← Rising.

Chapter Thirty Six

Orkestra

POV: Angelica


Menang di layar bukan berarti menang di dunia.

Itu yang kupelajari dalam dua jam setelah sistem pembayaran kembali bernapas. Karena begitu kelegaan mereda, pertanyaan datang. Dan di antara pertanyaan-pertanyaan jujur, ada suara-suara lain yang mulai mengaduk.

Aku melihatnya muncul di grup-grup, pelan tapi pasti, seperti racun yang diteteskan ke air bersih.

Katanya yang ngelawan itu rising. Tapi ada yang bilang rising itu Yoga Pratama. Yang dalang kebocoran dua tahun lalu.

Lho? Jadi yang bikin kacau sama yang benerin orang yang sama? Pencitraan dong?

Jangan-jangan dia yang bikin serangannya juga, biar keliatan jadi pahlawan.

Aku menatap layar HP-ku, dan darahku dingin.

Jejak kalah di layar. Tapi sebelum dia benar-benar hilang, dia melakukan satu hal terakhir—hal yang jauh lebih licik daripada serangan mana pun. Dia membocorkan satu kalimat ke tempat-tempat yang tepat: rising adalah Yoga Pratama, si dalang kebocoran.

Dia tahu dia tidak bisa menang melawan Yoga malam ini. Jadi dia memastikan, kalaupun kalah, dia menyeret nama Yoga ikut tenggelam.

Dua tahun Yoga dicap penjahat. Dan malam ini, saat dia akhirnya melakukan sesuatu yang heroik, kebenaran itu dipelintir jadi bukti bahwa dia penjahat yang lebih besar.

“Dia mau namaku makin kotor,” kata Yoga pelan, membaca dari balik bahuku. Dia tidak terdengar marah. Hanya lelah. “Biar kalaupun aku menang, aku tetap kalah.”

Aku menatapnya.

Lalu aku berdiri.

“Nggak,” kataku. “Nggak malam ini.”


Aku pernah membaca, entah di mana, bahwa pemimpin orkestra tidak memainkan satu alat musik pun.

Dia hanya berdiri di depan, dan membuat puluhan orang memainkan nada yang benar, di waktu yang benar, bersama-sama. Dia tidak menghasilkan satu suara. Tapi tanpa dia, semua suara itu jadi kebisingan.

Malam itu, aku jadi pemimpin orkestra.

Nada pertama: Nadia.

“Nad. Sekarang. Tulis sekarang. Aku kasih kamu semua yang kamu butuh.” Aku sudah mengirimkan semuanya—kronologi malam ini, bukti bahwa Yoga yang melawan serangan, bukan yang membuatnya, kesaksian Dimas dan Wulan dan Gilang. “Dan aku kasih kamu satu hal lagi, yang belum pernah aku kasih ke siapa pun. Tapi kamu harus janji nunggu aba-aba aku buat nerbitinnya.”

“Apa itu?”

Aku menatap Yoga, yang menatapku balik, dan mengangguk pelan. Izin.

“Email bertanggal 14 Maret,” kataku. “Dua tahun lalu. Yoga udah ngingetin kebocoran itu enam bulan sebelum kejadian. Dan atasannya yang nyuruh dia diam.”

Nadia terdiam di ujung telepon. Lalu, suaranya bergetar: “Angel. Ini... ini ngubah segalanya.”

“Aku tahu. Makanya tunggu aba-aba.”

Nada kedua: alumni kelas teras dan warga.

Satu per satu, aku menelepon orang-orang yang pernah ditolong Yoga. Bu Sukesih. Mang Udin. Pak Lurah. Dimas sudah di sini, Wulan dan Gilang juga. Dan lewat mereka, puluhan orang lain.

Aku tidak menyuruh mereka berbohong. Aku tidak perlu. Aku hanya berkata: “Kalau kalian lihat orang bilang Yoga penjahat, ceritain apa yang kalian tahu. Yang kalian alami sendiri. Itu aja.”

Dan mereka bercerita.

Di grup-grup WhatsApp, di kolom komentar, di mana pun racun itu menetes, air bersih mulai mengalir balik. Bukan dari satu akun resmi. Dari ratusan orang biasa.

Saya Sukesih. Uang arisan RT saya 23 juta diselamatin Mas Yoga. Gratis. Dia nolak dibayar.

Saya Udin, warung kopi ujung jalan. Akun toko saya dibalikin Mas Yoga. Dia cuma minta kopi.

Anak saya diajarin Mas Yoga di kelas teras. Gara-gara itu ibu saya nggak ketipu undian kulkas.

Saya dulu satu tim sama dia di bank. Saya yang ikut bersaksi memberatkan dia dua tahun lalu. Saya takut waktu itu. Saya minta maaf. Dia nggak bersalah. Saya tahu dari dulu.

Yang terakhir itu Dimas. Dia mengetiknya sendiri, di depanku, dengan tangan gemetar, lalu menekan kirim sebelum dia sempat takut lagi.

Nada ketiga: Sheren.

HP-ku berbunyi pukul tiga pagi. Nomor tak dikenal.

“Mbak Angelica? Ini Sheren.”

Aku menahan napas.

“Aku lihat semuanya,” katanya. Suaranya tenang, tapi ada sesuatu yang bergetar di bawahnya. “Berita. Grup. Orang-orang yang bilang Yoga penjahat.” Jeda. “Dan aku lihat email 14 Maret yang kalian punya belum diterbitin.”

“Kami nunggu—”

“Jangan nunggu aku,” katanya cepat. “Aku nggak mau kalian nunggu aku, kayak Yoga dulu nunggu buat ngelindungin aku.” Napasnya tersendat. “Aku buka brankas Papa malam ini. Waktu dia tidur. Aku udah lama tahu kodenya, aku cuma nggak pernah berani.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Ada banyak hal di dalamnya, Mbak,” kata Sheren, dan sekarang dia menangis. “Hal-hal yang ngebuktiin Papa tahu soal email itu. Hal-hal yang ngebuktiin dia yang nyuruh Yoga diam, terus dia yang ngatur semuanya waktu kebocoran kejadian. Aku foto semuanya.” Dia menarik napas panjang. “Aku kirim ke kalian sekarang. Terbitin. Semuanya. Aku siap.”

“Sheren. Itu ayahmu. Kalau ini keluar, dia—”

“Aku tahu apa yang bakal kejadian ke Papa.” Suaranya pecah, tapi tidak goyah. “Tapi Yoga dua tahun nanggung sesuatu yang bukan salahnya buat ngelindungin aku. Sekarang giliranku milih. Dan aku milih yang bener.” Jeda panjang. “Tolong bilang ke dia. Bilang Sheren bilang: kali ini aku yang mutusin, bukan kamu.”

Sambungan terputus.

Aku berdiri di tengah dapur, HP di tangan, air mata mengalir, dan di layar, foto demi foto mulai berdatangan. Bukti. Kebenaran. Dua tahun yang dipendam, akhirnya keluar—bukan dari tangan Yoga, tapi dari tangan perempuan yang dulu ia lindungi dengan diam.


Aku menyampaikan pesan Sheren ke Yoga.

Dia membacanya. Lalu dia menutup mata, lama, dan saat dia membukanya lagi, matanya basah.

“Dua tahun aku mikir aku ngelindungin dia,” katanya pelan. “Ternyata dia yang nungguin kesempatan buat berdiri.”

“Semua orang nungguin kesempatan buat berdiri di sampingmu, Yoga,” kataku. “Kamu aja yang nggak pernah ngasih mereka pintu.”

Dia menatapku.

Lalu dia menatap teras yang penuh. Dimas, Wulan, Gilang. Lila. Bu Endang. Pak Darto. Tole. Orang-orang yang tiga bulan lalu tidak ia kenal, dan sekarang mengelilinginya di malam terpenting dalam hidupnya.

“Aba-aba,” kataku pelan. “Nadia nunggu. Semua bukti udah di tangan. Begitu kamu bilang, dia terbitin. Semuanya. Email 14 Maret. Brankas Sheren. Semua.” Aku menggenggam tangannya. “Begitu ini keluar, nggak ada yang bisa narik lagi. Namamu bakal bersih. Tapi semua mata bakal ngelihat kamu. Nggak ada lagi lakban. Nggak ada lagi sembunyi.”

Yoga menatap laptopnya. Di pojok atas layar, kamera kecil itu. Satu-satunya lakban hitam yang belum pernah ia lepas dalam dua tahun.

Dia menatapnya lama.

Lalu dia menatapku.

“Kamu di sampingku?” tanyanya.

Bukan aku harus gimana. Bukan apa yang terbaik. Hanya satu pertanyaan sederhana, dari laki-laki yang seumur hidup tidak pernah berani bertanya apakah ada yang akan berdiri di sampingnya.

“Aku di sampingmu,” kataku. “Dari sini sampai mana pun.”

Yoga menarik napas.

Lalu dia mengangkat tangannya ke arah kamera kecil itu, ke lakban hitam terakhir, dan dia berkata, dengan suara yang tidak gemetar sedikit pun:

“Nad. Terbitin.”

Dan jarinya menyentuh ujung lakban.