Chapter Twenty
Sekarang Aku yang Berisik
— POV Fatih —
Ada satu hal yang nggak ada yang ngasih tahu gue soal dikejar sama Melody Cintya: itu jauh lebih nakutin daripada ngejar dia.
Waktu gue yang ngejar, gue yang pegang kendali. Gue tahu langkah gue selanjutnya. Sekarang? Sekarang gue nggak pernah tahu kapan bumi bakal bergeser di bawah kaki gue.
Contoh. Senin, gue lagi bikin kopi di pantry, tenang, damai. Tiba-tiba ada tangan di pinggang gue, dagu di bahu gue, dan suara di kuping gue: “Kopi gue dua gula, ya. Eh, salah — itu lo. Gue hitam.” Gue nyaris nuang air panas ke tangan gue sendiri. Pas gue noleh, dia udah jalan pergi, senyum kemenangan, ninggalin gue megang teko sambil mikirin ulang seluruh hidup gue.
Contoh lain. Rabu, rapat divisi. Di tengah Bu Ratih presentasi, Melody — yang duduk di sebelah gue, tentu aja, karena sekarang itu udah jadi hukum alam — nyondong dikit dan bisik, pelan banget, cuma buat gue: “Kerah lo hari ini rapi. Sayang. Gue lebih suka pas berantakan.” Gue keselek air gue sendiri. Bu Ratih berhenti presentasi buat nanya gue baik-baik aja. Gue nggak baik-baik aja. Kayaknya gue nggak bakal baik-baik aja lagi seumur hidup.
Contoh ketiga, dan ini yang bikin gue nyerah ngitung: Jumat, gue lagi fokus ngetik, dan gue ngehum — kebiasaan lama, balik lagi sejak kami jadian. Tiba-tiba Melody berdiri di sebelah meja gue, nunduk, dan bilang cukup keras buat kedengeran beberapa meja: “Suara lo jelek banget. Jangan berhenti.” Terus dia pergi. Seisi divisi denger. Sari sampe ngeluarin suara kayak balon kempes. Gue ngehum salah nada tiga kali abis itu saking gugupnya.
Dimas nikmatin ini lebih dari yang manusiawi. “Papan taruhannya gue pasang lagi,” katanya suatu hari, cengar-cengir. “Tapi kali ini taruhannya: berapa kali sehari Fatih salah tingkah gara-gara Melody. Rekor sementara tujuh. Kemarin lo mecahin rekor sendiri.” Dia nunjukin HP-nya — ada grup chat isinya klip-klip gue kaget, kompilasi, judulnya “Fatih vs Melody: Balas Dendam”. Sari yang bikin thumbnail-nya.
“Hapus itu,” kata gue.
“Nggak mungkin. Ini seni. Ini dokumenter.”
Yang lucu, seisi kantor kayak lega. Kayak mereka udah nonton drama ini berbulan-bulan dan akhirnya dapet ending yang mereka mau. Bu Ratih, yang dulu minta kami “jangan bikin drama”, sekarang diam-diam senyum tiap lihat Melody bawain gue kopi. Bahkan Dika, anak magang, berani becanda: “Kak Melody sekarang suka senyum, ya. Serem juga.” Melody denger — dan alih-alih ngebekuin dia kayak dulu, dia cuma bales, “Awas, gue bisa balik jadi es kapan aja.” Dika ketawa. Dua tahun lalu dia bakal pingsan.
Tapi nggak semuanya becanda.
Suatu malam, kami lembur berdua — beneran lembur kali ini, bukan modus — dan pas lagi istirahat, Melody tiba-tiba diem. Terus dia nanya, pelan, “Waktu itu. Pas gue bilang pergi. Seberapa... seberapa parah?”
Gue mikir mau bohong. Mau bilang “nggak parah kok”, biar dia nggak ngerasa bersalah. Tapi gue udah janji sama diri gue sendiri gue nggak bakal pernah bohong ke dia, walau buat ngelindungin dia.
“Parah,” kata gue jujur. “Gue duduk di parkiran tiap malam sampe satpam ngira gue mau ngapa-ngapain. Gue pindah duduk ke ujung ruangan biar gue nggak liat lo, karena tiap kali gue liat lo, gue pengin nyamperin, dan gue nggak boleh. Gue berhenti ngehum karena gue nggak mau ninggalin bahkan suara gue di ruangan yang lo minta gue kosongin.” Gue senyum, biar nggak kelewat berat. “Gue baik-baik aja sekarang. Beneran. Tapi lo nanya, dan gue nggak mau bohong: iya, itu hampir bunuh gue.”
Mata Melody basah. “Gue minta maaf. Lagi. Gue tahu gue udah minta maaf, tapi—“
“Hei.” Gue ngambil tangannya. “Lo udah minta maaf. Gue udah maafin. Kita nggak perlu tinggal di situ.” Gue remes tangannya. “Lagian, lo udah bayar lunas. Lo nyium gue duluan di tangga darurat. Gue rela diusir sepuluh kali lagi kalau endingnya gitu.”
“Jangan ditest.”
“Nggak berani.”
Dia nyandarin kepalanya ke bahu gue, dan kami duduk gitu sebentar, di kantor yang sepi, di antara tumpukan kerjaan yang tiba-tiba nggak penting. “Gue nggak bakal ngomong ‘pergi’ lagi,” katanya pelan. “Kalaupun gue marah. Kalaupun gue lagi rusak. Gue bakal cari kata lain.”
“Gue pegang omongan lo,” kata gue. “Dan gue bakal tetep di sini buat denger kata apa pun yang lo pilih.”
Malam itu, di jalan pulang, gue mikirin betapa anehnya hidup.
Berbulan-bulan gue jadi si berisik. Gue yang ngetuk tembok. Gue yang bawa kopi, nulis sticky note, nanya “hari ini boleh ya” ke dinding yang nggak pernah jawab. Dan gue lakuin itu karena gue percaya — walau gue nggak pernah yakin — bahwa di balik dinding itu ada seseorang yang layak diperjuangin.
Sekarang dinding itu runtuh. Dan orang di baliknya ternyata bukan cuma layak diperjuangin. Dia layak jadi orang yang, sekarang, gantian merjuangin gue — lebih berisik, lebih berani, lebih nekat dari yang pernah gue bayangin.
Dan tiap kali dia nekat — tiap kali dia narik kerah gue, atau bisik di rapat, atau nawarin pangku di depan lima belas orang — gue lihat sesuatu yang dulu dia sembunyiin mati-matian: dia berani karena dia mutusin gue layak dibuat berani. Itu, buat gue, lebih berarti daripada seribu “iya” yang diucapin pelan-pelan.
Gue nggak nyangka bakal sesuka ini jadi orang yang dikejar. Ternyata rasanya kayak akhirnya dipilih. Tiap hari. Terang-terangan. Di depan semua orang.
Persis kayak yang dulu gue kasih ke dia.
Dimas bilang gue kalah — “lo ngejar setengah tahun, dia ngejar seminggu langsung tembus, nggak adil.” Gue bilang dia nggak ngerti apa-apa. Ini bukan pertandingan. Nggak pernah. Dan lagian, kalaupun ini pertandingan, kami berdua menang.
Karma, ternyata, kadang bentuknya manis. Manis banget, malah — dengan dua gula, kayak kopi gue.
- 1 Truk Tanpa Rem
- 2 Kursi
- 3 Nomor yang Tak Kusimpan
- 4 Alasan Dingin
- 5 Retak Rambut
- 6 Yang Tulus
- 7 Kebiasaan
- 8 Kalau Dia Nggak Ada
- 9 Hampir
- 10 Melodi
- 11 Hari Terburuk
- 12 Oke
- 13 Keheningan yang Salah
- 14 Titik Terendah
- 15 Giliranku
- 16 Canggung yang Baru
- 17 Biar Gue Pangku
- 18 Narik Kerah
- 19 Hari Ini Boleh, Ya?
- 20 Sekarang Aku yang Berisik reading
- 21 Dua yang Berisik
- 22 Tolong, Jangan Diam