← Tolong, Jangan Diam

Chapter Eight

Kalau Dia Nggak Ada

— POV Melody —

Fatih dinas ke luar kota hari Rabu. Sehari. Cuma sehari.

Aku tahu itu dari jauh-jauh hari — Bu Ratih ngumumin di rapat, Fatih sendiri nyebutin di Teams (“gue bakal ilang sehari, jangan kangen ya, khususnya lo, Melody” — yang nggak kubales, tentu saja). Jadi waktu pagi itu aku nyampe kantor dan mejaku kosong — nggak ada kopi, nggak ada sticky note, kursi seberang melompong — nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Nggak ada yang perlu dicari. Dia cuma lagi di tempat lain, ngerjain hal lain, dan besok balik.

Logikanya sempurna. Sayangnya, ada bagian diriku yang nggak baca memo soal logika.

Jam sepuluh, pantry sepi. Nggak ada ketawa yang biasanya nyampe ke mejaku. Jam setengah satu, aku makan siang sendiri — yang mana selalu kulakuin dua tahun terakhir, tapi hari ini terasa lebih kosong. Kayak kursi yang biasanya diisi tiba-tiba keliatan menganga.

Dan yang paling parah: sunyi.

Kantor ini nggak pernah beneran sunyi — ada dengung AC, ketikan, telepon berdering. Tapi ada satu suara yang, tanpa kusadari, udah jadi bagian dari lanskap harianku: humming sumbang dari seberang ruangan, lagu nggak jelas yang Fatih nyanyiin pas fokus. Hari ini nggak ada. Dan ketiadaannya bikin semua suara lain kedengeran salah. Terlalu tajam. Terlalu kosong di tengahnya.

Aku uring-uringan sepanjang pagi. Aku bentak Dika, anak magang, gara-gara salah naruh dokumen — kesalahan yang biasanya nggak bakal kupikirin dua kali. Aku ngetik satu paragraf email tiga kali karena nggak bisa fokus. Aku minum kopi yang kubeli sendiri, hitam, tanpa gula, sama persis — tapi entah kenapa rasanya kurang.

Bahkan Dika sampe ngendap-ngendap pas naruh laporan di mejaku, kayak orang naruh daging di kandang singa. Aku nggak marah — atau, aku marah, tapi bukan sama dia. Aku marah sama diriku sendiri, yang nggak bisa fokus gara-gara satu kursi kosong di seberang ruangan. Satu kursi. Dua tahun aku baik-baik aja tanpa kursi itu keisi. Sekarang sehari kosong aja rasanya kayak kantor kehilangan satu dinding.

“Oke.” Rani muter kursinya ngadep aku, tangan dilipat. “Ada apa sama lo hari ini?”

“Nggak ada apa-apa.”

“Lo baru aja ngebentak Dika gara-gara naruh map lima senti dari tempat biasanya.”

“Map itu penting.”

“Mel.” Rani miringin kepala, dan senyum kecil mulai naik di sudut bibirnya — senyum orang yang baru nemu sesuatu yang bakal dia nikmatin. “Lo tahu apa yang beda hari ini?”

“Jangan.”

“Fatih nggak ada.”

“Itu nggak ada hubungannya.”

“Gue nggak bilang ada hubungannya.” Rani ngangkat tangan, polos-polosan. “Gue cuma nyebutin fakta. Fatih nggak ada, dan lo tiba-tiba jadi macan kelaparan. Dua hal yang sama sekali nggak berhubungan. Kebetulan aja.”

Aku melotot. Dia balas nyengir. Dan karena aku nggak punya bantahan yang nggak bakal makin bikin aku keliatan bersalah, aku milih balik ke layar dan pura-pura Rani nggak ada — teknik bertahan yang, sayangnya, nggak pernah mempan ke Rani.

Yang lebih nyebelin: dia bener. Aku tahu dia bener. Dia tahu aku tahu dia bener. Kami cuma sepakat diam-diam buat nggak ngomonginnya keras-keras.

Siangnya, notifikasi Teams. Dari Fatih.

Foto dirinya di depan kantor cabang, muka kelelahan tapi nyengir, caption: Kota ini nggak ada yang segalak lo. Gue bosen. Terus, semenit kemudian, foto semangkuk soto: Enak. Tapi lo pasti bilang gue norak gara-gara foto makanan. Gue foto khusus biar lo bisa ngejudge gue dari jauh. Sama-sama.

Aku nggak bales.

Tapi aku baca. Dua kali. Terus — dan ini yang bikin aku pengin ngubur diri — aku buka lagi jam tiga sore, cuma buat mastiin nggak ada yang baru. Nggak ada. Aku nutup. Aku buka lagi jam empat.

Kapan terakhir kali aku nungguin pesan seseorang? Aku nggak inget. Mungkin karena terakhir kali aku nungguin pesan seseorang, pesan itu nggak pernah datang, dan aku belajar buat berhenti nunggu selamanya.

Tapi hari ini aku nunggu. Dan kesadaran itu bikin dadaku dingin.

Aku hampir bales, malah. Aku ngetik satu kata — Norak. — dan jariku ngambang di atas tombol kirim lebih lama dari yang masuk akal buat satu kata. Terus aku hapus. Kayak biasa. Tapi “kayak biasa” makin lama makin terasa kayak alasan yang aku sendiri udah berhenti percaya.

Sore itu aku pulang lebih awal — nggak ada gunanya juga di kantor kalau nggak bisa fokus. Di apartemen, aku buka pintu, dan disambut sama hal yang paling kukenal: sunyi.

Cuma malam ini, buat pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sunyi itu terasa kayak kekurangan. Bukan keadaan netral. Bukan “aman”. Tapi kayak ada sesuatu yang harusnya ada di situ, dan nggak ada.

Aku duduk di sofa. Kulkas berdengung. Jam berdetak. Dan di kepalaku, tanpa kuminta, humming sumbang itu muter sendiri — lagu nggak jelas yang bahkan aku nggak tahu judulnya, cuma tahu siapa yang nyanyiinnya.

Aku ketawa kecil, pahit, ke ruangan kosong. Aku — Melody Cintya, yang butuh dua tahun buat bikin semua orang belajar menjauh — sekarang duduk sendirian di apartemen, muterin di kepala humming sumbang cowok yang bahkan belum pernah kubales chatnya. Kalau ada versi diriku dari setahun lalu yang lihat ini, dia bakal ngakak dulu, baru khawatir.

Aku peluk lutut. Aku bilang ke diri sendiri ini cuma hari yang berat. Besok Fatih balik, kantor bakal berisik lagi, dan aku bakal normal lagi.

Terus satu pikiran nyelinep masuk, pelan, kayak air yang ngerembes lewat retakan:

Kalau sehari aja udah kayak gini — gimana kalau suatu hari dia beneran pergi?

Aku nggak jawab pikiran itu. Aku nggak berani.

Aku cuma duduk di sana, di tengah sunyi yang tiba-tiba terasa terlalu besar buat satu orang, dan buat pertama kalinya, aku ngerti bahwa aku udah kelewat batas yang selama ini kujaga mati-matian.

Kamu nggak bisa kehilangan sesuatu yang nggak pernah kamu punya. Dan aku, malam itu, jelas-jelas ngerasa kehilangan.