Chapter Twenty Three
Pahlawan yang Tidak Pernah Ada
POV: Nora
Satu bulan setelah Astral Gate menutup, aku masih menyediakan dua cangkir kopi.
Aku selalu menyadarinya setelah gula masuk. Dua sendok untuk cangkir hitam, setengah sendok untuk cangkir biru milikku. Tidak ada orang kedua di apartemen. Aku tinggal sendiri. Menurut kontrak sewa, aku selalu tinggal sendiri.
Tetapi setiap pagi, tanganku membuat kopi untuk seseorang yang tidak pernah ada.
Asterra menyebut hari itu Fajar Pemulihan. Berita mengatakan Astral Gate runtuh karena gelombang harapan kolektif dan intervensi BFA. Tidak ada satu laporan pun tentang Rider Astra. Ketika kutanya siapa yang melawan Hollow selama bertahun-tahun, Darian menjawab tim lapangan. Mika bersikeras dia mungkin pernah membuat nama serangan untuk drone tempur.
Tak seorang pun merasa ada yang aneh.
Kecuali aku.
Aku bangun setiap malam dengan tangan terulur ke sisi ranjang yang kosong. Aku menangis saat mendengar suara statis. Aku tidak bisa melewati rak mi instan tanpa marah kepada cara memasak yang tidak dapat kuingat.
Echo Sight juga berubah. Saat menyentuh benda tertentu, aku tidak melihat fragmen. Aku hanya merasakan bentuk kehilangan—seperti jejak benda yang sudah diangkat dari debu.
Darian menyebutnya trauma resonansi.
“Trauma dari apa?” tanyaku.
Dia tidak bisa menjawab.
Planetarium dibuka kembali seminggu setelah Gate menutup. Ada satu loker teknisi tanpa nama. Sistem inventaris menganggapnya cadangan, tetapi di dalamnya tersimpan obeng, kunci motor tanpa motor, dan satu bungkus gula yang isinya tinggal dua sachet.
Aku membawa semuanya pulang tanpa tahu kenapa.
Apartemen di lantai sembilan gedung seberang museum seharusnya kosong. Kuncinya tergantung di gantungan milikku. Pengelola mengatakan unit itu tidak pernah disewa selama dua tahun terakhir. Saat pintu dibuka, tidak ada furnitur, pakaian, atau foto. Hanya bekas persegi pucat pada dinding, seolah sesuatu pernah lama tergantung di sana.
Di dapur, ada dua mangkuk.
Aku duduk di lantai sampai malam.
“Siapa yang hilang?” tanyaku kepada ruangan.
Tidak ada jawaban. Namun tubuhku terus menunggu suara kering yang akan mengkritik pertanyaan itu karena kurang data.
Kubawa buku biru ke apartemen. Judul pada sampul hampir hilang. Di dalamnya, seluruh halaman kosong. Tidak ada tulisan, tidak ada nama, tidak ada bekas tinta. Hanya pada satu halaman terdapat tekanan samar yang tidak dapat dibaca.
Aku mengusapnya dengan grafit konservasi. Huruf-huruf tidak muncul. Echo Sight menolak menampilkan fragmen. Sebagai gantinya, dadaku dipenuhi keyakinan mustahil bahwa ruang kosong itu harus dibiarkan jujur.
Aku menangis tanpa tahu siapa yang pernah mengatakan kalimat tersebut.
Mika datang membawa makanan. Dia menemukan aku tertidur di lantai dengan buku di dada.
“Nora, ini mulai nggak sehat.”
“Ada seseorang.”
“Siapa?”
“Aku nggak tahu.”
“Kalau kamu nggak tahu, gimana kamu yakin?”
Aku menunjukkan dua mangkuk, kunci motor, dan kopi kedua yang selalu kubuat. Bukti itu terdengar menyedihkan ketika diucapkan.
Mika tidak menertawakan. Dia duduk di sebelahku dan memandang ruangan kosong.
“Kalau ada orang yang dihapus oleh fenomena astral,” katanya pelan, “mungkin bukti yang tersisa bukan data. Mungkin kebiasaan.”
“Kamu percaya?”
“Aku percaya kamu.”
Itu cukup untuk membuatku bertahan hari itu.
Kami memeriksa seluruh arsip BFA. Ada celah waktu dalam log operasi. Kamera merekam Hollow jatuh tanpa penyerang. Laporan medis memiliki ruang kosong di antara dua kolom. Dalam daftar korban yang diselamatkan, jumlahnya benar, tetapi tidak ada kolom penyelamat.
Darian menemukan pola energi berbentuk bintang empat pada pusat Gate. Dia menatapnya lama.
Pemerintah mendirikan monumen Fajar Pemulihan di alun-alun. Bentuknya lingkaran kosong dengan nama seluruh petugas dan warga yang terlibat. Aku menghadiri peresmian bersama Mika. Setiap nama ada, tetapi pusat lingkaran dibiarkan kosong karena perancang mengaku komposisinya selalu terasa belum seimbang.
Seorang anak meletakkan gambar Rider berzirah putih di ruang kosong itu. Ibunya segera meminta maaf dan mengatakan pahlawan tersebut hanya imajinasi setelah trauma. Aku berlutut untuk melihat gambar lebih dekat. Sosoknya tidak memiliki wajah. Di pergelangannya ada garis merah.
“Dia menyelamatkan kita,” kata anak itu.
“Kamu ingat?” tanyaku.
Anak itu menggeleng. “Nggak. Tapi kalau nggak ada yang menyelamatkan, kenapa rasanya kita harus bilang terima kasih?”
Aku menaruh gambar itu kembali di pusat monumen. Petugas hendak memindahkannya, tetapi Darian melarang. Sejak hari itu, warga mulai meninggalkan benda kecil di sana—dua sachet gula, pita, baut, tiket planetarium. Tak seorang pun tahu kepada siapa persembahan itu ditujukan. Kota tidak mengingat pahlawannya, tetapi rasa terima kasih menemukan bentuk sendiri.
“Saya merasa pernah membuat seseorang membayar terlalu banyak,” katanya.
“Siapa?”
“Saya tidak tahu.”
Untuk pertama kalinya, aku tidak sendirian dalam kehilangan itu. Kami tidak mengingat orangnya. Kami mengingat bentuk kesalahan dan cinta yang ditinggalkan.
Pada hari kedua puluh tujuh, sarung tangan konservasiku tersangkut pada lapisan kain di sampul belakang buku. Ada celah jahitan yang tidak tercatat. Aku membukanya dan menemukan gelang kulit tipis.
Pelat logamnya hampir kosong. Hanya satu kata yang tersisa dalam tinta merah.
Nora.
Aku tidak mengenali tulisan itu. Tanganku mengenali tekanan garisnya.
Echo Sight menyala begitu kuat sampai lampu apartemen padam. Tidak ada wajah. Tidak ada kejadian. Hanya sensasi jemari yang menggenggam tanganku dan sebuah pilihan: jangan pergi.
Aku terjatuh sambil memegang gelang.
Di dalam jahitan yang sama ada pemutar suara kecil. Semua direktorinya kosong kecuali satu file rusak tanpa tanggal. Durasi dua detik.
Aku menekan putar.
Statis memenuhi ruangan. Lalu satu tarikan napas. Suara laki-laki yang nyaris habis mengucapkan satu kata.
Nora.
Aku memutarnya lagi.
Dan lagi.
Suara itu tidak mengembalikan ingatan. Tidak muncul nama, wajah, atau kisah cinta. Tubuhku hanya tahu suara tersebut pernah menjadi tempat yang kutuju ketika dunia runtuh.
Kesedihan akhirnya memiliki arah, meski tidak memiliki orang.
Aku memakai gelang itu. Pelat bertuliskan namaku menghadap nadi.
Seminggu kemudian, aku mengundurkan diri dari posisi konsultan tetap BFA. Aku tetap membantu Darian menutup sisa retakan, tetapi tidak mau menghabiskan hidup di ruang arsip mencari seseorang yang telah membayar agar hidup terus berjalan.
Aku menyewa ruangan kecil di samping planetarium. Dulunya toko suvenir. Jendelanya menghadap timur. Ada cukup tempat untuk enam meja, rak buku, dan satu mesin kopi bekas yang mendesis seperti Hollow kecil.
Mika mengecat dinding. Darian mengurus izin tanpa bertanya kenapa nama kedai membuatnya tampak sedih.
Aku menulis dua kata pada papan depan.
LAST HENSHIN
Aku tidak tahu artinya. Kata itu muncul saat terbangun menjelang fajar dan membuatku menangis selama satu jam. Karena tidak punya jawaban yang lebih baik, aku menjadikannya tempat.
Buku biru kutaruh di rak dekat jendela. Halamannya tetap kosong. Aku tidak mengisinya dengan kisah yang tidak kuingat.
Di meja paling dekat kaca, kusiapkan dua kursi.
Mika menatap kursi kosong ketika kami membuka kedai.
“Menunggu seseorang?”
“Nggak.”
Jawaban itu benar. Aku tidak tahu siapa yang harus ditunggu.
Aku hanya merasa beberapa kepulangan membutuhkan tempat untuk terjadi.
Pagi pertama, matahari terbit di balik planetarium. Cahaya masuk melalui kaca dan menyentuh gelang di pergelanganku.
Aku membuat satu kopi untuk diri sendiri.
Kursi kosong itu tidak menjanjikan siapa pun akan kembali. Ia hanya menyatakan bahwa hidupku masih memiliki ruang untuk kemungkinan.
Lalu, tanpa alasan yang dapat dijelaskan, aku menaruh dua sachet gula di depan kursi kosong.
- 1 Nama yang Hilang
- 2 Jangan Sentuh Sabukku
- 3 Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang
- 4 Matahari yang Memakan Bahagia
- 5 Suara Sebelum Tidur
- 6 Jalan Pulang
- 7 Rumah yang Tidak Kuingat
- 8 Kencan untuk Orang Pelupa
- 9 Air Mata yang Tidak Kumengerti
- 10 Kalau Aku Lupa Wajahmu
- 11 Kenalin Diri Kamu Sekali Lagi
- 12 Tujuh Core
- 13 Hari yang Hanya Diingat Satu Orang
- 14 Cium Aku Sebelum Hilang
- 15 Pemilik Pertama Astra
- 16 Adik yang Menyelamatkanku
- 17 Eclipse
- 18 Namamu Kira
- 19 Dunia Tanpa Rasa Sakit
- 20 Satu Janji Tersisa
- 21 Malam Terakhir yang Biasa
- 22 Last Henshin
- 23 Pahlawan yang Tidak Pernah Ada reading
- 24 Kita Bisa Mulai Sekarang