Chapter Twenty Two
Celahku Kamu
POV: Yoga
Aku datang pukul sebelas lima puluh delapan.
Dua menit lebih awal. Aku tidak pernah datang lebih awal. Aku selalu datang pukul dua belas tepat, karena Angelica pernah bilang jangan telat, dan aku mengartikannya secara harfiah, seperti aku mengartikan semua hal secara harfiah.
Hari ini aku datang dua menit lebih awal karena aku tidak tahan menunggu lebih lama di kamar kos.
Dapur Angel ramai seperti biasa. Bu Endang di kompor. Tole di depan, menata kotak-kotak pesanan di kotak thermal motornya. Mbak Yuli menyelotip. Pak Darto keluar-masuk dengan kardus.
Dan begitu aku melangkah masuk, semuanya berhenti.
Seperti film yang dijeda. Bu Endang dengan sutil terangkat. Tole dengan kotak nasi setengah jalan ke motor. Mbak Yuli dengan selotip setengah ditarik.
Lalu Bu Endang menurunkan sutilnya, menghapus tangan di celemek, berjalan ke arahku, dan memukul lenganku dengan sangat keras.
“Tiga hari!” katanya. “Tiga hari Ibu masak tempe tiap subuh ngajarin Neng, dan kamu nggak dateng!”
“Maaf, Bu.”
“Maaf nggak bikin tempe jadi garing!” Lalu Bu Endang memelukku. Erat. Bau minyak goreng dan bawang. “Kurus lagi. Astaga. Duduk. Duduk!”
Aku duduk di meja pojok. Tempat biasa.
Tole mendekat dengan wajah serius. “Mas,” bisiknya. “Mas jangan pergi-pergi lagi ya. Tiga hari ini dapur kayak kuburan. Kak Angel nggak ngomel sama sekali. Aku ngeklik email aneh pun dia cuma bilang ya udah, Le.” Dia bergidik. “Serem, Mas. Kak Angel yang nggak ngomel itu serem.”
Lalu dia kembali ke motornya, meninggalkanku dengan bayangan Angelica yang tidak mengomel ketika Tole mengklik email aneh, dan rasa bersalah yang tiba-tiba sangat berat.
Angelica tidak keluar dari dapur belakang sampai pukul dua belas tepat.
Dia keluar membawa nampan. Kotak nasi. Segelas es jeruk—jeruk peras, bukan sachet. Dia meletakkannya di depanku tanpa berkata apa-apa.
Lalu dia berdiri di sana, tangan di pinggang, menatapku.
Dia terlihat lelah. Ada lingkaran samar di bawah matanya yang tidak ada minggu lalu. Rambutnya diikat lebih asal dari biasanya. Tapi matanya—mata yang di hari pertama mengukur lubang kubur untukku—sekarang menatapku dengan sesuatu yang membuat seluruh kata yang sudah kusiapkan di jalan menguap.
“Kamu dateng,” katanya.
“Kamu ngancem bawa panci.”
“Lila bilang dia mau bawa panci presto.”
“Dia bilang.”
Hening. Seluruh dapur, aku sadar, sedang pura-pura sibuk sambil mendengarkan.
“Makan,” kata Angelica akhirnya. “Habis itu kita ngomong.”
Dia berbalik dan kembali ke dapur belakang.
Aku membuka kotak nasi. Tempe mendoan dua potong. Garing di pinggir, lembut di tengah. Sempurna. Tidak ada satu pun yang gosong.
Aku memakan semuanya. Tempe terakhir.
Kami bicara malam itu, setelah dapur tutup.
Bukan di dapur. Angelica mengajakku naik ke atap—atap datar di atas gudang beras, yang bisa dicapai lewat tangga besi di belakang. Aku tidak tahu atap itu ada. Dia bilang itu tempatnya kalau butuh sendiri. Ada dua kursi plastik bekas di sana, satu meja kecil, dan pot-pot cabai yang ditanam Bu Endang dalam ember cat bekas.
Dari atap itu, gang-gang di sekitar terlihat seperti peta. Lampu-lampu rumah. Kubah musala. Atap kos di seberang dua gang, dengan satu jendela di lantai dua yang lampunya menyala. Jendela kamarku. Aku lupa mematikannya.
“Aku bisa lihat lampu kamarmu dari sini,” kata Angelica, mengikuti arah pandanganku. “Dulu nggak pernah nyala. Tiap malam aku naik ke sini, gelap. Terus beberapa minggu lalu, mulai nyala.” Dia duduk di salah satu kursi plastik. “Tiga hari ini nyala terus. Sampai subuh. Kamu nggak tidur, ya?”
“Nggak banyak.”
“Kenapa?”
Aku duduk di kursi plastik di sebelahnya. Angin malam membawa bau cabai dan hujan yang belum turun.
“Karena aku takut,” kataku.
Dia tidak menjawab. Dia menunggu. Dia selalu tahu kapan harus menunggu.
“Fotonya,” kataku. “Yang kamu ambil di kamarku. Aku lihat wajahku di sana, dan aku—” Aku berhenti. Mencari kata. “Aku kelihatan bahagia, Angelica. Kayak orang yang nggak pernah kehilangan apa-apa.”
“Itu bagus.”
“Terakhir kali aku kelihatan kayak gitu, enam bulan kemudian semuanya runtuh.” Aku menatap tanganku sendiri. “Dan bukan cuma aku yang ketimpa. Semua orang yang deket sama aku ikut kena. Sheren. Bapak. Kamu—tiga puluh juta orang, termasuk kamu.” Aku menelan sesuatu yang pahit. “Namaku masih kotor. Masih ada orang di luar sana yang bikin kebocoran itu, yang nyentuh sistemmu dua bulan lalu, yang masih bebas. Kalau ada yang tahu aku deket sama kamu, sama Dapur Angel—”
“Terus kamu mutusin pergi.”
“Aku mutusin mundur. Dua langkah. Biar kamu aman.”
“Tanpa nanya aku.”
Aku tidak menjawab.
Angelica tertawa. Bukan tawa senang. Tawa pendek, pahit, yang terdengar seperti seseorang yang baru saja mendengar hal yang sudah ia duga dan tetap sakit mendengarnya.
“Kamu tahu nggak,” katanya, “itu persis yang kamu lakuin ke Sheren. Ke Bapakmu. Kamu mutusin sendiri apa yang terbaik buat mereka, terus kamu tenggelam sendirian, terus kamu bilang itu ngelindungin.” Dia menoleh, menatapku. Matanya berkilau di bawah lampu jalan yang jauh. “Aku udah bilang ke kamu, di mulut gang. Orang yang kamu lindungin mungkin lebih milih basah bareng kamu.”
“Aku inget.”
“Terus kenapa kamu ngelakuin lagi?”
Aku menatapnya. Perempuan yang setahun membenciku. Yang menggedor pintuku di hari pertama. Yang menyalakan lampuku satu per satu tanpa pernah bertanya apakah aku mau. Yang belajar membuat tempe mendoan dua minggu dari subuh sampai tidak ada lagi yang gosong.
“Karena aku nggak tahu cara lain,” kataku. Suaraku keluar lebih jujur dari yang kuniatkan. “Aku cuma tahu satu cara jaga orang yang aku sayang. Aku jaga gerbangnya. Aku berdiri di depan. Aku yang kena duluan. Kalau aku harus tenggelam, ya udah, yang penting mereka nggak.”
“Itu bukan jaga,” katanya pelan. “Itu ninggalin. Dengan cara yang kedengerannya mulia.”
Aku tidak bisa membantah.
Angin bertiup lagi. Daun-daun cabai di ember cat berdesir.
“Aku mau basah,” kata Angelica. “Aku nggak mau dijagain dari jauh. Aku nggak mau berdiri di pinggir kolam nontonin kamu tenggelam sambil kamu teriak jangan deket-deket, nanti kamu ikut basah.” Suaranya bergetar. “Kalau kamu tenggelam, aku mau ikut nyebur. Kalau kamu kedinginan, aku mau ikut kedinginan. Itu pilihanku, Yoga. Bukan pilihanmu.”
Aku menatapnya.
Dan semua yang kubangun selama dua tahun—tembok, lakban, kamar gelap, keyakinan bahwa diam adalah satu-satunya cara mencintai orang tanpa melukainya—semuanya terasa seperti dinding kardus yang ditiup angin.
“Kamu pernah nanya,” kataku. Pelan. “Di malam mati lampu.”
Dia menahan napas. Aku melihatnya.
“Kamu nanya, aku juga punya celah atau nggak.” Aku menatap lurus ke matanya. “Aku bilang ada. Kamu nanya apa. Aku nggak jawab.”
“Kamu nggak jawab,” bisiknya.
“Aku nggak jawab karena aku takut. Karena aku tahu, begitu aku bilang, aku nggak bisa narik lagi. Kayak data yang udah dikirim ke grup.” Aku tersenyum tipis. “Kayak kentut, kata Tole.”
Angelica tertawa di tengah air mata yang sudah mulai turun. “Jangan bawa-bawa Tole sekarang.”
“Maaf.”
“Lanjut.”
Aku menarik napas. Panjang. Seperti orang yang akan menyelam ke air yang sangat dalam.
“Semua sistem punya celah,” kataku. “Aku udah jaga punyaku dua tahun. Aku tutup semua pintu. Aku lakban semua kamera. Aku nggak ngizinin siapa pun masuk.” Aku mengulurkan tangan, pelan, dan menyentuh wajahnya. Ibu jariku menghapus air mata di pipinya. “Terus kamu dateng. Gedor pintu. Bawa kotak nasi. Bawa tempe mendoan. Dan semua pertahananku jebol satu per satu, kayak sistem yang lupa di-update.”
Dia tidak bergerak. Dia hanya menatapku, matanya basah, bibirnya sedikit terbuka.
“Celahku kamu, Angelica.”
Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu.
Mungkin aku. Mungkin dia. Mungkin kami berdua, bersamaan, seperti dua orang yang sudah terlalu lama berdiri di tepi sesuatu dan akhirnya memutuskan untuk melompat di detik yang sama.
Yang kutahu: jarak di antara kami hilang.
Bibirnya lembut, dan asin oleh air mata, dan sedikit gemetar di awal—seperti pertanyaan yang belum yakin akan dijawab. Lalu tangannya naik ke tengkukku, jari-jarinya masuk ke rambutku, dan gemetarnya berhenti. Dia menarikku lebih dekat. Kursi plastikku berderit dan bergeser dan aku tidak peduli.
Aku menciumnya seperti orang yang baru belajar bernapas lagi setelah lama sekali menahan napas di bawah air. Pelan dulu. Hati-hati. Lalu tidak lagi hati-hati. Lalu dalam, dalam sekali, sampai aku lupa di mana atap ini berakhir dan langit dimulai, sampai yang ada hanya dia: tangannya di rambutku, napasnya bercampur dengan napasku, detak jantungnya yang bisa kurasakan dari tempat telapak tanganku menempel di punggungnya, cepat dan tidak teratur seperti punyaku.
Dia membalas dengan cara yang sama. Seperti orang yang sudah menunggu lama sekali. Seperti orang yang sudah memutuskan, jauh sebelum malam ini, jauh sebelum aku sendiri berani memutuskan.
Ketika akhirnya kami berhenti—karena kami harus bernapas, karena dunia masih ada—dahinya menempel di dahiku. Napasnya tersengal di bibirku. Matanya masih tertutup.
“Akhirnya,” bisiknya.
Aku tertawa. Tawa pendek, serak, yang terasa seperti sesuatu yang lepas dari dadaku setelah lama dikunci.
“Kamu yang fall duluan, ya,” kataku.
Matanya terbuka. Menyipit. “Siapa bilang?”
“Tempe mendoan dua minggu.”
“Itu Lila yang cerita?”
“Dia bilang dia yang disuruh makan yang gosong.”
Angelica menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mengerang ke telapak tangannya. “Aku bunuh dia.”
“Jangan. Dia muridku yang paling pinter.”
Dia menurunkan tangannya. Menatapku. Lalu, pelan, dia tersenyum—senyum yang jarang, yang mematikan, yang selama ini hanya kulihat sekilas sebelum dia buru-buru menyembunyikannya.
Kali ini dia tidak menyembunyikannya.
“Iya,” katanya. “Aku yang fall duluan. Dari hari kamu nyuruh aku nggak bilang siapa-siapa soal email itu. Dari hari kamu bilang kamu nggak mau aku benci kamu karena alasan yang salah.” Dia menyentuh wajahku. “Aku udah lama nungguin kamu nyusul.”
“Maaf aku lambat.”
“Kamu lambat banget.”
“Aku tahu.”
Dia menciumku lagi. Lebih pendek. Lebih lembut. Seperti tanda titik di akhir kalimat yang panjang.
Di bawah kami, dari dalam dapur, terdengar suara sesuatu jatuh. Lalu bisikan yang sangat keras.
“Bu! Bu Endang! Mereka di atap! Mereka—”
“DIEM, LE!”
Kami saling menatap. Lalu tertawa sampai Angelica harus bersandar di bahuku, sampai kursi plastikku hampir terbalik, sampai lampu di jendela kamar kos di seberang dua gang terlihat kabur karena mataku berair.
Aku pulang lewat tengah malam.
Aku berjalan di gang yang sama, dua puluh tiga langkah ke mulut gang, belok kanan ke arah kos. Langkahku ringan. Terlalu ringan. Seperti orang yang baru turun dari sesuatu yang tinggi dan kakinya belum sepenuhnya percaya pada tanah.
Aku tidur nyenyak malam itu. Tanpa mimpi tentang papan gabus. Tanpa mimpi tentang apa pun.
Dan pagi harinya, pukul sebelas lima puluh delapan—dua menit lebih awal, lagi—aku berjalan menuju Dapur Angel dengan tangan di saku dan senyum yang tidak bisa kuhentikan.
Aku berbelok di ujung gang.
Dan berhenti.
Ada mobil di depan Dapur Angel. Sedan hitam, bersih mengilap, terlalu bagus untuk gang sempit ini. Pelat nomornya dari Jakarta.
Di samping mobil itu, berdiri seorang perempuan.
Rambut panjang, lurus, hitam. Blus putih, celana kain krem, kacamata hitam yang ia lepas pelan saat menatap papan nama Dapur Angel. Tinggi, ramping, dengan postur orang yang terbiasa berdiri di ruangan-ruangan berpendingin udara.
Aku mengenali posturnya sebelum aku mengenali wajahnya.
Aku mengenali caranya memiringkan kepala saat membaca papan nama. Caranya menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri, selalu kiri, tidak pernah kanan. Caranya memegang tas dengan dua tangan di depan tubuh, seolah tas itu perisai.
Dia menoleh.
Matanya menemukanku di ujung gang.
Dan tiga tahun runtuh dalam satu detik.
“Yoga,” katanya.
Suaranya sama. Lembut, sedikit serak di akhir kata. Suara yang dulu mengucapkan iya di acara lamaran, di depan dua keluarga, di samping kue tart tiga tingkat.
Sheren Wirawan berdiri di depan Dapur Angel.
Dan di belakangnya, di ambang pintu dapur yang terbuka, dengan nampan berisi kotak nasi untuk makan siangku, Angelica membeku.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu reading
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.