← Tolong, Jangan Diam

Chapter Sixteen

Canggung yang Baru

— POV Fatih —

Ada teori yang gue pegang seumur hidup: hal paling bahaya di dunia bukan penolakan. Tapi harapan.

Penolakan itu jelas. Lo tahu di mana lo berdiri. Lo bisa berduka, terus lanjut. Tapi harapan — harapan itu ngegantung lo di antara langit dan tanah, dan makin tinggi dia ngangkat lo, makin sakit pas lo jatuh.

Jadi waktu Melody mulai berubah, hal pertama yang gue lakuin bukan seneng. Hal pertama yang gue lakuin adalah waspada.

Dia bawain gue kopi. Dua gula. Dia hafal takaran gue — dan gue bahkan nggak inget pernah ngasih tahu dia. Ada sticky note nempel di gelasnya, tulisan yang sengaja dibikin berantakan, niruin gaya gue. Dia duduk di sebelah gue di rapat, deket, terlalu deket, deket yang disengaja. Dia lewat meja gue lebih sering dari yang masuk akal buat orang yang divisinya di seberang.

Setiap serat di badan gue pengin baca ini sebagai satu hal: dia berubah pikiran.

Dan justru karena itu, gue nggak ngebiarin diri gue bacanya gitu.

Karena gue udah pernah salah baca orang sekali seumur hidup, dan gue bayar mahal banget. Gue udah janji nggak akan pernah lagi mutusin gue tahu isi hati orang lebih dari yang mereka tunjukin. Dan yang Melody tunjukin, secara resmi, dengan kata paling jelas di dunia, di depan lima belas saksi, adalah: pergi.

Satu kopi nggak ngebatalin “pergi”. Satu sticky note nggak ngebatalin “pergi”. Mungkin dia cuma ngerasa bersalah. Mungkin dia cuma lagi baik karena entah gimana dia tahu gue bantuin dokumen. Mungkin dia cuma... kasian.

Gue nggak akan ge-er. Gue nggak akan maju cuma buat nemuin gue salah baca lagi, dan kali ini kehilangan dia dua kali.

Dimas, tentu aja, nggak sepaham.

“Tih.” Dia narik kursi ke sebelah gue, bisik-bisik heboh. “Dia. Bawain. Lo. Kopi. DUA GULA. Lo tau apa artinya cewek hafal takaran gula lo?”

“Artinya dia perhatian sama detail. Dia emang gitu orangnya.”

“BUKAN. Artinya—astaga, kenapa gue harus jelasin ini ke LO, dari semua orang? Lo yang biasanya ngejar-ngejar! Sekarang cewek paling dingin sekantor lagi ngejar lo balik, dan lo malah jual mahal?! Ini penghinaan buat seluruh perjuangan lo selama ini!”

“Reihan bahkan mau balikin duit taruhannya ke lo,” Dimas nambahin. “Katanya lo layak dapet kompensasi emosional.”

“Gue nggak jual mahal.”

“Terus apa?”

Gue diem. Gimana gue jelasin ke Dimas — yang hidupnya sesederhana skor bola — bahwa gue lebih milih sakit yang pelan tapi pasti daripada harapan yang mungkin ngangkat gue tinggi terus ngejatuhin gue dari ketinggian yang gue nggak bakal selamat?

“Gue cuma... nggak mau salah baca,” kata gue akhirnya.

Dimas natap gue lama. Terus, buat sekali seumur hidup, dia ngomong sesuatu yang bijak: “Tih. Lo ngajarin gue satu hal berbulan-bulan ini. Kalau lo suka seseorang, lo tunjukin terang-terangan, biar dia bisa milih dengan jujur. Inget nggak?” Dia bangun. “Sekarang dia lagi nunjukin sesuatu ke lo, terang-terangan. Masa lo malah merem?”

Terus dia pergi, ninggalin gue sama kalimat gue sendiri yang dibalikin ke muka gue.

Gue balik ke kerjaan yang nggak gue kerjain. Dari ujung ruangan, gue bisa lihat dia — Melody, yang berminggu-minggu ini kepalanya selalu nunduk ke layar, sekarang sesekali ngelirik ke arah gue, cepat, terus buru-buru balik pura-pura sibuk pas ketauan. Dulu gue yang ngelakuin itu ke dia. Gue tahu persis gerakan itu. Gue tahu persis apa artinya. Dan justru karena gue tahu persis, gue makin takut buat percaya — soalnya kalau gue salah kali ini, gue nggak punya cukup potongan diri gue yang tersisa buat dilem balik.

Sorenya, momen itu dateng. Gue lagi di pantry, nyuci gelas, dan tiba-tiba Melody ada di sebelah gue, deket, bahunya nyaris nempel, ngambil gelas dari rak di atas kepala gue sampe lengannya lewat depan dada gue.

“Permisi,” katanya, pelan, tapi nggak mundur. Deket banget. Gue bisa nyium wangi rambutnya.

Dan gue — gue yang berbulan-bulan berdiri di depan mejanya tanpa gentar, gue yang ngejar dia di depan lima belas orang tanpa malu — gue mati kutu. Gelas di tangan gue nyaris jatuh. Kuping gue panas. Gue mundur selangkah, nabrak konter, dan ngeluarin suara yang gue harap bukan cicitan.

Melody ngeliat itu semua. Dan buat sepersekian detik, ada sesuatu di sudut bibirnya — bukan senyum sombong, tapi senyum kecil, senyum orang yang baru nemu sesuatu yang menyenangkan.

“Lo gugup?” tanyanya.

“Nggak,” kata gue, jelas-jelas gugup.

“Oke.” Dia ngambil gelasnya. Terus, sebelum pergi, dia noleh: “Lucu juga. Ternyata lo bisa gugup.” Dan dia jalan pergi, ninggalin gue di pantry dengan jantung yang gedebak-gedebak kayak anak SMP.

Gue naruh gelas yang tadi nyaris jatuh, dan gue sadar tangan gue gemeteran. Gue — yang biasanya jadi sumber kegugupan orang lain — sekarang gemeteran di pantry gara-gara satu kalimat dan satu wangi rambut. Peran kami udah kebalik total. Dan bagian paling nyebelinnya: gue nggak benci.

Gue berdiri di situ lama.

Oke. Jadi mungkin — mungkin — Dimas bener. Mungkin ada sesuatu.

Tapi gue tetep nggak akan maju duluan. Bukan karena gengsi. Karena gue perlu tahu, tanpa ragu, tanpa celah buat salah baca, bahwa ini yang Melody mau — bukan rasa bersalah, bukan iba, bukan sekadar kesepian yang cari pelarian. Gue perlu dia bilang sesuatu yang sejelas “pergi”, tapi kebalikannya. Gue perlu dia jalan ke arah gue dengan mata terbuka, kayak gue dulu jalan ke arah dia.

Sampe saat itu, gue bakal tetep di sini. Sopan. Sabar. Sakit. Nunggu.

Cuma, kali ini, harapan itu — yang selama ini gue kurung rapat-rapat — mulai nyelusup keluar dari selnya, sedikit demi sedikit, tiap kali dia deket.

Dan gue nggak tahu lagi berapa lama gue sanggup pura-pura dia nggak ada, sementara seluruh diri gue teriak sebaliknya.