Chapter Forty
Nasi Bungkus Dua
POV: Angelica
Dalam sebulan setelah Lebaran, Yoga Pratama berubah dari nama yang dihindari jadi nama yang diperebutkan.
Tawaran datang bertubi-tubi. Perusahaan-perusahaan besar yang dua tahun lalu ikut mencoret namanya sekarang mengirim surat resmi, menelepon, bahkan mengirim orang langsung ke Dapur Angel—yang membuat Bu Endang punya hobi baru: menilai calon pemberi kerja Yoga dari seberapa sopan mereka dan seberapa mereka mau makan tempe yang beliau sodorkan.
“Yang tadi nolak tempe,” lapor Bu Endang suatu sore. “Ibu nggak suka. Sombong.”
“Bu, dia cuma lagi diet.”
“Diet itu awal dari sombong, Neng.”
Yoga menolak hampir semuanya. Dengan sopan. Dengan tenang. Dengan cara yang sama ia menolak uang di hari pertama.
“Kenapa kamu tolak semua?” tanyaku suatu malam, di atap gudang beras, tempat yang sudah jadi tempat kami. “Itu tawaran bagus. Gaji gede. Nama kamu balik ke atas.”
Dia menatap lampu-lampu gang di bawah kami.
“Aku udah pernah di atas,” katanya. “Lantai tiga puluh satu. Gedung kaca. Orang manggil aku Pak padahal umurku dua puluh delapan.” Dia menggeleng pelan. “Terus semuanya runtuh, dan nggak ada satu pun dari orang-orang di lantai itu yang gedor pintu kamar kosku.”
Dia menoleh ke arahku.
“Yang gedor pintuku orang dapur katering,” katanya. “Yang nolongin aku bangkit anak-anak teras, tukang kopi, ibu kos. Yang bikin namaku bersih bukan pengacara mahal, tapi wartawan temen kamu sama kesaksian orang-orang biasa.” Dia tersenyum. “Aku nggak mau balik ke lantai tiga puluh satu, Angelica. Yang di bawah sini lebih hangat.”
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
“Terus kamu mau ngapain?”
“Aku udah tahu dari dulu mau ngapain,” katanya. “Cuma dua tahun aku lupa.”
Dia memberitahuku rencananya seminggu kemudian.
Bukan kerja di perusahaan. Dia mau membangun sekolah. Sekolah keamanan digital gratis, untuk anak-anak yang belajar dari warnet seperti dirinya dulu. Dari tawaran-tawaran yang ia tolak, satu ia terima dengan syarat: bukan gaji untuk dirinya, tapi dana untuk sekolah itu. Beberapa perusahaan setuju. Nama Yoga Pratama, ternyata, cukup berharga untuk ditukar dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari gaji.
“Aku butuh tempat,” katanya. “Buat kelasnya. Teras Dapur Angel kekecilan kalau muridnya nambah terus.”
“Kamu minta izin aku?”
“Aku minta pendapat kamu.” Dia tersenyum. “Aku lagi belajar, inget?”
Dan begitulah, kelas teras yang dulu cuma tiga anak dan satu piring pisang goreng, pelan-pelan tumbuh jadi sesuatu yang lebih besar. Kami menyewa ruko kosong dua pintu dari Dapur Angel. Lila jadi asisten pengajar. Dimas, Wulan, Gilang bergantian datang di akhir pekan. Putri, yang sekarang kelas enam, jadi murid termuda sekaligus maskot.
Tapi ruko itu belum punya papan nama.
Setiap kali aku bertanya, Yoga bilang, “Belum. Belum waktunya.”
Aku tidak memaksa. Aku sudah belajar, dari dia, cara menunggu.
Dia datang ke dapur suatu siang, pukul dua belas tepat—bukan dua menit lebih awal seperti biasa.
Aku langsung tahu ada yang beda. Karena dia telat dua menit dari kebiasaan barunya, dan Yoga tidak pernah telat tanpa alasan.
Dia membawa kantong plastik.
“Makan siang,” katanya.
“Aku yang masak makan siang, Yoga. Itu kerjaan aku.”
“Hari ini aku yang bawa.”
Dia meletakkan kantong plastik itu di meja. Lalu mengeluarkan isinya.
Dua bungkus nasi. Dari warung Bu Sri. Dibungkus daun dan kertas cokelat, diikat karet, persis seperti nasi bungkus yang dulu ia beli setiap hari selama dua tahun—sendirian, satu bungkus, untuk tidak mati.
Tapi sekarang dua.
Aku menatap dua bungkus nasi itu. Lalu menatapnya.
“Dulu aku beli satu,” katanya. Suaranya pelan. Tenang, tapi ada getaran di bawahnya. “Tiap hari. Dua tahun. Satu bungkus, karena aku sendirian, dan aku makan cuma biar nggak mati.” Dia menatap dua bungkus di meja. “Terus kamu dateng. Bawa kotak nasi. Isinya selalu lebih dari cukup. Dan kamu selalu masukin tempe mendoan dua potong—satu buat dimakan, satu buat disimpen.”
Dapur mulai sunyi. Bu Endang berhenti di kompor. Tole berhenti dengan sutil di udara.
“Aku mikir,” lanjut Yoga, “selama ini kamu yang selalu kasih aku dua. Dua tempe. Dua potong. Selalu ada yang bisa disimpen.” Dia menelan sesuatu. “Hari ini aku mau gantian. Aku mau yang beli dua. Aku mau, mulai sekarang, aku yang mastiin kita selalu beli berdua. Makan berdua. Nyimpen yang terbaik buat satu sama lain.”
Dia merogoh saku.
Dan Bu Endang menjerit tertahan sebelum benda itu bahkan keluar.
Bukan cincin mahal. Cincin sederhana, perak, polos. Jenis yang dibeli orang yang baru saja memutuskan untuk tidak mengambil gaji besar demi membangun sekolah gratis.
Tapi aku tidak pernah melihat benda yang lebih indah.
“Angelica Wiradinata,” kata Yoga, berlutut di lantai dapur yang masih ada tepung tumpah di sudutnya, di antara dua bungkus nasi dan panci-panci dan aroma opor. “Tiga bulan lalu kamu gedor pintu kamarku dan maksa aku balik hidup. Kamu nyalain lampu-lampuku satu per satu. Kamu berdiri di sampingku waktu seluruh dunia ngira aku salah.” Suaranya pecah. “Aku nggak tahu cara jadi orang yang pantes buat kamu. Tapi aku tahu satu hal: aku nggak mau beli nasi bungkus sendirian lagi. Nggak pernah lagi.”
Air mataku sudah tidak bisa dibendung.
“Nikah sama aku,” katanya. “Biar aku bisa beli dua tiap hari. Seumur hidup.”
Aku tidak menjawab dengan kata-kata.
Aku berlutut juga, di lantai dapur yang kotor, dan memeluknya, dan mengangguk di bahunya, berkali-kali, sampai dia tertawa dan bilang “itu iya atau enggak” dan aku memukul lengannya dan bilang “iya, bego, iya.”
Di belakang kami, dapur meledak.
Bu Endang menangis sambil berteriak Ibu udah siapin menu kateringnya dari tiga bulan lalu! Tole menangis sambil menelepon entah siapa. Mbak Yuli dan Pak Darto bertepuk tangan. Lila, yang entah kapan masuk, berdiri di ambang pintu dengan HP terangkat, merekam semuanya, menangis dan tertawa bersamaan.
“AKHIRNYA PUNYA KAKAK IPAR BENERAN!” teriaknya.
Malam itu, di atap gudang beras, Yoga menunjukkan HP-nya padaku.
Layar kunci. Kotak kata sandi. Kursor berkedip.
“Kamu masih inget,” katanya, “waktu kamu ngintip kata sandiku dulu?”
“Broto.” Aku tersipu. “Maaf. Aku emang suka ngintip.”
“Aku ganti waktu Bapak pulang,” katanya. “Jadi tanggal Bapak dateng bawa motherboard.” Dia menatapku. “Tapi hari ini aku ganti lagi.”
Dia mengetiknya pelan, membiarkanku membaca dari gerakan jarinya, seperti aku membacanya dulu.
Lima huruf.
a-n-g-e-l.
“Angel,” bisikku.
“Kamu bilang aku cuma boleh manggil kamu Angel sekali,” katanya. “Di saat aku bener-bener takut kehilangan. Aku udah pakai jatahnya, di pagi Lebaran itu.” Dia tersenyum. “Jadi sekarang aku simpen di sini. Biar tiap kali aku buka HP, aku manggil kamu Angel. Tiap hari. Tanpa ngelanggar janji.”
Aku menatap lima huruf di layar itu.
Nama yang paling ia jaga, yang paling berarti untuknya, yang ia pakai sebagai kunci ke hal-hal yang paling ingin ia lindungi.
Dulu nama ayahnya.
Lalu tanggal ayahnya pulang.
Sekarang aku.
“Kamu tahu,” kataku, suaraku bergetar, “buat ahli keamanan, kamu payah banget bikin kata sandi. Selalu pakai yang gampang ditebak.”
“Aku tahu,” katanya, menarikku lebih dekat. “Celah terbesarku emang selalu hal-hal yang aku cintai.”
Dan dia menciumku, di atap gudang beras, di bawah langit malam yang penuh bintang, dengan HP yang layar kuncinya masih menyala—satu nama, lima huruf, kunci ke seluruh hidupnya.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua reading
- 41 Epilog — Rising.