Chapter Seven
Kebiasaan
— POV Melody —
Manusia itu makhluk kebiasaan. Itu bukan kelemahan; itu cuma cara otak menghemat tenaga. Kamu lewat jalan yang sama tiap hari, duduk di kursi yang sama, minum kopi dengan takaran yang sama. Otakmu berhenti bertanya dan mulai mengharapkan.
Aku bilang ke diri sendiri itu yang terjadi. Cuma itu. Kebiasaan.
Karena gimana lagi aku menjelaskan kenapa, pagi itu, aku nyampe kantor dan hal pertama yang mataku cari bukan laptopku, tapi kursi di seberang ruangan — dan kenapa ada rasa puas kecil, kayak checklist yang tercentang, waktu aku lihat jaketnya udah nyangkut di sana.
Di mejaku, kopi udah nunggu. Hitam, tanpa gula, tutup masih rapat. Sticky note hari ini: Slide lo kemarin juara. Klien pasti nangis terharu. — F. Aku nggak nyimpen sticky note-nya.
Aku juga nggak ngebuang.
Aku naruh di laci. Buat dibuang nanti, kataku ke diri sendiri. Nanti yang nggak pernah datang — sama kayak sticky note-sticky note sebelumnya yang sekarang numpuk diam-diam di sudut laci itu, kayak koleksi yang nggak pernah kuakui kupunya.
Dan ini yang bikin aku ngeri kalau kupikirin: aku hafal jadwalnya.
Dia dateng jam delapan lewat seperempat, selalu. Jam sepuluh dia ke pantry, ngajak Dimas, ketawanya kedengeran sampe mejaku. Jam setengah satu makan siang. Kalau dia lagi fokus ngetik, dia ngehum — lagu yang nggak jelas apa, sumbang, pelan, dan entah kenapa nggak pernah ganggu. Jam empat dia mulai gelisah, muter pulpen di jari. Jam lima dia lewat mejaku, sekali, cuma buat bilang sesuatu yang nggak penting.
Sejak kapan aku ngerekam semua ini? Aku nggak pernah niat. Otakku ngelakuinnya sendiri, diam-diam, kayak mata-mata yang kerja buat pihak yang salah.
Aku bahkan tahu dia minum kopinya pakai dua gula — kebalikan total dari aku — dan aku benci bahwa aku tahu, karena buat tahu itu, aku pasti pernah merhatiin dia minum. Diam-diam. Entah kapan.
“Lo tahu,” kata Rani sambil nyeruput kopinya, “dulu gue harus maksa lo buat sekadar nyapa orang. Sekarang lo bisa nyebutin jam berapa Fatih ke toilet.”
“Gue nggak—“
“‘Dia ke pantry jam sepuluh.’ Itu kata-kata lo, dua menit lalu, tanpa ada yang nanya.”
Aku nutup mulut. Karena dia bener, dan itu bagian terburuknya.
“Mel.” Rani naruh cangkirnya, dan buat sekali ini nada becandanya turun. “Nggak apa-apa, lho. Suka orang. Itu bukan kelemahan. Itu bukan pengkhianatan ke siapa pun.”
“Gue nggak suka dia.” Aku ngomong terlalu cepat. “Gue cuma... terbiasa. Ada bedanya.”
“Oh, ada.” Rani ngangguk, serius palsu. “Bedanya, yang satu lo akuin, yang satu lo tulis di laci.”
Aku nggak nanya dia tahu dari mana soal laci. Beberapa hal lebih baik nggak diketahui.
Siang itu, notifikasi Teams muncul di pojok layar. Dari Fatih, tentu aja. Fakta hari ini: penguin cuma punya satu pasangan seumur hidup. Gue merasa terhubung secara spiritual sama penguin.
Aku menatap pesan itu. Kursorku ngambang di atas kolom balasan lebih lama dari yang wajar. Aku ngetik: Penguin nggak ngejar penguin yang jelas-jelas nolak. Terus kuhapus. Aku ngetik lagi. Hapus lagi. Akhirnya kututup jendelanya tanpa bales, kayak biasa.
Tapi “kayak biasa” itu bohong. Karena dua minggu lalu aku nggak bakal repot ngetik-hapus tiga kali. Dua minggu lalu aku bahkan nggak bakal buka chatnya.
Jam sepuluh lewat, Fatih balik dari pantry, lewat mejaku. “Hari ini boleh, ya? Gue mau minta pendapat lo soal deck buat klien gue. Lima menit doang. Di ruang meeting kecil.”
“Nggak.”
Tapi begini yang nggak bakal kuakui ke siapa pun, apalagi ke Rani: sepanjang pagi, tiap kali jarum jam ngelewatin satu angka, ada bagian kecil di kepalaku yang nunggu kalimat itu. Hari ini boleh, ya. Dan waktu akhirnya dateng, ada rasa lega yang sama persis kayak waktu kopi ada di mejaku — rasa “ada di tempatnya”, rasa hari yang lengkap.
Kalimat yang dulu bikin aku pengin lempar stapler, sekarang jadi penanda bahwa duniaku baik-baik aja.
Itu bukan kebiasaan. Aku tahu itu bukan. Tapi ngakuin apa itu sebenarnya butuh keberanian yang belum kupunya.
Sorenya, di rapat mingguan, kursi lagi-lagi kurang — kayaknya emang udah takdir divisi ini. Fatih dateng, dan alih-alih nyari kursi, dia narik satu kursi kosong pas di sebelahku dan duduk. Deket. Bahunya beberapa senti dari bahuku.
Dulu — dua minggu lalu — aku bakal geser. Otomatis. Refleks bertahan yang udah kulatih bertahun-tahun.
Aku nggak geser.
Aku sadar aku nggak geser tepat pas rapat mulai, dan pas aku sadar, geser malah bakal jadi pengakuan yang lebih besar daripada diam. Jadi aku diam. Kami duduk berdampingan sepanjang rapat, bahu nyaris nyentuh, dan aku ngabisin setengah waktu mikirin betapa nyamannya itu, terus setengahnya lagi marah ke diri sendiri karena mikir betapa nyamannya itu.
Pas rapat bubar, dia berdiri, ngeregangin badan, terus nunduk sedikit ke arahku. “Makasih udah nggak ngusir gue dari kursi ini,” bisiknya, becanda. Dia nggak tahu — atau mungkin dia tahu, dia selalu tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin — bahwa buat aku, nggak ngusir dia dari kursi itu adalah hal paling nekat yang kulakuin sepanjang minggu.
Malamnya di apartemen — yang, kusadari, udah beberapa hari ini nggak terasa sesunyi biasanya, mungkin karena kepalaku penuh suara humming sumbang yang kubawa pulang tanpa izin — aku duduk di sofa dan nyoba jujur sama diri sendiri. Cuma sebentar. Cuma buat percobaan.
Aku suka waktu dia ada. Aku nyariin waktu dia nggak ada. Aku nyimpen sticky note-nya di laci. Aku nggak geser pas dia duduk deket. Aku nunggu kalimat konyolnya tiap pagi kayak nunggu matahari terbit.
Terus aku nutup percobaan itu, karena kesimpulannya bikin takut.
“Itu cuma kebiasaan,” kataku, keras, ke ruangan kosong. “Kebiasaan itu bukan perasaan.”
Aku ngomong tiga kali. Yang mana, kalau dipikir-pikir, bukan sesuatu yang dilakukan orang yang beneran yakin.
- 1 Truk Tanpa Rem
- 2 Kursi
- 3 Nomor yang Tak Kusimpan
- 4 Alasan Dingin
- 5 Retak Rambut
- 6 Yang Tulus
- 7 Kebiasaan reading
- 8 Kalau Dia Nggak Ada
- 9 Hampir
- 10 Melodi
- 11 Hari Terburuk
- 12 Oke
- 13 Keheningan yang Salah
- 14 Titik Terendah
- 15 Giliranku
- 16 Canggung yang Baru
- 17 Biar Gue Pangku
- 18 Narik Kerah
- 19 Hari Ini Boleh, Ya?
- 20 Sekarang Aku yang Berisik
- 21 Dua yang Berisik
- 22 Tolong, Jangan Diam