← Tolong, Jangan Diam

Chapter Twelve

Oke

— POV Fatih —

Ada satu kata yang gue tunggu dengan takut sejak hari pertama gue ngejar Melody.

Bukan “nggak”. “Nggak” itu gampang — “nggak” cuma artinya belum. Bukan juga “berhenti”. “Berhenti” pun masih bisa jenis pertama, yang artinya coba lagi besok.

Kata yang gue takutin cuma satu: “pergi”.

Dan hari itu, di depan seisi divisi, dengan suara yang gemetar bukan karena marah tapi karena hancur, Melody ngomong kata itu.

Pergi. Beneran pergi. Gue nggak mau lihat lo lagi.

Gue berdiri di situ, kopi di tangan, dan gue ngerasain seluruh dunia gue nyusut jadi seukuran satu kata.

Gue tahu dia nggak sepenuhnya maksud. Gue tahu — gue kenal dia sekarang, gue udah baca dia berminggu-minggu. Gue lihat matanya yang merah karena kurang tidur, gue tahu soal klien yang lepas, gue tahu Bu Ratih nyalahin dia di depan orang. Gue tahu dia lagi tenggelam, dan gue tahu gue cuma pelampung terdekat yang bisa dia tendang biar dia ngerasa masih megang kendali atas sesuatu di hari yang ngerampas semua kendalinya.

Kalau gue mau, gue bisa ngelawan. Gue bisa bilang, “Gue tahu lo nggak maksud itu.” Gue bisa tetap di situ, tetap sabar, nunggu badainya lewat, dan mungkin — mungkin — besok atau lusa dia bakal minta maaf dan semuanya balik kayak semula.

Mungkin gue bahkan bener.

Tapi itu justru jebakannya.

Karena gue pernah jadi orang yang mutusin dia lebih tahu isi hati orang lain daripada orang itu sendiri. Gue pernah denger seseorang bilang “berhenti”, dan gue mutusin dia nggak beneran maksud, dan gue terus — karena gue yakin gue tahu yang lebih baik buat dia daripada dia sendiri. Gue salah. Dan gue kehilangan dia dengan cara yang jauh, jauh lebih buruk daripada kalau gue berhenti dari awal. Kehilangan yang sampe sekarang masih gue bawa tiap kali gue merem.

Gue nggak akan cerita detailnya di sini — ada luka yang lo simpen bukan buat dilupain, tapi buat jadi rem. Cukup gue bilang: gue pernah yakin banget cinta gue lebih penting daripada kata “nggak” seseorang. Gue pernah nganggep kegigihan gue itu romantis, padahal buat dia itu bikin ngeri. Dan pas gue akhirnya ngerti, kerusakannya udah nggak bisa dibalikin. Sejak itu, “berhenti” jadi satu-satunya kata suci yang gue punya.

Gue janji, hari itu, gue nggak akan pernah lagi jadi orang yang bilang “gue tahu maksud lo lebih dari lo sendiri”. Nggak peduli seberapa yakin gue. Nggak peduli seberapa sakitnya.

Jadi waktu Melody bilang “pergi” —

Gue pergi.

“...Oke,” gue bilang. Cuma itu yang sanggup keluar. Kalau gue ngomong lebih dari satu kata, gue nggak yakin suara gue bakal tetap utuh.

Gue ambil kembali kopi yang tadi gue naruh — bodoh, tapi gue nggak mau ninggalin apa pun dari gue di mejanya, nggak mau dia ngerasa gue maksa kehadiran gue tetap tinggal padahal dia udah nyuruh pergi. Gue balik badan. Gue jalan ke meja gue, ngambil tas, dan keluar. Gue nggak noleh. Karena kalau gue noleh dan lihat mukanya, gue nggak bakal sanggup jalan.

Di parkiran, gue duduk di motor lama banget. Hujan mulai turun. Gue nggak nyalain mesin. Gue cuma duduk, basah pelan-pelan, megang setang, dan buat pertama kalinya sejak gue pindah ke kantor ini, gue ngerasain besok kayak sesuatu yang kosong. Nggak ada kopi yang harus gue beli. Nggak ada kursi yang harus gue rebut. Nggak ada “hari ini boleh ya” yang harus gue ucapin ke satu-satunya orang yang bikin gue pengin dateng ke kantor tiap pagi.

Gue ngeluarin HP. Gue buka chat Teams — chat yang tiap hari gue isi, yang dia nggak pernah bales tapi juga nggak pernah dia mute. Jempol gue ngambang di atas keyboard.

Gue pengin ngetik. Gue pengin bilang gue ngerti, gue nggak ke mana-mana, gue di sini kalau lo butuh. Gue pengin banget, sampe rasanya sakit.

Tapi “gue nggak ke mana-mana”, buat orang yang baru aja bilang “pergi”, cuma versi halus dari maksa. Cuma cara lain buat naruh beban gue di pundaknya di hari dia paling nggak sanggup mikul apa-apa.

Jadi gue nggak ngetik apa-apa. Gue nutup HP. Dan gue biarin diri gue, buat malam itu doang, ngerasain betapa hancurnya gue — di parkiran, di tengah hujan, di tempat yang nggak ada yang lihat.

Gue nggak nangis. Gue cuma diem, lama, sampe hujan berhenti dan jaket gue basah dari dalam maupun luar, sampe satpam parkiran ngetok kaca helm gue nanya gue baik-baik aja. Gue bilang baik. Gue selalu bilang baik. Itu, ternyata, keahlian yang gue dan Melody sama-sama punya, cuma kami berdua nggak pernah tahu betapa miripnya kami dalam hal itu.

Besoknya gue tetap masuk kerja. Gue pindah duduk ke ujung ruangan yang paling jauh dari mejanya — biar dia nggak perlu ngeliat gue, biar “pergi”-nya gue hormatin sepenuhnya, bukan cuma setengah. Gue nggak nyapa. Gue nggak lewat mejanya. Gue nggak ngehum, karena gue tahu dia bisa denger dari situ, dan gue nggak mau ninggalin bahkan suara gue di ruangan yang dia minta gue kosongin.

Tapi diam-diam, lewat Bu Ratih, gue beresin dokumen serah-terima klien yang lepas itu. Gue susun rapi biar yang keliatan salah bukan Melody, biar dia nggak kena semprot lagi. Gue nggak ngasih tahu dia. Gue nggak mau itu jadi utang, nggak mau jadi alasan buat dia ngerasa harus balik. Gue cuma... nggak bisa berhenti pengin dia baik-baik aja, walau dia udah nyuruh gue pergi.

Ternyata gitu rasanya.

Lo bisa berhenti ngejar seseorang. Lo nggak bisa berhenti sayang sama dia. Itu dua otot yang beda, dan cuma satu yang nurut sama perintah.

Yang satu lagi cuma diam, di tempat yang nggak keliatan, terus tiap malam.