Chapter Sixteen
Mimpi yang Dibungkus
POV: Angelica
Kopi seumur hidup ternyata harus diambil langsung.
“Mang Udin nelpon lagi,” kataku pada Yoga suatu sore, sambil menutup kotak-kotak nasi untuk pesanan arisan. “Katanya kamu udah tiga minggu nggak mampir. Katanya kopi seumur hidup itu janji, dan janji itu utang, dan dia nggak mau mati bawa utang.”
“Mang Udin umurnya baru lima puluh.”
“Dia bilang hidup nggak ada yang tahu.”
Yoga menatapku dari meja pojok dengan ekspresi orang yang sudah kalah sebelum berdebat. Itu ekspresi yang makin sering kulihat akhir-akhir ini, dan aku mulai menyukainya lebih dari yang seharusnya.
“Kamu ikut,” katanya.
Itu bukan pertanyaan.
Warung Kopi Mang Udin ada di ujung jalan besar, lima belas menit jalan kaki dari dapurku. Kami berjalan berdampingan di trotoar yang retak-retak, di bawah langit sore yang berwarna seperti teh susu.
Ini pertama kalinya kami berjalan bersama tanpa tujuan pekerjaan. Bukan mengantar pesanan. Bukan ke kelurahan. Bukan ke rumah orang yang minta tolong. Hanya berjalan, ke warung kopi, karena seorang bapak-bapak berkumis memaksa kami.
Rasanya seperti kencan. Aku tidak mau menyebutnya kencan. Tapi tubuhku jelas menganggapnya kencan, karena aku mengganti baju tiga kali sebelum berangkat dan Lila memergokiku di depan cermin memakai lipstik.
“Kak mau ke mana?”
“Warung kopi.”
“Pakai lipstik?”
“Bibirku kering.”
“Itu warnanya merah bata, Kak. Itu bukan lipstik bibir kering. Itu lipstik kondangan.”
Aku melempar bantal ke arahnya dan pergi sebelum dia sempat mengambil foto.
Di sampingku, Yoga berjalan dengan tangan di saku jaket. Dia sudah berubah banyak dalam dua bulan ini. Rambutnya akhirnya dipotong—Bu Endang yang memaksanya ke tukang cukur di pasar, dan tukang cukurnya, sesuai instruksi Bu Endang, memotongnya “biar kelihatan kayak calon mantu”. Wajahnya sudah tidak setirus dulu. Kausnya masih kedodoran, tapi sekarang karena memang modelnya begitu, bukan karena badannya menyusut.
Dan dia berjalan dengan punggung tegak. Dulu, di minggu-minggu pertama, dia berjalan seperti orang yang berusaha tidak memakan tempat di dunia. Sekarang tidak lagi.
“Kamu ngeliatin lagi,” katanya, tanpa menoleh.
“Aku ngeliatin jalan.”
“Jalannya di depan. Kamu ngeliat ke samping.”
“Ada kucing.”
Dia melirik ke samping. Tidak ada kucing. Hanya tiang listrik dengan selebaran sedot WC yang sudah robek.
Dia tidak berkomentar. Tapi sudut bibirnya bergerak, dan aku memutuskan bahwa hidup ini kadang adil.
Mang Udin menyambut kami seperti menyambut presiden.
Dia mengosongkan meja terbaik—meja di pojok dekat jendela, satu-satunya yang taplaknya tidak bolong—dan membuatkan dua gelas kopi tubruk dengan gula aren, lalu sepiring pisang goreng yang tidak kami pesan, lalu sepiring tahu isi yang juga tidak kami pesan, lalu mengumumkan ke seluruh pelanggan warung bahwa “ini Mas yang nyelametin akun toko saya, dan ini calonnya, yang punya Dapur Angel.”
“Mang, bukan calon—”
“Iya, iya, Neng. Belum.” Mang Udin mengedipkan mata dengan sangat tidak halus, lalu kembali ke balik meja sambil bersiul.
Aku menunduk ke gelas kopiku, berharap uapnya bisa menyembunyikan wajahku.
Yoga tidak bilang apa-apa. Tapi dia juga tidak membantah.
Aku memperhatikan itu.
Kami duduk lama di warung itu. Kopi pertama habis, Mang Udin membawakan kopi kedua tanpa diminta. Matahari turun pelan di balik deretan ruko di seberang jalan.
Dan entah bagaimana, di gelas kopi kedua, Yoga mulai bercerita.
Bukan tentang bank. Bukan tentang kebocoran. Bukan tentang hal-hal berat yang ia simpan di folder bernama tanggal. Dia bercerita tentang hal yang tidak pernah kudengar sebelumnya.
“Dulu aku punya rencana,” katanya, memutar gelas kopinya pelan di atas taplak. “Waktu masih di bank. Aku nabung sedikit-sedikit. Rencananya, umur tiga puluh lima, aku keluar. Buka sekolah.”
“Sekolah apa?”
“Sekolah gratis. Buat anak-anak yang belajar komputer dari warnet.” Dia tersenyum tipis, seolah malu pada mimpinya sendiri. “Aku belajar semuanya sendiri. Dari buku bekas. Dari forum. Dari nyoba-nyoba, salah, nyoba lagi. Nggak ada yang ngajarin. Bapak cuma bisa ngajarin benerin HP. Ibu cuma bisa bilang ‘jangan kemaleman.’ Dan aku mikir—berapa banyak anak di luar sana yang otaknya lebih encer dari aku, tapi berhenti di tengah jalan karena nggak ada yang nunjukin arah?”
Aku diam. Aku tidak mau memotong.
“Aku nggak mau bikin mereka jadi orang kayak aku,” lanjutnya. “Aku mau bikin mereka jadi orang yang jaga. Yang jaga data orang tua mereka, data tetangga mereka. Yang ngerti kalau internet itu bukan hutan rimba yang harus ditakutin, tapi juga bukan taman bermain yang aman-aman aja.” Dia menatap jalan di luar jendela. “Indonesia nggak perlu takut sama internetnya sendiri. Itu yang kutulis di halaman belakang buku catatan, dulu. Kedengarannya norak, ya?”
“Nggak,” kataku. Suaraku keluar lebih serak dari yang kuniatkan. “Nggak norak sama sekali.”
Dia menoleh. Menatapku.
“Kelas Sabtu,” kataku pelan. “Delapan anak. Bu Narti. Ibu-ibu pengajian. Pak Lurah dan staf kelurahan.” Aku menelan sesuatu di tenggorokan. “Kamu udah mulai, Yoga. Kamu udah mulai bikin sekolahnya. Cuma belum ada papan namanya.”
Dia menatapku lama sekali.
Lalu dia menunduk ke gelas kopinya, dan aku melihat jakunnya bergerak naik-turun, seperti orang yang menelan sesuatu yang besar.
“Belum ada papan namanya,” ulangnya pelan.
“Belum.”
Mang Udin datang membawa kopi ketiga. Kami berdua menolak bersamaan. Mang Udin menaruhnya di meja juga, karena tentu saja.
Malam itu, aku tidak bisa tidur lagi. Ini sudah jadi kebiasaan buruk sejak aku mengenal laki-laki itu.
Aku membuka catatan Proyek di HP. Aku menatap daftarnya.
Lalu aku menambahkan satu baris di paling bawah.
6. Papan nama.
Aku belum tahu caranya. Aku belum tahu di mana, kapan, dengan uang siapa. Yang kutahu hanya satu: suatu hari nanti, sekolah itu akan punya papan nama. Dan papan nama itu tidak akan memakai nama orang lain.
Lalu mataku naik ke nomor lima.
5. Broto Cell. Belum sekarang. Tapi nanti.
Aku menatap tulisan itu lama. Lalu aku membuka peta di HP, dan mengetik dua kata.
Broto Cell.
Ada empat hasil. Tiga di kota-kota jauh. Satu di kota sebelah, dua jam perjalanan dengan kereta lokal.
Aku memperbesar gambarnya. Foto dari jalan, diambil entah kapan oleh mobil kamera peta. Kios kecil, tidak sampai tiga kali tiga meter. Papan nama dari seng dengan tulisan cat biru yang sudah pudar. Etalase kaca. Dan di dalam, samar-samar di balik kaca yang memantulkan cahaya, sebuah papan gabus di dinding belakang.
Papan gabus yang kosong.
Hari Minggu, aku naik kereta lokal pukul tujuh pagi.
Aku tidak memberi tahu siapa pun. Pada Lila, aku bilang mau belanja bahan di pasar induk kota sebelah. Pada Bu Endang, aku tidak bilang apa-apa, tapi beliau menatapku saat aku mengambil tas, lalu tersenyum dengan cara yang membuatku curiga beliau tahu lebih banyak dari yang ia tunjukkan.
Kereta lokal itu penuh pedagang sayur dan anak-anak sekolah minggu. Aku duduk di dekat jendela dengan kotak nasi di pangkuan. Bukan nasi kotak biasa. Isinya nasi putih, ayam bakar, tumis buncis, dan tempe mendoan yang digoreng tipis, garing di pinggir, lembut di tengah. Aku menggorengnya sendiri pukul lima pagi, tiga kali, sampai hasilnya benar.
Aku tidak tahu kenapa aku membawanya. Aku hanya tahu aku tidak bisa datang dengan tangan kosong.
Broto Cell ternyata ada di deretan kios di depan pasar tradisional. Terjepit di antara toko emas yang tutup dan penjual voucher pulsa. Persis seperti di foto, hanya lebih kecil, lebih tua, lebih lelah.
Di balik meja servis, seorang laki-laki tua sedang membungkuk di atas HP yang terbuka, memegang obeng sebesar tusuk gigi. Rambutnya hampir putih semua. Bahunya lebar tapi sudah turun, seperti bahu orang yang sudah lama memikul sesuatu. Kacamatanya tebal, dan di balik kacamata itu, matanya—
Aku berhenti di depan etalase.
Matanya sama. Cokelat sangat tua, seperti kopi yang terlalu lama diseduh.
“Cari apa, Mbak?”
Suaranya serak dan pendek. Suara orang yang tidak terbiasa bicara lebih dari yang diperlukan.
“Charger,” kataku, terlalu cepat. “Yang... yang tipe C.”
Dia mengangguk, mengambil satu dari etalase tanpa bertanya lagi, dan meletakkannya di meja. “Tiga puluh lima.”
Aku mengeluarkan uang. Tanganku sedikit gemetar. Dan saat dia menghitung kembalian dengan jari-jari tua yang berbekas luka solder di beberapa tempat, aku menatap ke balik bahunya.
Papan gabus itu ada di sana.
Kosong. Sama sekali kosong.
Tapi tidak benar-benar kosong. Di permukaannya, tertancap paku-paku payung kecil. Tujuh atau delapan. Tersebar di seluruh papan, masing-masing di tempat yang dulu pasti menahan selembar foto. Paku-paku itu tidak dicabut. Fotonya diambil, tapi pakunya dibiarkan. Seolah orang yang mencopot foto-foto itu tidak sanggup mencabut juga tempat mereka tergantung.
Seolah dia menyisakan tempat. Untuk suatu hari nanti.
“Mbak?”
Aku tersentak. Dia menyodorkan kembalian.
“Maaf, Pak.” Aku menerima uangnya. Lalu, sebelum aku sempat berpikir, tanganku sudah meletakkan kotak nasi di atas meja servisnya. “Ini... ini buat Bapak. Saya jualan katering. Lagi promosi.”
Dia menatap kotak nasi itu. Stiker hijau di atasnya: Dapur Angel — Masakan Rumah, Hati yang Penuh.
“Saya nggak pesan.”
“Gratis, Pak. Promosi.” Aku sudah mundur ke arah pintu. “Kalau enak, bilang-bilang ke tetangga.”
Dia masih menatap kotak itu ketika aku keluar.
Aku berjalan cepat ke ujung deretan kios, berbelok, lalu bersandar di dinding toko emas yang tutup. Napasku tersengal seperti habis berlari satu kilometer.
Lalu, karena aku tidak tahan, aku mengintip ke belakang.
Dari kejauhan, aku melihat laki-laki tua itu membuka kotak nasinya. Dia menatap isinya lama. Lalu dia mengambil sepotong tempe mendoan dengan jari-jarinya yang berbekas solder.
Dan dia berhenti.
Tempe itu tertahan di udara, setengah jalan ke mulutnya. Dia tidak memakannya. Dia hanya menatapnya, seperti orang yang menemukan sesuatu yang sudah lama hilang di tempat yang tidak terduga.
Lalu dia melepas kacamatanya dan mengusap matanya dengan punggung tangan.
Aku berbalik dan berjalan ke stasiun tanpa menoleh lagi.
Sepanjang perjalanan kereta pulang, aku menatap jendela dan menangis tanpa suara, dan seorang ibu penjual sayur di sebelahku diam-diam menyodorkan sebungkus tisu tanpa bertanya apa-apa.
Malam itu aku membuka catatan Proyek sekali lagi.
Di samping nomor lima, aku menulis:
Paku-pakunya masih ada. Dia nggak nyabut pakunya.
Aku tidak tahu kenapa hal sekecil itu membuatku begitu yakin. Tapi aku yakin.
Ruang di papan gabus itu belum kosong. Ruang itu sedang menunggu.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus reading
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.