← Rising.

Chapter Twenty Seven

Sheren

POV: Yoga


Sheren datang dua hari setelah artikel itu terbit.

Kali ini dia tidak datang ke Dapur Angel. Dia datang ke kos. Sedan hitam berpelat Jakarta itu diparkir di mulut gang, karena gang menuju kos terlalu sempit untuk mobil, dan dia berjalan kaki sisanya dengan sepatu hak rendah yang jelas tidak dibuat untuk jalanan berlubang.

Bu Narti yang pertama melihatnya. Tentu saja.

“Mas Yoga!” Ketukan sopan dua kali, lalu suara berbisik yang sama sekali tidak berbisik. “Ada tamu! Cantik! Kayak artis! Bukan Neng Angel!”

Lalu, lebih pelan, dengan nada yang tiba-tiba waspada: “Mas, Neng Angel tahu?”

Aku membuka pintu.

Sheren berdiri di lorong, di bawah lampu kuning yang tidak pernah dimatikan Bu Narti. Dia memegang tasnya dengan dua tangan di depan tubuh. Seperti perisai. Seperti dulu.

“Boleh masuk?” tanyanya.

Di ujung lorong, pintu kamar Mbak Ratih terbuka sejengkal.

“Kita ngobrol di bawah aja,” kataku.


Kami duduk di bangku kayu panjang di depan warung Bu Sri. Bu Sri menyuguhkan dua gelas teh manis tanpa diminta, lalu menghilang ke dalam dengan wajah orang yang akan menceritakan ini ke seluruh gang sebelum magrib.

Sheren tidak menyentuh tehnya. Dia menatap jalan.

Dia tidak banyak berubah dalam tiga tahun. Rambutnya masih panjang. Wajahnya masih cantik dengan cara yang tenang, yang tidak menuntut perhatian. Tapi ada sesuatu di sekitar matanya yang dulu tidak ada. Garis halus. Kelelahan yang tidak bisa ditutup riasan.

“Aku baca artikelnya,” katanya.

“Aku tahu.”

“Perempuan katering itu yang cerita ke wartawannya, kan?”

Aku tidak menjawab.

Sheren tersenyum tipis. “Dia sayang sama kamu.”

“Sheren—”

“Nggak apa-apa.” Dia menggeleng. “Aku nggak dateng buat itu. Aku dateng karena ada yang mau aku tanyain. Dan aku udah tiga tahun nggak berani nanya.”

Dia akhirnya menoleh. Menatapku.

“Malam itu,” katanya. “Seminggu setelah beritanya pecah. Kamu dateng ke apartemenku jam sebelas malam. Kamu bilang kamu nggak sayang aku lagi. Kamu bilang pertunangan kita kesalahan. Kamu bilang kamu udah lama mau batalin, cuma nunggu waktu yang pas.” Suaranya tidak bergetar. Dia sudah terlalu sering mengulang kalimat-kalimat itu di kepalanya, sampai kalimat-kalimat itu kehilangan kemampuan untuk membuatnya bergetar. “Kamu nggak kedip waktu ngomong itu.”

Aku menatap gelas teh di tanganku.

“Selama tiga tahun,” lanjut Sheren, “aku percaya. Aku pikir kamu emang nggak sayang aku. Aku pikir skandal itu cuma alasan yang kamu tunggu-tunggu. Aku benci kamu, Yoga. Dengan cara yang tenang. Dengan cara yang nggak pernah aku tunjukin ke siapa pun, apalagi ke Papa.”

Dia mengambil gelas tehnya. Tidak meminumnya. Hanya memegangnya.

“Terus dua minggu lalu, aku dateng ke katering itu. Mau ngingetin kamu soal Papa. Dan aku lihat perempuan itu berdiri di pintu, megang nampan, natap kamu.” Sheren menelan sesuatu. “Seminggu kemudian, Papa bilang ke aku, anak itu udah berhenti. Terus aku denger dari orang kantor bahwa katering itu tiba-tiba aman lagi. Inspeksinya dicabut. Kontraknya balik.”

Dia menatapku lurus.

“Kamu ngelakuin hal yang sama ke dia, kan? Kamu bilang ke dia sesuatu yang bikin dia benci kamu. Terus kamu pergi. Biar dia aman.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak perlu. Sheren mengenalku cukup lama untuk membaca diamku.

“Ya Tuhan,” bisiknya. “Jadi tiga tahun lalu juga.”


Lama sekali kami tidak bicara.

Bu Sri mengintip dari balik tirai warung, lalu buru-buru menghilang lagi. Seorang tukang sayur lewat dengan gerobaknya, membunyikan klakson sepeda yang suaranya seperti bebek tercekik.

“Kenapa?” tanya Sheren akhirnya. Suaranya kali ini bergetar. Akhirnya. “Kenapa kamu nggak bilang yang sebenarnya?”

Aku menatap jalan.

“Karena kalau aku bilang yang sebenarnya,” kataku, “kamu harus milih. Antara aku sama Papa kamu. Dan kamu cuma punya Papa kamu, Sher. Dari kecil. Cuma berdua.”

Sheren menutup mulutnya dengan tangan.

“Aku nggak mau kamu kehilangan dia,” kataku. “Aku pikir lebih baik kamu kehilangan aku. Aku orang luar. Aku bisa digantiin. Papa kamu nggak.”

“Itu bukan keputusanmu.”

“Aku tahu.” Aku tersenyum pahit. “Ada orang yang udah ngomong itu ke aku. Berkali-kali.”

“Perempuan itu.”

“Iya.”

Sheren tertawa. Tawa basah, pendek, di balik telapak tangannya. “Dia bener. Itu bukan keputusanmu, Yoga. Itu nggak pernah keputusanmu.” Dia menurunkan tangannya. Air matanya sudah turun. “Tiga tahun aku benci orang yang salah. Tiga tahun aku sayang Papa dengan cara yang buta. Dan kamu ngebiarin aku. Kamu pikir itu ngelindungin aku.”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf.” Dia menghapus wajahnya dengan punggung tangan, merusak riasan matanya, dan dia tidak peduli. “Aku nggak dateng buat dimintain maaf. Aku dateng karena aku mau tahu yang sebenarnya. Sekarang aku tahu.”


Dia meminum tehnya akhirnya. Satu tegukan panjang. Lalu meletakkan gelasnya dengan pelan.

“Ada satu hal lagi,” katanya.

Aku menunggu.

“Papa nyimpen sesuatu.” Dia menatap gelas kosong di depannya. “Di brankas ruang kerjanya di rumah. Aku nggak tahu apa. Dia nggak pernah buka di depanku. Tapi sejak skandal itu, dia sering ngunci diri di ruang kerja tengah malam. Kadang aku denger dia ngomong sendiri.” Sheren mengangkat wajahnya. “Dulu aku pikir itu stres kerja. Sekarang aku nggak yakin lagi.”

“Sher—”

“Aku nggak minta kamu ngapa-ngapain,” katanya cepat. “Aku cuma mau bilang. Karena dulu kamu yang nyimpen semuanya sendirian. Sekarang aku nggak mau ngelakuin hal yang sama.”

Dia berdiri. Merapikan blusnya. Menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri. Selalu kiri.

“Satu lagi,” katanya, menatapku dari atas. “Perempuan itu. Angelica.”

Aku mendongak.

“Jangan ulangin ke dia apa yang kamu lakuin ke aku.” Sheren tersenyum, dan kali ini senyumnya tulus, meski matanya masih basah. “Dia nggak bakal pergi kayak aku dulu. Aku lihat matanya waktu itu. Dia tipe yang bakal gedor pintumu tiap hari sampai pintunya copot.”

Aku tidak bisa menahan tawa. Pendek. Kaget.

“Dia udah ngelakuin itu,” kataku.

Sheren menatapku lama. Lalu tertawa juga. Tawa yang lebih ringan dari sebelumnya, seperti beban berat baru saja diletakkan dari pundaknya.

“Bagus,” katanya. “Kamu butuh orang kayak gitu, Yoga. Aku dulu terlalu sopan. Aku pergi waktu kamu nyuruh aku pergi.” Dia mengambil tasnya. “Dia nggak bakal pergi. Jangan bikin dia buang-buang tenaga buat gedor pintu terus.”


Sedan hitam itu mundur pelan dari mulut gang dan menghilang.

Aku duduk di bangku kayu di depan warung Bu Sri lama sekali. Teh di gelasku sudah dingin.

Bu Sri keluar membawa piring berisi gorengan, meletakkannya di sampingku, lalu duduk di ujung bangku dengan napas berat.

“Mas,” katanya. “Saya nggak nguping. Cuma kedengeran.”

“Iya, Bu.”

“Cewek tadi itu baik.” Bu Sri mengambil satu tahu goreng. “Kalau mantan saya dulu dateng-dateng ngomong gitu, saya udah siram teh panas.” Dia mengunyah. “Tapi cewek katering itu lebih baik lagi.”

Aku menatapnya.

“Tiap sore dia lewat sini, Mas. Bawa kotak nasi ke kos. Dua minggu nggak putus.” Bu Sri menunjuk ke arah kos dengan tahu goreng di tangan. “Kemarin dia lewat nggak bawa apa-apa. Mukanya bengkak kayak habis nangis semaleman. Saya kira Mas udah ngusir dia beneran.”

“Saya nggak ngusir dia, Bu.”

“Saya tahu. Soalnya dia keluar dari kos sejam kemudian, senyum.” Bu Sri berdiri, membersihkan tangannya di daster. “Mas. Saya udah jualan nasi di sini lima belas tahun. Saya tahu Mas dua tahun makan nasi saya kayak orang makan batu. Nggak ada rasanya.” Dia mengambil gelas-gelas kosong. “Terus Mas berhenti dateng, karena makan di sana. Saya nggak marah. Saya seneng.”

Dia masuk ke warung sebelum aku sempat menjawab.


Malam itu, aku membuka laptop.

Folder Laporan 14 Maret. Di dalamnya, sekarang ada satu file tambahan. Surat yang kutulis pukul tiga pagi, sembilan belas hari lalu, untuk perempuan yang menggedor pintuku setiap hari.

Aku membacanya lagi.

Aku nggak pernah manfaatin kamu. Aku nggak tahu cara manfaatin orang. Aku cuma tahu cara berdiri di depan gerbang.

Lalu aku memikirkan Sheren. Tiga tahun membenci orang yang salah. Tiga tahun mencintai ayahnya dengan cara yang buta. Semua karena aku memutuskan, sendirian, apa yang terbaik untuknya.

Aku memikirkan Bapak. Paku-paku di papan gabus yang tidak pernah dicabut.

Aku memikirkan Angelica, duduk di lantai lorong kos tujuh hari berturut-turut, bersandar di sisi lain pintu, bercerita tentang kue dinosaurus yang jadinya mirip bebek.

Lalu aku memikirkan kalimat Sheren. Jangan bikin dia buang-buang tenaga buat gedor pintu terus.

Aku mengambil HP. Membuka pesan.

Mengetik.

Besok aku dateng makan siang.

Kuhapus.

Mengetik lagi.

Besok aku dateng makan siang. Jam sebelas lima puluh delapan. Dua menit lebih awal.

Kukirim sebelum aku sempat berubah pikiran.

Balasannya datang dalam empat detik. Seperti biasa.

Kenapa dua menit lebih awal?

Aku menatap layar.

Karena aku udah kebanyakan telat.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Muncul lagi.

Lalu:

Tempenya dua.

Aku menaruh HP di dada dan menatap langit-langit kamar yang terang.

Untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, aku tidur sebelum tengah malam.