← Rising.

Chapter Two

Orang yang Paling Kubenci

POV: Angelica


Aku sudah menyusun daftarnya di kepala, rapi seperti daftar belanja.

Orang-orang yang pantas kubenci, diurutkan dari paling tidak penting ke paling penting. Di urutan paling bawah: tukang parkir di depan pasar yang selalu minta dua ribu padahal tidak pernah benar-benar memarkirkan apa pun. Di atasnya: mantan pacarku semasa kuliah yang pindah ke lain hati sambil membawa blender kesayanganku. Lebih atas lagi: para debt collector yang datang ke dapurku dan berteriak di depan Bu Fatimah, pelanggan tertuaku, sampai beliau menangis dan tidak pernah memesan lagi.

Dan di puncak, sendirian, dengan jarak jauh dari urutan kedua, ada satu nama.

Yoga Pratama.

Aku bahkan belum pernah melihat wajahnya sampai kemarin. Tapi aku sudah membencinya selama setahun penuh, membencinya dengan cara yang terorganisir, membencinya seperti pekerjaan tetap. Setiap kali ada debt collector menelepon, aku menambahkan satu batu bata ke tembok kebencian itu. Setiap kali aku harus menjelaskan ke pelanggan baru bahwa tidak, aku bukan penipu, itu identitasku yang dicuri, aku menambahkan satu lagi.

Jadi kebayang betapa menyebalkannya ini: dari semua orang di muka bumi, satu-satunya yang bisa menyelamatkan dapurku adalah dia.

Semesta punya selera humor yang buruk sekali.

“Neng, mikirin apa? Dari tadi ngulek sambalnya udah jadi bubur.”

Aku melihat ke bawah. Cobek di depanku isinya sudah tidak bisa lagi disebut sambal. Itu sudah jadi pasta, lalu jadi cairan, lalu jadi penyesalan.

Bu Endang mengambil cobek itu dari tanganku dengan lembut tapi tegas, seperti merebut mainan dari anak kecil yang sudah mengamuk. “Neng tidur berapa jam semalam?”

“Cukup.”

“Cukup berapa?”

“Cukup buat nggak pingsan.”

“Itu namanya bukan cukup, Neng. Itu namanya nekat.” Bu Endang mulai membuat sambal baru dari nol, tangannya bergerak tanpa perlu dilihat, karena tangan itu sudah tiga puluh tahun membuat sambal dan bisa melakukannya sambil tidur. “Gimana si teknisi tampan itu? Jadi dibujuk?”

“Dia nggak tampan.”

“Kemarin Neng bilang dia kayak mayat hidup.”

“Iya, mayat hidup.”

“Lah, berarti dulunya tampan dong. Mayat yang tampan.” Bu Endang mengangguk puas pada logikanya sendiri. “Mas yang kayak gitu tuh biasanya kalau udah diurus, diomelin, dikasih makan teratur, tiga bulan juga balik ganteng. Kayak tanaman layu disiram.”

“Bu Endang.”

“Apa?”

“Saya nggak mau nyiram siapa-siapa. Saya mau sistem saya dibuka, saya bayar—eh, enggak, dia nolak dibayar—saya kasih makan, selesai. Transaksi. Habis itu dia balik ke kamarnya, saya balik ke dapur saya, dan kita nggak pernah ketemu lagi seumur hidup.”

Bu Endang menatapku dengan ekspresi yang kukenal betul. Ekspresi orang yang sudah hidup lima puluh tahun dan sudah mendengar ratusan orang berkata “selesai, transaksi” tentang hal-hal yang ternyata sama sekali tidak selesai.

“Iya, Neng,” katanya. Nada suaranya seperti menyetujui anak kecil yang bilang mau jadi astronot. “Transaksi.”

Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan. Berdebat dengan Bu Endang itu seperti berenang melawan arus di sungai yang airnya terbuat dari kecap manis—melelahkan dan kamu tetap akan tenggelam dalam manis.


Masalahnya, Bu Endang tidak sepenuhnya salah soal “mayat yang tampan”, dan itulah yang membuatku kesal.

Aku sudah membayangkan Yoga Pratama ribuan kali selama setahun ini. Di bayanganku, dia selalu berdasi, berambut klimis, duduk di kursi kulit di kantor ber-AC sambil mengetik perintah untuk menghancurkan hidup orang-orang seperti aku. Penjahat berkerah putih. Wajah licin yang tidak pernah kena matahari.

Yang kemarin membuka pintu bukan itu.

Yang kemarin membuka pintu adalah laki-laki kurus dengan tulang pipi terlalu menonjol, rambut yang sudah berbulan-bulan tidak dipotong, kaus kedodoran yang warnanya sudah lupa pernah apa. Tapi matanya. Itu yang mengganggu. Matanya tidak kosong seperti yang kuharapkan. Matanya seperti ruangan yang semua perabotnya ditutup kain putih—bukan karena kosong, tapi karena ada sesuatu di dalamnya yang sengaja tidak mau dilihat siapa-siapa, termasuk pemiliknya sendiri.

Dan ketika dia melihat foto surat tebusan itu, matanya berubah. Hanya sepersekian detik. Kain putih itu tersingkap sedikit, dan di baliknya ada sesuatu yang bergerak cepat, tajam, menghitung. Lalu dia menariknya kembali, menutupnya, dan berpura-pura dia tidak tertarik.

Tapi aku melihatnya. Aku menjual makanan ke dua ribu orang; aku tahu bedanya wajah orang yang tidak lapar dan wajah orang yang sedang menahan lapar.

Dia bisa. Dia tahu dia bisa. Dia cuma tidak mau.

Pertanyaannya: kenapa?

Dan satu lagi, yang lebih kecil, yang kubenci karena muncul sama sekali: kenapa orang yang (katanya) menghancurkan hidupku bisa bilang “maaf” dengan cara yang membuatku kehilangan seluruh pidato yang sudah kusiapkan tiga hari?

Aku mengguncang kepala. Fokus, Angelica. Fokus pada dua belas gaji karyawan dan tenggat tujuh puluh dua jam yang sekarang tinggal lima puluh enam.


Siang itu aku kembali ke kos kamar tujuh, kali ini dengan kotak nasi kedua dan amunisi baru.

Amunisinya bukan kata-kata. Aku sudah kehabisan kata-kata kemarin. Amunisinya adalah map plastik berisi cetakan—daftar dua belas nama karyawanku, lengkap dengan foto, berapa anak mereka, dan untuk apa gaji bulan ini. Pak Darto, sopir, anak tiga, yang bungsu masuk SD tahun ini. Mbak Yuli, bagian packing, menabung buat operasi mata ibunya. Tole, kurir, yang—

Oke, Tole menabung buat beli gaming mouse, tapi tetap saja.

Aku berniat menyodorkan map itu ke celah pintu dan membuat laki-laki itu merasa bersalah secara sistematis, satu wajah demi satu wajah.

Tapi begitu aku sampai di depan pintu kamar tujuh, pintunya sudah terbuka.

Yoga berdiri di ambang. Dia sudah mandi—rambutnya basah, dan dia memakai kaus bersih yang masih kedodoran tapi setidaknya tidak berbau kamar tertutup. Di tangannya ada kotak nasi kosong dari kemarin. Dicuci. Bersih. Dikembalikan.

“Masakanmu enak,” katanya.

Aku berkedip. “...Itu aja?”

“Kamu bilang kalau enak berarti kamu pantas ditolong.” Dia menyerahkan kotak kosong itu. “Masakanmu enak.”

Aku menerima kotaknya. Masih sedikit lembap dari dicuci. Ada sesuatu yang aneh tentang itu—tentang laki-laki yang katanya mayat hidup, yang menyempatkan mencuci kotak makan orang asing sampai bersih sebelum mengembalikannya.

“Jadi kamu mau bantu?”

“Aku punya syarat.”

“Berapa? Aku udah bilang aku nggak—”

“Bukan uang.” Dia memotong, pelan tapi final. “Aku nggak mau uang. Titik. Jangan tawarin lagi.”

“Terus apa?”

Dia diam sebentar, seolah syaratnya sendiri terasa memalukan untuk diucapkan.

“Makan siang,” katanya akhirnya. “Selama aku ngerjain ini. Sehari sekali. Masakanmu.”

Aku menatapnya.

Dari semua syarat yang mungkin diajukan oleh seorang mantan kepala keamanan siber bank yang pekerjaannya dulu dinilai ratusan juta—dia minta makan siang. Nasi kotak. Yang harga pokoknya mungkin dua belas ribu.

“Kamu serius.”

“Aku selalu serius. Itu salah satu masalahku.”

Entah kenapa, kalimat itu—diucapkan dengan datar, tanpa niat melucu—membuat sesuatu di dadaku berdenyut aneh. Aku memutuskan untuk mengabaikannya.

“Deal,” kataku cepat, sebelum dia berubah pikiran. “Makan siang tiap hari. Tapi aku mau sistemku kebuka maksimal dua hari, bukan tiga. Tenggatnya mepet.”

“Satu hari.”

“...Satu hari?”

“Mungkin kurang. Tergantung seberapa bodoh orang yang bikin ransomware-nya.” Dia melirik ke dalam kamarnya, ke arah laptop berdebu di sudut. Untuk sesaat, ekspresinya berubah lagi—kain putih tersingkap—lalu tertutup. “Kamu bawa sistemnya ke mana? Aku nggak punya alat di sini yang cukup.”

“Bawa ke dapur. Komputernya di sana. Semuanya di sana.”

Dia ragu. Aku bisa melihat keraguan itu bergerak di wajahnya seperti awan lewat. Keluar dari kamar ini—dari dua puluh tiga langkah yang sudah ia kuasai, dari lampu lorong dan segitiga cahaya dan rutinitas yang menjaganya tetap hidup-tapi-tidak-hidup—jelas bukan hal kecil baginya.

“Dua gang dari sini,” kataku, lebih pelan dari yang kuniatkan. “Cat hijau. Nggak jauh.”

“Aku tahu di mana.”

“Oh. Iya. Motor kurir.”

Dia mengangguk sekali. Lalu, setelah jeda yang terasa seperti dia sedang mengumpulkan sesuatu dari dalam yang sudah lama tidak dipakai, dia melangkah keluar.

Dia berhenti di lorong, menyipit, satu tangan naik menutupi mata.

Hanya cahaya matahari sore biasa, menyaring lewat genting fiber di ujung lorong. Tapi dia berdiri di situ, mengerjap, seperti orang yang baru keluar dari bioskop di tengah hari, atau seperti orang yang baru keluar dari sesuatu yang jauh lebih gelap dari bioskop.

Aku pura-pura tidak melihat. Aku tahu dia tidak mau dilihat.

“Lama nggak keluar siang?” tanyaku, memandang lurus ke depan.

“Dua tahun,” katanya.

Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku tidak menjawab. Kami jalan berdampingan menuju mulut gang, dia menyipit sepanjang jalan, dan untuk alasan yang tidak bisa kujelaskan, aku memperlambat langkahku supaya dia tidak perlu mengejar.


Dapur Angel sedang dalam mode kiamat kecil.

Begitu kami masuk, Bu Endang yang pertama bereaksi. Beliau menjatuhkan sutil, menyeka tangan di celemek, dan berjalan menghampiri Yoga dengan kecepatan yang tidak wajar untuk perempuan lima puluh tahun.

“Ya ampun, ini tho yang teknisi itu.” Beliau mengamati Yoga dari ujung rambut sampai sandal jepit, seperti juri kontes. “Kurus banget, Nak. Mas udah makan belum? Astaga tulang pipinya. Duduk, duduk, Ibu goreng tempe dulu.”

“Bu Endang, dia ke sini buat kerja, bukan—”

“Kerja butuh tenaga, Neng. Tenaga butuh tempe.” Logika Bu Endang, lagi, tak terbantahkan. Beliau sudah menyeret kursi dan hampir mendudukkan Yoga secara paksa.

“Saya baru makan tadi,” kata Yoga. “Masakan Angelica.”

Hening sepersekian detik.

Bu Endang menoleh ke arahku. Matanya menyipit, lalu melebar, lalu menyipit lagi, dan di dalamnya aku bisa melihat seluruh skenario pernikahan sedang disusun dari awal, lengkap dengan susunan kursi dan menu prasmanan.

“Angelica,” ulang Bu Endang, menekankan setiap suku kata. “Bukan Neng Angel. Angelica.”

“Itu namanya,” kata Yoga, bingung.

“Semua orang manggil dia Angel, Nak.”

Yoga melirik ke arahku. Aku balas menatapnya, menantang dia untuk mengomentari.

“Namanya Angelica,” katanya akhirnya, dan berpaling ke arah komputer. “Angel kedengarannya kayak nama yang kamu kasih ke orang yang kamu udah kenal.”

Dan dengan itu dia duduk di depan komputer kasirku, menyingsingkan lengan kaus yang kedodoran, dan untuk pertama kalinya sejak dia membuka pintu kemarin, kain putih di matanya tersingkap—dan kali ini tidak ditutup kembali.

Jari-jarinya di atas keyboard. Punggung yang sedari tadi membungkuk mulai tegak. Kepalanya sedikit miring, seperti orang mendengar musik yang tidak bisa didengar orang lain.

“Berapa lama sistem ini jalan sebelum kekunci?” tanyanya. Suaranya berubah. Lebih jernih. Lebih cepat.

“Pagi tadi. Jam setengah tujuh waktu aku buka pesanan, udah merah semua.”

“Ada yang colok flashdisk kemarin? Klik link di email? Download apa pun yang kelihatan resmi tapi datang dari pengirim yang nggak kamu kenal?”

“Enggak—” Aku berhenti. “Tole.”

“Siapa Tole?”

“Kurirku. Dia kemarin bilang dapat email ‘tagihan paket tertahan’, dia klik di komputer dapur karena HP-nya lowbat.”

Yoga menutup mata sebentar, seperti berdoa atau seperti menahan sakit kepala.

“Panggil Tole.”

Aku berbalik untuk memanggilnya, tapi Tole sudah berdiri di ambang pintu dapur, memegang sekotak kerupuk, dengan ekspresi anak anjing yang tahu dia mengunyah sandal tapi belum tahu seberapa besar masalahnya.

“Aku denger namaku,” kata Tole lirih. “Aku dalam masalah, ya?”

“Kamu,” kata Yoga, tanpa menoleh, matanya tetap di layar yang kodenya mulai mengalir cepat di bawah jarinya, “baru saja mengajariku satu hal penting.”

“Apa, Mas?”

“Bahwa celah terbesar biasanya bukan di mesinnya.” Jarinya tidak berhenti. “Tapi di orang yang lowbat.”

Tole berpikir keras sebentar.

“...Itu pujian bukan sih?”

“Bukan,” kata Yoga dan aku, bersamaan.

Kami saling melirik. Aku memalingkan muka lebih dulu.

Di belakang kami, Bu Endang menggoreng tempe dengan senyum yang sangat, sangat lebar.