← Last Henshin

Chapter Fifteen

Pemilik Pertama Astra

POV: Nora

Aku menemukan namaku dalam laporan kematian yang tidak pernah terjadi.

Arsip itu tersimpan di tingkat paling bawah BFA, di antara dokumen serangan Hollow pertama dua belas tahun lalu. Berkas bernomor ASTRAL-01 mencatat tiga puluh satu korban, termasuk seorang anak perempuan berusia sebelas tahun bernama Eleanora Vale.

Aku masih hidup. Lebih buruk lagi, nama keluarga dalam berkas itu bukan milikku.

Kira sedang bertugas di planetarium ketika aku menyelinap ke arsip. Setelah pertarungan di pelabuhan, dia pulang tanpa kehilangan baru yang dapat kami temukan. Kami sarapan bersama, berdebat tentang siapa yang menghabiskan kopi, dan tidak membahas ciuman di bawah bintang karena kami sama-sama takut memberi Astra System peta menuju kenangan itu.

Sementara Kira berusaha berhenti menyembunyikan pengorbanan, aku mulai menyembunyikan penyelidikan.

Aku mengenakan sarung tangan dan membuka kotak bukti ASTRAL-01. Di dalamnya terdapat pecahan observatorium, gelang identitas anak-anak, foto evakuasi, dan sebuah pelat logam berbentuk bintang yang membuat Echo Sight-ku menyala bahkan sebelum disentuh.

Begitu ujung jariku menyentuhnya, arsip menghilang.

Aku kembali menjadi anak sebelas tahun di bawah reruntuhan observatorium. Langit terbelah. Hollow pertama berdiri di dalam retakan seperti bayangan yang terlalu besar untuk dunia. Di sekelilingku, orang dewasa berlari tanpa melihat seorang anak laki-laki yang terjebak di bawah balok.

Kira.

Dia lebih kecil, wajahnya penuh debu, satu tangan memeluk adik perempuannya. Astra Driver tergeletak di antara kami, belum memiliki pemilik.

Suara Lyra memenuhi reruntuhan.

PRIMARY RESONANCE IDENTIFIED: ELEANORA.

Anak kecil yang menjadi diriku mengangkat Driver. Tujuh cahaya mengelilingi tubuhnya, menunggu perintah. Namun Hollow menyerang sebelum transformasi selesai. Balok runtuh memisahkan kami.

Kira mendorong adiknya ke celah aman dan mencoba menahan reruntuhan dengan tubuh. Aku melihat kemungkinan di dalam Echo: kalau sistem tetap bersamaku, Kira akan mati dalam dua puluh detik.

“Pindahkan,” kataku kepada Lyra.

TRANSFER REQUIRES CONSENT AND MEMORY ANCHOR.

Aku merangkak melewati pecahan kaca dan meraih tangan Kira. “Aku kasih bintang ini ke kamu. Jangan mati.”

Dia bahkan tidak mengenal namaku. “Kamu siapa?”

“Nanti aja kenalannya.”

Aku menempelkan Driver ke pinggangnya dan menyerahkan satu-satunya kenangan yang cukup kuat: rasa ingin menyelamatkan seseorang yang belum kukenal.

SECONDARY BEARER REGISTERED: KIRA.

Cahaya menelan kami. Kira berubah menjadi Astra pertama kali, tanpa tahu cara bertarung, dan mengangkat reruntuhan. Namun transfer terputus saat Origin Hollow menghantam observatorium. Sistem tercabut dari resonansi asliku, lalu mengikat diri pada Kira dengan jalur rusak.

Itulah sebabnya setiap transformasi membakar kenangannya.

Echo berakhir. Aku kembali ke arsip dengan darah mengalir dari hidung.

“Kamu seharusnya tidak membuka itu sendirian.”

Darian berdiri di pintu.

Aku menyeka darah. “Kenapa namaku tercatat mati?”

“Untuk menyembunyikan Primary Resonance dari pihak yang ingin mengaktifkan Astral Gate.”

“Kenapa nama belakangnya Vale?”

Dia tidak menjawab.

Aku menatap wajah mentorku. “Kamu yang membuat identitas baru untukku.”

“Orang tuamu tewas malam itu. Saya menemukanmu tidak sadar dengan tanda resonansi di tangan. Menyatakan Eleanora Vale meninggal adalah satu-satunya cara mengeluarkanmu dari daftar target.”

“Dan Kira?”

“Kami menemukannya tiga hari kemudian memakai Driver yang tidak bisa dilepas. Dia tidak mengingat proses transfer. Saya mengira dia pemilik yang dipilih sistem.”

“Sampai kapan?”

Darian memandang pelat bintang. “Sampai museum memanggilmu Primary Resonance.”

Amarah datang begitu dingin hingga suaraku menjadi sangat tenang. “Kamu tahu sejak Bab—sejak aku pertama menyentuh Driver. Kamu membiarkannya terus berubah.”

“Pada saat itu, melepas Driver dari Kira berisiko membunuh kalian berdua. Dan tanpa Astra, Asterra tidak punya pertahanan.”

“Jadi kamu memilih menunggu sampai dia habis.”

“Saya memilih kota.” Darian tidak meninggikan suara. “Keputusan itu menyelamatkan ribuan orang dan merusak satu orang yang memercayai saya. Keduanya benar.”

Aku ingin membencinya sebagai penjahat. Akan lebih mudah. Namun tangannya gemetar saat merapikan manset. Darian tahu harga keputusannya. Dia hanya menganggap harga itu dapat diterima.

“Kalau sistem dipindahkan kembali?” tanyaku.

Dia menjadi kaku. “Tidak.”

“Berarti bisa.”

“Secara teoritis, Primary Resonance dapat mengambil kembali kepemilikan. Tetapi jalur Kira sudah menyimpan residu semua konversi.”

“Apa yang terjadi kepadaku?”

“Kamu tidak hanya menerima Driver. Kamu dapat menerima seluruh tekanan kenangan yang telah dibakar—bukan ingatannya sebagai data, melainkan rasa kehilangan dari setiap pengosongan.”

Aku membayangkan kebahagiaan, mimpi, rumah, kesedihan, wajah, dan hari kami bersama jatuh ke dalam kepalaku sekaligus.

“Apa aku mati?”

“Mungkin. Atau identitasmu runtuh karena dipenuhi bekas hidup orang lain.”

“Kira bebas?”

Darian menutup mata sesaat. “Kalau transfer sempurna, Astra System tidak akan mengambil kenangannya lagi.”

Aku menempelkan telapak tangan pada pelat bintang sekali lagi. Lyra menjawab melalui terminal arsip.

PRIMARY RESONANCE CONFIRMED. OWNERSHIP RECLAMATION AVAILABLE.

Diagram menunjukkan tujuh jalur Core keluar dari Driver, melewati tubuh Kira, lalu masuk ke sistem sarafku. Pada simulasi pertama, garis milikku padam sebelum proses selesai. Pada simulasi kedua, Kira kehilangan detak jantung selama sebelas detik.

“Peluang keberhasilan?” tanyaku.

“Dengan prosedur sekarang, dua puluh tiga persen.”

“Bisa dinaikkan?”

“Kalau kita menemukan anchor dari malam transfer pertama dan Kira memberi persetujuan sadar.”

Syarat terakhir adalah bagian yang paling mungkin menggagalkan rencanaku.

Jawabannya tetap cukup untuk membuatku mencari jalan.

Aku mengambil tablet arsip dan menyalin protokol transfer. Salinan itu meminta sidik resonansiku, lalu menandai dokumen sebagai prosedur aktif, bukan lagi teori yang aman dibaca dari jauh. Darian meraih perangkat itu, tetapi aku mundur.

“Nora, dengarkan saya. Ini bukan solusi. Ini hanya memindahkan korban.”

“Selama ini itu definisi solusi BFA.”

“Dan kamu tahu definisi itu salah.”

Kalimatnya menghantam lebih tepat daripada larangan. Kira dan aku baru saja bertengkar karena dia memutuskan pengorbanan sendirian. Jika aku melakukan transfer tanpa bicara, aku menjadi cermin dari kesalahannya.

Ponselku bergetar.

Kira: Saya menemukan kedai yang menjual kopi dua gula tanpa menghakimi. Pulang lewat museum?

Aku membaca pesan itu dua kali. Jempolku mengetik pengakuan, lalu menghapusnya.

Nora: Iya. Tunggu aku.

Aku memasukkan salinan protokol ke tas.

“Kamu akan memberi tahu dia?” tanya Darian.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kuberi tahu sekarang, dia akan menolak sebelum aku tahu apakah prosedurnya bisa dibuat aman.”

“Itu alasan yang sama yang dia gunakan saat menyembunyikan harga Nova.”

Aku membenci Darian karena benar.

Di museum, Kira menungguku dengan dua cangkir kopi. Wajahnya menghadap pintu setiap kali langkah terdengar. Dia tidak dapat mengenali wajahku, tetapi berdiri saat melihat pulpen merah di sakuku.

“Hari buruk?” tanyanya.

“Kenapa?”

“Kamu sangat tenang.”

Aku hampir tertawa. Dia mengenal versi diriku yang berbahaya bahkan tanpa mengenali wajah.

Kira memberikan kopi, lalu menyentuh bekas darah yang belum bersih di bawah hidungku. “Apa yang terjadi?”

“Artefak lama. Echo-nya kuat.”

Itu bukan bohong sepenuhnya. Rupanya pengkhianatan paling mudah dimulai dari kalimat yang hanya menyembunyikan separuh.

Kami duduk di tangga museum. Dia menceritakan proyektor rusak dan seorang anak yang bertanya apakah bintang bisa lupa bersinar. Aku mendengarkan sambil memegang tas berisi cara menyelamatkannya.

Atau cara menghancurkan diriku.

Kira menyandarkan bahu pada bahuku. “Besok kita cari rekaman yang hilang.”

“Bersama?”

“Katanya begitu aturan kita.”

Aku menggenggam cangkir agar tanganku tidak meraih protokol.

“Bersama,” jawabku.

Di dalam tas, simbol Primary Resonance berkedip di layar tablet seperti mata yang tahu aku baru saja berbohong.