← Last Henshin

Chapter Eleven

Kenalin Diri Kamu Sekali Lagi

POV: Nora

Aku pernah membayangkan banyak cara Kira melupakanku.

Dalam semua bayangan itu, aku memperkenalkan diri dengan berani. Aku menyebut nama, kebiasaan, seluruh alasan kami penting. Lalu dia tersenyum seperti dulu dan sesuatu di dalam dirinya langsung mengenaliku.

Kenyataannya, pagi setelah Nebula Phantom, aku berdiri di depan apartemennya selama tujuh menit tanpa berani mengetuk.

Kira yang membuka pintu lebih dulu. Dia mengenakan kaus gelap dan kartu peta tergantung di leher. Foto instan kami terselip di belakangnya, tetapi matanya tidak berubah saat melihat wajahku.

“Kamu selalu berdiri di luar selama ini?” tanyanya.

“Cuma kalau sedang mempertimbangkan kabur.”

“Masuk dulu sebelum memutuskan.”

Apartemennya penuh penanda baru. Foto Mika bertuliskan Mika—teman, operator, lelucon buruk. Foto Darian diberi label atasan Nora, jangan percaya kalau menyentuh manset. Di meja ada foto diriku dengan tulisan paling panjang.

Eleanora “Nora”. Konservator. Partner lapangan. Suaranya membuatmu tidur. Tubuhmu mencarinya saat tersesat. Dia orang yang hampir kamu cium. Jangan jadikan catatan ini alasan untuk menuntut apa pun darinya.

Kalimat terakhir membuat tenggorokanku sakit.

“Kamu yang menulis?”

“Tadi malam.” Kira menuang kopi ke dua cangkir. Dia memberi dua sendok gula ke miliknya tanpa membaca catatan. “Saya nggak tahu hubungan kita sekarang. Saya menulis fakta, bukan keputusan.”

Aku duduk di ujung sofa. “Kita belum resmi apa-apa.”

“Tapi hampir mencium?”

“Alarm berbunyi.”

“Tidak sopan.”

Aku tertawa sebelum sempat menahannya. Kira menatapku, bukan seperti seseorang yang mengingat suara itu, melainkan seseorang yang baru menemukan bahwa dia menyukainya.

Aku membuka buku biru. “Aku bisa ceritakan dari awal.”

“Ada syarat.”

“Apa?”

“Jangan bilang apa yang seharusnya saya rasakan.”

Permintaan itu menusuk tepat pada ketakutanku. Namun dia berhak mendapat masa kini yang tidak dibebani tuntutan meniru masa lalu.

“Baik,” kataku. “Aku Nora. Kita bertemu karena aku mencuri sabukmu.”

“Saya mulai meragukan kata ‘partner’ di catatan.”

Aku menceritakan museum, buku biru, dan kopi yang kucuri. Aku tidak mengatakan dia menyukaiku. Aku tidak menyebut caranya memandangku di wahana foto sebagai bukti. Saat cerita selesai, Kira mengambil jaket.

“Mau ke mana?”

“Memeriksa sumber.”

Tempat pertama adalah pasar tepi laut. Aku menunjukkan kios kaktus, tetapi penjual yang berbeda berjaga. Kira membeli tanaman kedua karena menurutnya tanaman pertama membutuhkan “rekan yang mengerti pengabaian.” Dia tersesat di lorong ikan dan kembali membawa roti yang sama.

“Kamu ingat rasanya?” tanyaku.

“Tidak. Tapi saya kembali memilihnya.”

Di toko alat tulis, dia menemukan pulpen merah yang biasa kupakai. Alih-alih mengulang pembelian lama, dia memilih pulpen hitam dan memberikannya kepadaku.

“Kenapa hitam?”

“Supaya ada hal tentang saya yang tidak berasal dari versi sebelumnya.”

Aku menyelipkannya di samping pulpen merah. “Berarti ini kencan baru?”

“Saya belum melihat formulir resminya.”

“Aku bisa buat tabel.”

“Saya membatalkan pertanyaan.”

Kami masuk ke planetarium ketika pertunjukan siang dimulai. Kubah gelap membuat wajah tidak penting. Untuk beberapa menit, kehilangan Kira berhenti terlihat. Kami duduk di kursi belakang dan berbagi earphone seperti sebelumnya.

“Kamu memilih kerja di sini,” kataku. “Aku pernah bilang itu tempat yang kamu tentukan sendiri.”

“Kalimat yang bagus.”

“Memang. Aku pintar.”

“Yang itu tidak perlu diperkenalkan.”

Di bawah rasi buatan, tangannya bergeser di sandaran. Jari kelingking kami bersentuhan. Aku tidak tahu apakah dia mengulang kebiasaan tubuh atau membuat keputusan baru. Aku tidak bertanya. Jemarinya berputar dan menggenggam tanganku utuh.

Setelah pertunjukan, kami menuju wahana foto. Lembar foto lama memperlihatkan Kira menatapku sambil tertawa. Dia mengangkatnya di samping wajahku, membandingkan dua bentuk yang tidak dapat dihubungkan pikirannya.

“Saya nggak mengenali kamu di foto ini,” katanya.

“Aku tahu.”

“Tapi saya mengenali cara saya melihat kamu.”

Aku menahan napas.

Dia memasukkan koin. “Kita buat yang baru.”

Foto pertama menangkap kami duduk terlalu formal. Foto kedua menangkapku memprotes. Sebelum foto ketiga, Kira mengambil buku biru dari tanganku dan meletakkannya di luar bingkai.

“Kenapa?” tanyaku.

“Saya mau satu pilihan tanpa petunjuk.”

Lampu berkedip. Kira tidak melihat kamera. Dia melihatku.

Hasilnya hampir sama dengan foto lama. Bukan karena ingatannya kembali, melainkan karena pilihannya tiba di tempat yang sama.

Aku mulai menangis. Kira menyentuh air mata di pipiku dengan ujung jari, kemudian melihatnya seperti benda asing. Abyss Tide masih menghalanginya memahami kesedihan. Namun kali ini dia tidak langsung memelukku berdasarkan catatan.

“Kamu ingin saya melakukan apa?” tanyanya.

“Tetap di sini.”

“Baik.”

Dia tetap di sampingku sampai tangisku berhenti. Tidak mencoba memperbaiki, tidak memakai humor untuk melarikan diri. Hanya tinggal.

Menjelang senja kami kembali ke atap museum. Dua cangkir kopi sudah kubawa, tetapi tidak ada jadwal atau tabel. Angin laut menggerakkan halaman buku biru.

“Aku perlu bilang sesuatu,” kataku. “Aku bisa mengenalkan kita, tapi aku nggak mau kamu memilihku karena merasa berutang pada versi dirimu yang lupa.”

Kira memegang cangkirnya. “Kalau saya tidak memilih kamu?”

Pertanyaan itu menyakitkan, tetapi aku memaksa jawaban keluar. “Aku akan tetap bantu kamu. Dan aku akan belajar berhenti berharap kamu jadi orang yang sama.”

“Kamu bisa?”

“Nggak.” Aku tertawa pahit. “Tapi aku akan mencoba tanpa membuatnya jadi bebanmu.”

Dia membuka buku pada halaman rumah hijau. Lalu halaman kencan. Kemudian menutupnya.

“Buku ini menjelaskan kenapa saya seharusnya percaya kamu,” katanya. “Tapi bukan itu alasan saya ingin kamu tinggal.”

“Terus apa?”

“Hari ini kamu membawa saya ke semua tempat penting tanpa sekali pun meminta saya bereaksi seperti dulu. Kamu memberi ruang untuk memilih ulang, meskipun pilihan saya bisa menghancurkan kamu.” Dia meletakkan cangkir. “Saya nggak ingat jatuh cinta sama kamu. Tapi saya tertarik pada perempuan yang berdiri di sini sekarang. Yang cerewet, berani, dan cukup keras kepala untuk memberi orang pelupa kebebasan.”

Dadaku terasa terlalu sempit.

“Kira—”

“Kenalin diri kamu sekali lagi.”

Aku mengusap pipi. “Namaku Eleanora. Semua orang memanggilku Nora. Aku konservator, pencuri kopi, dan orang yang sangat menyukaimu.”

“Saya Kira. Teknisi planetarium, pengguna sabuk yang terlalu mahal, dan orang yang ingin mencoba menjadi pacarmu.”

Aku tertawa di tengah sisa air mata. “Itu cara menyatakan hubungan?”

“Saya tidak punya tabel.”

“Aku punya.”

“Tentu saja.”

Dia mendekat perlahan, memberi waktu untuk menolak. Tangannya berhenti di sisi wajahku. Aku menutup jarak yang tersisa.

Ciuman pertama kami tidak terasa seperti pemulihan sesuatu yang hilang. Bibirnya hangat, ragu selama satu detik, lalu lebih pasti ketika tanganku mencengkeram jaketnya. Tidak panjang. Tidak sempurna. Namun cukup untuk membuat dunia yang dipenuhi monster dan harga kenangan berhenti menuntut perhatian.

Saat kami berpisah, dahinya tetap menempel pada dahiku.

“Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?” bisiknya.

“Belum.”

“Bagus.”

“Kenapa?”

“Saya ingin setidaknya satu hal penting yang kita ingat bersama.”

Aku membuka buku biru dan mengambil pulpen hitam pemberiannya. Di halaman baru kutulis tanggal, tempat, dan satu kalimat.

Hari ini kami memilih satu sama lain tanpa meminta masa lalu kembali.

Kira membaca, lalu menambahkan di bawahnya:

Kalau aku lupa, kenalin diri kamu sekali lagi.

“Berapa kali?” tanyaku.

“Sebanyak yang kamu mau.”

Aku menggenggam tangannya di bawah bintang-bintang yang mulai terlihat. “Jangan menyesal.”

“Saya mungkin lupa caranya.”

Aku mencium pipinya sebagai hukuman. Kali ini, ketika dia tertawa, aku tidak merasa sedang mengganti kenangan lama.

Kami sedang membuat sesuatu yang benar-benar baru.