← Tolong, Jangan Diam

Chapter Thirteen

Keheningan yang Salah

— POV Melody —

Hari pertama, aku bilang ke diri sendiri aku lega.

Nggak ada kopi di mejaku pagi itu. Nggak ada sticky note. Kursi seberang ruangan — kursinya — kosong. Lalu aku sadar dia pindah, ke ujung ruangan yang paling jauh, tempat aku harus muter kepala buat bisa liat dia — yang mana aku nggak lakuin, tentu saja.

Nggak ada “hari ini boleh, ya”. Nggak ada humming. Nggak ada notifikasi Teams.

Ini yang aku mau, kan? Ini yang aku minta. Ruang. Tenang. Nggak ada gangguan.

Aku bilang ke diri sendiri itu lega. Aku bilang berkali-kali.

Aku bahkan sengaja beli kopi sendiri pagi itu — hitam, tanpa gula — dan naruhnya di sudut meja yang persis sama kayak yang selalu dia pilih. Aku bilang ke diri sendiri itu kebetulan. Tapi aku minum kopi itu pelan-pelan sepanjang pagi, dan rasanya salah. Bukan karena kopinya beda. Karena nggak ada catatan kecil nempel di gelasnya, nanya “bener, kan?”

Tapi jam sepuluh, sesuatu yang aneh terjadi. Tanpa kusadari, kepalaku ngangkat, mataku ngelirik ke arah pintu pantry, dan ada bagian diriku yang... nunggu. Nunggu suara ketawa yang biasa nyampe ke mejaku. Nunggu langkah yang biasa berhenti di depan meja. Nunggu kalimat yang biasa datang tiap hari kayak matahari terbit.

Nggak ada.

Aku baru sadar aku nunggu tepat pas nggak ada yang datang.

Jam-jam berikutnya kayak gitu terus. Tubuhku hafal ritme yang kepalaku pura-pura lupa. Jam setengah satu aku setengah nengok, nyariin sosok yang biasa ngajak makan siang — nggak ada. Jam lima, kupingku pasang otomatis buat langkah yang biasa lewat sekali cuma buat bilang sesuatu yang nggak penting — nggak ada. Setiap “nggak ada” itu kayak nginjek anak tangga yang kukira masih ada, terus kaki jatuh ke ruang kosong.

Siang, aku buka laci mejaku buat ambil pulpen, dan di situ mereka — tumpukan sticky note-nya, berminggu-minggu, tulisan tangan berantakan yang dulu kurobek atau kupura-pura nggak baca. Semangat, laporan Q3 pasti kelar. Slide lo juara. Selamat pagi orang paling galak sekantor. Aku duduk, laci setengah kebuka, mandangin arsip dari kebaikan yang tiap hari kutolak — dan aku nutup laci itu pelan-pelan, kayak nutup peti.

Dan sunyinya. Ya Tuhan, sunyinya.

Kantor ini nggak lebih sepi dari biasanya — dengung AC sama, ketikan sama, telepon sama. Tapi ada satu suara yang hilang, dan ketiadaannya bikin semua yang lain kedengeran salah. Kantor ini mulai terdengar persis kayak apartemenku. Sunyi yang sama. Sunyi yang selama ini kukira aman.

Aku baru ngerti, hari itu, bahwa aku salah soal sunyi selama ini. Sunyi bukan tempat berlindung. Sunyi itu cuma bekas — bekas dari suara yang dulu ada dan sekarang nggak.

“Mel.” Rani narik kursinya ke sebelahku, pelan, hati-hati, cara orang deketin sesuatu yang mungkin pecah. “Lo... oke?”

“Gue baik.”

“Lo nggak keliatan baik.”

“Gue baik, Rani.”

Dia diem sebentar. Terus: “Dia nggak salah, lho. Kemarin. Dia cuma bawain kopi di waktu yang salah.”

“Gue tahu.” Suaraku dingin, tapi bukan ke Rani. Ke diri sendiri.

“Terus kenapa nggak lo—“

“Karena udah telat.” Aku motong. “Gue bilang ‘pergi’, Ran. Di depan semua orang. Lo nggak bilang ‘pergi’ ke seseorang terus tinggal minta dia balik keesokan harinya kayak nggak terjadi apa-apa.”

Rani buka mulut. Terus dia nutup lagi — karena dia tahu, kayak aku tahu, bahwa aku bener. Dan bener itu nggak selalu sama dengan nggak bisa diperbaiki. Tapi kadang gengsi bikin dua hal itu jadi kembar yang susah dibedain.

Dia balik ke mejanya. Percobaannya buat nyairin es gagal, kayak semua percobaan sebelumnya — cuma kali ini bukan karena esku terlalu tebal. Karena esku udah cair, dan yang tersisa cuma genangan dingin yang nggak tahu harus ngalir ke mana.

Sebelum bener-bener balik ke mejanya, dia noleh sekali lagi. “Mel. Kalau suatu saat lo berubah pikiran — dan gue kenal lo, lo bakal berubah pikiran — jangan nunggu momen yang sempurna. Momen sempurna itu nggak ada. Yang ada cuma momen, terus momen yang udah kelewat.” Aku nggak jawab. Tapi kalimat itu, kayak kalimat gengsinya dulu, nyangkut. Duri halus lagi, di tempat yang sama.

Sisa minggu itu jalan kayak film bisu. Fatih ada — aku bisa ngerasain keberadaannya di ujung ruangan kayak orang ngerasain cuaca — tapi dia kayak ada di balik kaca. Sopan kalau kepaksa papasan. Rapi. Jauh. Dia nurutin permintaanku sampe ke huruf terakhir, dan itulah masalahnya: aku nggak pernah nyangka seseorang bisa nurutin “pergi” dengan sesempurna itu. Orang-orang di masa laluku pergi karena mereka mau. Fatih pergi karena aku nyuruh — dan entah kenapa, tahu itu bikin semuanya lebih parah, bukan lebih ringan.

Aku dulu ngira yang paling nyakitin dari ditinggalin itu perginya. Ternyata bukan. Yang paling nyakitin itu ngeliat orangnya masih ada, masih di ruangan yang sama, tapi udah dibatasi tembok kaca yang lo sendiri yang bangun — batu bata demi batu bata, pake tangan lo sendiri.

Malam itu di apartemen, aku duduk di sofa, dan buat pertama kalinya aku ngerti kenapa sunyi ini terasa beda dari sunyi bertahun-tahun sebelumnya.

Dulu, sunyi ini kosong karena emang nggak pernah ada yang ngisi.

Sekarang, sunyi ini kosong karena ada yang pernah ngisi, terus aku sendiri yang ngusir dia keluar.

Aku peluk lutut. Kulkas berdengung. Jam berdetak. Dan di kepalaku, buat pertama kalinya dalam berhari-hari, humming sumbang itu nggak muter. Bahkan ingatanku pun mulai ikut sunyi, kayak dia juga akhirnya nurutin perintahku buat pergi.

“Hari ini boleh, ya?” bisikku ke ruangan kosong, pelan, niruin suara yang nggak akan datang lagi.

Ruangan nggak jawab. Sunyi, seperti biasa, nggak pernah jawab.

Cuma sekarang aku tahu persis apa yang hilang dari sunyi itu. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada nggak pernah tahu sama sekali.