Chapter Thirty Three
Mesin Tempur
POV: Yoga
Kata sandi lamaku sudah dua tahun tidak kuganti.
broto.
Lima huruf. Nama laki-laki yang mencopot fotoku dari papan gabus, lalu menyisakan paku-pakunya. Aku memakainya untuk semua hal yang paling kujaga, karena itu satu-satunya cara aku bisa menyebut namanya setiap hari tanpa harus mendengar diamnya.
Pagi itu, tiga hari sebelum Lebaran, aku menggantinya.
Aku mengetik tanggal. Tanggal saat seorang laki-laki tua berkacamata tebal berdiri di pagar Dapur Angel dengan kantong plastik hitam berisi papan sirkuit hijau tua, dan berkata Bapak nggak pernah berhenti percaya.
Tanggal Bapak pulang.
Aku menekan simpan, lalu duduk lama menatap layar. Rasanya seperti melepas plester dari luka, dan menemukan bahwa di baliknya sudah tumbuh kulit baru.
Lalu aku membuka folder Laporan 14 Maret, dan di sebelahnya, folder lain yang sudah dua bulan kurawat diam-diam. Folder tentang Jejak.
Sudah waktunya.
Aku mengumpulkan mereka di teras Dapur Angel, malam setelah tarawih.
Dimas. Wulan. Gilang. Tiga orang yang dulu bekerja di lantai tiga puluh satu, yang dulu diam saat aku tenggelam, yang sekarang datang hampir setiap minggu membawa tempe mendoan pulang untuk keluarga mereka.
Dan Lila, yang bersikeras ikut karena, katanya, “Aku ketua tim Tiga Tanda. Aku berhak tahu.”
Aku membentangkan apa yang kupunya.
“Dua bulan terakhir,” kataku, “aku ngikutin jejak orang yang bikin kebocoran dua tahun lalu. Orang yang sama yang ngunci sistem Dapur Angel. Aku manggil dia Jejak, karena dia selalu ninggalin tanda yang sama.” Aku menatap mereka satu per satu. “Dia bekas orang dalam. Dia tahu cara kerja sistem lama dari dalam. Dan dua tahun ini dia ngerasa aman, karena ada orang lain yang udah dihukum buat kejahatannya.”
Semua mata menghindar. Mereka tahu siapa orang itu.
“Aku udah hampir nemu dia,” kataku. “Tinggal satu langkah. Tapi aku butuh bantuan. Aku nggak bisa sendirian.”
Dimas mengangkat kepala. “Kamu minta bantuan? Kamu?”
“Aku lagi belajar,” kataku.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku tidak merasa seperti orang yang menjaga gerbang sendirian. Aku merasa seperti orang yang akhirnya membuka gerbang itu, dan menemukan bahwa di belakangnya ada barisan.
Yang tidak kuduga adalah kecepatannya.
Dua hari sebelum Lebaran, Jejak tahu dia sedang dicari.
Aku tidak tahu bagaimana. Mungkin dari artikel Nadia. Mungkin dari pergerakan yang terlalu dekat. Tapi malam itu, saat aku duduk di meja pojok Dapur Angel dengan laptop dan empat orang di sekelilingku, aku melihat jejak-jejak yang dua bulan kukumpulkan mulai menghilang satu per satu, cepat, seperti seseorang yang membakar rumahnya sendiri sebelum kabur.
“Dia lari,” kata Dimas, melihat dari balik bahuku.
“Belum,” kataku. Jantungku berdetak pelan dan berat, seperti mesin tua yang distarter. “Orang kayak dia nggak lari diam-diam. Dia nggak puas cuma lari.”
“Maksudmu?”
Aku menatap layar. Pola yang kukenal. Tanda tangan yang sama. Tapi kali ini lebih besar. Jauh lebih besar dari sekadar mengunci satu dapur katering.
“Dia mau ninggalin sesuatu yang gede,” kataku pelan. “Sesuatu yang bikin semua orang sibuk, sampai lupa nyari dia. Perpisahan.” Aku menutup mata sebentar. “Dan dia milih waktu yang paling nyakitin.”
“Kapan?” tanya Lila.
Aku membuka mata.
“Malam takbiran.”
Malam takbiran. Malam ketika jutaan orang menunggu satu hal yang sama.
Gaji ke-13 yang baru cair. Tunjangan hari raya. Bantuan sosial yang dijanjikan turun sebelum Lebaran. Uang yang ditunggu tukang bakso untuk pulang kampung, ditunggu buruh pabrik untuk beli baju anak, ditunggu nenek-nenek penerima bansos untuk beli daging sekali setahun.
Semua mengalir lewat satu sistem besar di malam yang sama. Dan Jejak tahu itu.
“Kalau dia berhasil,” kataku, suaraku terasa asing di telingaku sendiri, “bukan cuma uangnya yang ketahan. Kepercayaannya. Orang bakal panik. Orang bakal ngira uangnya hilang. Malam yang harusnya paling bahagia jadi malam paling kacau.”
Wulan menutup mulutnya. “Ya Tuhan.”
“Lapor ke yang berwenang,” kata Gilang. “Sekarang. Kamu punya buktinya—”
“Udah.” Aku sudah mengirim semuanya, sejak sejam lalu, ke setiap kanal resmi yang kutahu. “Tapi dua hari sebelum Lebaran, tengah malam, laporan dari nama yang masih kotor—” Aku menggeleng. “Mereka bakal mastiin dulu. Mereka bakal rapat dulu. Dan Jejak udah ngitung itu. Dia tahu birokrasi lebih lambat dari dia.”
Hening di teras.
Lila yang memecahnya. Suaranya kecil. “Jadi... siapa yang bisa lebih cepat dari dia, Mas?”
Aku menatap gadis tujuh belas tahun yang sejak umur dua belas mengidolakan nama yang ditulis dengan huruf kecil. Nama yang menurutnya bersembunyi di biara di pegunungan Tibet dengan laptop bertenaga surya.
Aku hampir mengatakannya. Di ujung lidahku. Aku, Lila. Aku yang bisa lebih cepat.
Tapi belum. Belum waktunya.
“Ada satu orang,” kataku. “Yang dulu bisa ngelawan orang kayak Jejak. Yang udah lama ngilang.”
“rising?” bisik Lila, matanya melebar.
Aku tidak menjawab.
Aku menutup laptop, dan menatap ke seberang dua gang, ke arah atap gudang beras tempat seseorang pasti sedang menungguku, dan aku tahu bahwa malam takbiran nanti, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku harus memutuskan sesuatu.
Apakah rising mati dua tahun lalu.
Atau cuma capek, dan menunggu alasan yang cukup besar untuk bangun.
Malam itu aku tidak pulang ke kos.
Aku kerja di teras Dapur Angel sampai subuh, dengan Dimas, Wulan, dan Gilang bergantian tidur di kursi plastik, dan Lila yang bertahan paling lama sebelum akhirnya tertidur di pangkuan kakaknya.
Angelica tidak tidur sama sekali. Dia duduk di sampingku sepanjang malam, membuat kopi, menatap layar yang tidak ia mengerti, dan tidak sekali pun bertanya apa yang bisa aku bantu—karena dia sudah tahu jawabannya adalah ada di sini, dan dia memberikannya tanpa diminta.
Menjelang subuh, dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Yoga,” bisiknya, setengah tidur. “Kamu bakal ngelakuinnya, kan. Malam takbiran. Kamu bakal maju.”
“Iya.”
“Semua orang bakal lihat.”
“Mungkin.”
Dia diam lama. Aku kira dia sudah tidur.
Lalu dia berkata, sangat pelan, “Bagus.”
Aku menoleh. “Bagus?”
“Udah dua tahun dunia lihat kamu salah.” Matanya tertutup, tapi tangannya mencari tanganku di atas meja. “Sekarang biar mereka lihat yang bener.”
Di luar, azan subuh terakhir sebelum Lebaran mulai terdengar dari musala ujung gang.
Dan di dalam dadaku, sesuatu yang sudah dua tahun diam—sesuatu yang dulu punya nama, nama yang ditulis dengan huruf kecil, nama yang dulu membuat orang berhenti mengetik—bangun sepenuhnya.
Bukan dengan marah.
Dengan tenang.
Seperti mesin tempur tua yang, setelah bertahun-tahun ditutup terpal, mesinnya ternyata masih hidup.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur reading
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.