Chapter Eleven
Hari Terburuk
— POV Melody —
Ada hari-hari yang buruk, dan ada hari yang datang khusus buat ngingetin kamu kenapa kamu bangun benteng di sekeliling dirimu sejak awal.
Hari itu jenis kedua.
Dimulai jam tujuh pagi, sebelum aku sampe kantor: telepon dari Bu Ratih, suaranya tegang. Klien — akun yang udah kupegang dua tahun, akun yang presentasinya kuselametin sampe jam sebelas malam bareng Fatih minggu lalu — mutusin pindah ke agensi lain. Bukan karena presentasinya jelek. Karena, katanya, mereka “mau arah yang lebih segar”. Dua tahun kerja, ratusan malam, dihapus dalam satu email tiga paragraf yang bahkan nggak ngeja namaku dengan bener.
Sepuluh tahun lalu, di hari hujan kayak gini, aku belajar bahwa segala yang kamu rawat baik-baik pada akhirnya tetap pergi. Pagi itu, alam semesta kayak lagi ngasih ujian ulang, buat mastiin aku nggak lupa pelajarannya.
Rapat jam sembilan jadi eksekusi publik. Bu Ratih, di bawah tekanannya sendiri, nunjuk ke arahku di depan seisi divisi. “Melody, ini akun kamu. Gimana bisa lepas gitu aja?” Aku jawab setenang yang kubisa, tapi setiap kata pembelaan cuma bikin aku keliatan lebih kayak orang yang gagal.
Siangnya, aku ke toilet dua kali cuma buat berdiri di depan wastafel, ngatur napas, mastiin mataku nggak keliatan mau nangis pas aku keluar. Rani nyoba nawarin makan siang; aku bilang nggak lapar. Bu Ratih ngirim email susulan — nadanya udah lebih lunak, hampir minta maaf — tapi udah telat. Kerusakannya udah kejadian, di depan semua orang, dan sekarang tiap kali aku ngangkat muka aku ngerasa dua belas pasang mata diam-diam ngasihanin aku. Nggak ada yang lebih kubenci daripada dikasihani. Dikasihani itu artinya orang lihat kamu jatuh.
Aku nggak tidur semalaman. Mataku perih. Dan satu per satu, sepanjang hari, hal-hal kecil numpuk — laptop nge-hang, deadline lain yang maju, hujan yang nggak berhenti-berhenti di luar jendela — sampe aku ngerasa kayak gelas yang diisi terus padahal udah penuh dari tadi pagi.
Menjelang sore, aku udah bukan manusia lagi. Aku cuma tembok tipis yang berdiri karena belum ada yang nyenggol.
Aku tahu, secara logika, aku harusnya pulang jam lima, tidur, dan hadapin besok pagi sebagai orang yang lebih waras. Tapi aku nggak pulang. Aku duduk di mejaku, ngeberesin sisa-sisa akun yang udah nggak ada gunanya diberesin — cuma biar tanganku ada kerjaan, cuma biar aku nggak punya waktu buat ngerasain apa pun. Itu strategi yang selalu berhasil, seumur hidup. Sampe hari ini.
Lalu seseorang nyenggol.
“Hari ini boleh, ya?” Fatih naruh kopi di mejaku, senyum biasa, nggak tahu apa-apa soal seberapa dalam aku tenggelam. “Gue tahu hari lo berat. Makanya gue mau ajak lo—“
Dan sesuatu di dalam diriku, yang udah ditarik terlalu kencang seharian, putus.
“Berhenti.” Suaraku keluar rendah, gemetar. “Berhenti, Fatih.”
Dia ngedip. “Mel—“
“LO GANGGU BANGET.” Aku berdiri, kursiku mundur berdecit, dan tiba-tiba semua yang seharian ini kutahan tumpah ke satu-satunya orang yang cukup deket buat kena. “Tiap hari. Kopi, chat, senyum bego lo, ‘hari ini boleh ya’ — lo pikir gue nggak punya urusan lain? Lo pikir hidup gue sekosong itu sampe gue butuh lo buat ngisinya? Gue capek. Gue capek sama lo yang nggak pernah ngerti kata ‘nggak’. Gue nggak butuh lo. Gue nggak pernah butuh lo.”
Ruangan hening total. Semua mata ke arah kami. Rani setengah berdiri. Tapi aku nggak bisa berhenti — karena berhenti artinya ngerasain, dan ngerasain artinya hancur di depan semua orang.
“Pergi.” Kata itu keluar terakhir, paling pelan, paling tajam. “Beneran pergi. Gue nggak mau lihat lo lagi.”
Untuk sepersekian detik, sesuatu di mukanya berubah. Bukan marah. Bukan kaget. Sesuatu yang lebih kayak... pengertian. Kayak dia baru aja denger kata yang udah dia tunggu-tunggu dengan takut selama ini, dan sekarang kata itu akhirnya datang.
“...Oke,” katanya. Pelan. Cuma itu.
Dia nggak ngebantah. Dia nggak minta penjelasan. Dia ngambil kembali kopi yang tadi dia naruh — pelan, hati-hati, kayak minta maaf udah berani naruhnya — terus dia balik badan, jalan ke mejanya, ngambil tas, dan pergi.
Nggak ada bantingan pintu. Nggak ada kata terakhir. Cuma punggung yang menjauh, dan pintu kaca yang nutup pelan di belakangnya.
Persis kayak yang kuminta.
Ruangan pelan-pelan balik bergerak. Seseorang batuk. Keyboard mulai ngetik lagi, hati-hati, kayak takut suaranya kekencangan. Rani nyamperin, tangan di bahuku, ngomong sesuatu yang nggak bisa kudengar karena ada dengung di telingaku.
“Mel,” katanya, dan kali ini aku denger. “Lo nggak beneran maksud itu, kan?”
Aku nggak jawab. Karena jawaban jujurnya — bahwa aku nggak tahu, bahwa sebagian dari aku maksud dan sebagian lagi pengin lari ngejar dia ke lift dan narik balik tiap kata — terlalu rumit buat diucapin di ruangan yang masih setengah nonton. Jadi aku diem. Dan diem, ternyata, juga sejenis jawaban.
Aku menang. Aku selalu menang.
Aku ngambil tas, jalan ke lift, turun, keluar ke hujan tanpa payung — payungnya, payung yang dia kasih, ketinggalan di laci mejaku, di sebelah tumpukan sticky note yang nggak pernah kubuang.
Aku basah kuyup sepanjang jalan pulang, dan aku bilang ke diri sendiri itu cuma hujan. Di lift tadi, cermin sempet ngasih lihat perempuan basah dengan muka yang akhirnya nggak datar lagi — retak, di depan mata sendiri. Aku nggak sempet mikirin itu. Aku terlalu sibuk mastiin nggak ada yang lihat.
Malam itu, apartemenku sunyi. Kayak biasa. Aman. Kayak biasa.
Aku nunggu perasaan lega yang selalu datang tiap kali aku berhasil bikin seseorang menjauh.
Perasaan itu nggak datang.
Yang datang cuma sunyi — sunyi yang sama yang udah kukenal seumur hidup. Tapi malam itu, buat pertama kalinya, aku sadar sunyi itu bukan teman. Sunyi itu cuma nama lain buat semua orang yang udah pergi.
Dan aku baru aja nyuruh satu lagi buat gabung ke barisan itu.
- 1 Truk Tanpa Rem
- 2 Kursi
- 3 Nomor yang Tak Kusimpan
- 4 Alasan Dingin
- 5 Retak Rambut
- 6 Yang Tulus
- 7 Kebiasaan
- 8 Kalau Dia Nggak Ada
- 9 Hampir
- 10 Melodi
- 11 Hari Terburuk reading
- 12 Oke
- 13 Keheningan yang Salah
- 14 Titik Terendah
- 15 Giliranku
- 16 Canggung yang Baru
- 17 Biar Gue Pangku
- 18 Narik Kerah
- 19 Hari Ini Boleh, Ya?
- 20 Sekarang Aku yang Berisik
- 21 Dua yang Berisik
- 22 Tolong, Jangan Diam