Chapter One
Nama yang Hilang
POV: Nora
Alarm museum masih meraung ketika aku menemukan seorang pria tergeletak di antara pecahan etalase Galeri Astronomi Kuno.
Lima menit sebelumnya, sosok berzirah hitam-perak bernama Rider Astra telah membelah dada Hollow setinggi tiga meter di aula utama. Cahaya biru dari pedangnya menyapu langit-langit, memadamkan makhluk itu seperti api yang disiram hujan. Pengunjung bertepuk tangan sebelum petugas BFA selesai mengevakuasi mereka. Mereka meneriakkan nama Astra seolah kemenangan selalu datang tanpa tagihan.
Sekarang pahlawan itu sudah menghilang. Sebagai gantinya, ada laki-laki berjaket gelap yang berdarah di lantai ruang penyimpanan.
“Kalau kamu mau mencuri koleksi museum,” kataku sambil berlutut di sisinya, “pilihan waktumu buruk.”
Matanya terbuka. Lelah, tapi anehnya hangat. “Saya lihat harga tiketnya. Mencuri memang lebih terjangkau.”
Dia masih sempat bercanda. Darah merembes dari balik kausnya, membentuk garis gelap di pinggang. Di samping tangannya tergeletak sebuah perangkat logam berbentuk sabuk. Permukaannya menyimpan pola tujuh bintang, sama dengan artefak yang baru saja aktif di ruang restorasi.
Astra Driver.
Aku menahan napas. “Kamu Rider Astra.”
“Kalau saya bilang bukan, apa saya dapat plester gratis?”
“Kamu dapat jahitan. Mungkin juga borgol.”
Aku meraih Driver sebelum dia sempat mencegah. Ujung jariku baru menyentuh logam dingin itu ketika dunia pecah menjadi cahaya.
Aku melihat seorang anak laki-laki berlari di lorong penuh asap. Sebuah tangan kecil mendorong punggungnya. Aku mendengar seseorang berteriak agar dia jangan menoleh. Lalu adegan itu terbakar dari tepinya—bukan seperti kertas, melainkan seperti film yang dimakan cahaya putih. Wajah, suara, nama, semuanya luruh menjadi abu berkilau.
Fragmen berikutnya datang bertumpuk. Secangkir kopi dengan dua sendok gula. Seorang pria cerewet tertawa di ruang kendali. Jalan menuju sebuah rumah bercat hijau. Lagu yang diputar berulang kali. Setiap kenangan diikat benang cahaya ke pusat Driver, kemudian ditarik masuk dan padam.
Di antara fragmen itu muncul satu hal yang berbeda. Bukan kenangan yang ditarik masuk, melainkan kenangan yang berusaha keluar. Sebuah observatorium tua berdiri di bawah langit merah. Dua anak kecil saling menggenggam tangan di depan lingkaran cahaya. Aku tidak melihat wajah mereka, tetapi salah satu tangan terasa seperti tanganku sendiri—jari telunjuknya memiliki bekas luka kecil yang masih kumiliki sampai sekarang.
Suara mekanis berbisik dari kejauhan. Resonansi dipindahkan. Subjek sekunder diterima.
Lalu seorang anak menjerit. Bukan karena terluka. Karena dia sedang melupakan sesuatu yang sangat dicintainya.
Aku melepaskannya dengan teriakan pendek.
Pria itu menangkap pergelangan tanganku sebelum kepalaku membentur lantai. Sentuhannya gemetar.
“Saya sudah mau bilang jangan disentuh.”
“Sabuk itu membakar ingatanmu.” Tenggorokanku terasa kering. “Setiap kali kamu berubah.”
“Kesimpulan yang cepat.”
“Aku konservator. Pekerjaanku mengenali kerusakan.” Aku menunjuk darah di bajunya. “Dan kamu adalah artefak paling rusak yang pernah masuk museum ini.”
Sudut bibirnya terangkat. “Biasanya orang minta foto dulu sebelum menghina.”
Suara sepatu terdengar dari koridor. Petugas BFA memeriksa ruangan satu per satu. Pria itu mencoba bangkit, tetapi lututnya menyerah. Aku menahan bahunya.
“Diam.”
“Saya perlu pergi.”
“Kamu perlu dokter.”
“BFA punya dokter.”
“BFA juga pasti tahu sabuk itu memakan ingatanmu.”
Keheningan sepersekian detik sudah cukup menjadi jawaban.
Aku membantu membawanya ke meja restorasi. Di bawah lampu kerja, luka di sisi tubuhnya terlihat seperti bekas terbakar dari dalam. Dia mengeluarkan semprotan medis dari saku dan menyerahkannya kepadaku seolah kami sudah melakukan ini berkali-kali.
“Nama,” kataku sambil membersihkan lukanya.
“Kira.”
“Cuma Kira?”
“Kalau dua nama, biaya jahitannya bertambah?”
Aku menekan kasa sedikit lebih keras. Dia mendesis.
“Eleanora,” kataku. “Panggil Nora. Aku bekerja di museum ini, dan kamu menghancurkan tiga etalase yang baru selesai kurestorasi.”
“Itu Hollow.”
“Hollow-nya sudah jadi debu. Jadi aku tagih orang yang masih punya alamat.”
“Artefak bintang di ruang restorasi aktif tepat setelah kamu berubah,” kataku. “Permukaannya memakai susunan rasi yang sama. Kalau itu bagian dari sistemmu, serangan tadi mungkin bukan kebetulan.”
“Serangan Hollow tidak pernah kebetulan. Mereka datang ke tempat orang takut kehilangan sesuatu.”
“Museum penuh benda mati.”
“Benda mati yang diberi makna oleh manusia.” Dia melirik pintu, lalu padaku. “Bagi Hollow, itu meja makan sepuasnya.”
Jawaban itu membuatku mengingat seorang ibu yang berusaha kembali demi kalung sumbangan mendiang suaminya. Tempat ini menyimpan ribuan alasan orang menolak melupakan. Dan Kira membawa mesin yang memakan alasan semacam itu dari kepalanya sendiri.
Langkah petugas semakin dekat. Kira meraih Driver, tetapi aku menutupinya dengan sarung tangan konservasiku.
“Berapa banyak?” tanyaku.
“Tiga etalase.”
“Berapa banyak ingatan yang hilang?”
Humornya lenyap. Untuk pertama kalinya, dia tampak seusianya—mungkin dua puluh empat, bukan patung pahlawan yang dipasang kota di layar-layar reklame.
“Yang kecil-kecil.”
“Aku melihat rumah. Suara anak kecil. Orang-orang yang wajahnya terbakar.”
“Echo Sight?” Dia memandang tanganku. “Jadi rumor tentang konservator museum itu benar.”
“Jangan alihkan pembicaraan.”
“Kalau kota selamat, beberapa nama yang hilang itu harga murah.”
Aku mengencangkan perban sampai dia menahan napas. “Harga murah kalau bukan kamu yang membayarnya.”
Pintu ruang penyimpanan terbuka. Seorang operator BFA berseragam abu-abu muncul, senjata terangkat. Kira memberikan kode identifikasi, lalu berkata aku telah menyelamatkannya dari reruntuhan. Bohongnya begitu tenang hingga aku hampir mempercayainya.
Petugas itu menerima laporan melalui earpiece dan berlari pergi. Kira turun dari meja.
“Terima kasih, Eleanora.”
“Nora.”
“Nora,” ulangnya. “Jangan ceritakan identitasku. Lebih aman kalau kamu menjauh.”
Dia mengambil Driver. Ketika logam itu meninggalkan sarung tanganku, ada sensasi seperti sesuatu mencabut akar dari tulangku.
Kira berjalan dua langkah, berhenti, lalu menoleh.
“Maaf,” katanya. “Kamu siapa?”
Aku menatapnya, menunggu senyum yang menandakan lelucon. Tidak ada. Matanya menyapu wajahku dengan kewaspadaan sopan yang biasa diberikan orang kepada orang asing.
Untuk menguji, aku mengangkat tiga jari. “Tadi aku bilang bekerja sebagai apa?”
“Saya tidak tahu.”
“Kamu mengejek pekerjaanku.”
“Kedengarannya seperti saya.”
Percakapan yang masih hangat di kepalaku sudah mati di kepalanya. Rasa marahku berubah bentuk. Bukan iba. Yang kurasakan lebih dekat pada penghinaan terhadap siapa pun yang membiarkan ini menjadi kebiasaan.
“Kita baru saja berkenalan.”
Dia melihat perban di pinggangnya, lalu darah di sarung tanganku. Ketakutan melintas singkat sebelum dia menutupinya.
“Sepertinya saya berutang terima kasih.”
“Namaku Nora.”
“Nora,” katanya perlahan, seperti menaruh benda rapuh di rak. Dia mengeluarkan pemutar suara kecil dan merekam, “Nora. Konservator museum. Galak kalau khawatir.”
“Aku tidak khawatir.”
“Bagus. Berarti bagian galaknya akurat.”
Sebelum dia menyalakan alat rekam, kutahan pergelangan tangannya. Bukan untuk membaca Echo lagi, hanya memastikan dia benar-benar melihatku.
“Kalau besok kamu lupa percakapan ini, kamu tetap harus kembali ke museum.”
“Untuk membayar etalase?”
“Untuk pemeriksaan.”
“Saya tidak pernah setuju diperiksa.”
“Kamu juga tidak pernah setuju kehilangan ingatan. Sepertinya hari ini penuh kejutan.”
Dia menatap tanganku di pergelangannya, lalu mengangguk satu kali. Anggukan kecil, nyaris bisa ditarik kembali. Namun itu cukup untuk mengubahnya dari orang asing yang hendak kabur menjadi seseorang yang setidaknya bersedia ditemukan lagi.
Astra Driver menyala di tangannya. Pola tujuh bintang berputar, lalu suara perempuan tanpa emosi memenuhi ruangan.
PRIMARY RESONANCE DETECTED.
Cahaya pada Driver tidak mengarah kepada Kira.
Cahaya itu mengarah kepadaku.
Dan untuk pertama kalinya, aku curiga pertemuan kami bukan dimulai malam ini.
- 1 Nama yang Hilang reading
- 2 Jangan Sentuh Sabukku
- 3 Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang
- 4 Matahari yang Memakan Bahagia
- 5 Suara Sebelum Tidur
- 6 Jalan Pulang
- 7 Rumah yang Tidak Kuingat
- 8 Kencan untuk Orang Pelupa
- 9 Air Mata yang Tidak Kumengerti
- 10 Kalau Aku Lupa Wajahmu
- 11 Kenalin Diri Kamu Sekali Lagi
- 12 Tujuh Core
- 13 Hari yang Hanya Diingat Satu Orang
- 14 Cium Aku Sebelum Hilang
- 15 Pemilik Pertama Astra
- 16 Adik yang Menyelamatkanku
- 17 Eclipse
- 18 Namamu Kira
- 22 Last Henshin
- 23 Pahlawan yang Tidak Pernah Ada
- 24 Kita Bisa Mulai Sekarang