← Last Henshin

Chapter Thirteen

Hari yang Hanya Diingat Satu Orang

POV: Nora

Aku tahu Kira berbohong tiga detik sebelum langit Asterra pecah.

Kami sedang sarapan di kantin BFA. Dia memotong roti menjadi dua, memberikan bagian renyah kepadaku, lalu mengatakan hasil simulasi Nova Breaker tidak menunjukkan risiko tambahan. Tangannya mencengkeram cangkir terlalu erat.

“Lihat aku,” kataku.

Kira mengangkat wajah. Sejak Nebula Phantom, matanya tidak lagi mengenal wajahku. Namun tubuhnya masih punya seratus cara menunjukkan bahwa dia tahu aku sedang marah.

“Saya melihat.”

“Bukan itu maksudku.”

Sirene memotong jawabannya. Seluruh lampu padam, kemudian menyala merah. Dari jendela kantin, garis hitam membelah langit di atas pusat kota. Tujuh cabang Astral Gate muncul sekaligus, masing-masing menurunkan Wraith yang pernah kami kalahkan dalam bentuk baru: api, mimpi, angin, batu, banjir, cermin, dan kumpulan Shade berbintang gelap.

Vesper berdiri di udara di antara mereka.

“Hari ini,” suaranya memenuhi kota, “kalian boleh memilih kenangan mana yang cukup berharga untuk membuat kalian menderita.”

Monitor darurat menunjukkan korban di tujuh distrik. Rumah sakit kehilangan daya. Terowongan evakuasi berubah arah. Museum terperangkap dalam ruang cermin. Tidak ada satu form yang dapat menjangkau semuanya tepat waktu.

Darian memasuki saluran komunikasi. “Nova Breaker satu-satunya pilihan.”

“Harganya?” tanyaku.

Kira sudah berdiri. “Kita bahas setelah kota selamat.”

Aku menangkap lengannya. “Tidak. Kita sepakat memilih bersama.”

Ledakan mengguncang gedung. Di layar, menara apartemen retak di atas jalur evakuasi. Mika meneriakkan perkiraan waktu: empat menit sebelum seluruh cabang Gate menyatu.

Kira menatap tanganku di lengannya. “Kalau saya menjelaskan sekarang, apakah kamu akan membiarkan saya memakai Nova?”

Aku tidak dapat menjawab.

“Itu sebabnya kamu diam?”

“Itu sebabnya saya takut.”

Kalimat jujur itu datang terlambat, tetapi aku melihat pilihan yang sama-sama kejam. Menghentikannya berarti membiarkan ribuan orang kehilangan hidup dan kenangan. Membiarkannya berarti menyerahkan bagian Kira yang bahkan belum kuketahui harganya.

“Jangan bohong lagi setelah ini,” kataku.

“Setelah ini,” ulangnya, seolah sedang membuat janji kepada masa depan yang belum tentu ia miliki.

Kami berlari ke atap. Angin dari retakan langit membawa suara jutaan orang menangis, tertawa, dan memanggil nama yang takut mereka lupakan. Kira memasang Astra Driver. Ketujuh Core menyala di slot masing-masing.

“Henshin.”

NOVA SYNCHRONIZATION. CORE MEMORY CONVERSION ACTIVE.

“Apa tadi?” tanyaku.

Terlambat.

Tujuh cahaya menghantam tubuh Kira. Zirah hitam-perak terbentuk dengan garis warna yang menyatu menuju bintang putih di dada. Sayap energi seperti pecahan rasi terbuka di belakangnya. Udara di sekitar Nova Breaker menjadi begitu padat hingga langkahku terdorong mundur.

Vesper mengangkat tangan. Ketujuh Wraith menyerang bersamaan.

Nova Breaker menghilang dari atap. Cahaya merah-emas meledak di distrik festival, menghancurkan inti api. Kilatan hijau-cyan melintas di terowongan dan mengembalikan semua jalur. Kubah putih-keunguan menutup rumah sakit, memurnikan mimpi buruk para pasien. Pada saat yang sama, tangan perunggu raksasa menahan menara yang runtuh.

Kira tidak sekadar berganti form. Ketujuhnya hidup di satu tubuh.

Aku menggunakan Echo Sight pada buku biru untuk mengikuti jejaknya. Setiap serangan menghapus satu garis emas dari halaman terakhir. Tulisan tentang kencan kami memudar. Tanggal saat kami resmi bersama mulai hilang dari tinta, seolah memori Kira menarik bukti fisik ke dalam Driver.

“Kira, hentikan!”

Dia muncul di udara di depan Vesper. “Belum.”

Wraith cermin membentuk ribuan Nora tanpa wajah. Nova menembus semuanya. Wraith banjir menelan tubuhnya; cahaya biru membelah arus dari dalam. Wraith batu menjatuhkan blok kota; gravitasi emas membekukannya di langit.

Namun setiap kemenangan membuat gambar di buku semakin pucat. Kalimat tentang ciuman pertama lenyap kata demi kata.

Aku menyalurkan Echo ke Driver. “Anchor-mu masih di sini. Dengar aku.”

Vesper tersenyum. “Biarkan dia membayar. Bukankah cinta paling indah ketika hanya satu orang yang dipaksa mengingatnya?”

Kira terhuyung. Sayap energinya retak. Tujuh inti Wraith menyatu menjadi matahari hitam di atas kota. Kalau meledak, seluruh cabang Gate akan terbuka.

Lyra berbicara dengan suara yang untuk pertama kalinya terdengar ragu. FINAL NOVA OUTPUT REQUIRES HIGHEST-VALUE MEMORY RELEASE.

“Jangan,” bisikku.

Kira menoleh ke arahku. Helmnya tidak memperlihatkan mata, tetapi tangan kirinya menyentuh tempat foto instan tersimpan di balik kartu peta.

“Kalau saya lupa,” katanya melalui komunikasi, “jangan jadikan itu alasan kamu berhenti hidup hari ini.”

“Kamu bilang kita akan memilih bersama.”

“Saya memilih percaya kamu bisa membenci keputusan ini dan tetap selamat.”

“Itu bukan pilihan bersama!”

Matahari hitam pecah.

Kira merentangkan kedua tangan. Sayap Nova berubah menjadi tujuh cincin cahaya yang mengurung seluruh ledakan.

NOVA BREAKER. ASTRAL CONVERGENCE.

Serangan putih menembus pusat matahari hitam. Tidak ada suara selama beberapa detik. Semua warna di langit tersedot ke satu titik, lalu meledak menjadi hujan bintang yang turun di atas Asterra tanpa panas.

Ketujuh Wraith terurai. Cabang Astral Gate tertutup.

Vesper mundur ke dalam retakan sambil tertawa. “Sekarang tanyakan siapa dirimu baginya.”

Zirah Kira pecah menjadi cahaya. Tubuhnya jatuh.

Aku menangkapnya di atap dengan bantuan kabel Mika. Detak jantungnya ada. Napasnya lemah, tetapi teratur. Saat matanya terbuka, dia menyentuh sarung tanganku.

“Nora,” katanya.

Aku hampir menangis lega. “Iya. Aku di sini.”

“Kita berhasil?”

“Kamu berhasil.”

Dia melihat tangan kami yang saling menggenggam. “Kenapa kamu menangis?”

Abyss Tide membuat pertanyaan itu biasa. Aku menghapus air mata dan memaksa senyum. “Karena kamu jatuh dari langit. Tidak romantis.”

Di ruang medis, Kira meminta buku biru. Aku menyerahkannya setelah tanganku berhenti gemetar. Halaman tentang hari kami resmi bersama tinggal separuh; tinta yang hilang meninggalkan lekukan tanpa kata.

Dia membaca catatan tentang pasar, planetarium, foto baru, dan ciuman pertama. Wajahnya tetap tenang.

“Jadi kita pacaran,” katanya.

Dunia terasa berhenti untuk kedua kalinya hari itu.

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Dua minggu lalu.”

Aku mengingat atap museum malam itu: kopi yang mulai dingin, pulpen hitam di jariku, dan cara dahinya tetap menempel pada dahiku setelah ciuman. Semua detail datang utuh, justru ketika matanya menunjukkan tidak ada satu pun yang sampai kepadanya.

“Kamu bilang ingin setidaknya satu hal penting yang kita ingat bersama,” kataku.

Kira menunduk pada halaman kosong. “Saya membuat janji yang sekarang cuma kamu tanggung.”

“Bukan salahmu.”

“Tapi sakitnya tetap ada.”

Dia tidak dapat ikut sedih, tetapi kalimat itu membuatku tahu dia melihat lukaku sebagai sesuatu yang nyata, bukan masalah yang harus segera dibetulkan.

“Kita berciuman?”

“Iya.”

Dia membaca kalimat yang kutulis: Hari ini kami memilih satu sama lain tanpa meminta masa lalu kembali. Jarinya mengikuti bekas tinta seolah dapat merasakan sesuatu melalui kertas.

“Maaf,” katanya.

“Nggak perlu.”

“Nora.”

“Kamu menyelamatkan kota. Semua orang hidup. Nggak perlu minta maaf karena sistem mengambil—”

Suaraku pecah. Aku berdiri untuk mengambil air, padahal gelas sudah ada di meja.

Kira tidak memintaku duduk. Dia tidak berpura-pura mengingat. Ketika aku kembali, dia menutup buku dan menggeser kursi di samping ranjang.

“Saya nggak bisa mengembalikan hari itu,” katanya. “Dan saya nggak mau membuat kamu menceritakannya sampai terdengar seperti milik orang lain.”

“Terus?”

“Besok, kalau kota tidak pecah lagi, ajak saya ke tempat pertama hari itu dimulai.”

“Untuk mengulang?”

“Tidak.” Dia meraih tanganku. “Untuk membuat hari pertama baru. Kalau kamu masih mau memilih orang yang harus jatuh cinta berkali-kali.”

Manisnya kalimat itu tidak menyembuhkan apa pun. Kenangan kami tetap hanya hidup di kepalaku. Ciuman pertama tetap menjadi cerita yang dia baca tanpa rasa.

Namun tangannya menggenggamku tanpa melihat buku.

“Aku mau,” kataku.

Di luar jendela, warga merayakan hujan bintang sebagai kemenangan Nova Breaker. Tidak ada yang tahu setiap cahaya yang jatuh adalah potongan hari paling berharga milik Kira.

Seluruh kota akan mengingat pahlawannya malam itu.

Hanya aku yang masih mengingat hari ketika pahlawan itu memilih menjadi milikku.