← Rising.

Chapter Twenty Four

Surat yang Sopan

POV: Yoga


Nasi Bu Sri rasanya sama seperti dua tahun lalu.

Itu yang paling menyakitkan. Bukan karena rasanya buruk. Karena rasanya persis sama, dan aku yang berubah. Dulu nasi ini cukup. Sekarang setiap suapan terasa seperti mengunyah sesuatu yang hilang.

Aku makan di lantai kamar. Gorden krem di jendela kubiarkan terbuka. Dari sini, kalau aku berdiri dan melongok sedikit, aku bisa melihat sudut atap gudang beras di seberang dua gang.

Aku tidak berdiri.

Aku tahu dia ada di sana setiap malam. Aku melihat siluetnya di kursi plastik, di malam pertama, sebelum aku memaksa diriku menutup gorden. Malam kedua, aku tidak menutupnya. Aku hanya tidak melihat.

Malam ketiga, aku melihat.

Dia duduk di sana sampai lewat tengah malam. Tidak bergerak. Menatap ke arah jendela ini.

Aku mematikan lampu kamar supaya dia tidak bisa melihatku berdiri di balik kaca. Lalu aku berdiri di sana dalam gelap, sama lamanya dengan dia.


Dia nggak kedip.

Aku tidak tahu Angelica mengucapkan kalimat itu. Bu Endang yang menceritakannya, empat hari kemudian, saat beliau mencegatku di depan warung Bu Sri dengan wajah yang belum pernah kulihat. Bukan marah. Lebih buruk dari marah. Kecewa.

“Neng duduk di lantai dua jam,” kata beliau. “Ngomong itu terus. Dia nggak kedip. Kayak orang yang lagi nyari-nyari di mana salahnya.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Ibu nggak tahu apa yang kamu omongin ke dia, Nak,” lanjut Bu Endang. “Ibu nggak mau tahu. Tapi Ibu udah hidup lima puluh tahun.” Beliau menepuk dadaku, satu kali, keras. “Orang yang nggak kedip waktu nyakitin orang yang dia sayang, itu bukan orang jahat. Itu orang yang lagi nahan sakit lebih gede.”

Beliau pergi sebelum aku sempat mengatakan apa pun.


Kesepakatan dengan Pak Hendro tidak pernah diucapkan di depan siapa pun. Tidak perlu. Sheren yang menyampaikan pesannya di bawah pohon jambu Pak RT, dengan suara yang bergetar dan mata yang tidak bisa menatapku: Papa bilang, kalau kamu berhenti, tempat itu aman.

Aku sudah berhenti. Aku sudah pergi.

Tapi berhenti mencari bukan berarti aku harus membiarkan semua yang sudah terjadi pada Dapur Angel tetap tercatat begitu saja. Kecoak di berita acara. Puluhan ulasan palsu. Semua itu masih di sana. Kalau besok ada orang lain yang ingin menyakiti Angelica, semua itu masih bisa dipakai.

Pak Hendro bisa berhenti menekan. Tapi bekasnya tetap ada.

Jadi aku mulai menulis surat.


Surat pertama untuk dinas yang melakukan inspeksi.

Aku tidak menulisnya dengan marah. Orang marah menulis surat yang mudah diabaikan. Aku menulisnya dengan sopan. Sangat sopan. Seperti surat dari warga yang baik hati, yang hanya ingin memastikan semuanya berjalan sesuai prosedur.

Aku mencantumkan tanggal inspeksi. Nomor berita acara. Lalu aku mencantumkan sesuatu yang tidak diketahui Angelica: laporan masyarakat yang memicu inspeksi itu dikirim dari alamat surel sebuah perusahaan jasa kebersihan yang terdaftar atas nama adik ipar seseorang. Data perusahaannya publik. Siapa pun bisa mencarinya.

Aku tidak menyebut nama Pak Hendro. Aku tidak perlu. Aku hanya menulis satu kalimat di akhir paragraf: Kami khawatir laporan ini didorong oleh persaingan usaha, bukan kepedulian terhadap kesehatan masyarakat, dan memohon Bapak/Ibu meninjau kembali berita acara tersebut.

Lalu aku melampirkan foto-foto dapur Angelica yang diambil Lila untuk kelas teras minggu lalu. Lantai bersih. Wastafel bersih. Kulkas tertata. Tempelan jadwal piket bersih-bersih dengan tulisan tanganku di kolom paling kanan: Bu Endang jangan angkat galon, pinggangnya.

Surat kedua untuk aplikasi pesan-antar dan layanan peta.

Puluhan ulasan bintang satu. Aku mendaftarnya satu per satu. Tanggal pembuatan akun—semuanya di minggu yang sama. Pola kalimat—hampir sama, seperti ditulis satu orang yang mengganti beberapa kata. Tidak ada riwayat pesanan sama sekali dari akun-akun itu ke Dapur Angel. Tidak satu pun pernah benar-benar membeli.

Aku melaporkannya lewat jalur resmi untuk ulasan palsu. Rapi. Lengkap. Tidak bisa ditunda.

Surat ketiga tidak kukirim ke mana-mana.

Surat ketiga kutulis untuk Angelica, lalu kusimpan di folder yang sama dengan Laporan 14 Maret.


Aku menulisnya pukul tiga pagi, saat lampu di atap gudang beras sudah lama padam dan seluruh gang tidur.

Aku tidak tahu kapan dia akan membacanya. Mungkin tidak akan pernah. Tapi aku menulisnya, karena kalau aku tidak menulisnya, kata-kata itu akan terus berputar di kepalaku sampai subuh, seperti kata nasabah di malam pertama.

Angelica,

Aku bohong.

Bukan soal semuanya. Soal Jejak, itu benar. Aku memang tahu dari hari pertama bahwa yang mengunci sistemmu adalah orang yang sama. Tapi aku nggak dateng tiap hari karena itu. Aku dateng karena makan siangmu enak. Lalu karena Bu Endang. Lalu karena Lila. Lalu karena kamu.

Terutama karena kamu.

Aku nggak pernah manfaatin kamu. Aku nggak tahu cara manfaatin orang. Aku cuma tahu cara berdiri di depan gerbang. Dan waktu ayah Sheren mulai nyerang dapurmu, aku cuma kepikiran satu cara buat nutup gerbangnya: aku harus pergi. Dan supaya kamu nggak ngejar, aku harus bikin kamu benci aku lagi.

Aku nggak kedip karena kalau aku kedip sekali aja, aku bakal nangis di depanmu, dan kamu bakal tahu.

Kamu bilang aku ninggalin dengan cara yang kedengarannya mulia. Kamu bener. Aku ngelakuin lagi. Ke kamu. Orang yang paling nggak pantes ditinggalin.

Maaf.

Aku nggak minta kamu maafin aku. Aku cuma nggak mau kamu benci aku karena alasan yang salah.

Lagi.

— Y.

Aku membaca surat itu sekali. Lalu menutup laptop.

Aku tidak menangis. Aku masih belum ingat caranya.

Tapi tanganku gemetar saat menutup laptop, dan gemetar itu tidak berhenti sampai azan subuh.


Sembilan hari kemudian, Lila mengirim pesan.

Pertama kalinya sejak aku pergi. Aku hampir tidak membukanya, karena aku tahu apa pun isinya akan menyakitkan.

Mas. Dinas kirim surat ke Kakak. Berita acaranya dicabut. Katanya hasil peninjauan ulang. Terus ulasan-ulasan bintang satu di aplikasi ilang semua, tiba-tiba, dalam semalem.

Jeda. Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

Kakak nggak ngomong apa-apa. Tapi Kakak naik ke atap. Lama banget. Terus pas turun, matanya merah.

Jeda lagi.

Itu Mas, kan?

Aku menatap pesan itu lama.

Aku mengetik bukan. Kuhapus.

Aku mengetik jangan bilang Kakakmu. Kuhapus juga.

Pada akhirnya aku tidak membalas apa pun.

Tapi malam itu, saat aku berdiri di balik jendela gelap dan melihat siluet di kursi plastik di atap gudang beras, siluet itu tidak lagi menatap ke arah jendelaku dengan diam.

Siluet itu berdiri.

Dan melambaikan tangan.

Pelan. Ke arah jendela yang gelap. Ke arah aku yang dia tidak bisa lihat, tapi dia tahu ada di sana.

Aku tidak melambai balik.

Tapi aku menyalakan lampu.