bertanya, sambil lalu, sambil menuang sayur asem ke mangkuk, apakah aku punya HP lain selain HP butut yang kameranya kututup lakban.

“Nggak.”

“Laptop lain?”

“Cuma itu.” Aku menunjuk laptop di meja pojok. Laptop yang sudah empat tahun umurnya, engselnya longgar, baterainya hanya tahan empat puluh menit tanpa colokan.

Dia mengangguk, seolah hanya mencatat untuk kebutuhan sensus.

Hari kedua, ada kardus di meja pojokku.

Kardus putih, masih bersegel, dengan gambar laptop di sisinya. Bukan laptop mahal. Aku tahu harganya, karena aku tahu harga semua barang elektronik di negeri ini, kebiasaan anak tukang servis. Laptop kelas menengah. Cukup kuat. Cukup baru. Cukup untuk membuatku berdiri di depan kardus itu dengan perasaan seperti orang yang menemukan bom.

“Apa ini?”

“Kardus,” kata Angelica dari balik meja kasir, tanpa menoleh.

“Isinya.”

“Laptop.”

“Buat siapa?”

“Buat kamu.”

“Aku nggak mau.”

“Aku nggak nanya kamu mau atau nggak.”

Aku mengenali kalimat itu. Dia mengatakannya di depan pintu kosku, di hari pertama. Aku nggak nanya kamu mau atau nggak. Aku nanya kamu bisa atau nggak. Dan sekarang dia memakai senjata yang sama, dengan senyum tipis yang jelas menunjukkan bahwa dia tahu aku mengenalinya.

“Angelica.”

“Itu bukan hadiah,” katanya. “Itu inventaris. Punya Dapur Angel. Tercatat di buku aset. Kamu cuma minjem buat ngurus sistem kami. Laptopmu udah kayak kakek-kakek, aku takut dia meninggal pas lagi kerja.”

“Aku nggak kerja buat Dapur Angel.”

“Kamu dateng tiap hari, benerin komputer kasir, bikin jadwal piket, ngajarin adikku. Itu namanya kerja.”

“Itu namanya makan siang.”

“Makan siang yang panjang banget.”

Aku mendorong kardus itu kembali ke arah meja kasir. Dia mendorongnya balik dengan ujung jari, tanpa melihat, sambil menghitung kembalian untuk pelanggan.

Kardus itu berpindah lima kali di antara kami sebelum Bu Endang lewat, mengambilnya, dan menaruhnya di atas kulkas.

“Udah,” kata beliau. “Netral. Kayak Swiss.”


Hari ketiga, laptopnya kembali ke meja pojokku. Sudah dikeluarkan dari kardus. Sudah dinyalakan. Sudah dipasangi semua program yang biasa kupakai.

Aku tahu siapa yang melakukannya. Lila. Hanya Lila yang tahu program apa saja yang kupakai, karena dia sudah dua Sabtu duduk di sampingku dan mencatat semuanya diam-diam di bukunya, mengira aku tidak sadar.

“Penolakan ketiga,” kataku pada Angelica.

“Dicatat,” katanya.

“Aku serius.”

“Aku juga serius.” Akhirnya dia menoleh. Dan ternyata wajahnya tidak bercanda. “Yoga. Laptopmu mati dua kali kemarin pas kamu lagi bantu Bu Sukesih ngecek mutasi. Kamu harus nunggu di-charge empat puluh menit. Bu Sukesih nungguin dengan wajah mau nangis.” Dia menyilangkan tangan. “Ini bukan buat kamu. Ini buat orang-orang yang dateng ke sini minta tolong ke kamu.”

Aku membuka mulut untuk membantah.

Lalu aku menutupnya lagi, karena dia benar, dan dia tahu dia benar, dan dia tahu bahwa aku tidak bisa menolak alasan yang bukan tentang diriku sendiri.

Dia memakai kelemahanku melawanku. Dengan rapi. Dengan presisi.

Kalau dia bukan pemilik katering, dia akan jadi negosiator yang menakutkan.

“Dicatat sebagai pinjaman,” kataku akhirnya.

“Dicatat sebagai inventaris.”

“Pinjaman.”

“Inventaris, Yoga. Buku asetnya aku yang pegang.”

Aku duduk di depan laptop itu. Layarnya menyala bersih, terang, tanpa goresan. Kamera kecil di bagian atas layarnya menatapku, bulat dan hitam, seperti mata yang tidak berkedip.

Tanganku bergerak ke saku, mencari gulungan lakban yang selalu kubawa.

“Tunggu,” kata Angelica.

Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celemeknya. Benda kecil, tipis, hitam, seukuran kuku jempol. Penutup kamera geser—jenis yang bisa ditempel di atas kamera dan dibuka-tutup dengan ujung jari.

Dia meletakkannya di sampingku.

“Lakban itu nutup selamanya,” katanya pelan. “Kalau mau buka, harus dicopot, terus nggak bisa ditempel lagi. Yang ini bisa dibuka-tutup kapan aja.” Dia tidak menatapku saat mengatakannya. Dia menatap penutup kecil itu, seolah sedang berbicara dengannya. “Biar kamu yang milih sendiri kapan mau dilihat. Bukan lakban yang milihin.”

Aku menatap benda kecil itu lama.

Lalu aku menatap laptopku yang lama, yang tergeletak di sampingnya. Lakban hitam di kameranya sudah mengelupas di dua sudut sekarang, menguning di pinggirnya, menempel di sana selama dua tahun seperti plester di luka yang tidak pernah diobati.

Aku mengulurkan tangan ke laptop lama itu.

Dan dengan kuku, pelan, aku mencopot lakbannya.

Butuh waktu. Lemnya sudah mengeras. Lakban itu tidak mau lepas dengan mudah, seperti dia juga sudah terbiasa di sana. Tapi akhirnya lepas, meninggalkan bekas lengket berbentuk persegi di sekitar kamera kecil yang sudah dua tahun tidak melihat apa pun.

Aku menggulung lakban itu jadi bola kecil dan menaruhnya di meja.

Angelica tidak mengatakan apa-apa. Tapi aku melihat tangannya, yang memegang pinggiran meja kasir, mengencang. Seperti orang yang menahan diri untuk tidak bertepuk tangan di tempat yang tidak semestinya.

Aku menempelkan penutup geser itu di laptop baru. Menggesernya. Tertutup. Menggesernya lagi. Terbuka.

“Satu,” kata Angelica, sangat pelan, hampir tidak terdengar.

“Apa?”

“Nggak.” Dia kembali ke kasir. “Ngitung kembalian.”


Sore itu, Bu Narti mengetuk pintu kamarku.

Ketukan sopan. Dua kali. Itu sudah jadi kebiasaannya sejak minggu lalu, sejak dia memutuskan aku “anak baik yang lagi susah” dan bukan “anak muda zaman sekarang”. Aku tidak tahu kapan tepatnya perubahan status itu terjadi, tapi aku curiga ada hubungannya dengan Angelica yang sekarang mengantar nasi kotak gratis ke Bu Narti setiap Jumat.

“Mas Yoga,” kata Bu Narti. “Ada tamu.”

Aku membuka pintu.

Di belakang Bu Narti, berdiri seorang laki-laki paruh baya dengan topi pet dan kaus bertuliskan Kopi Mang Udin — Asli Sejak 1998. Dia memegang HP dengan dua tangan seperti memegang burung yang sekarat.

“Ini Mang Udin,” kata Bu Narti, seolah memperkenalkan tamu kehormatan. “Warung kopinya di ujung jalan besar. Dikirim sama Neng Angel.”

Tentu saja.

“Mas,” kata Mang Udin, suaranya parau. “Akun toko saya di aplikasi pesan-antar diambil orang. Semua uang penjualan seminggu kemarin masuk ke rekening yang bukan rekening saya. Saya lapor ke aplikasinya, katanya diproses tujuh hari kerja. Tujuh hari kerja, Mas. Saya bayar sewa tempat tiap tanggal lima. Ini tanggal tiga.”

Aku melihat Mang Udin. Lalu melihat Bu Narti. Lalu melihat ke ujung lorong, ke arah jalan, ke arah dua gang di seberang tempat ada bangunan bercat hijau dengan motor kurir di depannya.

Dia mengirim orang ke pintuku.

Bukan menyeretku keluar. Bukan memaksaku. Dia membawa dunia ke depan pintu, satu orang demi satu orang, dan membiarkanku memilih sendiri apakah akan membukanya.

Sama seperti penutup kamera geser itu.

“Masuk, Mang,” kataku, membuka pintu lebih lebar. “Kamarnya berantakan.”

Mang Udin melangkah masuk, melihat sekeliling—lantai yang mulai bersih, tumpukan bungkus nasi yang sudah dibuang minggu lalu, kardus mi instan di jendela yang masih menghalangi cahaya—lalu menatapku dengan wajah orang yang tidak peduli pada apa pun selain HP di tangannya.

“Bisa, Mas?”

“Kita lihat dulu.”

Aku duduk di lantai. Mang Udin duduk di depanku. Bu Narti, tanpa diundang, duduk di ambang pintu, karena tentu saja dia tidak akan melewatkan pertunjukan ini.

Dan aku bekerja. Bukan dengan cara yang bisa ditonton orang dan membuat mereka berdecak kagum. Dengan cara yang membosankan: memeriksa kapan akun itu terakhir diubah, mencatat apa saja yang diganti, menyusun kronologi, lalu menyusun laporan ke kanal resmi yang tidak bisa disuruh menunggu tujuh hari kerja, karena laporannya sudah menjawab semua pertanyaan yang biasanya mereka tanyakan satu per satu selama tujuh hari kerja itu.

Satu jam kemudian, Mang Udin mendapat telepon dari pusat bantuan aplikasi. Akunnya dibekukan sementara. Rekening tujuan ditandai. Penjualan seminggu kemarin masuk proses penahanan dana.

Mang Udin menutup telepon dan menatapku seperti Bu Sukesih dulu. Seperti aku baru membelah laut.

“Mas, saya bayar berapa?”

“Nggak usah, Mang.”

“Nggak bisa gitu, Mas. Saya nggak enak.”

Aku hampir menolak lagi. Lalu aku teringat Angelica, dan cara dia menyebut semua ini inventaris, dan cara dia tidak pernah membiarkanku menolak apa pun dengan alasan yang hanya tentang diriku sendiri.

“Kopi,” kataku. “Satu gelas. Kapan-kapan saya mampir.”

Mang Udin menatapku. Lalu tertawa, tawa lega yang keras, dan menepuk bahuku begitu kuat sampai aku hampir jatuh dari lantai yang sudah lantai.

“Seumur hidup, Mas! Kopi seumur hidup!”

Di ambang pintu, Bu Narti menghapus air matanya dengan ujung kerudung. “Ya Allah, saya terharu. Saya tahu dari awal Mas Yoga ini anak baik.” Jeda. “Ngomong-ngomong, sewa bulan ini kapan dibayar ya, Mas?”


Malam itu, aku duduk di lantai kamarku dengan laptop lama di pangkuan.

Kameranya terbuka. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun.

Aku tidak menyalakan apa pun yang memakai kamera. Aku hanya membiarkannya terbuka. Menatap lubang kecil hitam itu, yang menatapku balik.

Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Bukan takut, tidak seperti dulu. Bukan juga lega. Sesuatu di antara keduanya. Seperti orang yang membuka jendela setelah lama sekali, dan angin yang masuk masih terasa asing di kulit.

HP-ku berdering. Pesan masuk.

Nomor yang belum kusimpan, tapi aku tahu nomor siapa. Aku hafal nomor itu sejak hari dia menuliskannya di kertas, ditindih sendok plastik, di atas kotak nasi pertama.

Mang Udin nelpon. Katanya kamu nolak dibayar dan minta kopi seumur hidup. Kamu tahu nggak kopi seumur hidup itu jauh lebih mahal dari bayaran?

Aku menatap layar.

Lalu, untuk pertama kalinya, aku membalas pesannya.

Kamu yang ngirim dia.

Balasannya datang dalam empat detik.

Aku cuma ngasih alamat. Yang buka pintu kan kamu.

Aku menatap pesan itu lama sekali.

Lalu aku mengetik sesuatu, menghapusnya, mengetik lagi, menghapusnya lagi. Pada akhirnya aku hanya mengirim satu kata.

Makasih.

Tiga titik muncul di layar. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi.

Lalu:

Sama-sama. Makan siang besok jam dua belas. Jangan telat.

Aku menaruh HP di lantai, layarnya menghadap ke bawah.

Di sudut meja, bola kecil lakban hitam yang tadi siang kucopot masih tergeletak di sana. Aku melihatnya sebentar, lalu memungutnya, dan melemparnya ke tempat sampah.

Masuk.

Aku tidak tahu kenapa itu terasa seperti kemenangan. Tapi malam itu aku tidur lebih cepat dari biasanya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tidak bermimpi tentang papan gabus kosong.

Aku bermimpi tentang tulisan tangan yang tegak dan sedikit miring ke kanan.