Chapter Ten
Melodi
— POV Melody —
Namaku Melody. Ibuku ngasih nama itu karena, katanya, waktu aku lahir aku nggak nangis kayak bayi lain — aku cuma ngeluarin suara kecil yang, menurut dia, kayak nada. Dia bilang aku bakal jadi anak yang bikin dunia bernyanyi.
Ibuku salah, ternyata. Bertahun-tahun terakhir, hidupku justru jadi hal paling sunyi yang bisa kubayangin. Nama musik, hidup senyap. Lelucon yang cuma alam semesta yang ngerti.
Sampai hari itu.
Awalnya hal kecil. Dimas, di seberang ruangan, lagi berusaha mindahin galon air ke dispenser dan gagal total — galonnya kepleset, air muncrat ke mana-mana, dan Dimas, dalam usaha heroik nyelametin galon, malah meluk galon itu kayak meluk bayi sambil teriak “GUE PEGANG! GUE PEGANG!” padahal jelas-jelas dia nggak pegang apa-apa.
Fatih, dari mejanya, tanpa noleh, komentar dengan nada penyiar berita: “Dan di sinilah kita menyaksikan Dimas, tiga puluh tahun, kalah melawan gravitasi dan air — dua musuh yang, harus diakui, memang belum terkalahkan sepanjang sejarah manusia.”
Dimas, masih meluk galon basah: “DIAM LO.”
“Pemirsa, sang juara masih dalam penyangkalan.”
Dan entah kenapa — mungkin karena aku lagi capek, mungkin karena pertahananku lagi tipis, mungkin karena Dimas beneran keliatan kayak orang yang lagi nyelametin bayi dari kapal tenggelam — sesuatu di dalam dadaku pecah.
Aku ketawa.
Bukan senyum kecil. Bukan dengusan yang biasa kukasih. Ketawa beneran — keras, nggak ketahan, sampe aku harus nutup mulut pake tangan, sampe bahuku goyang, sampe mataku berair.
Dan seketika, ruangan hening.
Aku sadar — telat — bahwa semua mata ke arahku. Dika ternganga. Sari sampe berdiri dari kursinya. Rani natap aku kayak baru lihat keajaiban. Karena mereka, dua tahun ini, belum pernah — nggak sekali pun — denger aku ketawa.
Rani, di sebelahku, naruh tangan di dada kayak orang nahan haru. “Gue... gue harus rekam ini. Nggak ada yang bakal percaya.” Dia beneran ngeluarin HP. Aku lempar penghapus ke arahnya. Dia ngehindar sambil ketawa. “Nah! Ketawa lagi! Sekali lagi, Mel, buat arsip nasional!”
“Dia...” Dika bisik-bisik, “ketawa?”
Aku buru-buru nutup mulut, mukaku panas. Tapi udah telat. Ketawa itu udah keluar, udah ada di udara, udah didengar.
Dan Fatih — Fatih natap aku dari seberang ruangan dengan ekspresi yang nggak pernah kulihat sebelumnya. Bukan senyum menang. Bukan cengiran jahil. Sesuatu yang jauh lebih pelan, lebih dalam, kayak orang yang baru aja lihat sesuatu yang dia pikir nggak bakal pernah dia lihat.
Dia bangun dari kursinya, jalan ke arahku — pelan, hati-hati, kayak takut gerakan tiba-tiba bakal ngilangin momen itu. Dia berhenti di depan mejaku. Dan pas dia ngomong, suaranya lebih pelan dari yang pernah kudengar, cuma buat aku:
“Hari ini boleh, ya?” Jeda. “Gue cuma pengin bilang — ketawa lo itu suara paling bagus yang pernah gue denger di kantor ini. Udah. Itu doang. Lo boleh balik galak lagi sekarang.”
Dan dia nggak nunggu jawaban. Dia balik ke mejanya, ninggalin aku duduk di situ dengan jantung yang ngelakuin hal-hal yang jelas-jelas di luar deskripsi kerjaannya.
Biasanya, “hari ini boleh, ya” diikutin permintaan. Makan siang. Nomor. Waktu. Kali ini, dia nggak minta apa-apa. Dia cuma... ngasih. Ngasih aku satu kalimat, terus pergi sebelum aku sempat nolak, sebelum aku sempat ngerusaknya.
Dan itu — cara dia ngasih tanpa nagih — justru yang paling bikin tembokku goyah. Karena aku tahu cara ngadepin orang yang minta. Aku nggak tahu cara ngadepin orang yang cuma pengin aku bahagia, lalu pergi tanpa nyodorin tagihan.
Sore itu, pas semua udah mulai beres-beres, dia lewat mejaku lagi dan naruh sesuatu: payung lipat — payungnya, yang dia pinjemin malam hujan itu dan aku belum sempet balikin.
“Eh, itu punya lo,” kataku.
“Simpen aja. Lo lebih sering lupa bawa payung daripada gue.” Dia naruh payung itu di mejaku. Jariku dan jarinya ketemu di atas gagang payung — dan kali ini, nggak ada yang narik duluan.
Satu detik. Dua detik. Tiga.
Jariku di atas jarinya, atau jarinya di bawah jariku, aku nggak tahu lagi mana yang mana. Hangat, lagi, kayak di printer — tapi kali ini nggak ada yang kaget, nggak ada yang kesetrum. Cuma dua tangan yang lupa buat berhenti bersentuhan.
Aku harusnya narik. Itu yang bakal kulakuin dulu — refleks, cepat, tegas. Tapi tanganku nggak dengerin aku. Tanganku milih tinggal. Dan buat pertama kalinya, aku nggak maksa seseorang pergi dari tempat yang bikin dia nyaman.
Dia yang akhirnya narik, pelan, nggak buru-buru. “Sampai besok, Melody.”
“Sampai besok,” kataku. Dan aku nggak sadar aku ngomong sampe kata-katanya udah keluar.
Malamnya di apartemen, aku naruh payung itu di dekat pintu. Aku bikin makan malam. Aku duduk. Dan aku sadar sunyi yang biasanya nyambut aku... nggak sesunyi itu.
Karena di kepalaku, ada suara. Ketawaku sendiri, yang tadi keluar buat pertama kalinya dalam dua tahun. Humming sumbang yang kubawa pulang tanpa izin. Suara yang bilang “sampai besok” dengan cara yang bikin besok tiba-tiba jadi hal yang kutunggu.
Ibuku bilang aku bakal jadi anak yang bikin dunia bernyanyi. Dia salah soal itu. Tapi mungkin dia bener soal satu hal: mungkin aku emang butuh musik. Aku cuma nggak nyangka musik itu bakal datang dalam bentuk cowok berisik yang ngejar aku kayak truk tanpa rem, yang nyanyi sumbang pas fokus, dan yang — entah sejak kapan — berhasil bikin apartemen sunyiku punya melodi.
Aku senyum sendiri di tengah ruangan kosong. Senyum beneran. Nggak ada yang lihat, jadi nggak perlu kusembunyiin. Baru kali ini apartemen ini terasa kayak tempat yang ada isinya, bukan cuma tempat aku pulang biar nggak tidur di kantor.
Aku nggak tahu, malam itu, betapa rapuhnya sebuah melodi. Betapa satu kata yang salah, di hari yang salah, bisa bikin semuanya diam.
Tapi itu belum. Malam itu, buat sekali ini, aku cuma bahagia. Dan aku biarin diriku bahagia — cuma buat malam itu.
- 1 Truk Tanpa Rem
- 2 Kursi
- 3 Nomor yang Tak Kusimpan
- 4 Alasan Dingin
- 5 Retak Rambut
- 6 Yang Tulus
- 7 Kebiasaan
- 8 Kalau Dia Nggak Ada
- 9 Hampir
- 10 Melodi reading
- 11 Hari Terburuk
- 12 Oke
- 13 Keheningan yang Salah
- 14 Titik Terendah
- 15 Giliranku
- 16 Canggung yang Baru
- 17 Biar Gue Pangku
- 18 Narik Kerah
- 19 Hari Ini Boleh, Ya?
- 20 Sekarang Aku yang Berisik
- 21 Dua yang Berisik
- 22 Tolong, Jangan Diam