Chapter Thirty Four
Malam Takbiran
POV: Angelica
Malam takbiran dimulai dengan suara beduk dari musala ujung gang, dan diakhiri dengan suara yang jauh lebih menakutkan.
Suara HP berdering. Di mana-mana. Sekaligus.
Aku sedang di dapur, membungkus opor untuk pesanan Lebaran pelanggan terakhir, ketika HP Tole berbunyi, lalu HP Mbak Yuli, lalu HP Pak Darto, lalu HP-ku sendiri. Grup-grup WhatsApp meledak dalam hitungan menit. Takbir yang tadinya mengalun dari TV tenggelam oleh dengung notifikasi yang tidak berhenti.
Guys, THR gue belum masuk. Katanya harusnya udah cair tadi sore.
Bansos ibu gue juga belum. Udah dicek ke mana-mana, katanya sistemnya lagi gangguan.
Gaji ke-13 gue ILANG. Saldo gue nol. Ini kenapa???
JANGAN PANIK. Katanya seluruh Indonesia. Bukan cuma lo.
GIMANA GUE NGGAK PANIK ITU UANG BUAT PULANG KAMPUNG
Aku menaruh opor yang setengah terbungkus. Tanganku dingin.
Di teras, Yoga sudah berdiri di depan laptopnya, dan wajahnya—wajah yang tiga bulan ini pelan-pelan belajar tersenyum lagi—kembali seperti wajah hari pertama. Tegang. Fokus. Semua perabot ditutup kain putih, kecuali satu ruangan yang menyala terang.
“Dia mulai,” kata Yoga pelan.
Aku tidak mengerti yang terjadi di dalam layar itu. Aku tidak akan pernah mengerti.
Tapi aku mengerti wajah orang-orang.
Aku mengerti wajah Bu Narti, yang datang tergopoh ke dapur dengan HP di tangan, kerudung miring. “Neng, THR anak saya yang di pabrik belum masuk. Dia mau pulang besok pagi. Tiketnya gimana?”
Aku mengerti wajah Mang Udin, yang menelepon dengan suara panik. “Mbak Angel, Mas Yoga ada? Saldo toko saya nol. Semua uang Lebaran saya—”
Aku mengerti wajah Pak Darto, sopirku, yang berdiri di pojok dapur menatap HP-nya dengan tangan gemetar, karena gaji ke-13 yang seharusnya cair malam ini adalah uang yang sudah ia janjikan ke tiga anaknya untuk baju Lebaran.
Dan aku mengerti, dengan cara yang membuat perutku mual, bahwa ini persis yang dulu terjadi padaku. Setahun aku diteror karena data yang bocor. Setahun aku merasa dunia runtuh sendirian di balik tripleks gudang beras.
Sekarang jutaan orang merasakannya sekaligus. Di malam yang seharusnya paling bahagia.
Satu orang melakukan ini. Satu orang, yang dua tahun lalu lolos karena orang lain yang dihukum.
Aku menatap Yoga di teras.
Dan aku mengerti satu hal lagi, yang paling penting dari semuanya.
Dia tidak akan menunggu izin siapa pun.
“Nggak ada yang manggil kamu,” kataku, berdiri di sampingnya.
Yoga tidak mengangkat kepala dari layar. Jarinya sudah bergerak.
“Aku tahu.”
“Kalau kamu maju malam ini, dan ada yang salah, mereka bakal nyalahin kamu lagi. Mantan dalang kebocoran ikut campur lagi. Mereka punya judulnya udah siap.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu diem, nggak ada yang bakal nyalahin kamu. Nggak ada yang tahu kamu bisa. Kamu bisa duduk di sini, bungkus opor sama aku, dan besok pagi nggak ada yang bakal nunjuk kamu.” Suaraku bergetar. “Aku nggak lagi nyuruh kamu diem, Yoga. Aku cuma mau kamu tahu. Kalau kamu maju malam ini, kamu nggak bisa narik lagi. Kayak—”
“Kayak kentut,” kata Yoga.
Aku tertawa di tengah air mata. “Jangan bawa Tole sekarang.”
“Maaf.”
Dia berhenti mengetik. Menoleh. Menatapku.
“Angelica,” katanya. “Dua tahun aku ngunci diri karena aku mikir caraku jaga orang adalah dengan ngilang. Berdiri di depan gerbang sendirian, biar nggak ada yang ikut basah.” Dia menyentuh wajahku. “Kamu yang ngajarin aku itu salah. Kamu yang bilang orang yang aku lindungin lebih milih basah bareng aku.”
Dia menatap ke dalam dapur. Ke Pak Darto dengan tangannya yang gemetar. Ke Bu Narti dengan kerudung miringnya. Ke HP-HP yang terus berdering.
“Sekarang ada jutaan orang yang basah,” katanya pelan. “Dan aku satu-satunya yang bisa berdiri di depan gerbang itu cukup cepat. Kalau aku diem sekarang biar namaku aman—” dia menggeleng, “—itu bukan jaga diri. Itu pengecut yang dikasih nama bagus.”
Aku menatapnya.
Laki-laki yang tiga bulan lalu keluar dari kamar kos hanya untuk membeli nasi bungkus satu. Yang sekarang duduk di teras katering, di malam takbiran, memutuskan untuk melawan seluruh kekacauan demi jutaan orang yang tidak akan pernah tahu namanya.
“Oke,” kataku.
“Oke?”
“Oke.” Aku menghapus wajahku. Lalu aku berdiri tegak, dan untuk pertama kalinya malam itu, aku berhenti menjadi perempuan yang ketakutan dan mulai menjadi apa yang selalu kubisa: orang yang mengatur dapur. “Kamu lawan dia. Itu bagianmu.”
“Bagianmu?”
Aku sudah berbalik ke dapur, suaraku sudah berubah jadi suara komando yang biasa kupakai saat tiga ratus porsi harus keluar dalam dua jam.
“Bagianku,” kataku, “mastiin pas kamu menang, seluruh Indonesia tahu siapa yang menang.”
Aku mengeluarkan HP dan mulai menelepon.
Nomor pertama: Nadia.
“Nad. Kamu lagi di depan laptop? Bagus. Jangan tidur. Malam ini ada cerita yang jauh lebih besar dari artikel kemarin. Aku kasih kamu akses duluan. Tapi kamu harus siap nulis cepat, dan kamu harus siap nyebut satu nama.”
Nomor kedua: Dimas.
“Dim. Kumpulin Wulan sama Gilang. Ke sini sekarang. Yoga butuh orang di sampingnya, bukan cuma di layar.”
Nomor ketiga, keempat, kelima: alumni kelas teras. Orang tua murid. Ketua RT. Pak Lurah.
“Pak Lurah, maaf ganggu malam takbiran. Warga panik soal uang yang belum masuk, kan? Saya mau minta tolong. Tolong sebarin satu pesan ke semua grup: jangan panik, jangan klik link apa pun yang ngaku bisa benerin, jangan kasih kode ke siapa pun yang telepon ngaku petugas. Karena sebentar lagi, pasti ada gelombang kedua. Penipu yang numpang di tengah kekacauan.”
Dan aku benar. Dalam setengah jam, gelombang kedua datang: pesan-pesan yang mengaku dari bank, dari pemerintah, menawarkan “pemulihan saldo” asal klik ini, asal transfer itu, asal sebut kode.
Tapi kali ini, warga sudah siap.
Karena selama tiga bulan, delapan anak kelas teras pulang dan mengajari ibu mereka. Karena Bu Narti mengajari ibu-ibu pengajian. Karena staf kelurahan menempel kertas DATA WARGA KAYAK KENTUT di dinding.
Di grup-grup WhatsApp, di tengah kepanikan, mulai muncul suara-suara lain.
JANGAN DIKLIK. Itu tanda ketiga. Minta kode = penipu.
Anak saya ngajarin. Katanya kalau disuruh buru-buru, itu tanda pertama.
Tetangga saya yang punya warung kopi bilang, tunggu aja info resmi, jangan percaya yang nelpon.
Aku berdiri di tengah dapur, menatap HP-ku, dan menangis. Bukan karena takut.
Karena tiga bulan yang lalu, seorang laki-laki keluar dari kamar kos untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dan mengajari anak kelas lima SD mengenali penipu. Dan malam ini, di malam terburuk, benih itu tumbuh menjadi perisai bagi seluruh kampung.
Dia sudah menyelamatkan orang jauh sebelum dia duduk di teras malam ini.
Dia hanya belum tahu.
Menjelang tengah malam, teras Dapur Angel penuh.
Dimas, Wulan, Gilang mengelilingi Yoga. Lila di sampingnya, membuka laptopnya sendiri, mata berbinar dan takut sekaligus. Dimas berbicara cepat dengan Yoga tentang hal-hal yang tidak kumengerti, menunjuk layar, mengangguk.
Dan Yoga di tengah mereka. Tenang. Terpusat. Jari-jarinya bergerak seperti orang yang memainkan alat musik yang sudah lama tidak ia sentuh tapi tidak pernah ia lupakan.
Aku berdiri di ambang dapur, membawa nampan berisi kopi dan nasi kotak untuk semua orang, dan aku melihat sesuatu yang membuat napasku tertahan.
Di laptop Yoga, di pojok atas layar, kamera kecil itu.
Masih tertutup.
Satu-satunya lakban hitam yang belum pernah kulihat ia lepas.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran reading
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.