← Tolong, Jangan Diam

Chapter Four

Alasan Dingin

— POV Melody —

Fatih nggak berhenti. Tentu saja.

Hari ketiga dia bawain kopi lagi. Hari keempat dia nemuin gue di lift dan cerita soal kucing tetangganya selama dua belas lantai penuh tanpa kupancing sedikit pun. Hari kelima dia naruh sticky note di monitorku — bukan modus, cuma tulisan Semangat, laporan Q3 pasti kelar — dan aku merobeknya sebelum sempat merasakan apa pun soal itu.

Penolakanku makin tajam tiap hari. Aku sengaja. Karena tiap kali dia mundur sedikit lebih pelan, tiap kali senyumnya bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya, ada sesuatu di dadaku yang ikut goyah — dan hal yang goyah, cepat atau lambat, akan runtuh. Aku udah pernah lihat reruntuhannya. Aku nggak mau lihat lagi.

Seisi kantor mulai menganggap ini semacam tontonan harian. Sari dari finance nyapa Fatih tiap pagi dengan “Semangat, ya” yang terlalu penuh belas kasihan. Anak magang taruhan diam-diam. Bahkan Bu Ratih, di satu rapat, nggak sengaja nyebut kami “pasangan” — lalu buru-buru mengoreksi jadi “rekan”, dengan muka yang jelas-jelas nggak percaya sama koreksinya sendiri.

Aku benci itu. Bukan karena mereka salah. Tapi karena tiap kali ada yang menyandingkan namaku dengan namanya, ada bagian kecil dari diriku yang — sesaat, cuma sesaat — nggak langsung menolak. Dan bagian kecil itulah yang paling bikin aku takut.

“Kamu tuh kenapa, sih?” Rani akhirnya meledak di jam makan siang, sambil nusuk-nusuk saladnya kayak salad itu yang bersalah. “Cowok itu literally nggak ada cacatnya. Sopan. Lucu. Sabar. Wanginya enak — jangan tanya kenapa aku tahu. Dan kamu ngeperlakuin dia kayak salesman asuransi.”

“Salesman asuransi setidaknya berhenti kalau ditolak.”

“Mel.”

“Rani.” Aku menaruh sendok. “Lo nggak bakal ngerti.”

“Ya makanya jelasin! Gue temen lo dua tahun dan gue nggak pernah sekali pun tahu isi kepala lo. Gue tahu lebih banyak soal isi kulkas lo daripada soal hati lo.”

Dan di situ, entah kenapa, ada sesuatu yang mengetuk pintu di belakang kepalaku. Sesuatu yang udah lama kukunci rapat-rapat.

Dulu, waktu umurku sembilan belas, ada orang yang ngejar aku persis kayak gini. Terang-terangan, tiap hari, nggak tahu malu. Dia bilang dia nggak akan ke mana-mana. Dia bilang itu berkali-kali sampai aku percaya — dan percaya itu bagian yang paling bodoh, karena percaya butuh bertahun-tahun buat dibangun, dan cuma butuh satu pagi buat runtuh.

Satu pagi. Nggak ada pertengkaran. Nggak ada tanda. Cuma satu pagi di mana dia nggak muncul, dan nggak pernah muncul lagi. Nggak ada pesan. Nggak ada penjelasan. Cuma keheningan — yang lalu jadi teman sekamarku selama bertahun-tahun sesudahnya.

Orang bilang yang paling sakit itu perpisahan. Mereka salah. Yang paling sakit itu keheningan — nggak dikasih tahu kenapa, nggak dikasih kesempatan buat ngerti. Ditinggal tanpa suara bikin kamu menghabiskan sisa hidup nebak-nebak apa yang salah sama diri kamu, dan nggak pernah dapat jawabannya.

Jadi aku belajar satu hal yang sederhana: orang datang untuk pergi. Dan cara paling aman biar nggak ditinggal adalah nggak pernah membiarkan siapa pun cukup dekat untuk bisa pergi.

“Mel?” Rani menatapku, alisnya turun. “Lo pucet.”

“Gue baik.” Aku mengambil sendok lagi. “Gue cuma capek.”

Dia nggak percaya — Rani nggak pernah sepenuhnya percaya — tapi dia cukup sayang buat nggak maksa. Dia cuma menggeser piring kentang gorengnya ke tengah meja, ke wilayah bersama, yang dalam bahasa Rani artinya aku di sini kalau lo mau cerita. Aku ambil satu, sebagai balasan yang artinya makasih, tapi jangan sekarang.

“Satu hal doang,” kata Rani, mulutnya penuh. “Kalau suatu hari lo sadar lo salah soal dia, jangan gengsi. Gengsi itu mahal, Mel. Gue pernah kehilangan cowok gara-gara gengsi tiga hari doang. Bayangin lo — yang gengsinya udah level tahunan.”

Aku nggak jawab. Tapi kalimat itu nyangkut, dengan cara yang nggak kusukai — kayak duri halus yang baru kerasa pas kamu udah nggak lagi mikirinnya.

Sore itu Fatih lewat mejaku bawa dua gelas kopi lagi, senyum udah nyiap di mukanya. Dan sebelum dia sempat ngomong apa-apa, aku bilang — dengan suara yang bahkan bikin aku sendiri kaget saking dinginnya:

“Berhenti bawain gue kopi. Berhenti nyari-nyari alasan buat lewat sini. Gue nggak tertarik, nggak akan pernah tertarik, dan tiap menit yang lo buang buat gue itu menit yang nggak bakal lo dapetin balik.”

Ruangan hening. Beberapa kepala menoleh, lalu buru-buru pura-pura nggak menoleh.

Fatih berdiri di situ sebentar, dua gelas kopi di tangan. Aku menunggu mukanya berubah. Menunggu dia akhirnya melihatku seperti semua orang melihatku pada akhirnya — sebagai sesuatu yang lebih baik dijauhi.

Tapi dia cuma senyum. Lebih pelan dari biasanya, tapi tetap senyum. “Oke. Tapi kopinya udah terlanjur gue beli. Gue taruh di pantry aja, ya. Sayang kalau dibuang.”

Dia pergi. Dan aku duduk di sana, menang, dengan kemenangan yang rasanya persis kayak kalah.

Aku selalu menang. Itu masalahnya. Aku udah menang berkali-kali sampai nggak ada lagi yang tersisa buat dimenangin — cuma meja rapi, apartemen sunyi, dan barisan panjang orang yang akhirnya belajar buat menjauh, persis kayak yang kuminta.

Sorenya aku lewat pantry. Dua gelas kopi itu masih di sana, utuh, dingin, nggak disentuh siapa-siapa. Entah kenapa pemandangan itu bikin dadaku sesak lebih dari yang masuk akal.

Dua gelas. Dia selalu beli dua — satu buatku, satu entah buat siapa. Baru sekarang aku sadar: mungkin gelas kedua itu cuma biar aku nggak merasa sedang dikasihani sendirian. Bahkan waktu ditolak mentah-mentah, dia masih repot mikirin cara biar aku nggak malu.

Aku nggak minum kali ini. Aku cuma menatapnya sebentar, lalu pergi.

Malam itu apartemenku terasa lebih sunyi dari biasanya. Yang seharusnya nggak mungkin — sunyi kan cuma satu takaran: kosong. Tapi ternyata ada kosong yang biasa, dan ada kosong yang baru. Kosong yang tadinya hampir keisi, terus kamu tolak sendiri.

Aku bilang ke diri sendiri aku nggak menyesal.

Aku mengatakannya ke keheningan. Dan keheningan, seperti biasa, nggak menjawab.