Chapter Seventeen
Biar Gue Pangku
— POV Melody —
Butuh aku tiga hari buat ngerti bahwa Fatih nggak bakal maju duluan.
Aku bawain kopi — dia bilang makasih, sopan, jauh. Aku duduk deket — dia kaku, tapi tetep di tempat. Aku bikin dia gugup di pantry — dia mati kutu, tapi besoknya dia balik jaga jarak lagi, kayak dia mutusin gugup itu kesalahan yang nggak boleh diulang.
Dia bangun tembok yang bagus. Tembok yang sopan. Tembok yang bilang “gue hormatin keputusan lo” di tiap batu-batanya.
Masalahnya buat dia: aku ahli tembok. Aku mbangun tembok selama sepuluh tahun. Dan aku tahu persis kelemahan tembok jenis ini — dia dirancang buat nahan dorongan halus. Dia nggak dirancang buat nahan orang yang mutusin manjat langsung ke atasnya, di depan umum, tanpa peduli malu.
Jadi hari itu, di rapat mingguan, aku berhenti main halus.
Rapat mingguan. Dan seperti takdir divisi ini yang nggak pernah belajar, kursi lagi-lagi kurang. Persis kayak dulu — dulu banget rasanya, walau baru beberapa minggu — waktu Fatih ngasih kursinya ke Dimas biar bisa berdiri di sebelahku.
Kali ini, Fatih yang dateng telat, dan Fatih yang nggak kebagian kursi. Dia berdiri di pojok, nyender ke tembok, siap ngelewatin satu jam rapat sambil berdiri, sopan, nggak ngerepotin siapa-siapa.
Aku lihat kesempatan itu, dan jantungku langsung gedebak-gedebak. Karena aku tahu apa yang bakal kulakuin, dan aku tahu itu bakal jadi hal paling nekat yang pernah kulakuin seumur hidup.
Rani, di sebelahku, kayaknya baca sesuatu di mukaku. “Mel,” bisiknya, waspada, “muka lo lagi kayak orang mau ngelakuin sesuatu yang bakal masuk sejarah kantor.”
“Iya,” bisikku balik. “Tolong rekam.”
Sebelum aku sempat mikir ulang, sebelum rasa takut sempat narik aku balik ke dalam benteng, aku ngangkat suara — cukup keras buat kedengeran seruangan:
“Fatih.”
Dia noleh. Semua noleh.
Aku nepuk pahaku sendiri, dua kali, santai, kayak orang manggil kucing. Dan dengan suara paling tenang, paling berani, paling gue-lo yang pernah keluar dari mulutku di kantor ini, aku bilang:
“Kursi penuh? Sini, duduk. Biar gue pangku.”
Hening.
Hening yang total, yang mutlak, yang kayaknya bahkan AC ikut berhenti buat mroses apa yang barusan kejadian.
Terus: Dimas jatuh dari kursinya. Beneran jatuh — gubrak — ke lantai. Dan nggak ada satu orang pun yang nolongin dia, karena semua mata masih nempel ke aku — ke Melody Cintya, si Ratu Es, yang barusan nawarin pangku ke cowok di depan seluruh divisi.
Sari nutup mulutnya. Bu Ratih, di depan, nge-freeze dengan spidol ngambang di udara. Dika, anak magang, keliatan kayak otaknya baru aja blue-screen.
Dan Fatih —
Fatih merah. Merah dari leher naik ke kuping. Cowok yang ngejar aku tanpa malu berbulan-bulan, yang nggak pernah sekali pun keliatan salah tingkah, sekarang berdiri di pojok ruangan dengan muka semerah tomat, mulut buka-tutup tanpa suara.
“Gue—“ dia mulai. Berhenti. Coba lagi. “Itu—kamu—“
“Tadi ‘lo’.” Aku miringin kepala, nikmatin tiap detik ini. “Sekarang jadi ‘kamu’? Gugup, ya?”
Yang mereka nggak tahu — yang cuma aku yang tahu — adalah di balik meja, tanganku gemeteran. Jantungku mukul keras banget sampe aku takut kedengeran seruangan. Aku nggak sebrani ini. Aku nggak pernah sebrani ini seumur hidup. Tapi aku mutusin, semalam, sambil mandangin langit-langit apartemen yang sunyi, bahwa aku lebih milih malu di depan lima belas orang daripada ngabisin satu malam lagi kehilangan dia gara-gara gengsi.
Jadi aku terus. Gemetar, tapi terus.
“Gue serius,” kataku, lebih pelan sekarang, tapi masih cukup jelas. “Kursinya penuh. Gue punya pangkuan yang kosong. Matematika, Fatih.”
Dan Fatih — mungkin karena kaget, mungkin karena kakinya berhenti dengerin otaknya, mungkin karena dia sama nekatnya kayak aku di lubuk hati — jalan ke arahku. Pelan. Nggak percaya. Sampe berdiri di depan kursiku.
Kami saling tatap. Seruangan nahan napas.
Dia nggak beneran duduk di pangkuanku, tentu aja — kami masih di rapat, masih ada Bu Ratih, masih ada batas kewarasan. Tapi dia narik satu kursi kosong dari sudut yang tadi kayaknya nggak keliatan (yang, curiga aku, emang selalu ada dari tadi), naruh tepat di sebelahku — deket, kelewat deket, deket yang dulu dia yang bikin dan aku yang risih — dan duduk. Lengannya nempel di lenganku. Pahanya nempel di pahaku. Nggak ada jarak sopan. Nggak ada tembok.
“Gue duduk di sini aja,” katanya, suaranya masih goyah. “Biar... jantung gue selamat.”
“Pengecut,” bisikku, tapi aku senyum.
“Strategis,” bisiknya balik. Dan buat pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ada bayangan cengiran lamanya — cengiran yang dulu dia simpen khusus buat aku — balik ke mukanya.
Sepanjang sisa rapat, kami duduk dempet, bahu ketemu bahu, dan aku nggak denger satu kata pun dari slide Bu Ratih. Aku cuma sadar sama satu hal: panas lengannya di sebelah lenganku, dan fakta bahwa dia nggak geser.
Pas rapat kelar, semua bubar sambil bisik-bisik, Dimas masih di lantai (sekarang duduk, masih shock, gumam “dunia udah kebalik” berulang-ulang).
Rani nyamperin aku, mata berkaca-kaca kayak ibu yang anaknya baru wisuda. “Gue... gue bangga banget sama lo,” bisiknya. “Gue rekam, lho. Dari ‘biar gue pangku’ sampe Dimas jatuh. Ini bakal gue puter di nikahan lo nanti.”
“Rani.”
“Gue diem. Gue diem banget.”
Fatih berdiri, dan buat sesaat aku pikir dia bakal ngomong sesuatu, bakal nyerah, bakal balik jadi Fatih yang dulu ngejar aku.
Tapi dia cuma natap aku, lama, dengan mata yang penuh sesuatu yang hati-hati — harapan yang masih takut buat berharap.
“Melody,” katanya pelan. “Gue perlu tanya sesuatu. Tapi nggak di sini. Nggak di depan orang.”
Jantungku lompat. “Oke.”
“Besok,” katanya. “Gue perlu tahu ini beneran, atau nggak.”
Dan dia pergi, ninggalin aku dengan satu kata yang menggantung di udara — besok — dan jantung yang, buat pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ngerasa kayak dia punya alasan buat mukul sekencang ini.
- 1 Truk Tanpa Rem
- 2 Kursi
- 3 Nomor yang Tak Kusimpan
- 4 Alasan Dingin
- 5 Retak Rambut
- 6 Yang Tulus
- 7 Kebiasaan
- 8 Kalau Dia Nggak Ada
- 9 Hampir
- 10 Melodi
- 11 Hari Terburuk
- 12 Oke
- 13 Keheningan yang Salah
- 14 Titik Terendah
- 15 Giliranku
- 16 Canggung yang Baru
- 17 Biar Gue Pangku reading
- 18 Narik Kerah
- 19 Hari Ini Boleh, Ya?
- 20 Sekarang Aku yang Berisik
- 21 Dua yang Berisik
- 22 Tolong, Jangan Diam