← Tolong, Jangan Diam

Chapter Nine

Hampir

— POV Fatih —

Gue balik dari dinas hari Kamis, dan gue tahu sesuatu udah berubah bahkan sebelum gue duduk.

Melody nggak noleh pas gue masuk — dia nggak pernah noleh. Tapi bahunya. Bahunya, yang biasanya menegang tiap gue deket, hari ini nggak. Dia tetap ngetik, tenang, kayak kehadiran gue itu udah jadi bagian dari ruangan, bukan ancaman yang harus diwaspadai.

Buat orang lain, itu nggak keliatan apa-apa. Buat gue, yang udah berminggu-minggu ngapalin bahasa tubuhnya kayak murid ngapalin rumus, itu kayak matahari terbit.

Gue naruh kopi di mejanya. “Gue balik. Kangen gue?”

“Nggak.”

“Sotonya enak, ngomong-ngomong. Lo harusnya bilang ‘norak’ kemarin, tapi lo nggak bales. Gue kecewa. Gue udah nyiapin pembelaan panjang lebar.”

Ada sesuatu yang gerak di sudut bibirnya. Bukan senyum — Melody nggak ngasih senyum semudah itu — tapi hampir. Bayangan dari senyum. Dan buat gue, bayangan itu lebih berharga daripada senyum lebar siapa pun.

“Balik kerja, Fatih.”

“Siap, Bos.” Gue mundur, tapi gue bawa bayangan senyum itu ke meja gue kayak orang bawa oleh-oleh.

Dimas nyamperin lima menit kemudian, matanya nyala. “Tih. TIH. Gue denger dari Rani. Katanya kemarin, pas lo nggak ada, dia—“

“Dim.”

“—dia URING-URINGAN. Ngambek. Macan kelaparan, kata Rani. Gara-gara lo nggak ada!” Dimas nepuk meja gue kayak baru menang taruhan — yang, well, secara teknis dia emang lagi di jalur menang. “Papan taruhan bergejolak, Bro. Sari nyerah. Reihan naikin taruhan. Ini progress. Ini—“

“Dim, stop.” Gue ngomong pelan, tapi cukup buat bikin dia berhenti. “Gue serius. Jangan jadiin ini bahan taruhan lagi. Turunin papannya.”

Dimas ngedip. “Kenapa? Kan seru—“

“Karena dia bukan pertandingan.” Gue natap Dimas, dan gue rasa muka gue nunjukin sesuatu yang bikin dia diam. “Kalau dia sampe tahu ada orang taruhan soal perasaannya, dia bakal nutup diri lagi, dan gue nggak bakal nyalahin dia. Dia bukan skor, Dim. Dia orang. Turunin papannya. Please.”

Dimas natap gue lama. Terus dia ngangguk, becandanya luntur. “Iya. Sori. Gue turunin sekarang.” Dan dia beneran pergi ke pantry buat nyabut papan itu.

Siang, gue mampir lagi ke mejanya — bukan buat modus, cuma buat naruh salinan revisi yang dia butuhin. “Hari ini boleh, ya?” gue tanya, lebih pelan dari biasanya. “Gue mau nemenin lo makan siang. Lo nggak usah ngomong sepatah kata pun. Gue cuma nggak suka lo makan sendirian tiap hari.”

Dia ngangkat muka. Dan buat sepersekian detik, gue lihat dia mikirin. Beneran mikirin — bukan langsung nolak refleks kayak biasa. Itu pertama kalinya.

“Nggak,” katanya akhirnya. Tapi pelan. Tanpa gigi.

“Oke.” Gue senyum. “Besok gue tanya lagi.” Dan gue nggak keberatan sama sekali, karena “nggak” hari ini beda sama “nggak” minggu lalu. “Nggak” hari ini kedengeran kayak “belum”.

Gue balik ke kerjaan. Tapi kepala gue nggak di kerjaan.

Soalnya begini: gue udah di titik di mana gue bisa, kalau gue mau, ngedorong. Gue bisa lihat retakannya. Gue bisa lihat dia mulai goyah. Satu dorongan yang tepat di waktu yang tepat, dan mungkin — mungkin — tembok itu runtuh dan gue menang.

Dan justru karena itu, gue nggak akan ngedorong.

Karena “menang” dengan cara ndorong orang yang lagi goyah itu bukan menang. Itu ngambil. Gue nggak mau Melody bangun suatu pagi dan mikir dia kejebak, kepancing, didesak pas dia lagi lemah. Gue mau dia milih gue pas dia berdiri tegak, mata terbuka, karena dia mau — bukan karena gue nemu celah di saat dia rapuh.

Kalau itu artinya gue harus nunggu lebih lama, gue nunggu. Gue udah janji sama diri sendiri: gue nggak akan pernah lagi jadi orang yang maju pas harusnya mundur.

Sore itu, momen itu hampir kejadian.

Melody butuh file dari rak atas, dan dia manjat kursi buat ngambilnya — tipikal dia, nggak mau minta tolong. Kursinya oleng. Gue yang kebetulan lewat langsung nangkep — satu tangan di punggungnya, satu di lengannya — dan tiba-tiba dia ada di situ, di lingkar tangan gue, mukanya beberapa senti dari muka gue, napasnya buru-buru karena kaget.

Waktu berhenti sebentar. Gue bisa lihat bintik cokelat kecil di matanya yang selama ini nggak pernah cukup deket buat gue lihat. Gue bisa ngerasain dia nggak narik diri — belum.

Dan ada kalimat yang naik ke tenggorokan gue. Kalimat yang beneran. Melody, gue serius. Ini bukan main-main buat gue. Gue—

Gue telen kalimat itu.

Karena mukanya, sedeket ini, nunjukin dua hal sekaligus: sesuatu yang lembut, yang hampir, yang mungkin — dan di belakangnya, jauh di dalam, sesuatu yang takut. Dan gue nggak mau kalimat gue keluar pas rasa takut itu masih di sana. Gue nggak mau dia bilang “iya” karena kaget, terus nyesel pas jantungnya udah tenang.

Jadi gue cuma bantu dia turun, pelan, sampe kakinya napak lantai. Gue lepas tangan gue. Gue mundur selangkah, ngasih dia ruang, kayak biasa.

“Hati-hati,” kata gue. “Lain kali panggil gue. Gue lebih tinggi, dan gue nggak sombong kayak orang tertentu yang nggak mau minta tolong.”

Dia natap gue sedetik lebih lama dari yang perlu. Terus dia ngambil filenya, gumam “makasih” yang nyaris nggak kedengeran, dan balik ke mejanya.

Dimas, dari kejauhan, ngasih gue tatapan lo-barusan-nyia-nyiain-momen-emas. Gue cuma angkat bahu. Ada hal yang lebih penting daripada momen emas — salah satunya, mastiin momen itu, pas dateng nanti, beneran punya dia, bukan gue yang nyolong pas dia lengah.

Dia nggak ngerti. Gue nggak lagi ngejar buat menang. Gue ngejar buat sampai — dan sampai yang beneran cuma kejadian kalau dia jalan ke arah gue sendiri, di waktunya sendiri.

Gue sabar. Gue bisa nunggu selama yang dia butuhin.

Gue cuma belum tahu, waktu itu, bahwa kesabaran gue bakal diuji dengan cara yang nggak pernah gue bayangin — dan bahwa “berhenti” yang gue takutin selama ini, yang jenis kedua, yang beneran, udah ngintip dari sudut minggu depan.