← Rising.

Chapter Twelve

Kelas Teras

POV: Angelica


Di HP-ku ada catatan yang tidak boleh dibaca siapa pun.

Judulnya Proyek. Hanya itu. Tidak ada nama, karena kalau Lila sampai mengintip—dan Lila selalu mengintip—aku tidak mau dia menemukan kakaknya sedang menyusun rencana membangkitkan seorang laki-laki seperti ilmuwan gila di film horor.

Isinya daftar.

1. Laptop baru. ✓ (ditolak 3x, akhirnya dipakai) 2. Lakban: 1 dari 3. Laptop lama ✓. HP belum. Yang terakhir belum tahu. 3. Orang-orang yang butuh dia. Mang Udin ✓. Bu Sukesih ✓. 4. Kelas. 5. ???

Nomor lima kubiarkan kosong, dengan tiga tanda tanya. Aku tahu apa yang seharusnya ada di sana. Satu nama. Satu kios servis HP di kota yang belum kuketahui di mana. Tapi aku belum berani menuliskannya. Rasanya seperti menuliskan sesuatu yang terlalu rapuh, yang bisa pecah hanya karena diketik.

Hari ini aku mengerjakan nomor empat.


Kelas Sabtu Lila awalnya hanya tiga orang: Lila, Dika, Sasa. Tiga minggu kemudian, jumlahnya delapan.

Aku tidak merencanakan ini. Atau mungkin sedikit. Mungkin aku yang memberi tahu Pak RT bahwa ada “kelas komputer gratis tiap Sabtu pagi di teras Dapur Angel, khusus anak-anak, ada camilannya.” Mungkin aku yang menempel pengumuman di papan musala dengan tulisan sebesar mungkin. Mungkin aku yang meminjam enam kursi plastik dari Bu Narti dengan imbalan nasi kotak tiga hari.

Tapi anak-anaknya datang sendiri. Itu bukan rencanaku.

Ada Dika dan Sasa, yang sekarang datang tanpa dipaksa. Ada Rafi dan Nisa, kakak-adik anak penjual gorengan di ujung gang. Ada Bimo, kelas dua SMP, yang datang karena ibunya bilang lebih baik daripada main bola sampai magrib. Dan ada Putri, kelas lima SD, yang terlalu kecil untuk mengerti apa pun tapi datang karena kakaknya datang dan karena ada pisang goreng.

Delapan anak. Tiga laptop. Satu papan tulis kecil bekas menu harian Dapur Angel yang dibalik.

Dan satu guru yang, waktu kuberi tahu jumlah muridnya pagi tadi, menatapku seperti orang yang baru diberi tahu dia harus memimpin upacara bendera.

“Delapan?”

“Delapan.”

“Laptopnya cuma tiga.”

“Makanya jangan ngajarin yang pakai laptop dulu,” kataku. “Ajarin yang pakai kepala.”

Dia diam lama. Lalu, pelan, dia mengangguk.


Aku tidak tahu apa yang kuharapkan. Mungkin layar penuh tulisan rumit. Mungkin istilah-istilah asing yang membuat anak-anak itu terkagum-kagum tanpa mengerti.

Yang terjadi justru Yoga menulis satu kalimat di papan tulis dengan spidol yang hampir habis:

PENIPU SELALU BIKIN KAMU BURU-BURU.

Lalu dia membagi anak-anak jadi berpasangan. Satu jadi penipu. Satu jadi korban.

“Penipu,” katanya, “tugasnya bikin korban percaya dan bikin dia panik. Korban tugasnya nangkep di mana penipunya ketahuan.”

Bimo langsung mengangkat tangan. “Aku penipu!”

“Kenapa kamu semangat banget?” tanya Sasa curiga.

“Soalnya aku jago bohong ke Mama.”

Semua tertawa. Yoga tidak tertawa, tapi sudut bibirnya bergerak, dan aku melihatnya dari jendela dapur seperti melihat matahari terbit.

Lima belas menit berikutnya adalah lima belas menit paling lucu yang pernah terjadi di teras rumahku.

Bimo menelepon Rafi dengan HP mainan dari kardus. “Selamat siang, Bapak Rafi. Saya dari bank. Rekening Bapak bermasalah. Tolong sebutkan kode yang masuk ke HP Bapak SEKARANG JUGA, kalau tidak uang Bapak hilang semua!”

Rafi, sembilan tahun, berpikir keras. “...Bank apa?”

“Bank... Bank Indonesia!”

“Aku nggak punya rekening. Aku masih SD.”

Bimo kehabisan naskah. Semua tertawa sampai Putri jatuh dari kursi plastik.

Lalu giliran Nisa jadi penipu, dan Nisa ternyata berbahaya. Suaranya lembut, sopan, meyakinkan. Dia bilang pada Dika bahwa Dika menang undian motor dari toko pulsa, hanya perlu transfer biaya administrasi lima puluh ribu dulu. Dika hampir percaya. Dia sudah mengangguk-angguk.

“Stop,” kata Yoga. “Dika. Kamu pernah ikut undian di toko pulsa?”

Dika berhenti. “...Enggak.”

“Terus kamu menang dari mana?”

Wajah Dika berubah. Dari senang, jadi bingung, jadi tersinggung karena hampir tertipu oleh anak kelas empat.

“Itu tanda kedua,” kata Yoga, menulis di papan. MENANG SESUATU YANG NGGAK PERNAH KAMU IKUTI. “Tanda pertama, bikin buru-buru. Tanda kedua, hadiah yang terlalu bagus. Tanda ketiga—” dia menulis lagi, “—minta kode, minta transfer, minta kamu klik sesuatu.”

MINTA KODE. MINTA TRANSFER. MINTA KLIK.

“Kalau ketemu satu dari tiga ini,” katanya, “berhenti. Tutup. Tanya orang dewasa yang kamu percaya.”

“Kalau orang dewasanya yang ketipu gimana, Mas?” tanya Putri, polos.

Yoga diam sebentar.

“Ya kamu yang ngajarin dia,” katanya.


Lila duduk di pojok sepanjang kelas itu, kaki dilipat, tangan menyilang, wajah seperti orang yang dipaksa menonton pertunjukan wayang di acara tujuh belasan.

Saat istirahat, aku keluar membawa pisang goreng gelombang kedua, dan dia langsung menyerbuku.

“Kak,” bisiknya dengan nada pengkhianatan. “Ini kelas apaan? Ini mah penyuluhan ibu-ibu PKK.”

“Kamu nggak suka?”

“Aku kira Mas Yoga mau ngajarin yang beneran. Yang keren. Kayak Sabtu kemarin.” Dia mengambil dua pisang goreng sekaligus. “Ini sih nggak selevel rising, Kak. rising tuh ngebongkar sindikat. Bukan ngajarin anak SD jangan ngasih kode OTP.”

Aku melirik Yoga. Dia sedang duduk di tangga teras, dikerumuni Putri dan Nisa yang menanyakan apakah penipu bisa masuk lewat TikTok. Dia menjawab dengan sabar, satu per satu, seolah pertanyaan dua anak kecil itu adalah hal paling penting di dunia pagi ini.

Dia mendengar ucapan Lila. Aku tahu dia mendengar, karena bahunya berhenti sebentar, lalu bergerak lagi.

“Lila,” kataku. “Menurutmu sindikat yang dibongkar rising itu nipu siapa?”

Lila berkedip. “Ya... orang-orang.”

“Orang-orang kayak apa?”

“Ya kayak...” Dia berhenti.

“Kayak Bu Sukesih,” kataku. “Kayak Mang Udin. Kayak ibunya Rafi dan Nisa yang jualan gorengan dan nggak tahu apa itu OTP.” Aku menaruh piring di meja. “Orang selevel rising mungkin bisa ngebongkar satu sindikat. Tapi kalau delapan anak ini pulang terus ngajarin ibunya masing-masing, mungkin sindikat itu nggak punya korban lagi buat ditipu.”

Lila menatapku. Mulutnya penuh pisang goreng. Dia tidak bisa membantah, dan aku melihat kekesalan di matanya karena dia tidak bisa membantah.

Dari tangga teras, Yoga menoleh ke arahku.

Hanya sekilas. Tapi di wajahnya ada sesuatu yang tidak bisa kusebutkan namanya. Seperti orang yang baru saja dibela oleh seseorang, dan sudah lupa bagaimana rasanya dibela.

Aku buru-buru kembali ke dapur sebelum wajahku melakukan sesuatu yang memalukan.


Pukul sepuluh, sesuatu terjadi yang tidak ada di rencana siapa pun.

Bu Narti datang. Tergopoh-gopoh, kerudung miring, HP di tangan diangkat tinggi-tinggi seperti piala.

“Mas Yoga! Mas Yoga! Saya menang!”

Semua kepala menoleh.

“Saya menang undian! Dari aplikasi belanja! Hadiahnya kulkas dua pintu! Saya cuma disuruh klik link ini terus isi data, terus transfer ongkos kirim—”

Hening.

Delapan pasang mata kecil menatap Bu Narti. Lalu menatap papan tulis. Lalu menatap Bu Narti lagi.

Putri, yang paling kecil, berdiri dari kursi plastiknya. Dia berjalan ke arah Bu Narti dengan langkah penuh wibawa, seperti hakim di sidang.

“Bu Narti,” katanya. “Ibu pernah ikut undiannya?”

Bu Narti berkedip. “Ya... nggak sih. Tapi kan—”

“Itu tanda kedua,” kata Putri, menunjuk papan. “Menang sesuatu yang nggak pernah Ibu ikutin.”

“Terus disuruh klik link,” tambah Rafi. “Tanda ketiga.”

“Terus disuruh transfer,” kata Nisa. “Tanda ketiga juga.”

“Terus Ibu buru-buru banget lari ke sini,” kata Bimo. “Tanda pertama!”

Bu Narti menatap anak-anak itu. Menatap papan tulis. Menatap HP-nya.

Lalu wajahnya pelan-pelan berubah merah, dari leher sampai dahi.

“...Jadi saya hampir ketipu?”

Delapan anak mengangguk serempak.

“Sama anak-anak SD?” Bu Narti menoleh ke Yoga dengan wajah tidak percaya. “Saya dikuliahin anak SD?”

“Bukan dikuliahin, Bu,” kata Yoga pelan. “Diselametin.”

Dan Bu Narti—Bu Narti yang empat bulan menggedor pintu kamar tujuh, yang memanggil Yoga anak muda zaman sekarang, yang selalu punya dua cara untuk menghina dan menasihati dalam satu kalimat—tiba-tiba tertawa. Tertawa keras, lalu memeluk Putri, lalu memeluk Rafi, lalu mencoba memeluk Yoga yang langsung mundur dua langkah.

“Minggu depan,” kata Bu Narti, menghapus air mata tawanya, “saya ikut kelasnya. Boleh ya? Saya bawa ibu-ibu pengajian sekalian.”

Lila, di pojok, berhenti mengunyah.


Malam itu aku membuka catatan Proyek di HP.

Aku mencentang nomor empat.

4. Kelas. ✓ (delapan anak + Bu Narti + ibu-ibu pengajian minggu depan??)

Lalu aku menatap nomor lima lama sekali. Tiga tanda tanya itu menatapku balik.

Aku mengetik: 5. Bapak.

Kuhapus.

Kuketik lagi: 5. Broto Cell.

Kuhapus lagi.

Di luar jendela kamarku, aku bisa melihat sebagian atap kos di seberang dua gang. Lampu di kamar nomor tujuh menyala. Aku sudah memperhatikan itu sejak minggu lalu: lampu kamar itu sekarang menyala setiap malam. Dulu tidak pernah.

Aku tersenyum ke arah lampu itu seperti orang bodoh.

Lalu aku mengetik nomor lima sekali lagi, dan kali ini aku tidak menghapusnya.

5. Broto Cell. Belum sekarang. Tapi nanti.

Aku menyimpan catatan itu, mematikan HP, dan tidur dengan perasaan yang tidak kupahami. Seperti orang yang baru menanam biji, dan tahu biji itu akan tumbuh, tapi belum tahu akan jadi pohon sebesar apa.