← Last Henshin

Chapter Nine

Air Mata yang Tidak Kumengerti

POV: Nora

Gelombang pertama menelan kanal utara tiga menit setelah alarm berbunyi.

Itu bukan air. Cairan hitam kebiruan memanjat dinding kanal melawan gravitasi, membawa bayangan kenangan buruk dari siapa pun yang disentuhnya. Seorang petugas BFA terjatuh sambil memanggil ibunya. Dua pengemudi meninggalkan mobil karena kaca depan menampilkan hari terburuk dalam hidup mereka.

Di pusat gelombang, Wraith menyerupai sosok tenggelam dengan mahkota karang hitam. Setiap luka di tubuhnya menutup kembali oleh arus. Air energi meluap menuju distrik rumah sakit.

Kira memasang Astra Driver saat kami turun dari kendaraan.

“Agenda bilang hari normal,” kataku.

“Kota mengabaikan dokumen resmi.”

“Kita belum selesai membahas pencurian ‘sesuatu yang lain’ di rekamanmu.”

Dia menoleh. Di tengah sirene dan gelombang hitam, matanya sempat menjadi hangat. “Kalau kita pulang, saya jelaskan.”

Kalimat itu seharusnya membuatku tersenyum. Justru terdengar seperti janji yang terlalu mudah dirampas.

“Henshin.”

STELLAR FORM. MEMORY CONVERSION ACTIVE.

Rider Astra melompat ke kanal dan menebas Wraith. Intinya pecah, lalu terbentuk lagi di titik berbeda. Setiap bagian tubuh yang hancur berubah menjadi arus baru. Semakin keras Kira menyerang, semakin cepat banjir naik.

“Jangan lukai tubuhnya!” teriakku melalui komunikasi. “Seluruh arus adalah tubuhnya.”

“Saran yang berguna setelah saya menebasnya empat kali.”

“Aku sedang sibuk menyelamatkan kencan kita.”

“Saya kira kencannya sudah selesai.”

“Belum sampai kamu jelasin rekaman tadi.”

Wraith menghantamnya dengan dinding energi. Tubuh Astra terlempar menembus pagar kanal dan menghilang di bawah arus hitam. Monitor vitalnya berkedip merah.

Aku menyentuh genangan di tanah. Echo Sight menghantamku dengan ratusan kesedihan sekaligus: kamar rumah sakit, pintu rumah yang tidak pernah terbuka lagi, pesan terakhir yang tak sempat dibalas. Wraith ini tidak memakan kesedihan. Ia membuat manusia tenggelam di dalamnya, lalu memakai dorongan mereka untuk bangkit sebagai energi regenerasi.

“Kira!”

Terra Titan muncul dari bawah kanal, berat zirahnya memecah permukaan. Dia mengangkat dinding tanah untuk membelokkan arus dari rumah sakit. Namun tekanan air menggerus pertahanannya. Retakan emas menyebar di seluruh armor.

Darian masuk ke saluran. “Pusat gelombang akan mencapai rumah sakit dalam lima menit. Evakuasi belum mencapai tiga puluh persen.”

“Pilihan?” tanyaku.

Lyra menjawab. ABYSS CORE AVAILABLE. FUNCTION: AQUATIC ADAPTATION AND REGENERATIVE EQUILIBRIUM. PROJECTED COST: ACCESS TO GRIEF RESPONSE.

Core biru gelap terbentuk di dalam genangan. Cahaya di dalamnya bergerak seperti laut tanpa dasar.

Aku memungutnya, lalu mundur ketika Echo Sight memperlihatkan harganya. Kira tidak akan melupakan peristiwa sedih. Dia akan tahu adiknya mati, keluarganya hilang, dan manusia terluka. Namun jalan menuju perasaan itu akan diputus. Ia dapat memahami kesedihan sebagai fakta tanpa mampu ikut tenggelam di dalamnya.

“Tidak,” kataku.

Terra Titan jatuh berlutut. Air sudah mencapai jalan rumah sakit.

“Nora,” suara Kira terdengar patah oleh gangguan. “Berapa lama?”

“Empat menit.”

“Berikan Core.”

“Kamu nggak tahu apa yang akan tersisa setelah ini.”

“Saya tahu apa yang nggak tersisa kalau rumah sakit itu tenggelam.”

“Berhenti membuat semua pilihan terdengar sederhana!”

Dia diam sesaat. Ketika berbicara lagi, suaranya lebih lembut. “Baik. Ini nggak sederhana. Saya takut memakai Core itu. Saya takut melihat kamu terluka dan nggak merasakan apa pun. Tapi ada bayi di lantai tiga yang alat napasnya mati kalau air mencapai gardu. Saya tetap memilih mereka.”

Untuk pertama kalinya dia menyebut ketakutannya sebelum berkorban. Itu perkembangan yang kuinginkan. Aku hanya tidak siap perkembangan itu tetap berakhir dengan kehilangan.

Aku berlari ke kanal dan melemparkan Abyss Core. Kira menangkapnya.

“Pulang,” kataku.

“Untuk penjelasan rekaman.”

“Untuk aku.”

Helmnya menghadapku. “Untuk kamu.”

Core masuk ke slot keenam.

ABYSS TIDE. MEMORY CONVERSION ACTIVE.

Zirah berat Terra pecah menjadi lapisan hitam-biru yang ramping. Sirip perak tumbuh pada lengan dan betis. Cahaya biru laut memenuhi bintang di dadanya, lalu menyebar seperti pembuluh bercahaya.

Wraith menelan Kira utuh.

Monitor vitalnya berhenti.

Selama dua detik, dunia kehilangan suara. Lalu satu garis biru menyala di dasar kanal. Abyss Tide muncul dari dalam tubuh Wraith, setiap luka di armornya menutup secepat terbentuk. Alih-alih melawan arus, Kira bergerak bersamanya, memutar banjir menjadi pusaran besar menjauh dari rumah sakit.

Aku membaca Echo pada gelombang dan memandu jalurnya menuju gerbang laut. Setiap bayangan kesedihan yang dilewati Kira padam. Bukan dihapus, melainkan dilepaskan dari cengkeraman Wraith.

“Intinya tidak berada di satu tempat,” kataku. “Ia berpindah ke luka paling kuat.”

“Kalau begitu kita beri dia terlalu banyak tempat untuk bersembunyi.”

Abyss Tide merentangkan kedua tangan. Seluruh kanal menjadi tenang sepersekian detik. Kira membiarkan tubuhnya menyerap setiap serangan, memaksa regenerasi Wraith mengikuti pola penyembuhan armornya. Semua inti kecil tertarik ke satu titik di dadanya.

ABYSS CIRCUIT. SORROW RELEASE.

Dia menghantam titik itu. Cahaya biru menembus permukaan kanal hingga ke langit. Wraith pecah menjadi hujan bening. Air energi surut, meninggalkan jalan rusak dan manusia-manusia yang masih menangis, tetapi dapat berdiri lagi.

Kira terdampar di tepi kanal tanpa armor.

Aku berlari dan berlutut di sisinya. Kulit di lengan dan lehernya dipenuhi luka yang belum selesai menutup. Satu serpihan karang hitam menembus sisi tubuhnya.

“Jangan cabut,” katanya ketika tanganku mendekat. “Mungkin menahan pendarahan.”

“Diam.”

“Saya cuma memberikan observasi medis.”

“Diam, Kira.”

Darah mengalir melewati jariku. Tim medis masih menyeberangi puing. Aku menekan luka sambil memanggil mereka, tetapi suaraku pecah. Air mata jatuh ke jaket Kira.

Dia memperhatikanku dengan tenang.

Terlalu tenang.

“Nora,” katanya, “kenapa kamu menangis?”

Aku menatapnya. “Kamu hampir mati.”

“Tapi saya tidak mati.”

“Itu bukan alasan untuk—” Napasku tersangkut. “Kamu kesakitan. Aku pikir aku kehilangan kamu.”

Matanya bergerak memeriksa wajahku seolah aku adalah persoalan yang belum dia pelajari. Tidak ada kekejaman di sana. Tidak ada ketidaksabaran. Hanya ketidakmampuan memahami mengapa rasa sakit yang sudah lewat masih hidup di tubuhku.

“Saya tahu situasinya buruk,” katanya perlahan. “Saya tahu kamu takut. Tapi saya nggak bisa menemukan perasaan yang seharusnya muncul.”

Itulah harga Abyss Tide. Kesedihan tidak hilang dari dunia. Ia hanya kehilangan jalan menuju Kira.

Aku menarik tanganku setelah petugas medis mengambil alih. “Nggak apa-apa.”

Kalimat itu bohong, dan Kira mengetahuinya meski tidak dapat merasakan alasan di baliknya.

Dia bangkit setengah duduk dengan susah payah. Lalu, tanpa memahami air mataku, dia menarikku ke dalam pelukannya.

Gerakannya kaku karena luka. Tangannya tetap menahan belakang kepalaku seperti di rumah hijau.

“Kamu nggak mengerti,” bisikku.

“Tidak.”

“Terus kenapa memelukku?”

“Karena saya ingat ini membantu waktu saya nggak tahu harus berduka atas apa.”

Tangisku semakin keras. Dia tidak ikut sedih. Dia tidak dapat. Namun dia memilih melakukan hal yang kubutuhkan berdasarkan sesuatu yang pernah kuberikan kepadanya.

Tepuk tangan pelan terdengar dari atas jembatan.

Seorang pria muda berpakaian hitam berdiri di antara lampu darurat. Tidak ada petugas yang menoleh kepadanya. Air hujan melewati tubuhnya seolah ia hanya bayangan yang memutuskan memiliki bentuk.

“Menyentuh,” katanya. Suaranya terdengar dekat meski jaraknya puluhan meter. “Dia bahkan tidak perlu memahami rasa sakitmu untuk berpura-pura peduli.”

Kira melepaskan pelukan dan meraih Driver.

Pria itu tersenyum. “Tenang. Aku datang menawarkan akhir dari semua ini.”

Echo Sight-ku terbuka tanpa kusentuh. Di dalam tubuhnya tidak ada kenangan manusia—hanya jutaan suara yang memohon agar rasa sakit mereka dilupakan.

“Siapa kamu?” tanyaku.

“Kalian boleh memanggilku Vesper.” Dia memandang Kira seperti seorang dokter mengamati bukti keberhasilan obatnya. “Astra System sudah menunjukkan jawabannya. Kebahagiaan hilang, dia tetap berfungsi. Rumah hilang, dia tetap berdiri. Kesedihan hilang, dia bahkan tidak perlu menderita.”

Langit di belakangnya retak membentuk garis hitam.

“Bayangkan dunia tanpa kenangan yang dapat melukai,” lanjutnya. “Tidak ada duka. Tidak ada takut kehilangan. Tidak ada cinta yang harus dibayar dengan air mata.”

Kira berdiri di depanku meski darah masih menembus perban darurat.

“Kedengarannya sepi,” katanya.

Vesper tersenyum lebih lebar. “Kamu akan segera lupa kenapa kesepian itu buruk.”

Retakan menutup dan tubuhnya lenyap. Yang tertinggal hanya air jernih, sirene, serta tangan Kira yang masih mencari tanganku di tengah kerumunan.

Dia tidak memahami kenapa aku menangis.

Tetapi ketika jemarinya menemukanku, dia menggenggam lebih erat.