Chapter Five
Suara Sebelum Tidur
POV: Nora
Kira berhenti tidur tiga malam setelah menggunakan Solar Flare.
Dia tidak mengakuinya. Aku mengetahuinya dari empat belas rekaman suara yang dikirim pada jam-jam ketika manusia waras seharusnya tidak memperdebatkan rasa mi instan.
Kira: Jam dua lewat tujuh. Mi kari lebih baik daripada ayam bawang. Catat kalau ini ternyata informasi penting.
Kira: Jam tiga lewat empat puluh. Koreksi: keduanya buruk kalau dimakan dingin.
Pada pagi keempat, Mika menelepon dari BFA dan mengatakan Kira tertidur berdiri di lift, lalu bangun sambil menyerang bayangannya sendiri. Aku membawa buku biru ke ruang medis sebelum Darian selesai mengatakan kondisinya “masih dapat dikelola.”
Kira duduk di ranjang pemeriksaan dengan lingkaran gelap di bawah mata. “Aku tidak menyerang bayangan. Aku menguji refleks.”
“Dengan meninju kaca lift?”
“Refleksnya agresif.”
Aku membuka buku. Setelah Solar Flare, dia masih dapat tertawa dan mengenali humor, tetapi ingatan bahagia tidak lagi menghasilkan kehangatan. Sekarang setiap kali memejamkan mata, dia mendengar festival terbakar dan terbangun sebelum sempat bermimpi.
“Kamu takut tidur,” kataku.
“Aku tidak merasa takut.”
“Tubuhmu merasa.”
Monitor di sebelahnya berbunyi cepat, mengkhianati ketenangan suaranya. Darian menunjukkan hasil pemindaian. Energi Wraith tertinggal pada jalur saraf yang dipakai Astra System. Selama Kira terjaga, residu itu pasif. Ketika kesadarannya turun, residu membentuk pintu bagi Hollow.
“Kita bisa menggunakan sedatif,” kata Darian.
“Dan kalau pintunya terbuka saat dia nggak bisa bangun?” tanyaku.
Darian tidak menjawab. Alarm markas menjawab untuknya.
Tiga pasien di ruang pemulihan tiba-tiba menjerit dalam tidur. Bayangan hitam merembes dari bawah ranjang mereka dan menyatu di langit-langit menjadi Wraith tanpa wajah. Tubuhnya diselimuti kain tipis seperti kelambu, sementara mulut-mulut kecil berbisik dari lipatannya.
DREAM-BORNE WRAITH DETECTED. HOSTS: FOUR.
Host keempat adalah Kira.
Bayangan dari kakinya membelit ranjang. Aku menariknya, tetapi tanganku menembus asap dingin. Kira memasang Driver dengan gerakan terlalu lambat. Stellar Core menyala, lalu padam ketika Wraith memaksa matanya terpejam.
“Kira. Lihat aku.”
Dia membuka mata sesaat. “Sulit. Wajahmu ada dua.”
“Pilih yang lebih galak.”
Dia tersenyum tipis dan memasukkan Core. “Henshin.”
STELLAR FORM. MEMORY CONVERSION ACTIVE.
Zirah terbentuk, tetapi tubuhnya jatuh tidak sadar. Di monitor, gelombang otaknya berubah menjadi pola rasi. Wraith telah menarik kesadarannya dan tiga pasien lain ke mimpi yang sama.
Darian menyuruhku tetap di luar. Aku menyentuh Astra Driver sebelum dia selesai bicara.
Echo Sight menyeretku masuk.
Aku jatuh ke versi festival yang kosong. Lentera menggantung tanpa cahaya. Di tengah jalan, Rider Astra bertarung melawan puluhan bayangan yang selalu tumbuh kembali. Tiga pasien bersembunyi di dalam rumah-rumah kaca, masing-masing memimpikan ketakutan terburuk mereka.
Kira menebas satu bayangan. Dua muncul dari punggungnya. Stellar Form dirancang untuk menghancurkan musuh, sedangkan tempat ini dibangun dari ketakutan yang harus disembuhkan.
“Kamu datang juga,” katanya ketika melihatku.
“Kamu terdengar kecewa.”
“Aku berharap setidaknya satu dari kita pintar.”
Wraith turun dari langit dan membuka kain wajahnya. Di dalamnya tidak ada kepala, hanya kamar-kamar gelap tempat Kira terbangun sendirian. Aku melihat apartemennya, planetarium kosong, dan buku biru dengan semua halaman tercabut.
Lyra berbicara melalui udara mimpi. LUNAR CORE AVAILABLE. FUNCTION: PURIFICATION AND DREAM VEIL. PROJECTED COST: DREAMS AND SENSE OF SAFETY.
Core putih-keunguan muncul di telapak tanganku. Aku tidak memberikannya.
“Kalau kamu pakai ini, kamu mungkin nggak bisa merasa aman lagi.”
Salah satu rumah kaca retak. Seorang pasien tua memanggil nama istrinya yang sudah meninggal. Wraith mulai memakannya dari mimpi, menghapus alasan lelaki itu untuk bangun.
Kira mengulurkan tangan. “Kalau tidak dipakai, mereka tidak akan bangun.”
“Selalu itu jawabanmu.”
“Bukan selalu. Kali ini aku sedang meminta kamu ikut memilih.”
Kalimat itu menghentikanku. Dia tidak merebut Core. Dia tidak membuat keputusan sendirian. Dia menunggu, meski setiap detik membuat bayangan bertambah.
Aku meletakkan Lunar Core di tangannya. “Pulang setelah ini.”
“Kalau lupa jalan?”
“Aku cari.”
Dia memasukkan Core ke Driver. Cincin tujuh segmen berputar, dan cahaya bulan mengalir di antara zirahnya.
LUNAR VEIL. MEMORY CONVERSION ACTIVE.
Perak kebiruan menggantikan garis Stellar. Jubah cahaya tipis terbentuk di belakangnya seperti malam yang dilipat. Ketika Wraith menyerang, Kira tidak menebasnya. Dia membuka kedua tangan dan membentangkan kubah bulan di atas seluruh festival mimpi.
Bayangan yang tersentuh cahaya tidak terbakar. Mereka berubah menjadi kenangan asli para pasien: pelukan, suara keluarga, dan alasan untuk membuka mata. Aku berlari dari satu rumah kaca ke rumah lain, memanggil nama para host sementara Kira menahan Wraith di pusat kubah.
Wraith mencoba memakai ketakutannya sendiri. Ratusan Nora tanpa wajah mengelilingi Kira dan berkata mereka tidak pernah mengenalnya. Langkahnya goyah.
Kain gelap melilit kaki Kira dan menyeretnya menuju salah satu kamar kosong. Di dalam kamar itu, versi dirinya yang lebih tua duduk di lantai tanpa Driver, tanpa rekaman, dan tanpa satu pun nama untuk dipanggil. Aku merasakan ketakutan yang selama ini dia sembunyikan: bukan takut mati, melainkan takut tetap hidup setelah semua alasan untuk hidup menghilang.
Aku menembakkan cahaya Echo dari buku biru. Entri-entri yang kutulis menjelma garis emas—bukan untuk mengembalikan ingatan, melainkan mengingatkan bahwa setiap fakta lahir dari pilihan nyata. Kira memotong kain Wraith dan berdiri lagi.
Aku meraih tangannya. “Aku Nora. Konservator museum. Galak kalau khawatir.”
“Dan pencuri kopi.”
“Fokus.”
Dia mengangkat tangan kami. Cahaya bulan menembus inti Wraith, memurnikannya menjadi hujan putih yang jatuh tanpa suara. Festival mimpi runtuh, dan kami terlempar kembali ke ruang medis.
Ketiga pasien bangun. Kira juga membuka mata, tetapi langsung mencengkeram pagar ranjang seolah lantai akan menghilang.
Pasien tua itu memanggil istrinya dan menangis ketika menyadari ia masih mengingat suaranya. Seorang perawat memeluk dua pasien lain. Kemenangan tersebut terasa utuh bagi semua orang kecuali Kira, yang terus memeriksa sudut ruangan seperti sesuatu masih bersembunyi di sana.
Aku menyentuh punggung tangannya dengan sarung tangan. Dia tersentak sebelum mengenaliku. Solar Flare telah mengambil kebahagiaan; Lunar Veil kini mengambil tempat aman tempat rasa sakit seharusnya dapat beristirahat.
Darian mematikan alarm. “Ancaman selesai.”
“Tidak,” kata Kira. Napasnya terlalu cepat. “Lampunya jangan dimatikan.”
Malam itu aku mengantarnya ke apartemen. Dia memeriksa kunci tiga kali, menyalakan seluruh lampu, dan berdiri di tengah kamar tanpa mampu duduk. Lunar Veil telah mengambil mimpi dan rasa aman. Bahkan tempat tinggalnya terasa seperti ruangan asing yang bisa menyerangnya ketika ia lengah.
“Aku bisa tinggal sampai kamu tidur,” kataku.
“Aku tidak akan tidur.”
“Kamu akan mati kalau terus begini.”
“Setidaknya aku tahu kapan itu terjadi.”
Aku tidak punya jawaban cerdas. Jadi aku pulang, membuka buku biru, lalu meneleponnya. Aku membacakan setiap entri sejak halaman pertama: namanya, pekerjaannya, kopi dua gula, motor bergaris biru, dan fakta bahwa dia gagal memenangkan permainan lempar gelang.
“Yang terakhir tidak penting,” gumamnya.
“Semua yang membuatmu kesal penting.”
Aku terus membaca. Setelah dua puluh menit, napasnya melambat. Setelah tiga puluh menit, dia tidak menjawab leluconku. Aku tetap membacakan halaman yang belum terisi, mengarang daftar kecil tentang hal-hal yang bisa kami lakukan besok.
Pukul dua lewat sebelas, aku mendengar suara tidurnya untuk pertama kali.
Aku tidak menutup telepon. Di meja, Lunar Core memantulkan cahaya ponsel seperti bulan kecil. Untuk malam itu, suaraku menjadi satu-satunya tempat yang masih dianggap aman oleh tubuh Kira.
- 1 Nama yang Hilang
- 2 Jangan Sentuh Sabukku
- 3 Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang
- 4 Matahari yang Memakan Bahagia
- 5 Suara Sebelum Tidur reading
- 6 Jalan Pulang
- 7 Rumah yang Tidak Kuingat
- 8 Kencan untuk Orang Pelupa
- 9 Air Mata yang Tidak Kumengerti
- 10 Kalau Aku Lupa Wajahmu
- 11 Kenalin Diri Kamu Sekali Lagi
- 12 Tujuh Core
- 13 Hari yang Hanya Diingat Satu Orang
- 14 Cium Aku Sebelum Hilang
- 15 Pemilik Pertama Astra
- 16 Adik yang Menyelamatkanku
- 17 Eclipse
- 18 Namamu Kira
- 19 Dunia Tanpa Rasa Sakit
- 20 Satu Janji Tersisa
- 21 Malam Terakhir yang Biasa
- 22 Last Henshin
- 23 Pahlawan yang Tidak Pernah Ada
- 24 Kita Bisa Mulai Sekarang