Chapter Two
Kursi
— POV Melody —
Ada satu kursi di ruang rapat yang selalu jadi milikku: pojok kanan, paling jauh dari proyektor, punggung nempel tembok. Dari situ aku bisa mengawasi semua orang tanpa ada yang bisa mengintip layarku. Posisi bertahan yang sempurna. Dua tahun nggak ada yang berani mengklaimnya.
Pagi itu, waktu aku masuk ruang rapat, di kursi itu udah ada sesuatu.
Bukan orang. Sebuah gelas kopi, tutupnya masih rapat, berdiri di meja tepat di depan kursi pojokku. Sehelai sticky note kuning nempel di badannya. Tulisan tangan yang agak berantakan: Hitam, tanpa gula. Bener, kan?
Aku nggak perlu menebak siapa.
Dua hari. Butuh dua hari buat dia tahu takaran kopiku, dan butuh nol hari buat dia memutuskan itu jadi urusannya. Aku mengambil sticky note itu, meremasnya jadi bola kecil, lalu membuangnya ke tempat sampah dengan lemparan yang lebih bertenaga dari yang kuniatkan.
“Pagi.” Fatih muncul entah dari mana, menarik kursi di sebelah kursi pojokku, lalu duduk seolah tempat itu memang sudah disediakan untuknya sejak zaman dulu. “Gue tanya-tanya ke anak pantry. Katanya lo tiap pagi ambil yang paling pahit. Jadi gue ambilin.”
“Gue udah punya kopi.”
“Ini buat cadangan.” Dia nyengir. “Siapa tahu yang pertama keburu dingin gara-gara lo terlalu sibuk ninggalin gue tanpa jawaban.”
Aku memindahkan gelas itu ke sisi meja yang paling jauh dari jangkauanku. Dia memperhatikan gerakan itu, dan anehnya, malah kelihatan senang. Seakan aku nggak membuangnya, cuma memindahkannya. Yang mana memang beda — tapi aku benci dia menyadarinya.
Orang-orang mulai berdatangan. Bu Ratih di depan, sibuk mencolok kabel proyektor yang seperti biasa menolak bekerja sama. Kursi terisi satu per satu. Dan seperti hukum alam yang kejam, jumlah orang hari itu ternyata lebih banyak dari jumlah kursi.
Dimas — cowok kacamata dari kemarin — masuk paling akhir, memindai ruangan, dan mendapati dirinya tanpa tempat duduk. Dia menatap Fatih dengan tatapan penuh harap seorang sahabat sejati.
Fatih berdiri. “Nih.” Dia mendorong kursinya sendiri ke arah Dimas.
“Terus lo?”
“Gue di sini aja.” Dan dia benar-benar tinggal di situ — berdiri, di sampingku, di sisi kursi pojokku, tangannya bertumpu santai di sandaran.
Jadi sekarang posisi bertahan sempurnaku punya satu celah setinggi seratus delapan puluh senti yang bernapas tepat di sebelah bahuku.
Dimas, sambil duduk, berbisik ke arah kami dengan volume yang sama sekali bukan bisikan. “Hari kedua, Sodara-sodara. Dia udah dapet posisi samping. Ada yang mau naikin taruhan?”
“Taruhan apa,” desisku.
“Nggak ada apa-apa.” Dimas pura-pura sibuk membuka buku catatan yang halamannya kosong semua.
Rapat mulai. Aku mencoba fokus ke slide Bu Ratih soal target kuartal, tapi ada masalah geometri kecil: ruang berdiri Fatih terlalu sempit. Tiap kali dia menggeser berat badan dari satu kaki ke kaki lain, bahunya menyenggol bahuku. Sekali. Dua kali. Dia buru-buru bergumam “sori” tiap kali, lalu menjaga jarak selama tiga puluh detik, sebelum lupa lagi dan mengulanginya.
Yang bikin kesal bukan sentuhannya. Yang bikin kesal adalah setiap “sori” itu terdengar tulus — dan setiap kali dia menjauh, aku bisa merasakan udara di sebelahku jadi sedikit lebih dingin.
Di tengah slide keempat, dia menunduk sedikit, mendekatkan mulutnya ke arah telingaku tanpa benar-benar menyentuh. “Angka di baris ketiga salah,” bisiknya, pelan, cuma buat aku. “Harusnya kuartal dua, bukan tiga. Kasian Bu Ratih kalau nggak ada yang ngasih tahu.”
Aku melirik slide. Dia benar. Lagi.
“Bukan urusan lo,” balasku, tanpa menoleh.
“Bukan,” dia setuju dengan riang. “Tapi gue suka lihat lo yang betulin. Lo selalu ngangkat tangan pas orang lain masih mikir.”
Aku nggak ngangkat tangan hari itu. Cuma buat membuktikan dia salah. Bu Ratih baru sadar sendiri sepuluh menit kemudian, dan aku duduk di sana dengan kemenangan paling bodoh sepanjang karierku.
Fatih, dari posisi berdirinya, nyengir kecil. Dia tahu persis kenapa aku diam. Dan dia nggak bilang apa-apa soal itu — yang entah kenapa lebih menyebalkan daripada kalau dia menang-menangan.
Aku melirik gelas kopi cadangan di ujung meja. Hitam, tanpa gula. Dia benar. Dua tahun aku minum kopi yang sama tiap pagi di kantor ini, dan orang yang paling dekat pun cuma tahu aku “suka kopi”. Anak baru ini, dalam dua hari, sudah tahu kadarnya.
Aku nggak suka apa artinya itu. Bahwa dia memperhatikan. Bahwa dia repot untuk sesuatu yang jelas-jelas nggak bakal balas modal.
Sepanjang sisa rapat, aku menghitung. Bukan poin-poin Bu Ratih — tapi berapa detik jeda antara satu senggolan bahu dan senggolan berikutnya. Aku bilang ke diri sendiri aku menghitung biar bisa menghindar tepat waktu. Itu bohong, dan aku tahu itu bohong, tapi kadang bohong ke diri sendiri itu satu-satunya cara biar rapat bisa selesai.
Rapat kelar. Semua bubar. Aku sengaja menunggu ruangan kosong sebelum berdiri, biar nggak ada yang lihat aku melakukan... apa, sebenarnya? Melarikan diri dari cowok yang nggak ngapa-ngapain selain berdiri di sebelahku dan minta maaf terlalu sering?
Waktu aku keluar, gelas kopi cadangan itu masih ada di meja. Aku menatapnya sebentar.
Lalu — dan sampai sekarang aku nggak bisa menjelaskan kenapa — aku mengambilnya, dan meminumnya sampai habis di dalam lift.
Pahit. Persis seperti yang kusuka.
Aku menatap bayanganku sendiri di pintu lift yang mengilap. Perempuan berwajah datar yang barusan menghabiskan kopi dari orang yang seharian ini dia perlakukan seperti gangguan.
Dua tahun aku menjaga kursi pojok itu supaya nggak ada yang bisa berdiri terlalu dekat. Hari ini seseorang malah menyerahkan kursinya sendiri cuma biar bisa berdiri di sebelahku — dan anehnya, itu terasa lebih seperti dijaga daripada diserbu. Aku nggak tahu harus menaruh perasaan itu di mana. Jadi kutaruh saja di tempat yang sama dengan semua hal lain yang nggak mau kupikirin: di bawah, dalam-dalam, di belakang pintu yang kukunci.
“Sialan,” gumamku pelan, ke bayangan itu.
Bayangan itu nggak jawab. Tapi kalau bisa, kurasa dia bakal setuju.
- 1 Truk Tanpa Rem
- 2 Kursi reading
- 3 Nomor yang Tak Kusimpan
- 4 Alasan Dingin
- 5 Retak Rambut
- 6 Yang Tulus
- 7 Kebiasaan
- 8 Kalau Dia Nggak Ada
- 9 Hampir
- 10 Melodi
- 11 Hari Terburuk
- 12 Oke
- 13 Keheningan yang Salah
- 14 Titik Terendah
- 15 Giliranku
- 16 Canggung yang Baru
- 17 Biar Gue Pangku
- 18 Narik Kerah
- 19 Hari Ini Boleh, Ya?
- 20 Sekarang Aku yang Berisik
- 21 Dua yang Berisik
- 22 Tolong, Jangan Diam