← Tolong, Jangan Diam

Chapter Twenty Two

Tolong, Jangan Diam

— POV Melody —

Dulu aku punya satu aturan soal pagi: jangan ada kejutan.

Aturan itu udah lama kubuang. Sekarang pagiku penuh kejutan — kopi yang tiba-tiba udah ada di mejaku dengan takaran yang sengaja dibikin salah (“biar lo protes, gue suka lihat lo protes”), sticky note dengan gambar stik figur yang katanya aku (“ini lo lagi galak,” tulisannya, di bawah gambar yang jelas-jelas nggak mirip siapa-siapa), humming sumbang dari kubikel sebelah karena — iya — Fatih minta pindah ke divisi yang sama. Bu Ratih ngasih izin sambil bilang “asal kalian nggak bikin drama di kantor”, yang mana, jujur aja, udah telat banget buat diminta.

Kantor udah nyerah nganggep kami aneh. Papan taruhan Dimas resmi pensiun — “nggak seru lagi kalau udah pasti,” katanya, walau dia masih nyimpen kompilasi video buat “arsip sejarah”. Rani naik pangkat dari mak comblang jadi, katanya, “penasihat hubungan resmi” — posisi yang dia angkat sendiri dan nggak ada yang minta. Sari masih suka mbrebes mili tiap lihat kami. Dika udah nggak takut lagi sama aku, perkembangan yang, harus kuakui, agak bikin kangen.

Kursi pojok di ruang rapat sekarang jadi milik kami berdua — dua kursi, ditarik dempet, karena Fatih menolak duduk di tempat lain dan aku menolak ngusir dia (yang, kalau dipikir, adalah keseluruhan cerita ini dalam satu kalimat). Kadang aku bawain dia kopi dua gula. Kadang dia bawain aku kopi hitam. Kadang kami berdua lupa siapa giliran, dan berakhir sama empat gelas kopi di satu meja, dan Dimas nyindir kami boros — tapi tetep ikut ngabisin kopinya.

Tapi ceritaku bukan soal kantor.

Malam itu kami di rooftop apartemenku — tempat yang dulu nggak pernah kunaikin karena sepi, sekarang jadi tempat favorit kami karena, kata Fatih, “berisik yang bagus itu ada dua: laut sama kota malam.” Dia bawa speaker, muter lagu — lagu beneran kali ini, bukan humming ngarang — dan kami cuma duduk, nyender, nonton lampu kota.

Terus dia diem.

Lama.

Dan aku — yang dulu ngusir orang biar bisa diem, yang dulu nganggep diem itu surga — ngerasain sesuatu yang familiar dan nggak enak naik di dadaku. Refleks lama. Rasa takut lama. Diem, buatku, masih punya bau kepergian.

“Fatih.” Aku noleh. “Kenapa diem?”

“Lagi mikir.”

“Mikirin apa?”

Dia nggak jawab. Cuma senyum kecil, mandangin kota, dan diemnya makin panjang, dan aku ngerasain jantungku mulai lari ke tempat-tempat gelap — dia bosen, dia mau ngomong sesuatu yang berat, dia—

Dan di situ aku sadar sesuatu. Aku sadar aku masih punya luka itu. Mungkin selamanya bakal punya. Tapi bedanya sekarang: aku punya cara buat ngobatinnya. Aku nggak perlu nebak-nebak lagi dalam diam. Aku boleh minta.

Jadi aku minta.

“Fatih.” Suaraku pelan, tapi jelas. “Tolong. Jangan diam.”

Dia noleh, kaget dikit. Dan aku lanjutin, karena sekali tembok itu udah roboh, ternyata gampang buat terus jujur:

“Gue tahu ini konyol. Gue tahu lo cuma lagi mikir. Tapi gue — orang yang dulu nyuruh lo diem, nyuruh lo berhenti, nyuruh lo pergi — sekarang minta kebalikannya. Kalau ada di kepala lo, keluarin. Berisik. Ribut. Ceritain. Apa pun. Cuma... jangan diam. Diam itu satu-satunya hal yang masih bisa nyakitin gue.”

Fatih natap aku lama. Terus dia ketawa kecil — bukan ngeledek, lembut, kayak orang yang baru dikasih hadiah.

“Gue diem,” katanya, “karena gue lagi nyari cara buat ngomong sesuatu tanpa kedengeran kayak orang gila. Tapi lo baru aja minta gue nggak diam, jadi ya udah.” Dia narik napas. “Gue lagi mikir: ini pertama kalinya seumur hidup gue ngerasa gue nggak lagi ngejar apa-apa. Gue nggak lari ke arah siapa-siapa. Gue udah sampe. Dan gue lagi mikirin gimana caranya bilang ke lo bahwa gue mau tinggal di ‘udah sampe’ ini — lama. Selama yang lo bolehin.”

Napasku ketahan.

“Jadi.” Dia noleh, matanya penuh, dan dia pinjem kalimatku — kalimat yang dulu punya dia, yang gue curi di tangga darurat, yang sekarang jadi milik kami berdua. Dia bilang, pelan:

“Hari ini boleh, ya? Buat selamanya?”

Aku nggak jawab pake kata. Aku nggak perlu. Aku nyium dia di rooftop yang berisik sama suara kota, di bawah langit yang dulu cuma kupandang sendirian, dan jawabannya ada di situ — di ciuman yang kumulai dan dia balas, sama-sama, tanpa tembok, tanpa jarak, tanpa diam.

Pas kami misah, dia nyengir — cengiran truk-tanpa-rem yang dulu bikin aku pengin lempar stapler, yang sekarang bikin aku pengin nyimpen dia selamanya. “Itu jawaban ‘iya’, kan?”

“Lo cerewet banget,” kataku. “Iya. Selamanya. Sekarang diem—eh, jangan. Jangan diam. Cium gue lagi.”

Dan dia nurut, buat sekali ini, sama dua perintahku yang bertentangan sekaligus.

Dari bawah, di jalanan, entah gimana, kedengeran suara Dimas — dia dan geng lagi lewat — dan salah satu dari mereka teriak “CIEEE” ke arah rooftop, diikuti suara Rani yang jelas-jelas lagi ngerekam. Privasi, ternyata, konsep yang nggak kami kenal. Aku ketawa. Fatih ketawa. Dan kami nggak repot-repot mundur dari tepi.

Namaku Melody. Ibuku ngasih nama itu karena dia pikir aku bakal bikin dunia bernyanyi.

Selama sepuluh tahun, dia salah. Hidupku senyap, dan aku bilang ke diri sendiri senyap itu aman.

Tapi sekarang — di apartemen yang berisik, di kantor yang penuh humming sumbang, di rooftop yang nggak pernah sepi lagi — aku rasa akhirnya ibuku bener. Cuma bukan aku yang bikin dunia bernyanyi.

Ada cowok berisik yang ngejar aku kayak truk tanpa rem, terus berhenti pas kusuruh, terus kukejar balik lebih kenceng — dan dia yang ngajarin aku bahwa hidup paling indah itu bukan yang paling tenang.

Tapi yang paling penuh suara.

Jadi tiap kali dia mulai diem, sekarang, aku tahu persis apa yang harus kubilang.

Tolong, jangan diam.

Dan dia, tiap kali, nggak pernah diam.