← Tolong, Jangan Diam

Chapter Eighteen

Narik Kerah

— POV Melody —

“Besok” datang, dan aku udah nyiapin diri buat percakapan serius. Aku bahkan latihan di depan cermin — hal yang belum pernah kulakuin seumur hidup, dan yang, buat catatan, bikin aku ngerasa konyol banget. “Fatih, gue suka lo.” Terlalu datar. “Fatih, gue... suka sama lo.” Terlalu ragu. Aku nyerah setelah percobaan kesembilan dan mutusin bakal ngandelin momen.

Rani, yang entah gimana selalu tahu, ngirim chat pagi itu: Semoga sukses. Kalau lo chicken out lagi, gue sumpah bakal narik kerah dia sendiri buat lo. Aku nggak bales. Tapi aku screenshot, buat cadangan keberanian.

Ternyata itu kesalahan.

Fatih ngajak aku ke tangga darurat pas jam makan siang — satu-satunya tempat di gedung ini yang sepi, yang gaungnya bikin tiap suara kedengeran dua kali.

Dia gugup. Aku belum pernah lihat dia gugup kayak gini — Fatih yang biasanya seenteng udara, sekarang berdiri dengan tangan di saku, narik napas dua kali sebelum ngomong.

“Melody.” Dia natap aku. “Gue bakal jujur, dan gue minta lo jujur balik. Bisa?”

“Bisa.”

“Berminggu-minggu ini lo beda. Kopi, sticky note, duduk deket, kemarin di rapat—“ dia ngusap tengkuk, mukanya merah lagi cuma gara-gara nginget “—gue hampir kena serangan jantung, ngomong-ngomong. Tapi gue perlu tahu satu hal, dan gue perlu lo jawab yang jujur, walau jawabannya nyakitin.”

Dia narik napas.

“Ini apa? Lo cuma ngerasa nggak enak sama gue? Kasian? Atau...” Suaranya turun, nyaris nggak kedengeran di gaung tangga. “Atau ini beneran?”

Dan di situ, aku punya kesempatan. Kesempatan buat bilang tiga kata paling jujur, paling telanjang, paling nakutin yang bisa kuucapin: gue suka lo. Kata-kata yang udah kutahan sepuluh tahun. Kata-kata yang, kalau kuucapin, artinya aku ngasih seseorang kuasa penuh buat ninggalin aku.

Mulutku kebuka. Kata-katanya ada di ujung lidah.

Dan rasa takut lama itu — rasa takut yang udah nemenin aku sepuluh tahun — nyengkeram tenggorokanku di detik terakhir.

Jadi aku nggak ngomong.

Aku ngelakuin hal lain.

Aku maju selangkah, ngerapetin jarak, dan sebelum otakku sempet protes, aku nyamber kerah kemejanya dengan satu tangan dan narik dia turun ke arahku — cepat, tegas — sampe mukanya berhenti beberapa senti dari mukaku. Cukup deket buat ngerasain napasnya yang kaget. Cukup deket buat lihat matanya melebar. Cukup deket buat, kalau salah satu dari kami maju satu senti lagi—

“Menurut lo,” bisikku, “ini kayak kasian?”

Fatih beku. Napasnya berhenti. Tangannya ngangkat setengah, kayak mau megang pinggangku, terus ragu di udara — nggak berani, atau nggak mau maju tanpa izin, kayak biasa.

“Melody,” katanya, serak. “Kalau lo nggak serius, tolong jangan—“

“Ssh.”

Kami gitu selama beberapa detik yang rasanya kayak selamanya — kerahnya di genggamanku, mukanya sedeket ini, dua napas yang campur di udara sempit tangga darurat. Aku bisa maju. Dia bisa maju. Satu senti. Itu doang.

Aku bisa ngerasain panas badannya lewat kemeja. Aku bisa lihat dia nelen ludah, jakunnya naik-turun. Matanya turun sekilas ke bibirku, terus balik ke mataku — dan tatapan itu hampir bikin aku lupa cara napas. Seumur hidup aku ngindarin momen kayak gini, momen di mana pertahanan runtuh dan seseorang bisa lihat langsung ke dalam diriku. Sekarang aku ada di tengah-tengahnya, dan sebagian dari diriku pengin tinggal di sini selamanya.

Dan di situlah rasa takut itu menang lagi.

Aku lepas kerahnya, dan mundur selangkah.

Aku lihat kekecewaan berkelebat di mukanya — cepat, ketutup buru-buru, tapi aku lihat. Dan aku benci bahwa aku yang naruh itu di sana.

“Gue harus balik kerja,” kataku, suaraku kurang mantap dari yang kumau.

Fatih natap aku lama. Terus, pelan, dengan pengertian yang bikin dadaku sakit: “Lo masih nahan sesuatu.”

Bukan pertanyaan.

“Gue nggak—“

“Nggak apa-apa.” Dia senyum, sedih dan lembut sekaligus. “Gue kenal tembok, Melody. Gue berdiri di depan tembok lo berminggu-minggu. Gue tahu bedanya orang yang nggak suka sama orang yang suka tapi takut.” Dia mundur, ngasih aku ruang — ruang yang, ironisnya, sekarang aku nggak mau. “Gue bakal nunggu. Kayak biasa. Tapi Melody—“ dia berhenti di pintu tangga “—lain kali lo narik kerah gue, gue nggak janji bakal jadi orang yang mundur duluan. Jadi pastiin lo udah siap sama jawabannya, sebelum lo nanya lewat cara kayak gitu.”

Terus dia pergi, ninggalin aku sendiri di tangga darurat dengan jantung yang mukul kayak genderang dan tangan yang masih ngerasain tekstur kerah kemejanya.

Aku nyender ke tembok, mler ke bawah sampe jongkok, dan nutup muka pake dua tangan.

Aku baru aja narik kerah cowok di tangga darurat kantor, hampir nyiumnya, terus lari sebelum ngomong satu kata jujur pun.

Pengecut. Bahkan pas aku berani, aku masih pengecut di bagian yang paling penting.

Sepuluh tahun aku ngira tembokku itu buat ngelindungin aku dari orang yang bakal pergi. Baru sekarang aku ngeh: tembok yang sama itu juga yang bikin aku nggak sanggup nahan orang yang justru mau tinggal.

Fatih bener. Aku masih nahan sesuatu. Aku nahan tiga kata. Tiga kata yang, kalau kuucapin, artinya aku ngebongkar tembok terakhir dan berdiri telanjang di depan seseorang yang sepenuhnya bisa ninggalin aku kapan aja dia mau.

Tapi aku juga tahu, sambil jongkok di tangga darurat itu, sesuatu yang lain: aku nggak bisa terus-terusan njawab lewat kerah kemeja dan pangku-pangkuan. Berani secara fisik itu gampang. Berani secara jujur — itu yang susah. Dan Fatih nggak butuh tanganku di kerahnya. Dia butuh kata-kataku. Yang beneran. Yang telanjang.

Cepat atau lambat, aku harus ngucapinnya. Dengan suara. Tanpa topeng.

Dan aku mutusin, di situ, di lantai dingin tangga darurat: besok, aku bakal ngomong.

Beneran, kali ini. Nggak ada narik kerah. Nggak ada becanda. Cuma aku, dan tiga kata, dan risiko paling gede yang pernah kuambil seumur hidup. Dan buat pertama kalinya, aku beneran pengin ngambilnya.