Chapter Two
Jangan Sentuh Sabukku
POV: Kira
Ada tiga hal yang kutahu saat bangun di ruang restorasi museum: pinggangku sakit, alarm kebakaran terlalu berisik, dan perempuan di depanku sedang memegang sesuatu yang seharusnya tidak disentuh siapa pun.
Namanya Nora. Aku tahu karena rekaman di saku jaketku mengatakannya.
Nora. Konservator museum. Galak kalau khawatir.
Catatan itu dibuat dengan suaraku sendiri kurang dari satu menit lalu. Tetap saja, melihat wajahnya tidak memunculkan apa-apa.
“Kembalikan Driver-nya,” kataku.
“Setelah kamu jelasin kenapa benda ini memanggilku Primary Resonance.”
Dia berdiri di balik meja restorasi, memegang Astra Driver dengan sarung tangan putih. Rambut cokelat sebahunya berantakan oleh debu. Ada luka tipis di pelipisnya, tetapi sorot matanya cukup tajam untuk membelah logam.
“Kesalahan pembacaan.”
“Artefak berumur ribuan tahun yang bisa mengubah manusia menjadi pahlawan super ternyata salah sambung?”
“Teknologinya tua.”
“Sabukmu baru saja menghabiskan ingatan tentang namaku. Jangan berharap aku percaya jawaban asal.”
Aku tidak ingat pernah lupa namanya. Itu bagian buruk dari kehilangan: tidak ada ruang kosong yang bisa disentuh, hanya fakta bahwa sesuatu pernah ada menurut orang lain.
Aku mengulurkan tangan. “Nora.”
Dia sedikit terkejut aku menyebutnya dengan benar.
“Rekaman,” kataku. “Saya curang.”
“Aku belum memaafkanmu.”
“Saya juga belum minta.”
Langit-langit bergetar sebelum dia sempat membalas. Debu turun dari sela lampu. Dari aula utama terdengar jeritan, disusul bunyi kaca pecah dan suara BFA memerintahkan evakuasi ulang.
Nora berlari ke panel darurat dan menutup pintu tahan api menuju ruang pamer anak. Tindakan itu menjebak kami di sisi yang sama dengan sumber getaran.
“Kamu seharusnya ikut evakuasi,” kataku.
“Ada empat artefak yang belum dinonaktifkan. Kalau Shade menyerap semuanya, makhluk kelas rendah bisa naik tingkat.”
“Kamu tahu cukup banyak tentang Hollow.”
“Aku merestorasi benda yang mereka incar. Sulit tetap bodoh.”
Suara benturan datang dari balik dinding. Nora memasukkan tiga kristal kecil ke kotak pelindung, tetapi artefak bintang menolak padam. Cahayanya berdenyut mengikuti detak Driver.
Driver menyala di tangannya.
ASTRAL CONTAMINATION DETECTED. SHADE CLASS. MULTIPLE SIGNATURES.
“Mereka tertarik pada artefak bintang,” kata Nora.
“Dan Driver.”
“Atau padaku.”
Kemungkinan terakhir terlalu masuk akal. Aku merebut Driver, tetapi saat jemari kami bersentuhan, cahaya putih menjalar di kulitnya. Nora tersentak dan fragmen asing menghantam kepalaku: seorang gadis kecil menangis di bawah hujan meteor, tangannya bercahaya saat mendorong sebuah sabuk ke arah anak laki-laki.
Lalu hilang.
Nora juga melihatnya. Wajahnya memucat.
“Kamu lihat—”
Pintu jebol. Tiga Shade merangkak masuk, tubuh mereka seperti asap yang dipaksa memiliki tulang. Aku mendorong Nora ke balik meja dan memasang Driver di pinggang.
“Apa pun yang terjadi, jangan sentuh sabukku lagi.”
“Itu perintah atau permohonan?”
“Keduanya.”
Aku memutar Core berbentuk bintang. Cahaya biru membangun garis zirah di sekeliling tubuhku.
“Henshin.”
STELLAR FORM. MEMORY CONVERSION ACTIVE.
Zirah menutup wajahku sesaat sebelum Shade pertama menerkam. Aku menangkis cakarnya, memutarnya melewati bahu, lalu menghantamkan telapak tangan ke pusat kabut di dadanya. Ledakan cahaya melemparkannya ke lemari penyimpanan.
Shade kedua meluncur ke arah Nora. Dia tidak membeku atau menjerit. Dia mengambil lampu ultraviolet portabel dan menyorotkannya ke wajah makhluk itu. Shade kehilangan bentuk selama dua detik—cukup bagiku untuk menebas inti gelapnya.
“Lampu museum?” tanyaku.
“Jangan meremehkan anggaran konservasi.”
Dua Shade yang jatuh belum mati. Potongan asap mereka merayap di lantai dan mencoba menyatu. Nora melihatnya lebih dulu. Dia menendang dudukan pajangan hingga menghalangi jalur mereka, lalu menyiramkan cairan pembersih logam ke inti yang terbuka. Tidak melukai, tetapi memantulkan cahaya zirahku kembali ke tubuh mereka.
“Kamu selalu membawa bahan mudah terbakar?” tanyaku.
“Aku sedang bekerja sebelum pahlawan kota merusak gedungku.”
Aku menembakkan dua bilah cahaya. Kali ini inti mereka pecah sempurna.
Shade ketiga melarikan diri ke galeri. Aku mengejarnya melewati miniatur planet dan puing pameran. Makhluk itu menyerap ketakutan pengunjung yang terjebak, membuat tubuhnya membesar. Seorang anak meringkuk di bawah bangku sementara ibunya tertahan reruntuhan.
Aku bisa mengejar inti Shade atau mengangkat reruntuhan. Tidak cukup waktu untuk keduanya.
“Kiri!” teriak Nora dari belakang.
Dia melempar cakram artefak bintang. Echo Sight-nya membuat pola cahaya pada benda itu menyala. Shade berbalik, tertarik pada resonansi yang lebih kuat. Aku mengangkat balok dari kaki sang ibu, lalu melindungi mereka saat Shade menghantam punggungku.
Rasa sakit menembus zirah. Lyra menghitung kerusakan dengan nada sopan yang menyebalkan.
STELLAR BURST AVAILABLE. PROJECTED MEMORY COST: MINOR EPISODIC DATA.
“Ambil,” bisikku.
Aku menyalurkan cahaya ke tinju dan menghantam tanah. Gelombang berbentuk rasi bintang mengikat ketiga Shade, menarik inti mereka keluar, lalu memecahkannya. Kabut hitam lenyap sebelum menyentuh lantai.
Zirah terurai.
Suara tepuk tangan tidak terdengar kali ini. Hanya tangis lega ibu dan anak itu, sirene di luar, serta napasku sendiri.
Nora mendekat sambil membawa artefak. “Apa yang diambil?”
“Belum tahu.”
“Coba ingat pagi tadi.”
Aku mengingat bangun, mandi, dan kopi. Ada kunci motor di saku. Aku meraba jaket.
“Saya datang naik motor.”
“Parkir di mana?”
Aku melihat pintu timur, lalu barat. Denah museum masih kukenal, tetapi gambar tempatku meninggalkan motor tidak ada. Aku mengeluarkan ponsel untuk membuka aplikasi lokasi. Layar menampilkan foto sebuah motor hitam dan nomor pelat yang terasa seperti milik orang lain.
“Sepele,” kataku.
Nora tidak menjawab. Dia mengambil tanganku dan menempelkan ujung jariku ke tiket parkir kusut yang ditemukan di saku. Echo Sight membuat matanya berkilau keemasan.
“Lantai B2. Pilar C-17,” katanya. Suaranya lebih pelan. “Kamu bersiul waktu turun dari motor. Lagu lama. Kamu kelihatan senang.”
“Lagunya apa?”
“Aku cuma dapat fragmen nadanya.”
Aku mencoba bersiul. Tidak ada melodi yang muncul.
Nora memandangku seolah baru menyaksikan seseorang menghilang selangkah di depan matanya. Itu lebih sulit kutahan daripada luka di pinggang.
“Jangan lihat saya begitu.”
“Begitu gimana?”
“Seperti saya seharusnya takut.”
“Kamu memang harus takut.”
“Takut tidak membuat Hollow berhenti datang.”
“Tapi mungkin membuatmu berhenti berbohong bahwa harganya kecil.”
Ibu yang tadi kuselamatkan menggenggam lenganku sebelum dibawa petugas medis. Dia berterima kasih kepada Astra, bukan kepadaku. Anak laki-lakinya memberikan stiker bintang dari bajunya. Aku menerimanya dan, beberapa detik kemudian, lupa dari sisi mana anak itu datang.
Nora menempelkan stiker itu di belakang buku catatan kecilnya. “Kalau nanti kamu bertanya, ini diberikan seorang anak yang kamu selamatkan.”
“Saya tidak minta kamu menyimpan semua yang tercecer.”
“Bagus. Aku juga tidak minta izin.”
Petugas BFA memasuki galeri. Sebelum mereka mencapai kami, Nora menyelipkan artefak bintang ke tasnya.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Mengamankan barang museum.”
“Itu terhubung dengan Driver.”
“Bagus. Berarti kamu punya alasan datang besok.”
“Tidak.”
“Kalau begitu aku yang datang ke BFA dan bertanya kenapa laporan kerusakan memorimu dipalsukan.”
Aku menatap perempuan yang baru kukenal dua kali pada hari yang sama. “Kamu selalu merepotkan begini?”
“Rekam saja. Biar besok kamu nggak kaget.”
Untuk pertama kalinya sejak Stellar Form padam, aku hampir tertawa. Aku menekan tombol pemutar suara.
“Catatan baru,” ujarku. “Nora tidak tahu cara menjauh dari masalah.”
Dia merebut alat itu dan menambahkan, “Kira mengira dirinya masalah paling menarik di kota.”
Dia mengembalikannya kepadaku, lalu berjalan menuju petugas BFA tanpa menunggu izin.
Aku mendengarkan rekaman itu sekali lagi.
Anehnya, suara kami terdengar seperti awal dari sesuatu yang belum sempat kulupakan.
- 1 Nama yang Hilang
- 2 Jangan Sentuh Sabukku reading
- 3 Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang
- 4 Matahari yang Memakan Bahagia
- 5 Suara Sebelum Tidur
- 6 Jalan Pulang
- 7 Rumah yang Tidak Kuingat
- 8 Kencan untuk Orang Pelupa
- 9 Air Mata yang Tidak Kumengerti
- 10 Kalau Aku Lupa Wajahmu
- 11 Kenalin Diri Kamu Sekali Lagi
- 12 Tujuh Core
- 13 Hari yang Hanya Diingat Satu Orang
- 14 Cium Aku Sebelum Hilang
- 15 Pemilik Pertama Astra
- 16 Adik yang Menyelamatkanku
- 17 Eclipse
- 18 Namamu Kira
- 22 Last Henshin
- 23 Pahlawan yang Tidak Pernah Ada
- 24 Kita Bisa Mulai Sekarang