Chapter One
Truk Tanpa Rem
— POV Melody —
Aku punya satu aturan soal pagi: jangan ada kejutan.
Jam delapan lewat tiga menit, aku melewati pintu kaca lantai lima belas. Seperti biasa, obrolan di pantry langsung turun setengah oktaf pas aku lewat. Ada yang buru-buru menegakkan duduknya. Anak magang dekat mesin fotokopi menahan napas kayak aku alarm kebakaran yang bisa bunyi kapan aja. Aku nggak pernah minta diperlakukan begitu. Tapi katanya wajah punya bahasanya sendiri — dan bahasa mukaku kayaknya bunyinya: jangan dekat-dekat.
Bagus. Hemat waktu.
Aku duduk. Layar menyala. Dua belas email, tiga yang penting. Kopi hitam tanpa gula udah nunggu di sudut meja, persis di tempat yang sama kayak kemarin dan seribu pagi sebelumnya. Dunia yang rapi. Dunia yang nggak nuntut apa-apa dariku selain menyelesaikan kerjaan lalu pulang.
“Pagi, Ratu Es.”
Aku nggak mengangkat muka. “Kalau lo masih sempet mikirin julukan, Ran, berarti laporan divisi lo udah kelar.”
Rani menjatuhkan diri ke kursinya di sebelahku, nggak kesinggung sedikit pun. Dua tahun bersebelahan meja bikin dia kebal. “Belum. Tapi ada yang lebih penting dari laporan.” Dia mencondongkan badan, matanya berbinar. “Katanya hari ini ada anak pindahan. Dari cabang. Cowok.”
“Semoga bisa kerja.”
“Lo nggak penasaran dikit pun?”
“Nggak.”
Dan aku emang nggak. Sampai pintu ruangan terbuka, dan Bu Ratih masuk sambil membawa seseorang di belakangnya.
Aku tahu ada yang berubah bahkan sebelum menoleh, soalnya seisi ruangan mendadak menoleh duluan. Suara ketikan berhenti. Rani, di sebelahku, mengeluarkan bunyi kecil kayak teko mau mendidih.
“Teman-teman, bentar.” Bu Ratih menepuk tangan. “Ini Fatih, pindahan dari cabang. Mulai hari ini gabung tim kita. Tolong dibantu, ya.”
Anak baru itu tersenyum ke seisi ruangan. Bukan senyum kaku orang hari pertama — senyum orang yang ngerasa baru aja sampai rumah. Dia mengangguk sopan ke sana-sini. Beberapa orang balas mengangguk. Rani melambai heboh kayak dia yang jadi tuan rumah.
Lalu pandangan anak baru itu menyapu ruangan, berhenti di satu titik, dan nggak bergerak lagi.
Titik itu aku.
Sebelum otakku sempat memproses, kakinya udah melangkah. Lurus. Melewati meja-meja lain, melewati anak magang yang memundurkan kursinya buat memberi jalan, melewati akal sehat pada umumnya. Dia berhenti pas di depan mejaku, menaruh dua tangan di tepi meja, lalu menunduk sedikit biar pandangan kami sejajar.
“Halo,” katanya. “Gue Fatih.”
“Gue tau. Barusan dikenalin.”
“Lo?”
“Sibuk.”
Dia nggak mundur. Malah senyumnya makin lebar, kayak aku barusan mengatakan sesuatu yang menyenangkan. Di ujung ruangan, cowok berkacamata — yang belakangan kutahu namanya Dimas — menutup mulutnya pakai telapak tangan, entah menahan tawa atau doa.
“Nama lo Melody, kan?” Fatih menyebut namaku kayak lagi mencicip sesuatu yang manis. “Cocok. Dari tadi gue dengerin orang-orang, kok kayak ada satu meja yang beda sendiri. Ternyata bener.”
“Itu bukan pujian yang gue butuhin jam delapan pagi.”
“Terus lo butuh apa? Biar gue catet.”
Aku menatapnya. Beneran menatap, kali ini — cara yang biasanya cukup buat bikin orang menemukan urusan mendadak di tempat lain. Dia menerima tatapan itu bulat-bulat, tanpa berkedip, kayak aku lagi menawarinya hadiah.
“Yang gue butuhin,” kataku pelan, “adalah balik kerja.”
“Oke.” Dia menegakkan badan. Aku sempat mengira ini menang gampang. Lalu dia menambahkan, dengan nada seenteng orang menanyakan cuaca, “Hari ini boleh, ya? Gue ajak makan siang.”
“Nggak.”
“Nggak apa-apa.” Dia mengangkat bahu, sama sekali nggak patah. “Besok gue tanya lagi.”
Dan dia beneran melakukannya — berbalik, jalan ke meja kosong di seberang ruangan yang ditunjuk Bu Ratih, lalu duduk kayak barusan itu obrolan paling wajar sedunia. Kayak ditolak mentah-mentah di depan lima belas orang udah masuk jadwal harinya.
Ruangan tetap hening satu detik lebih lama dari seharusnya. Lalu semua pura-pura mengetik lagi.
Rani menyambar lenganku, mencengkeram kayak orang tenggelam. “Melody,” desisnya, “lo lihat itu? Lo lihat—“
“Gue lihat.”
“Dia jalan ke arah lo kayak—kayak—“ Rani mencari kata, dan menemukan yang paling parah. “Kayak truk. Truk tanpa rem.”
“Rani.”
“Gue serius! Orang normal itu ngerem, Mel. Mikir. Ragu. Dia enggak. Dia tinggal—“ Rani menirukan bunyi klakson, cukup keras sampai anak magang menoleh lagi.
“Laporan,” kataku. “Divisi lo.”
Dia mendengus, tapi kembali ke layarnya, masih senyum-senyum sendiri kayak abis nonton film favorit. Aku menarik napas dan mencoba menemukan lagi dua belas email dan tiga yang penting. Dunia yang rapi. Yang nggak nuntut apa-apa.
Cuma, sepanjang sisa pagi, aku sadar satu hal kecil yang mengganggu lebih dari seharusnya: udah lama banget nggak ada orang yang jalan ke arahku, bukan menjauh.
Aku mengusir pikiran itu. Kerja. Pulang.
Malamnya, seperti biasa, apartemenku menyambut dengan cara yang paling kukenal — tanpa suara apa pun.
Aku menutup pintu. Bunyi kunci terdengar kelewat keras di lorong sesempit itu. Aku menyalakan lampu, menaruh tas, melepas sepatu, lalu berdiri sebentar di ruang tamu yang rapi, dingin, dan sunyi. Kulkas berdengung pelan. Jam dinding berdetak. Selain itu, nggak ada apa-apa. Nggak ada yang nanya hariku gimana. Nggak ada yang perlu kujawab.
Dulu apartemen ini nggak sesunyi ini. Dulu ada suara lain yang mengisi celah-celahnya, ada orang yang kutunggu bunyi kuncinya. Tapi “dulu” itu udah lama banget, dan aku udah belajar berhenti menghitung sejak kapan.
Beginilah seharusnya. Sepi itu aman. Sepi nggak pernah pergi meninggalkanmu, soalnya dari awal dia emang nggak pernah datang.
Aku menghangatkan makan malam, makan di meja buat satu orang, lalu mencuci satu piring. Habis itu aku duduk, dan entah kenapa, terbayang lagi suara enteng tadi pagi. Hari ini boleh, ya?
Konyol. Aku bahkan nggak suka sama dia. Mengganggu, kelewat berisik, kelewat pede, dan besok kemungkinan besar bakal mengulang hal yang sama sampai akhirnya bosan sendiri kayak semua orang.
Aku mematikan lampu lalu tidur, yakin banget besok aku bakal menolaknya lagi, segampang hari ini.
Aku salah. Tapi butuh berbulan-bulan buat aku mau mengakuinya.
- 1 Truk Tanpa Rem reading
- 2 Kursi
- 3 Nomor yang Tak Kusimpan
- 4 Alasan Dingin
- 5 Retak Rambut
- 6 Yang Tulus
- 7 Kebiasaan
- 8 Kalau Dia Nggak Ada
- 9 Hampir
- 10 Melodi
- 11 Hari Terburuk
- 12 Oke
- 13 Keheningan yang Salah
- 14 Titik Terendah
- 15 Giliranku
- 16 Canggung yang Baru
- 17 Biar Gue Pangku
- 18 Narik Kerah
- 19 Hari Ini Boleh, Ya?
- 20 Sekarang Aku yang Berisik
- 21 Dua yang Berisik
- 22 Tolong, Jangan Diam