← Tolong, Jangan Diam

Chapter Six

Yang Tulus

— POV Melody —

Krisis itu datang hari Kamis, jam lima sore, lima belas menit sebelum aku berencana pulang.

Klien terbesar divisi kami — akun yang udah kupegang dua tahun — minta revisi total presentasi buat meeting besok pagi jam sembilan. Bukan revisi kecil. Revisi yang artinya seluruh data kuartal harus disusun ulang, tiga puluh slide dirombak, dan angka-angka yang harusnya dikirim tim lain ternyata salah dari akarnya.

Aku scan email itu dua kali, berharap kata-katanya berubah di bacaan kedua. Nggak berubah.

Satu per satu orang pulang. Rani nawarin nemenin, tapi dia ada jemputan anak, jadi kusuruh pulang. Bu Ratih udah cabut dari tadi. Jam tujuh, lantai lima belas tinggal aku, dua lampu yang masih nyala, dan tumpukan kerjaan yang cukup buat bikin orang waras nangis di toilet.

Aku nggak nangis. Aku nggak pernah nangis di kantor. Aku cuma buka file pertama dan mulai.

Jam delapan, ada suara kursi ditarik di sebelahku.

“Angka finance-nya udah gue mintain yang bener ke Sari sebelum dia pulang,” kata Fatih, naruh laptopnya di meja sebelah, nggak nunggu diundang. “Dia sempet marah-marah, tapi versi revisinya udah masuk email lo. Gue ambil bagian slide grafik. Lo yang narasi. Kita bagi dua.”

Aku menatapnya. “Lo ngapain masih di sini?”

“Ngebantuin lo.”

“Gue nggak minta.”

“Gue tahu.” Dia udah buka file, udah mulai kerja, matanya di layar. “Lo nggak akan pernah minta. Makanya gue nggak nunggu diminta.”

Aku harusnya nyuruh dia pulang. Itu yang bakal kulakukan ke siapa pun. Tapi tiga puluh slide, jam sembilan besok, lengan yang udah pegel — dan dia udah mulai, udah ngerjain grafik ketiga, cepat dan rapi dan tanpa sekali pun ngelirik ke arahku buat cari perhatian.

Itu yang paling bikin aku bingung. Dia nggak modus. Nggak ada “kebetulan” jari nyentuh, nggak ada tatapan lama, nggak ada “berdua aja nih”. Dia cuma kerja. Kayak nolongin aku itu emang cuma soal nolongin aku, titik — bukan tiket buat sesuatu yang lain.

Jam sembilan malam, kepala Dimas nongol di pintu, jaket udah nyangkut di bahu. “Eh masih—“ Dia berhenti. Matanya jalan dari Fatih, ke aku, ke dua laptop yang berdempetan, terus balik ke Fatih. Senyumnya tumbuh pelan-pelan kayak matahari terbit. “Ooooh. Oke. Oke oke oke. Gue nggak lihat apa-apa. Lembur berdua. So sweet—“

“Dim.” Fatih nggak ngangkat muka dari layar, tapi suaranya berubah — masih santai, tapi ada garis tegas di bawahnya. “Melody lagi dikejar deadline klien. Gue ngebantuin kerjaan. Itu doang. Jangan lo bikin bahan di grup, jangan lo bikin dia jadi omongan. Serius.”

Dimas ngangkat dua tangan. “Siap, bos. Maaf.” Dan dia beneran pergi, senyum jahilnya diganti anggukan hormat.

Aku merhatiin itu dari balik layarku. Fatih baru aja dikasih kesempatan sempurna buat pamer — buat bikin momen ini jadi cerita, jadi kemenangan, jadi bahan naikin gengsi di depan geng-nya. Dan dia malah nutup pintunya rapat-rapat, buat ngelindungin aku.

Kenapa orang ini beda?

Sekitar jam sepuluh, dia diam-diam naruh sekaleng kopi dingin dari vending machine di sebelah laptopku, sama sebungkus roti yang entah dia dapet dari mana jam segini. “Lo belum makan dari siang,” katanya, matanya masih di layar. Bukan pertanyaan. Dia merhatiin, bahkan di tengah dia sendiri sibuk. Aku makan roti itu diam-diam, dan untuk alasan yang nggak bisa kujelasin, rasanya itu roti paling enak yang pernah kumakan.

Kami kelar jam sebelas lewat. Tiga puluh slide, rapi, siap. Aku save file terakhir dan bersandar, dan buat pertama kalinya seharian, aku ngerasain betapa capeknya aku.

“Makasih,” kataku. Kali ini aku sengaja ngomongnya. “Beneran. Gue nggak bakal kelar tanpa lo.”

“Sama-sama.” Dia beresin laptopnya. Nggak ada “makanya jadian sama gue”, nggak ada modus penutup. Cuma itu. Sama-sama.

Di luar, hujan turun deras. Aku lupa bawa payung — tentu saja, hari yang sempurna buat itu. Fatih ngeluarin payung lipat dari tasnya, satu-satunya, ukuran buat satu orang.

“Halte lo yang seberang, kan?” katanya. “Gue anter sampe situ, terus payungnya lo bawa. Gue tinggal lari ke parkiran.”

“Nanti lo basah.”

“Gue cowok. Gue bisa kering sendiri.” Dia buka payungnya. “Ayo, sebelum makin deras.”

Kami jalan berdempetan di bawah payung kecil itu, bahu ketemu bahu karena nggak ada pilihan lain. Dia miringin payungnya ke arahku — aku baru sadar setengah jalan bahwa sisi kanannya udah basah kuyup karena dia ngasih semua bagian kering ke aku. Dia nggak bilang apa-apa soal itu. Nggak nunjuk-nunjuk pengorbanannya. Cuma jalan, cerita ngalor-ngidul soal ban motornya yang katanya masih trauma, bikin aku hampir — hampir — ketawa.

Di halte, dia nyodorin payungnya. Angin niup rambutku ke muka; sebelum aku sempat mikir, dia ngangkat tangan dan — pelan, hati-hati, kayak minta izin lewat gerakan — nyingkirin helai rambut yang nempel di pipiku ke belakang telinga.

“Udah.” Dia narik tangannya. “Ilang dari muka lo.”

Jantungku ngelakuin sesuatu yang bodoh.

“Bus lo dateng.” Dia mundur ke hujan, cengiran terakhir. “Jangan begadang lagi. Besok lo yang presentasi, dan lo harus keliatan lebih galak dari biasanya. Selamat malam, Melody.”

Terus dia lari ke parkiran, basah kuyup, dan aku berdiri di halte megang payung yang masih hangat sama tangannya, nonton punggungnya ilang di tengah hujan.

Di bus, aku mikirin satu hal berulang-ulang.

Seumur hidup, aku belajar bahwa semua orang nolong buat dapetin sesuatu. Bantuan itu utang; kebaikan itu uang muka. Itu kenapa aku nggak pernah nerima keduanya.

Tapi malam itu, seseorang ngerjain tiga puluh slide bareng aku, ngelindungin namaku, ngasih semua bagian kering payungnya, benerin rambutku — terus pergi. Nggak nagih apa-apa. Nggak ninggalin tagihan.

Dan buat pertama kalinya dalam bertahun-tahun, teoriku soal manusia — teori yang udah kubangun rapi kayak benteng — punya satu batu bata yang copot.

Waktu itu aku belum tahu itu awal dari runtuhnya benteng. Aku cuma tahu, sepanjang perjalanan pulang, aku megang payung itu erat-erat, kayak takut hujan bakal ngambil dia juga.