← Last Henshin

Chapter Eight

Kencan untuk Orang Pelupa

POV: Kira

Nora menamai dokumen itu Protokol Satu Hari Normal.

Dokumen tersebut terdiri atas dua halaman, enam jadwal, tiga rute cadangan, nomor darurat BFA, daftar makanan yang tidak memicu alergi, dan sebuah catatan dengan huruf kapital: DILARANG HENSHIN KECUALI KOTA BENAR-BENAR AKAN HANCUR.

“Ini bukan hari normal,” kataku ketika dia menyerahkannya di depan planetarium. “Ini operasi militer dengan es krim.”

“Kamu yang lupa jalan, rasa bahagia, rumah, dan cara tidur tanpa telepon dariku.” Nora merapikan tali kartu peta di leherku. “Aku berhak memakai tabel.”

“Kita mau ke mana?”

“Kalau kuberi tahu, kamu akan mengkritik efisiensi rutenya.”

“Berarti rutenya tidak efisien.”

“Kira.”

“Saya siap berkencan secara tidak efisien.”

Dia berhenti merapikan tali. “Siapa bilang ini kencan?”

“Judul file aslinya masih terlihat di riwayat revisi.”

Wajahnya memerah. Dia merebut lembar itu, tetapi saya sudah membaca: Rencana Kencan Kira—versi final 7.

“Versi ketujuh?” tanyaku.

“Aku hampir membatalkannya enam kali.”

“Karena takut?”

“Karena kamu menyebalkan.”

Itu bukan jawaban, tetapi saya membiarkannya menang.

Tujuan pertama adalah pasar pagi di tepi laut. Nora memberi saya uang tunai, lalu menantang saya membeli sarapan tanpa peta. Saya kembali dua puluh menit kemudian membawa dua roti isi, tiga tusuk buah, dan pot tanaman kecil berbentuk bintang.

“Kamu beli tanaman?”

“Penjual bilang ini tahan hidup meski pemiliknya sering lupa menyiram.”

“Kaktus.”

“Namanya terlalu menghakimi.”

Nora memegang pot itu seperti hadiah mahal. Echo Sight berkilau di matanya ketika jarinya menyentuh tepinya.

“Apa yang kamu lihat?” tanyaku.

“Kamu muter pasar dua kali karena lupa letak kios pertama. Terus kamu balik lagi karena tanaman ini mengingatkanmu sama bintang di buku.”

“Kedengarannya sangat romantis kalau bagian tersesatnya dihapus.”

“Nggak akan kuhapus.” Dia memasukkan pot ke tas dengan hati-hati. “Itu bagian terbaik.”

Kami sarapan di tanggul. Saya mencicipi roti dan tidak tahu apakah saya pernah menyukainya. Solar Flare meninggalkan pengetahuan tanpa rasa hangat, tetapi pagi itu ada sesuatu yang lain: bukan kenangan bahagia, melainkan keputusan untuk tetap duduk saat Nora mencuri bagian roti yang paling renyah.

Tujuan kedua adalah toko alat tulis. Nora memilih pulpen baru untuk buku biru. Saya menambahkan stiker panah pada setiap halaman penting dan sebuah pembatas berwarna merah bertuliskan BACA INI DULU KALAU PANIK.

“Kamu beli perlengkapan untuk menghadapi dirimu sendiri,” katanya.

“Saya lawan yang sulit diprediksi.”

Di kasir, perempuan tua mengira kami pasangan. Nora menjatuhkan tiga pulpen. Saya mengatakan terima kasih ketika perempuan itu mendoakan kami awet, lalu membantu memungut barang tanpa menoleh ke Nora.

Di luar toko dia berjalan terlalu cepat.

“Kamu nggak perlu mengoreksi?” tanyanya.

“Informasinya belum terbukti salah.”

Langkahnya berhenti. “Kira.”

“Ya?”

“Kalau kamu terus ngomong begitu, jadwal kita berantakan.”

“Karena?”

“Aku butuh waktu untuk pulih.”

Saya menyukai cara dia mengatakan itu sambil menghindari tatapan saya. Saya tidak tahu apakah rasa suka tersebut akan bertahan sampai besok, jadi saya merekamnya dalam pemutar suara.

Rekaman 08: Nora kehilangan kemampuan bicara kalau digoda balik. Informasi strategis.

Dia memukul lengan saya dengan gulungan struk.

Siang hari kami masuk ke planetarium sebagai pengunjung. Mika menjaga konsol agar saya tidak bekerja diam-diam. Kami duduk di kursi paling belakang ketika kubah berubah menjadi langit malam.

Saya hafal nama bintang dan lintasannya. Namun saya tidak lagi mengingat ayah yang pernah mengajari saya menggunakan proyektor tua di rumah hijau. Pengetahuan itu berdiri sendirian tanpa asal.

Nora tidak mencoba mengisi bagian kosong. Dia hanya menyodorkan satu sisi earphone. Musik pelan mengalir sementara rasi bergerak di atas kami.

“Kenapa planetarium?” tanyaku.

“Karena kamu kerja di sini.”

“Alasan yang buruk untuk datang saat saya libur.”

“Karena aku ingin melihat tempat yang kamu pilih sendiri. Bukan rumah yang diberikan keluargamu, bukan markas yang ditentukan BFA.”

Saya memandang bintang buatan di kubah. “Saya nggak ingat kapan memilihnya.”

“Tapi kamu masih datang setiap malam.”

Kalimat itu tinggal lebih lama daripada musik.

Setelah pertunjukan, kami menuju wahana foto instan di pusat kota. Nora memasukkan koin dan memberi instruksi pose yang terlalu rinci. Foto pertama menangkap saya sedang membaca daftar. Foto kedua menangkap Nora merebutnya. Pada foto ketiga, kami akhirnya menghadap kamera—tepat ketika saya menoleh kepadanya dan dia tertawa.

Dia ingin mengulang.

“Jangan,” kataku. “Yang itu jujur.”

Saya membeli satu salinan tambahan dan menyelipkannya ke belakang kartu peta. Nora memperhatikan, lalu bertanya kenapa tidak dimasukkan ke buku biru.

“Buku itu menyimpan hal yang kamu ingat untuk saya,” jawabku. “Yang ini mau saya bawa sendiri.”

Dia memandang kartu di leher saya dengan senyum yang berbeda—lebih tenang, tetapi membuat saya jauh lebih sulit bernapas daripada saat dia menggoda.

Tawanya berhenti perlahan. Jarak wajah kami tidak sampai satu telapak tangan. Saya dapat melihat noda tinta merah di ibu jarinya dan helai rambut yang tersangkut di bibirnya.

Nora menurunkan suara. “Kamu capek?”

“Tidak.”

“Takut?”

Saya sempat memberi jawaban aman. Lalu teringat tujuan hari ini bukan menjaga sesuatu agar tidak hilang. Tujuannya adalah hidup sebelum kehilangan datang.

“Iya,” kataku. “Saya takut besok melihat foto ini dan cuma tahu dua orang di dalamnya terlihat dekat.”

Dia tidak menyentuhku. Dia menunggu.

“Tapi saya lebih takut kalau semua hari saya habiskan menghindari hal berharga karena Astra System mungkin mengambilnya.” Saya menatap lembar foto di tangannya. “Saya ingin punya kenangan yang layak hilang, Nora. Bukan berhenti hidup supaya nggak kehilangan.”

Matanya mengilap, tetapi mulutnya tersenyum. “Itu kalimat paling masuk akal yang pernah kamu ucapkan.”

“Catat tanggalnya.”

“Sudah.”

Kami keluar ketika matahari hampir tenggelam. Agenda terakhir membawa kami ke atap museum. Nora sudah menaruh dua gelas kopi dan selimut tipis di sana. Kopi saya memiliki dua sendok gula. Miliknya pahit, meski dia diam-diam mencicipi milik saya dua kali.

“Kalau ini kencan,” kataku, “nilainya delapan.”

“Delapan?”

“Satu poin hilang karena tabel. Satu lagi karena pencurian roti.”

“Tanpa tabel kamu masih muter di pasar.”

“Pemandangannya bagus.”

“Itu kios ikan.”

“Ikan juga pemandangan.”

Dia tertawa dan bersandar pada pagar. Angin menggerakkan rambutnya. Saya mengulurkan tangan untuk melepaskan helai yang menempel di sudut bibirnya, gerakan yang sudah saya batalkan tiga kali sepanjang hari.

Nora menjadi diam.

Jari saya berhenti di pipinya. Dia mengangkat dagu sedikit. Tidak ada Wraith, keputusan kota, atau biaya transformasi di antara kami. Hanya jarak yang bisa saya tutup kalau berani.

Saya mendekat.

Alarm BFA meraung dari kedua ponsel sekaligus.

Nora memejamkan mata dengan ekspresi seseorang yang ingin menuntut seluruh alam semesta. “Aku benci pekerjaanmu.”

“Anda konsultan tidak resmi di pekerjaan yang sama.”

“Aku juga benci pekerjaanku.”

Notifikasi menyebut gelombang energi bergerak dari kanal utara. Saya berdiri, tetapi tidak langsung mengambil Driver. Sebagai gantinya, saya mengaktifkan pemutar suara.

Rekaman 09: Hari ini Nora membawa saya ke pasar, toko alat tulis, planetarium, dan tempat foto. Dia mencuri roti, kopi, dan hampir sesuatu yang lain. Kalau saya lupa hari ini, percaya aja—saya bahagia.

Nora menatapku. “Kamu bisa merasakan bahagia?”

“Tidak seperti dulu.” Saya menyimpan alat perekam. “Tapi saya tahu saya akan memilih hari ini lagi.”

Sirene kedua berbunyi. Kami berlari ke tangga bersama. Di saku Nora, lembar foto instan masih memperlihatkan saya menatapnya alih-alih kamera.

Kencan kami berakhir sebelum ciuman pertama.

Untuk pertama kalinya, saya sungguh ingin memastikan ada kencan berikutnya.