Chapter Three
Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang
POV: Nora
Kira datang ke ruang restorasi pukul tujuh pagi dengan dua gelas kopi, satu kantong roti, dan ekspresi orang yang berharap sogokan murah bisa menutup penyelidikan ilegal.
“Aku tidak minum kopi pakai dua sendok gula,” kataku.
Dia menghentikan satu gelas di tengah meja. “Yang itu punya saya.”
“Aku juga tidak suka roti kacang.”
“Yang itu juga punya saya.”
“Kamu datang tanpa membawa apa pun untukku?”
“Saya membawa kerja sama.”
Aku mengambil kopi yang tidak terlalu manis. “Sekarang kamu membawa setengah kerja sama.”
Dia duduk di seberang meja, menatap buku catatan tebal yang kusiapkan. Sampulnya biru tua, dengan judul yang kutulis menggunakan tinta perak: Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang.
“Dramatis,” katanya.
“Aku sempat mempertimbangkan ‘Panduan untuk Pahlawan Keras Kepala’.”
“Lebih akurat.”
Humor itu terasa berbeda pagi ini. Kemarin dia memakainya untuk menutupi ketakutan. Sekarang dia memberikannya kepadaku seperti tanda bahwa dia masih bersedia duduk dan diuji.
Aku sudah mendapat akses terbatas ke laporan BFA melalui Dr. Darian Vale, mentorku. Menurut berkas resmi, efek Astra System hanya berupa disorientasi singkat. Menurut benda-benda yang dibawa Kira, laporan itu bohong.
Aku mengenakan sarung tangan dan menunjuk barang-barang di atas meja: kunci motor, pemutar suara, kartu pegawai planetarium, jam tangan, serta foto yang sudutnya sudah terlipat.
“Aturannya sederhana,” kataku. “Aku menyentuh satu benda, membaca Echo, lalu mencatat apa yang hilang atau rusak. Kamu tidak menyembunyikan gejala.”
“Aturan tambahan: kalau kamu pingsan, pengujian berhenti.”
“Aku tidak pingsan kemarin.”
“Lututmu berbeda pendapat.”
Aku menyentuh kunci motor lebih dulu. Cahaya mengalir dari logam ke ujung jariku. Fragmen berkelebat: Kira mengeluh kepada mekanik, tertawa saat Mika mengecat garis biru di tangki, lalu berkendara tanpa tujuan di jalan pesisir. Beberapa bagian tertutup noda putih seperti halaman yang dihapus.
“Kamu masih ingat siapa yang mengecat motormu?”
“Mika.”
“Nama lengkap?”
Dia membuka mulut, lalu menutupnya. “Mika Ren. Butuh beberapa detik.”
Aku mencatat waktu respons.
Kartu pegawai menunjukkan malam-malam di Planetarium Asterra. Kira memperbaiki proyektor, tidur di kursi penonton, dan diam-diam membiarkan anak-anak panti masuk setelah jam tutup. Satu fragmen memperlihatkan atasannya memberikan kue ulang tahun kecil.
“Kapan ulang tahunmu?” tanyaku.
“Bulan depan.”
“Tanggal?”
Dia menatap kartu pegawai, mencari jawaban yang seharusnya ada di kepalanya sendiri.
“Tujuh belas,” katanya akhirnya. “Tertulis di data.”
Bukan ingatan. Fakta.
Pemutar suara memberikan hasil yang lebih buruk. Ratusan rekaman diberi tanggal, tetapi beberapa judul menyebut nama yang tidak dikenali Kira. Aku memutar satu file pendek.
Jangan lupa beli obat batuk untuk Bu Sera. Jangan bilang dia saya yang bayar.
“Siapa Bu Sera?” tanyaku.
“Tidak tahu.”
Aku mencari namanya di kontak. Nomornya masih tersimpan sebagai pemilik warung dekat planetarium. Kira mengingat lokasi warung, tetapi tidak mengingat perempuan yang tampaknya sering dia bantu. Kehilangan itu bukan hanya menghapus masa lalu. Ia bisa membuat janji sederhana terbengkalai tanpa seorang pun menyadari sebabnya.
Aku menuliskan nama Bu Sera di halaman kedua.
Aku menyentuh jam tangan. Rasa takut menghantam begitu kuat sampai jemariku mati rasa. Kira berlari melintasi kota sementara alarm serangan berbunyi. Berkali-kali dia memeriksa waktu, bukan karena terlambat, tetapi karena setiap menit berarti seseorang mungkin belum sempat diselamatkan.
Di balik ketakutan itu terdapat wajah-wajah yang kabur. Seorang perempuan tua. Anak laki-laki berseragam sekolah. Petugas medis. Orang-orang yang pernah dekat dengannya, kini hanya menyisakan bentuk.
“Lepaskan,” kata Kira.
Aku baru sadar napasku tercekat. Dia menarik jam itu menjauh, tetapi tidak menyentuh kulitku. Bahkan dalam panik, dia mengingat risiko resonansi.
“Kerusakannya jauh lebih luas daripada laporan BFA,” kataku.
“Saya tahu.”
“Darian tahu?”
Kira merapikan tali jamnya. “Dia tahu cukup banyak untuk tetap mengirim saya bertarung.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu satu-satunya yang saya punya.”
Aku ingin marah kepada BFA, kepada sistem, juga kepadanya karena menerima semua ini seolah dirinya persediaan yang boleh dihabiskan. Namun kemarahan tidak akan mengembalikan satu nama pun.
Aku membuka halaman pertama buku.
Nama: Kira.
Umur: 24 tahun.
Pekerjaan: teknisi malam Planetarium Asterra.
Kopi: dua sendok gula.
Motor: hitam, garis biru buatan Mika.
“Kita catat semuanya,” kataku. “Orang, tempat, kebiasaan, hal yang kamu suka dan benci. Setelah transformasi, kita cek apa yang berubah.”
“Kita juga perlu aturan setelah pertarungan,” kataku. “Kamu tidak boleh langsung pulang sendiri. Kita tes orientasi, orang terdekat, dan kejadian dua puluh empat jam terakhir.”
“Kita?”
“Aku dan kamu.”
“Andaikan saya menolak?”
“Aku lapor ke komite etik museum bahwa artefak terkait BFA membahayakan warga. Penyelidikan resmi akan mengambil Driver-mu.”
“Itu ancaman.”
“Itu motivasi eksternal.”
Dia menyandarkan kepala ke kursi. “Saya mulai paham kenapa rekaman saya menyebut kamu galak.”
“Buku tidak bisa mengembalikan perasaan.”
“Tidak. Tapi buku bisa menunjukkan pintu. Kamu yang memutuskan mau masuk atau tidak.”
Dia memandang halaman itu cukup lama. Kemudian mengambil pulpen merahku.
“Hei, itu khusus koreksi.”
“Tulisan saya mungkin perlu dikoreksi.”
Di bawah daftarku, dia menulis:
Eleanora. Dipanggil Nora. Galak kalau khawatir. Mengambil kopi orang tanpa izin. Jangan biarkan menyentuh Driver dengan tangan kosong.
Aku mencoret bagian kopi.
“Sensor sejarah,” protesnya.
“Koreksi data.”
Dia tersenyum. Bukan senyum pahlawan di layar kota, melainkan senyum kecil seseorang yang untuk beberapa menit boleh menganggap masalahnya bisa ditaruh di atas kertas.
Kami beristirahat sepuluh menit. Kira memakan roti kacangnya dan diam-diam mendorong sisa kopi ke arahku. Aku tidak mengambilnya. Lima detik kemudian dia mendorongnya lagi.
“Katanya itu milikmu.”
“Saya berubah pikiran.”
“Atau kamu lupa sudah menolaknya?”
Tangannya berhenti. Lelucon kecil itu mendadak memiliki tepi tajam. Aku menarik gelas tersebut dan meminumnya agar dia tidak perlu menjawab.
“Terlalu manis,” kataku.
“Itu fitnah.”
Ketegangan di bahunya sedikit turun. Aku mencatat dua sendok gula bukan hanya sebagai preferensi, tetapi sebagai cara termudah membuatnya berdebat ketika ruangan terasa terlalu sunyi.
Benda terakhir adalah foto terlipat. Di sana, Kira yang lebih muda berdiri bersama tiga orang di depan planetarium. Mika mudah dikenali dari rambut merah gelapnya. Darian berada di belakang. Seorang perempuan lain merangkul bahu Kira, tetapi bagian wajahnya rusak oleh bercak putih pada Echo.
“Siapa dia?” tanyaku.
Kira mengambil foto itu. “Saya tidak tahu.”
“Keluarga?”
“Bukan. Sepertinya staf lama.”
Aku membalik foto. Ada tulisan tangan yang hampir pudar: Untuk Kira—kalau suatu hari kamu lupa, aku pernah bangga menjadi temanmu.
Tanggalnya dua tahun lalu.
Di dalam kantong plastik pelindung foto terselip kertas kecil. Aku menariknya keluar. Itu daftar nama dengan tanda centang, ditulis dalam tulisan Kira. Sebagian nama muncul di rekaman lama pada pemutar suaranya, tetapi tidak satu pun ada di laporan BFA.
“Kamu pernah membuat daftar seperti ini,” kataku.
“Tidak ingat.”
“Dan kamu sudah beberapa kali melupakan orang dekat.”
Kira membaca nama-nama itu tanpa perubahan ekspresi. Barangkali dia tidak punya emosi yang bisa dikaitkan pada mereka lagi. Barangkali itulah bagian paling kejam: seseorang bisa meninggalkan hidupmu tanpa meninggalkan rasa kehilangan.
Dia menutup buku biru. “Cukup untuk hari ini.”
“Kira—”
“Saya harus bekerja malam.”
Dia berdiri terlalu cepat. Aku tidak menahannya. Mengendalikan orang yang ketakutan hanya akan membuatnya mencari pintu keluar lebih keras.
Namun sebelum pergi, Kira mengambil pemutar suara dan menekan tombol rekam.
“Catatan,” katanya. “Hari ini Nora menemukan bukti bahwa ini sudah berlangsung lebih lama dari yang saya akui. Kalau saya mencoba kabur dari pengujian berikutnya, ingatkan saya bahwa saya setuju untuk kembali.”
Dia menatapku, lalu menambahkan, “Dan bawakan dia kopi sendiri. Dia pencuri.”
Aku hampir membalas ketika layar perangkat menampilkan arsip lama. Ada puluhan folder dengan tanggal berbeda. Banyak yang kosong. Satu folder bertuliskan Jika Aku Lupa Mika. Folder lain: Jika Aku Lupa Rumah.
Yang paling bawah memiliki tanggal tiga tahun lalu.
Jika Aku Lupa Eleanora.
Jari Kira berhenti di atas tombol putar.
“Kita baru bertemu kemarin,” bisikku.
Kali ini, dia tidak mencoba bercanda.
“Kalau begitu,” katanya, “salah satu dari kita sudah melupakan pertemuan pertama.”
- 1 Nama yang Hilang
- 2 Jangan Sentuh Sabukku
- 3 Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang reading
- 4 Matahari yang Memakan Bahagia
- 5 Suara Sebelum Tidur
- 6 Jalan Pulang
- 7 Rumah yang Tidak Kuingat
- 8 Kencan untuk Orang Pelupa
- 9 Air Mata yang Tidak Kumengerti
- 10 Kalau Aku Lupa Wajahmu
- 11 Kenalin Diri Kamu Sekali Lagi
- 12 Tujuh Core
- 13 Hari yang Hanya Diingat Satu Orang
- 14 Cium Aku Sebelum Hilang
- 15 Pemilik Pertama Astra
- 16 Adik yang Menyelamatkanku
- 17 Eclipse
- 18 Namamu Kira
- 22 Last Henshin
- 23 Pahlawan yang Tidak Pernah Ada
- 24 Kita Bisa Mulai Sekarang