← Rising.

Chapter Twenty Five

Gedoran yang Sama

POV: Angelica


Hari pertama, aku menggedor.

Bukan mengetuk. Menggedor. Tiga kali, keras, dengan kepalan tangan yang jelas tidak berniat sopan. Persis seperti hari pertama aku berdiri di depan pintu ini, tiga bulan lalu, dengan celemek Dapur Angel yang belum dilepas dan wajah yang sudah lama tidak tidur.

“Aku tahu kamu di dalam.”

Tidak ada jawaban.

“Aku nggak butuh kamu buka pintu. Aku cuma butuh kamu denger.”

Hening.

“Aku tahu kamu bohong.”

Hening. Tapi di balik pintu, aku mendengar sesuatu. Bukan langkah. Bukan suara. Hanya bunyi samar seperti seseorang yang bersandar di sisi lain pintu.

Aku meletakkan telapak tanganku di permukaan kayu yang catnya mengelupas.

“Dinas nyabut berita acaranya,” kataku pelan. “Ulasan palsunya hilang semua dalam semalem. Kontrak asuransi balik lagi. Semua dalam seminggu setelah kamu bilang kamu cuma manfaatin aku.” Aku menelan sesuatu di tenggorokan. “Orang yang cuma manfaatin aku nggak bakal repot-repot bersihin semua itu setelah dia pergi.”

Tidak ada jawaban.

Aku meletakkan kotak nasi di depan pintu. Tempe mendoan dua potong. Lalu aku pergi.


Hari kedua, aku menggedor lagi.

Dari ujung lorong, pintu kamar Bu Narti terbuka.

“Neng Angel?” Bu Narti melongok dengan rol rambut masih di kepala. “Lho, gedor lagi? Kayak dulu?”

“Iya, Bu.”

“Ya Allah. Saya kira udah baikan. Kemarin-kemarin kan Mas Yoga udah jadi anak baik, pintunya nggak pernah dikunci lagi.” Bu Narti menghela napas panjang. “Berantem ya?”

“Dia yang berantem. Saya cuma gedor.”

“Gedor yang kenceng, Neng. Dulu dia bukain pintu buat Neng karena Neng marahnya cantik.”

Aku menggedor lagi. Lebih keras.

Pintu kamar sebelah terbuka. Mbak Ratih, rambut acak-acakan, mata sembap.

“Saya baru tidur jam sembilan pagi,” katanya, suara serak. “Lagi.”

“Maaf, Mbak.”

Mbak Ratih menatapku. Lalu menatap pintu kamar nomor tujuh. Lalu menatapku lagi.

“Dia nggak tidur tiga malem,” katanya pelan. “Lampunya nyala terus. Saya denger dia ngetik sampai subuh. Kayak dulu. Surat permintaan maaf yang panjang.” Jeda. “Saya kira itu buat Mbak.”

Sesuatu di dadaku berdenyut.

“Gedor yang kenceng, Mbak,” kata Mbak Ratih, mengulang kalimat Bu Narti, lalu menutup pintunya.

Aku menggedor lagi. Tidak ada jawaban.

Aku meletakkan kotak nasi. Pergi.


Hari ketiga, aku membawa Lila.

“Mas Yoga!” Lila menggedor dengan kekuatan dua kali lipat dari aku. “Kalau Mas nggak buka, aku bawa panci presto beneran! Aku udah izin Bu Endang!”

Hening.

“Mas! Dika nanya Sabtu ini ada kelas atau nggak! Putri nangis kemarin, katanya Mas Yoga ngambek sama dia!”

Hening. Lalu, sangat pelan, dari balik pintu:

“Bilang ke Putri, Mas nggak ngambek sama dia.”

Lila membeku. Aku membeku.

Itu suaranya. Serak. Seperti orang yang lama tidak bicara.

“Bilang sendiri!” teriak Lila. “Buka pintunya!”

Tidak ada jawaban lagi.

Lila menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku menggeleng pelan. Kami meletakkan kotak nasi, lalu pergi.

Di tangga, Lila berbisik: “Kak. Kotak nasi yang kemarin udah nggak ada.”

“Iya. Dimakan.”

“Kotak yang kemarin lusa juga.”

“Iya.”

“Dia makan semuanya, Kak. Tapi nggak mau buka pintu.” Lila menghapus matanya dengan lengan seragam. “Itu bego banget nggak sih?”

“Bego banget,” kataku.

Tapi aku tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, aku tersenyum.


Hari keempat sampai hari ketujuh, aku datang sendirian.

Aku berhenti menggedor. Aku mengetuk. Tiga kali, pelan. Lalu aku duduk di lantai lorong, bersandar di dinding di samping pintunya, dan bicara.

Aku tidak tahu apakah dia mendengar. Tapi aku tahu dia ada di sana, karena setiap kali aku mulai bicara, ada bunyi samar di balik pintu—seseorang yang duduk di lantai, bersandar di sisi lain.

Kami duduk seperti itu. Dua orang, dipisahkan pintu kayu tipis, bersandar di sisi yang berlawanan.

Hari keempat, aku bercerita tentang pesanan katering ulang tahun cucu Pak Lurah, yang minta kue berbentuk dinosaurus dan aku harus belajar dari YouTube jam dua pagi. Hasilnya lebih mirip bebek gemuk. Cucu Pak Lurah tetap senang.

Dari balik pintu, aku mendengar sesuatu. Bunyi pendek. Mungkin batuk. Mungkin tawa yang ditahan.

Hari kelima, aku bercerita tentang Tole yang akhirnya menyelesaikan bab tiga skripsinya, setelah tiga tahun. Judul skripsinya ia ganti total: Peran Edukasi Literasi Digital Berbasis Komunitas dalam Pencegahan Penipuan Daring di Tingkat Kelurahan. Dosen pembimbingnya, katanya, menangis waktu membacanya. Bukan karena terharu. Karena akhirnya Tole punya bahan.

“Dia bilang itu gara-gara kamu,” kataku ke arah pintu. “Dia bilang pengalaman jadi konsultan di kelurahan bikin dia akhirnya ngerti apa yang mau dia tulis.”

Hening. Lalu, sangat pelan: “Bilang ke Tole, selamat.”

Aku memeluk lututku. “Bilang sendiri.”

Hari keenam, aku tidak bercerita apa-apa. Aku hanya duduk. Lama. Mendengarkan napasku sendiri dan, di balik pintu, napasnya.

Hari ketujuh, aku membawa sesuatu yang lain.


“Aku ke Broto Cell,” kataku.

Hening yang berbeda. Hening yang tiba-tiba tegang, seperti tali yang ditarik keras.

“Dua bulan lalu,” lanjutku. “Sebelum kamu tahu apa-apa. Aku cari di peta. Kios kecil di depan pasar, di antara toko emas yang tutup dan penjual pulsa. Papan namanya seng, catnya biru, udah pudar.”

Aku mendengar sesuatu bergerak di balik pintu.

“Aku beli charger. Tiga puluh lima ribu. Bapakmu yang layanin. Dia nggak banyak ngomong. Kacamatanya tebel. Matanya—” suaraku bergetar, “—matanya sama kayak matamu, Yoga. Cokelat tua. Kayak kopi yang kelamaan diseduh.”

Hening. Napas di balik pintu berubah. Lebih cepat.

“Papan gabusnya kosong,” kataku. “Fotomu udah nggak ada. Tapi pakunya masih di situ. Semuanya. Dia nyopot fotonya, tapi dia nggak nyabut pakunya.” Air mataku sudah turun. “Kamu tahu kenapa orang nggak nyabut paku dari papan gabus, Yoga? Karena dia mau nempel lagi suatu hari nanti. Karena dia nyisain tempat.”

Di balik pintu, aku mendengar sesuatu yang belum pernah kudengar dari dia.

Bunyi napas yang pecah. Pendek. Tertahan. Seperti orang yang mencoba keras sekali untuk tidak bersuara, dan gagal.

“Aku kasih dia kotak nasi,” bisikku. “Tempe mendoan. Yang tipis, yang pinggirnya garing. Dia buka di depan kiosnya. Dia ambil satu. Terus dia berhenti. Terus dia lepas kacamatanya dan ngelap matanya pakai punggung tangan.”

Bunyi di balik pintu tidak berhenti sekarang. Pelan. Terputus-putus. Laki-laki yang sudah dua tahun lupa cara menangis, sedang menangis di lantai kamar kos, bersandar di pintu yang tidak mau ia buka.

Aku menempelkan dahiku ke pintu itu.

“Kamu bilang kamu nggak tahu cara lain jaga orang yang kamu sayang selain berdiri di depan dan tenggelam sendirian,” kataku. “Bapakmu juga gitu, Yoga. Dia nyopot fotomu karena dia sakit. Tapi dia nyisain pakunya karena dia masih nunggu. Kalian berdua kayak gitu. Kalian berdua berdiri di depan gerbang masing-masing, dan nggak ada yang mau buka duluan.”

Aku menarik napas.

“Aku bakal ke sini,” kataku. “Tiap hari. Gedor pintu ini tiap hari. Sampai kamu buka. Sampai kamu capek. Sampai pintunya copot.”

Aku berdiri. Menghapus wajahku. Meletakkan kotak nasi di depan pintu.

“Besok aku dateng lagi,” kataku. “Jam tiga. Jangan telat buka pintu.”

Aku berjalan ke ujung lorong.

Di belakangku, aku mendengar bunyi pintu terbuka.

Aku tidak menoleh.

Aku tidak menoleh karena aku tahu, kalau aku menoleh sekarang, dia akan melihat wajahku, dan aku akan melihat wajahnya, dan kami berdua belum siap. Belum. Masih ada yang harus dia selesaikan sendirian. Masih ada satu pintu lagi yang harus dia buka, dan itu bukan pintu ini.

Tapi aku mendengar bunyi kotak nasi diangkat dari lantai.

Dan aku mendengar suaranya, sangat pelan, serak, basah, dari ambang pintu yang terbuka di belakangku:

“Tempenya dua lagi.”

Aku berhenti di anak tangga pertama.

“Kamu nyimpen buat terakhir,” kataku, tanpa menoleh. “Jadi aku kasih dua. Biar ada yang bisa disimpen, ada yang bisa dimakan.”

Hening lama.

Lalu pintu itu menutup. Pelan.

Tidak dikunci. Aku tidak mendengar bunyi rantai.

Aku turun tangga kos sambil menangis dan tersenyum bersamaan, dan Bu Narti, yang dari tadi mengintip dari pintu kamarnya dengan rol rambut, menyodorkan tisu tanpa berkata apa-apa.