Chapter Three
Nomor yang Tak Kusimpan
— POV Fatih —
Orang sering salah paham soal cara gue ngejar seseorang. Mereka pikir gue nggak tahu malu. Mungkin bener. Tapi ada alasannya, dan alasannya bukan karena gue nggak bisa baca situasi.
Gue ngejar terang-terangan justru karena gue nggak mau ada satu pun bagian dari ini yang sembunyi-sembunyi. Nggak ada chat tengah malam yang gue kirim diam-diam. Nggak ada modus yang gue bungkus jadi “kebetulan”. Kalau gue naksir seseorang, gue mau dia tahu persis apa yang dia hadapi, sejak menit pertama, di depan semua orang — biar dia bisa milih dengan jujur. Nggak ada yang lebih gue benci daripada bikin orang ngerasa kejebak.
Masalahnya, Melody Cintya milih dengan sangat jujur. Dan jawabannya, sejauh ini, “nggak” — dalam berbagai ukuran dan warna.
Tapi gue perhatiin satu hal yang mungkin orang lain nggak: dia nggak pernah sekali pun bilang “pergi”. Dia bilang “nggak”, dia bilang “sibuk”, dia bilang “berhenti” — tapi nggak pernah “pergi sana”. Dan buat orang yang udah lama belajar baca penolakan, itu beda tipis, tapi penting. Orang yang beneran mau lo lenyap punya satu kata khusus buat itu. Melody belum pernah makai.
“Sebelas hari.” Dimas naruh segelas kopi di depan gue di pantry. “Gue kasih lo sebelas hari sebelum nyerah. Reihan bilang tujuh. Sari anak finance taruhan tiga hari — dia pesimis banget sama lo.”
“Bilang ke Sari makasih atas kepercayaannya.”
Reihan nyeletuk dari meja sebelah tanpa ngangkat muka dari layarnya. “Gue naikin ke sepuluh hari kalau ada yang mau bikin ini menarik.”
“Kalian tahu gue bisa denger, kan?”
“Itu justru bagian serunya.” Dimas nyengir. “Papan taruhannya udah gue tempel di pintu kulkas pantry. Nama lo resmi jadi cabang olahraga baru di divisi ini. Ada yang taruhan durasi, ada yang taruhan cara lo bakal ditolak. Sari milih ‘disiram kopi’. Gue bela lo — gue milih ‘ditolak dengan sopan tapi menghancurkan’.”
“Terima kasih atas dukungannya yang menyentuh.”
“Serius, Tih.” Dimas nyandar ke konter. “Cewek itu udah nolak dua bos startup, satu anak direktur, sama entah berapa orang yang mentalnya lebih kuat dari lo. Dia bukan dingin. Dia beku. Es abadi. Lo ngapain, sih?”
Gue mikir bentar. “Lo pernah lihat orang yang capek banget sampai keliatannya kayak dingin?”
Dimas ngerutin dahi. “Maksudnya?”
“Nggak ada.” Gue ngangkat kopi gue. “Lupain.”
Tapi gue nggak lupa. Karena gue lihat itu di dia. Cara dia jawab tiap penolakan dengan kalimat yang tersusun rapi, bukan bentakan — orang yang beneran nggak peduli nggak akan repot serapi itu. Cara bahunya menegang tiap gue deket, bukan karena jijik, tapi karena bersiap. Orang cuma bersiap kalau pernah kena pukul sebelumnya.
Gue nggak tahu siapa yang mukul duluan. Tapi gue tahu satu hal: dinginnya bukan siapa dia. Dinginnya cuma pintu yang dia kunci dari dalam.
Siangnya gue mampir ke mejanya. Dia lagi ngetik, dan dia tahu gue datang — gue lihat bahunya menegang, persis kayak yang gue bilang — tapi dia nggak ngangkat muka.
“Boleh minta nomor lo?” gue tanya.
“Nggak.”
“Buat keperluan kerja doang. Sumpah.” Gue naruh tangan di dada. “Kalau ada revisi laporan tengah malam, kan kasian kalau gue nggak bisa—“
“Ada email. Ada Teams. Ada meja lo yang cuma sepuluh meter dari sini.” Dia akhirnya ngangkat muka, dan tatapannya bisa mendinginkan kopi panas. “Pilih salah satu.”
“Teams,” gue jawab langsung. “Gue pilih Teams. Tapi biar lo tahu — gue bakal isi kolom chat itu tiap hari, dan lo bebas nge-mute gue kapan aja. Gue nggak bakal tersinggung. Nge-mute itu masih lo yang pegang kendali. Beda sama gue yang berhenti sendiri.”
Dia natap gue lama, kayak lagi nyari jebakan di dalam kalimat itu. Nggak ada. Gue emang nggak masang jebakan. Itu justru intinya.
Gue senyum. Bukan karena gue menang — jelas-jelas gue kalah — tapi karena dia jawab. Dia selalu jawab.
“Oke.” Gue mundur selangkah. “Hari ini boleh, ya? Gue temenin lo makan siang. Lo nggak usah ngomong. Gue yang cerita, lo tinggal makan.”
Sedetik — cuma sedetik — ada sesuatu yang bergerak di matanya. Bukan marah. Lebih kayak kaget, karena ada yang nawarin dia diam. Terus pintu itu kekunci lagi.
“Nggak,” katanya. “Dan berhenti.”
Gue berhenti. Buat hari itu. Gue mundur, ngangkat dua tangan, ngasih dia ruang, terus balik ke meja gue.
Dimas nyamperin. “Ditolak lagi?”
“Ditolak lagi.”
“Terus kenapa lo senyum kayak orang menang lotre?”
Gue nggak jawab. Susah dijelasin ke Dimas, yang hidupnya sesederhana skor bola.
Dia balik ke mejanya sambil geleng-geleng. Gue duduk, buka laporan yang seharusnya gue kerjain. Tapi mata gue nyangkut lagi ke seberang ruangan, ke perempuan yang barusan nolak gue buat kesekian kalinya dan sekarang lagi mijit pelipisnya di depan layar, sendirian, dikelilingi orang tapi kayak berdiri di pulau yang nggak keliatan sama siapa pun.
Soalnya begini: ada dua macam “berhenti”, dan gue belajar bedainnya dengan cara yang nggak gue rekomendasiin ke siapa pun. Ada “berhenti” yang artinya nggak hari ini, coba lagi besok. Dan ada “berhenti” yang keluar dari tempat jauh lebih dalam — yang artinya beneran — yang kalau lo langgar, lo bukan lagi orang yang ngejar. Lo jadi orang yang maksa.
Yang tadi jenis pertama. Gue yakin sembilan puluh persen.
Tapi gue janji satu hal ke diri gue sendiri hari itu, sambil ngeliatin punggungnya yang kaku dari seberang ruangan: kalau suatu hari dia ngeluarin yang jenis kedua — yang beneran — gue bakal berhenti. Total. Nggak peduli separah apa rasanya.
Karena gue pernah jadi orang yang nggak berhenti pas dia harusnya berhenti. Sekali. Dan gue masih inget muka orang itu tiap kali gue merem. Gue nggak akan pernah jadi orang itu lagi, buat siapa pun, walau taruhannya kehilangan satu-satunya cewek yang bikin pagi gue jadi ada isinya.
Tapi hari itu belum tiba. Melody cuma capek, dan gue cuma berisik, dan itu masih bisa diperbaiki.
Jadi besok, gue bakal tanya lagi.
- 1 Truk Tanpa Rem
- 2 Kursi
- 3 Nomor yang Tak Kusimpan reading
- 4 Alasan Dingin
- 5 Retak Rambut
- 6 Yang Tulus
- 7 Kebiasaan
- 8 Kalau Dia Nggak Ada
- 9 Hampir
- 10 Melodi
- 11 Hari Terburuk
- 12 Oke
- 13 Keheningan yang Salah
- 14 Titik Terendah
- 15 Giliranku
- 16 Canggung yang Baru
- 17 Biar Gue Pangku
- 18 Narik Kerah
- 19 Hari Ini Boleh, Ya?
- 20 Sekarang Aku yang Berisik
- 21 Dua yang Berisik
- 22 Tolong, Jangan Diam