Chapter Thirteen
Suara yang Tak Pernah Naik
POV: Yoga
Bu Endang tidak masuk hari Selasa. Cucunya demam, jadi beliau izin menjaga di rumah, dan dapur Dapur Angel kehilangan separuh jiwanya.
Aku tidak menyadari betapa besar peran Bu Endang sampai beliau tidak ada. Tanpa beliau, tidak ada yang mengomentari kantung mataku. Tidak ada yang menyodorkan tempe goreng tanpa diminta. Tidak ada yang memanggil Angelica “Neng” dengan nada yang membuat semua orang di ruangan tahu persis apa yang beliau pikirkan tentang kami berdua.
Dapur jadi sunyi dengan cara yang aneh. Seperti rumah yang jamnya berhenti.
Pukul sebelas lewat lima, HP Angelica berdering.
Kali ini wajahnya tidak pucat. Aku memperhatikan itu, karena aku memperhatikan semuanya, dan aku juga memperhatikan bahwa minggu ini HP-nya jauh lebih jarang berdering dengan nomor-nomor yang membuat wajahnya pucat. Empat hari tanpa satu pun. Dia belum menyadarinya. Atau sudah, tapi belum berani mempercayainya.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Itu bukan sesuatu yang perlu ia ketahui. Belum.
“Bu Endang,” katanya, mengangkat telepon. “Gimana cucunya, Bu?”
Lalu wajahnya berubah.
“Bu? Bu, pelan-pelan. Saya nggak denger—Bu Endang, tarik napas dulu—”
Aku sudah berdiri sebelum aku sadar aku berdiri.
Angelica menyalakan pengeras suara. Suara Bu Endang memenuhi dapur, pecah dan terburu-buru, setengah menangis.
“Neng, Ibu salah pencet! Tadi ada WA dari kurir, katanya paket buat Ibu ketahan, terus dia kirim file, katanya foto resi, Ibu pencet, terus HP Ibu minta izin-izin macem-macem, Ibu takut, Ibu nggak ngerti, terus sekarang ada orang nelpon ngaku dari bank, katanya rekening Ibu diretas, Ibu disuruh sebutin—”
“Bu Endang.”
Suaraku.
Aku tidak berniat bicara. Tapi aku sudah di samping Angelica, dan mulutku sudah bergerak, dan suaraku keluar dengan nada yang tidak kuputuskan secara sadar. Nada yang dulu kupakai di ruang kontrol lantai 31, saat semua layar menyala merah dan semua orang di ruangan berteriak sekaligus.
Nada yang tidak naik.
“Bu Endang, ini Yoga. Ibu dengerin saya, ya.”
Di ujung telepon, Bu Endang terisak sekali. Lalu diam.
“Orang yang nelpon tadi masih nyambung?”
“Ma-masih, Mas. Ibu taruh. Dia nunggu.”
“Matiin teleponnya, Bu. Sekarang. Nggak usah pamit.”
Jeda. Suara sesuatu ditekan.
“Udah, Mas.”
“Bagus.” Aku bicara pelan, satu kalimat demi satu kalimat, memberi jeda di antaranya supaya Bu Endang bisa mengikuti. “Orang itu bukan dari bank. Bank nggak pernah nelpon terus minta Ibu sebutin kode. Nggak pernah. Ibu belum nyebutin apa-apa ke dia, kan?”
“Belum, Mas. Ibu takut duluan.”
“Takutnya Ibu udah nyelametin Ibu.” Aku mendengar Angelica, di sampingku, menghembuskan napas yang dari tadi ia tahan. “Sekarang, Ibu cabut kartu ATM dari dompet. Di belakang kartunya ada nomor telepon bank. Ibu telepon nomor itu. Jangan pakai HP Ibu yang tadi. Pakai HP lain. HP cucu Ibu, atau HP tetangga.”
“HP Nanda... Nanda punya HP.”
“Pakai itu. Bilang ke petugasnya: Ibu mau blokir sementara aplikasi bank Ibu karena HP Ibu kemasukan file mencurigakan. Bilang persis gitu. Mereka ngerti.”
Aku mendengar suara laci dibuka. Kertas. Dompet.
“Udah, Mas, udah ketemu kartunya.”
“Sebelum Ibu nelpon, matiin data internet sama WiFi di HP Ibu yang tadi. Tahu caranya?”
“Yang... yang gambar kipas?”
“Iya, yang gambar kipas. Sama yang gambar panah naik-turun. Dua-duanya dimatiin.”
Jeda panjang. Napas berat Bu Endang. Suara jari mengetuk layar.
“Udah, Mas. Udah mati semua. Ya Allah, Mas, Ibu takut banget.”
“Ibu udah aman,” kataku. “Ibu udah ngerjain semuanya dengan bener. Sekarang Ibu telepon bank, terus nanti sore Lila ke rumah Ibu buat bantu bersihin HP-nya. Ibu nggak usah ngapa-ngapain lagi. Ibu jaga Nanda aja.”
Hening.
Lalu, pelan, suara Bu Endang berubah. Dari panik, jadi sesuatu yang lain.
“Mas Yoga,” katanya, “Mas ngomongnya kok kayak dokter.”
“Hah?”
“Iya. Kalem banget. Ibu yang tadinya mau pingsan, sekarang malah ngantuk.” Bu Endang terisak sekali lagi, tapi kali ini setengah tertawa. “Ibu telepon bank dulu ya, Mas. Makasih. Makasih banget.”
Sambungan terputus.
Butuh beberapa detik sebelum aku menyadari bahwa dapur itu hening.
Bukan hening biasa. Hening yang punya bentuk. Aku menoleh, dan menemukan semua orang menatapku.
Tole berdiri dengan sutil di tangan, mulut setengah terbuka. Mbak Yuli dari bagian packing berhenti dengan selotip setengah ditarik. Pak Darto, yang baru masuk dari parkiran, berdiri di ambang pintu dengan kunci motor masih tergantung di jarinya.
Dan Angelica, di sampingku, sangat dekat, menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
“Apa?” tanyaku.
“Mas,” kata Tole pelan. “Mas tadi nggak naikin suara sama sekali.”
“Terus?”
“Bu Endang lagi nangis-nangis panik, Mas. Kalau aku jadi Mas, aku udah ikut teriak.” Tole menaruh sutilnya. “Mas kalau marah kayak gimana sih?”
Aku berpikir sebentar.
“Nggak tahu,” kataku jujur. “Lupa.”
Mbak Yuli tertawa pelan. Pak Darto menggeleng-geleng dengan senyum lebar sambil menggantung kunci motornya di paku. Tole masih menatapku seperti menatap tokoh film laga.
“Itu tuh serem tahu, Mas,” katanya. “Orang yang nggak bisa marah. Kayak di film. Yang paling tenang biasanya yang paling bahaya.”
“Kamu kebanyakan nonton film.”
“Tapi bener kan, Kak Angel?” Tole menoleh. “Kak Angel tadi juga kaget, kan?”
Angelica tidak menjawab Tole. Dia masih menatapku.
Lalu, tanpa peringatan, dia berbalik dan berjalan ke gudang beras.
Pintu tripleks itu menutup di belakangnya.
Aku menunggu lima menit. Lalu aku mengetuk.
“Angelica.”
“Aku lagi ngecek stok beras.”
“Lima menit?”
“Berasnya banyak.”
Aku berdiri di depan pintu tripleks itu, tidak tahu harus melakukan apa. Aku tahu cara menenangkan Bu Endang lewat telepon. Aku tahu cara membekukan rekening penipu, cara menyusun laporan yang tidak bisa ditolak, cara membaca tanda tangan di benda yang dibuat orang yang tidak pernah kutemui.
Aku tidak tahu cara menghadapi perempuan yang bersembunyi di gudang beras.
“Kamu nangis?” tanyaku.
“Nggak.”
“Suaramu kayak orang nangis.”
“Suaraku kayak orang alergi debu beras.”
Aku hampir tersenyum. “Aku boleh masuk?”
Jeda panjang.
“...Boleh.”
Aku membuka pintunya. Gudang itu sempit, gelap, berbau beras dan karung goni. Satu-satunya cahaya datang dari celah di atas tripleks, jatuh miring ke dalam, menerangi debu yang melayang pelan di udara.
Angelica duduk di atas tumpukan karung, lutut ditekuk, wajah setengah dalam bayangan.
Dan dia cantik.
Aku sudah tahu itu sejak hari pertama, sejak dia berdiri di lorong kos dengan lampu kuning di belakangnya. Aku sudah menyadarinya berkali-kali sejak itu, dan berkali-kali aku kesal pada diriku sendiri karena menyadarinya. Tapi di gudang beras ini, dengan cahaya miring yang jatuh di sebagian wajahnya, dengan mata yang basah dan hidung yang sedikit merah dan rambut yang lolos dari ikatan, dia cantik dengan cara yang membuatku lupa sedang berdiri di mana. Cantik yang tidak dibuat-buat. Cantik orang yang sedang tidak berusaha terlihat kuat.
Aku menelan sesuatu yang tiba-tiba ada di tenggorokan.
“Bu Endang udah aman,” kataku. “Kamu nggak perlu khawatir.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa—”
“Karena tadi kamu ngomong kayak gitu.” Dia mengangkat wajahnya. “Kayak orang yang udah ngelakuin itu ribuan kali. Kayak orang yang dulu tiap hari berdiri di tengah ruangan penuh orang panik, dan cuma dia yang suaranya nggak naik.”
Aku diam.
“Dan aku mikir,” lanjutnya, suaranya bergetar, “orang kayak gitu—orang yang bisa bikin Bu Endang yang lagi mau pingsan jadi ngantuk cuma lewat telepon—orang kayak gitu dua tahun ngunci diri di kamar kos. Dua tahun. Sendirian. Nggak ada yang nenangin dia waktu dia yang panik.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang terpikir. Aku duduk di karung beras di sebelahnya. Tidak terlalu dekat. Masih ada jarak satu jengkal di antara bahu kami.
“Aku nggak panik,” kataku. “Dua tahun itu.”
“Terus apa?”
Aku menatap debu yang melayang di cahaya miring.
“Diam,” kataku. “Panik itu masih ada suaranya. Aku udah lewat itu. Aku cuma diam.”
Dia tidak menjawab. Tapi tangannya bergerak di atas karung beras, pelan, sampai ujung jarinya menyentuh ujung jariku. Tidak menggenggam. Hanya menyentuh. Seperti orang mengetuk pintu dengan sangat pelan, takut membangunkan seseorang yang sudah lama tidur.
Aku tidak menarik tanganku.
Kami duduk di sana, di gudang beras yang gelap, dengan ujung jari yang bersentuhan, sampai suara Tole terdengar dari dapur.
“KAK ANGEL! PESANAN KANTOR CAMAT UDAH DATENG KURIRNYA! BERASNYA UDAH KELAR DICEK BELUM?!”
Angelica menarik tangannya secepat kilat. Aku berdiri terlalu cepat dan kepalaku membentur rak kayu di atas.
“Udah!” teriaknya ke arah pintu. “Udah kelar! Berasnya... banyak!”
Dia keluar duluan, merapikan rambut, menghapus wajahnya dengan punggung tangan.
Aku tetap di gudang sebentar, memegangi kepalaku yang berdenyut, menatap tumpukan karung tempat kami tadi duduk.
Ujung jariku masih terasa hangat.
Aku tidak tahu apa yang barusan terjadi. Tapi aku tahu, dengan kepastian yang sama seperti aku tahu cara membaca tanda tangan di benda buatan orang lain, bahwa sesuatu baru saja dimulai.
Dan aku tidak yakin aku cukup kuat untuk menghentikannya.
Atau aku tidak yakin aku mau.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik reading
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.