Chapter Five
Retak Rambut
— POV Melody —
Retak rambut — itu istilah buat retakan yang terlalu halus buat dilihat mata, tapi cukup buat bikin seluruh struktur runtuh kalau dibiarkan. Aku nggak pernah nyangka bakal memakainya buat menggambarkan diriku sendiri.
Tapi begini ceritanya.
Pagi itu, mejaku kosong. Maksudku, nggak ada kopi. Nggak ada sticky note. Kursi di seberang ruangan — kursi Fatih, yang seminggu terakhir selalu terisi sebelum aku datang — masih kosong. Jaketnya nggak nyangkut di sana. Layarnya mati.
Aku duduk. Aku nyalain laptop. Dua belas email, tiga yang penting. Semua persis seperti hari-hari sebelum dia datang.
Dan entah kenapa, semuanya terasa salah.
Aku buka Teams. Sejak Fatih milih channel itu, tiap pagi selalu ada satu pesan darinya nunggu — biasanya nggak penting, kadang cuma foto kucing tetangga, kadang “selamat pagi orang paling galak sekantor”. Aku nggak pernah bales. Tapi aku juga — dan ini bagian yang nggak mau kuakui — nggak pernah nge-mute dia, padahal dia sendiri yang bilang aku boleh.
Pagi itu kolom chatnya kosong. Titik di sebelah namanya abu-abu. Offline.
Aku menatap layar itu lebih lama dari yang bisa kubenarkan secara logis.
“Nyariin siapa?”
Aku nyaris ngelonjak. Rani udah berdiri di sebelah mejaku, tangan bersedekap, senyum yang bikin aku pengin melempar stapler.
“Nggak nyariin siapa-siapa.”
“Lo baru aja ngelirik pintu buat kelima kalinya dalam dua menit. Gue ngitung.” Dia condong. “Gue punya spreadsheet-nya kalau lo mau.”
“Gue lagi mikirin laporan.”
“Laporannya ada di pintu?”
“Rani.”
“Oke, oke.” Dia ngangkat tangan, tapi senyumnya nggak ke mana-mana. “Cuma buat catatan: dia izin. Ban motornya bocor di jalan. Dia nge-chat grup divisi jam tujuh tadi, minta maaf bakal telat, sama nanya ada yang mau dititipin sarapan nggak.” Rani diam sebentar, menikmati momen. “Dia nggak nanya lo mau dititipin apa, sih. Tapi gue yakin lo penasaran.”
“Gue nggak—“
“Bohong itu dosa, Mel.”
“Gue nggak lagi bohong. Gue lagi kerja.”
“Sama aja, buat lo,” katanya, lalu balik ke mejanya sambil senyum kayak orang yang baru menang debat yang lawannya bahkan belum sadar lagi ikut debat.
Fatih datang jam setengah sepuluh, napas masih ngos-ngosan, ujung celananya kena cipratan oli, rambutnya berantakan kena angin. Begitu dia masuk, ada sesuatu di ruangan yang berubah — kayak volume yang naik satu takaran, kayak lampu yang tiba-tiba lebih terang. Dimas nyorakin. Sari nawarin tisu basah. Seisi divisi kayak nyambut orang pulang perang.
Dan aku — aku ngerasain sesuatu di dadaku yang mengendur. Sesuatu yang seharian ini kutahan tanpa sadar, akhirnya lepas begitu aku lihat dia baik-baik aja.
Aku benci perasaan itu. Aku benci karena perasaan itu punya nama, dan namanya adalah lega.
Dia naruh tas, terus — tentu saja — jalan ke arah mejaku sebelum ke mejanya sendiri. “Pagi. Sori telat. Ban gue berkhianat.”
“Gue nggak nanya.”
“Gue tahu. Lo nggak pernah nanya.” Dia nyengir, naruh satu gelas kopi di mejaku — masih sempet mampir beli, di tengah kekacauan paginya. “Hari ini boleh, ya? Gue numpang duduk deket lo pas ngetik laporan. Nggak ganggu. Sumpah.”
“Nggak.”
“Oke.” Dia mundur, sama sekali nggak patah, seperti biasa.
Tapi ini bagian yang bikin aku takut: waktu dia ngucapin kalimat itu — kalimat yang seminggu ini bikin aku pengin lempar barang — aku ngerasain sesuatu yang sama sekali bukan kesal. Aku ngerasa kalimat itu di tempatnya lagi. Kayak lagu yang tiap hari kamu dengar sampai nggak sadar kamu hafal, lalu pas satu pagi lagunya nggak diputer, kamu baru sadar sepi itu bunyinya kayak apa.
Sepanjang pagi, aku curi-curi lihat titik di sebelah namanya di Teams. Sekarang nyala. Online. Dan tiap kali aku nutup jendela chat, tanganku sendiri yang beberapa menit kemudian mbukanya lagi, kayak lidah yang terus balik ke gigi yang sakit. Nggak ada pesan baru — dia lagi sibuk ngejar kerjaannya sendiri. Tapi aku tetap ngecek. Berkali-kali. Buat orang yang katanya nggak peduli, aku ngeluangin banyak sekali energi buat mastiin dia ada.
Siangnya, aku ke printer ambil laporan. Fatih lagi di situ, ngambil dokumennya sendiri. Kertas kami keluar hampir bersamaan, numpuk jadi satu di baki. Kami sama-sama meraih. Tanganku nyampe duluan; tangannya nyampe sepersekian detik kemudian, di atas tanganku.
Hangat. Cuma itu yang sempat kupikir sebelum aku narik tangan kayak kesetrum. Hangat, lebih besar dari tanganku, dan diam di situ setengah detik lebih lama dari yang perlu.
“Sori.” Dia narik tangannya, tapi pelan, nggak panik kayak aku. Dia misahin dokumen kami dengan tenang, ngasih tumpukan yang punyaku. “Punya lo. Yang atas.”
“Makasih.” Kata itu keluar sebelum aku sempat menahannya.
Dia berhenti. Bener-bener berhenti, kayak aku barusan ngomong dalam bahasa asing. Terus senyumnya melebar — bukan senyum menang, tapi senyum orang yang baru dikasih sesuatu yang nggak dia sangka. “Sama-sama, Melody.”
Aku balik ke meja secepat yang masih bisa disebut bermartabat. Di belakangku, aku bisa denger dia masih berdiri di depan printer — dan aku tahu, tanpa noleh, dia lagi senyum.
Di kursiku, aku menatap tanganku sendiri. Tempat tangannya tadi masih terasa hangat — atau mungkin cuma imajinasiku, yang mana lebih parah.
Retak rambut. Retakan yang terlalu halus buat dilihat, tapi cukup buat bikin seluruh struktur runtuh kalau dibiarkan.
Pagi ini aku nyariin dia. Aku lega pas dia dateng. Aku bilang “makasih”. Tiga retakan halus, dalam satu hari.
Dan yang paling nyebelin: nggak satu pun dari retakan itu dia yang bikin. Dia cuma berdiri di sana — tulus, sabar, dan menyebalkan — dan aku yang retak sendiri, dari dalam, tanpa ada yang mukul.
Aku bilang ke diri sendiri aku bakal memperbaikinya besok. Bakal lebih dingin, lebih rapat, lebih rapi.
Aku lupa satu hal soal retak rambut: begitu dia mulai, dia nggak pernah jalan mundur. Dia cuma nunggu tekanan yang cukup buat jadi retakan yang sebenarnya.
- 1 Truk Tanpa Rem
- 2 Kursi
- 3 Nomor yang Tak Kusimpan
- 4 Alasan Dingin
- 5 Retak Rambut reading
- 6 Yang Tulus
- 7 Kebiasaan
- 8 Kalau Dia Nggak Ada
- 9 Hampir
- 10 Melodi
- 11 Hari Terburuk
- 12 Oke
- 13 Keheningan yang Salah
- 14 Titik Terendah
- 15 Giliranku
- 16 Canggung yang Baru
- 17 Biar Gue Pangku
- 18 Narik Kerah
- 19 Hari Ini Boleh, Ya?
- 20 Sekarang Aku yang Berisik
- 21 Dua yang Berisik
- 22 Tolong, Jangan Diam