← Tolong, Jangan Diam

Chapter Nineteen

Hari Ini Boleh, Ya?

— POV Melody —

Aku nggak nunggu besok pagi.

Semalaman aku nggak bisa tidur — bukan karena sunyi kali ini, tapi karena keberanian itu kayak air mendidih: kalau kamu tunggu terlalu lama, dia keburu dingin. Jadi jam tujuh pagi, sebelum divisi rame, sebelum ada saksi, sebelum rasa takut sempat mbangun tembok baru, aku udah di kantor, nungguin dia di depan lift.

Fatih keluar lift jam setengah delapan, dan berhenti begitu lihat aku. Ekspresinya hati-hati, kayak biasa akhir-akhir ini. “Melody. Pagi banget.”

“Ikut gue.” Aku jalan ke tangga darurat — tempat kemarin, tempat aku jadi pengecut. Kali ini aku milih tempat itu sengaja. Kalau aku mau ngerobohin tembok, aku mau ngelakuinnya di tempat yang sama tempat aku dulu nyerah.

Dia ngikutin, bingung. Pintu tangga nutup di belakang kami. Gaung. Sunyi. Cuma kami berdua.

Aku narik napas. Dan buat pertama kalinya seumur hidup, aku mutusin buat ngasih seseorang seluruh diriku — bukan cuma bagian yang berani, bukan cuma bagian yang bisa narik kerah dan becanda. Bagian yang takut juga. Bagian yang paling dalam.

“Gue mau cerita sesuatu,” kataku. “Dan gue mau lo dengerin sampe selesai, karena gue cuma sanggup ngomong ini sekali.”

Aku cerita. Soal orang yang ngejar aku sepuluh tahun lalu, yang bilang nggak akan ke mana-mana, yang suatu pagi ilang tanpa satu kata pun. Soal bertahun-tahun sesudahnya, nebak-nebak apa yang salah sama diriku. Soal keputusan yang kubuat: lebih gampang pergi duluan daripada ditinggal. Bikin semua orang menjauh, biar aku yang pegang kendali, biar aku nggak pernah lagi jadi orang yang ditinggal dalam diam.

“Gue jago banget bikin orang pergi,” kataku, ketawa pahit. “Itu satu-satunya keahlian yang gue asah sepuluh tahun. Dan gue nggak pernah nyangka bakal ketemu orang yang cukup keras kepala buat bikin keahlian itu keliatan konyol.”

Fatih nggak motong. Dia cuma dengerin, matanya lembut, dan itu bikin lebih gampang sekaligus lebih susah.

“Terus lo dateng,” kataku. “Kayak truk tanpa rem. Dan pelan-pelan — gue nggak sadar kapan — lo jadi satu-satunya suara di hidup gue yang gue tungguin. Hari gue meledak itu, gue lagi hancur, dan gue tendang lo karena lo satu-satunya yang cukup deket buat kena. Gue bilang ‘pergi’. Gue nggak beneran maksud. Tapi gue kelewat rusak buat nariknya balik.”

Ini bagian yang paling susah.

“Dan lo nurutin. Lo diem. Lo pergi. Lo nggak tahu ini, tapi keheningan lo itu — diem yang lo pikir bentuk hormat itu — itu persis luka yang paling gue takutin seumur hidup. Lo, tanpa sadar, ngasih gue persis hal yang sepuluh tahun gue lari darinya. Ditinggal dalam diam. Dan itu ngancurin gue, Fatih. Bukan karena lo jahat. Justru karena lo terlalu baik buat maksa.”

Mata Fatih basah. Dia buka mulut, tapi aku ngangkat tangan. “Belum selesai.”

“Gue minta maaf. Buat ‘pergi’. Buat tiap ‘nggak’ yang lebih tajam dari yang perlu. Buat bikin lo berhenti pas lo nggak salah apa-apa selain peduli sama gue di waktu yang salah.” Aku ngedeket, satu langkah. “Dan gue di sini sekarang buat ngomong sesuatu yang gue tahan sepuluh tahun. Bukan lewat kerah kemeja. Bukan lewat becanda. Beneran.”

Aku natap matanya. Dan aku ngerti, akhirnya, kenapa dia selalu nanya izin tiap hari — karena nanya izin itu artinya ngasih orang lain kuasa buat bilang tidak. Ngelakuin itu tiap hari, terang-terangan, itu bentuk keberanian yang butuh gue sepuluh tahun buat ngerti.

Jadi aku pinjem kalimatnya. Kalimat yang dulu bikin aku pengin lempar stapler. Kalimat yang sekarang aku ngerti artinya: boleh nggak gue jadi bagian dari hidup lo hari ini?

“Fatih,” kataku, suara gemetar tapi jelas. “Hari ini boleh, ya?”

Matanya melebar. Dia ngenalin kalimat itu — tentu aja, dia yang ngajarin aku.

“Boleh nggak,” lanjutku, “gue yang ngejar lo sekarang? Boleh nggak gue jadi berisiknya lo? Boleh nggak gue—“

Aku nggak sempet nyelesaiin. Karena aku nggak nunggu jawaban lewat kata. Aku maju, naik jinjit, naruh dua tangan di pipinya, dan nyium dia.

Bukan ciuman malu-malu. Bukan ciuman ragu. Sepuluh tahun tembok, berminggu-minggu kangen, semua kutumpahin ke satu ciuman yang kumulai sendiri, dengan sadar, dengan mata terbuka lebar sebelum akhirnya merem.

Sedetik Fatih beku. Terus dia ngelebur. Tangannya di pinggangku, narik aku deket, dan dia bales nyium kayak orang yang udah nunggu ini seumur hidupnya dan baru sekarang boleh. Dalam. Nggak buru-buru. Kayak dua orang yang akhirnya berhenti lari ke arah yang berlawanan.

Aku nggak tahu berapa lama kami gitu. Waktu kayak berhenti sopan di luar pintu tangga. Yang aku tahu cuma: nggak ada bagian dari diriku yang pengin lari. Buat pertama kalinya, berdiri sedeket ini sama seseorang nggak terasa kayak bahaya. Terasa kayak pulang.

Pas kami misah buat napas, dahi kami nempel, dan aku sadar aku nangis — lagi — tapi bukan nangis yang dulu. Nangis yang ini punya bentuk lega di dalamnya.

“Itu,” bisik Fatih, serak, “jawabannya boleh. Kalau belum jelas. Boleh banget. Sekarang, besok, tiap hari, boleh.”

Aku ketawa di sela nangis, jelek dan basah dan sama sekali nggak anggun. “Lo cerewet banget, sih.”

“Lo baru aja nyium gue biar gue diem, terus protes gue cerewet.” Dia nyengir — cengiran lamanya, penuh, balik seratus persen. “Nggak konsisten, Melody Cintya.”

Aku nyium dia lagi biar dia beneran diem. Kali ini dia nggak protes.

Di tangga darurat itu — tempat yang sama tempat aku dulu jadi pengecut — aku ngerobohin tembok terakhir dengan tanganku sendiri. Dan buat pertama kalinya dalam sepuluh tahun, berdiri telanjang tanpa perlindungan di depan seseorang yang sepenuhnya bisa ninggalin aku, aku nggak takut.

Karena aku akhirnya ngerti sesuatu yang Fatih tahu dari awal: cinta itu bukan soal nggak ngasih orang kuasa buat nyakitin kamu. Cinta itu soal ngasih mereka kuasa itu — terus percaya mereka nggak bakal makainya.