Chapter Ten
Kalau Aku Lupa Wajahmu
POV: Kira
Tiga hari setelah Vesper menawarkan dunia tanpa rasa sakit, dua ratus orang menghilang dari Stasiun Sentral Asterra.
Kereta masih tiba tepat waktu. Kamera keamanan menampilkan penumpang turun, berjalan menuju aula utama, lalu lenyap ketika melewati bayangan pilar. Tidak ada jeritan. Tidak ada tubuh. Hanya koper, kartu perjalanan, dan telepon yang jatuh serempak ke lantai.
Saya menonton rekamannya di ruang kendali BFA. Nora berdiri di sebelah kanan saya—saya tahu karena sarung tangan konservasi, pulpen merah, dan aroma kopi pahit yang sudah dikenali tubuh lebih cepat daripada pikiranku.
Sejak Abyss Tide mengambil kesedihan, saya mencatat reaksi orang lain agar tidak menyakiti mereka tanpa sadar. Nora menggigit bagian dalam pipi ketika cemas. Mika membuat lelucon buruk sebelum operasi berbahaya. Darian merapikan manset ketika menyembunyikan sesuatu.
“Kita masuk dari pintu timur,” kata Darian. Tangannya menyentuh manset. “Anomali ruang belum stabil.”
“Artinya?” tanya Nora.
“Artinya saya belum tahu apakah orang yang masuk dapat menemukan jalan keluar.”
Mika mengangkat dua suar darurat. “Kabar baiknya, kalau kita hilang bersama, rapat evaluasinya dibatalkan.”
Tidak ada yang tertawa.
Di stasiun, aula utama tampak kosong. Jam besar di dinding menunjukkan pukul sembilan lewat tujuh, tetapi jarum detiknya bergerak mundur setiap kami berkedip. Bayangan pilar memanjang membentuk pintu gelap.
Nora menyentuh koper yang ditinggalkan seorang penumpang. Echo Sight menyala keemasan.
“Mereka masih hidup,” katanya. “Terjebak di ruangan yang terus melipat. Mereka melihat pintu keluar, tapi setiap kali mendekat, wajah orang di sekitar mereka berubah.”
Bayangan di lantai membuka mata.
Shade muncul dalam bentuk manusia tanpa wajah. Mereka mengenakan potongan ciri para korban—senyum seorang ibu, mata seorang petugas, kerutan lelaki tua—tetapi setiap bagian tertukar. Mika menembakkan suar. Saya memasang Astra Driver.
“Henshin.”
STELLAR FORM. MEMORY CONVERSION ACTIVE.
Saya menebas tiga Shade. Tubuh mereka pecah menjadi cermin, lalu setiap pantulan menjadi lorong baru. Stasiun terlipat ke segala arah. Tangga naik berakhir di lantai yang sama. Pintu peron membuka ke aula dengan posisi terbalik di langit-langit.
Nora mengikat tali tipis ke sabuk saya. “Kalau ruangnya berubah, kita tetap terhubung.”
“Kalau talinya putus?”
Dia menggenggam ujungnya. “Aku teriak lebih keras.”
Kami melangkah melalui bayangan pilar. Dunia berputar.
Dua ratus korban tersebar di pecahan stasiun yang mengambang dalam kehampaan ungu. Setiap kelompok dipisahkan dinding transparan. Di tengah semuanya berdiri Wraith bertubuh jubah panjang, wajahnya berupa cermin kosong. Ia mengangkat tangan dan seluruh ruang bergeser, menjauhkan para korban dari kami.
Stellar Blade tidak dapat mencapai sesuatu yang selalu memilih jarak berbeda.
“Itu bukan teleportasi,” kata Nora. “Dia menghapus ruang di antara dua titik, lalu membuatnya muncul di tempat lain.”
Wraith menyentuh cerminnya. Puluhan wajah Nora muncul di setiap dinding. Sebagian menangis, sebagian tersenyum, sebagian menatapku seperti orang asing.
Vesper berbicara melalui semua pantulan. “Wajah adalah pintu paling rapuh menuju kehilangan. Berapa lama sebelum kau menatap orang yang mencintaimu dan tidak menemukan apa pun?”
Nora menarik tali. “Jangan dengarkan dia.”
Salah satu pecahan ruang retak. Empat puluh korban mulai jatuh ke kehampaan.
Lyra membuka slot baru. NEBULA CORE AVAILABLE. FUNCTION: SPATIAL TRANSIT AND DIMENSIONAL PHASING. PROJECTED COST: FACIAL RECOGNITION OF EMOTIONALLY SIGNIFICANT PERSONS.
Core ungu-perak muncul di antara kami seperti bintang yang dilipat.
Saya membaca peringatan itu dua kali. Saya memahami setiap kata. Tidak ada kesedihan yang datang. Abyss Tide telah memutus jalan ke perasaan tersebut, tetapi tubuh saya menolak bergerak ketika membayangkan wajah Nora menjadi asing.
“Kita cari cara lain,” katanya cepat.
“Empat puluh orang jatuh.”
“Aku tahu.”
“Berapa lama sampai—”
“Dua puluh detik.” Suaranya bergetar. “Aku tahu hitungannya.”
Saya melepas Stellar Blade. “Nora, kalau nanti saya nggak mengenali kamu—”
“Jangan selesaikan kalimat itu.”
“Saya perlu tahu apa yang harus dilakukan.”
Dia menatap saya melalui helm, lalu mengambil pemutar suara dari saku jaketku. Dia merekam dengan napas tidak rata.
Rekaman Nora: Aku Nora. Pulpen merah, kopi pahit, cerewet kalau takut. Kalau wajahku terasa asing, lihat tanganku. Aku akan tetap menggenggam kamu.
Dia mengembalikan alat itu. Korban tinggal sepuluh detik dari retakan.
Saya mengambil Core. “Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih seperti perpisahan.”
“Baik. Nanti saya traktir kopi.”
“Dua.”
“Pemerasan.”
Nebula Core masuk ke slot Driver.
NEBULA PHANTOM. MEMORY CONVERSION ACTIVE.
Zirah Stellar berubah menjadi hitam-perak dengan garis ungu bercahaya. Pelindung tipis menyerupai serpihan galaksi terbentuk di bahu dan pinggang. Dunia tidak lagi memiliki jarak. Setiap titik hanyalah keputusan.
Saya melangkah dan muncul di bawah para korban yang jatuh. Langkah kedua memindahkan mereka ke peron aman. Langkah ketiga menembus dinding transparan. Saya berpindah dari satu pecahan ruang ke pecahan lain, membawa kelompok demi kelompok menuju Nora, sementara dia menandai setiap orang dengan garis Echo emas agar tidak ada yang tertinggal.
Wraith menciptakan seribu cermin. Dalam setiap pantulan, wajah-wajah orang penting berubah menjadi kosong.
“Kau menyelamatkan mereka dengan membakar kemampuan mengenali siapa yang menunggumu,” kata Vesper.
“Saya masih bisa membaca kartu nama.”
Saya menembus dua puluh pantulan sekaligus. Nebula Phantom meninggalkan bayangan ungu di semua titik, lalu bayangan itu menyerang sebagai satu tubuh. Cermin wajah Wraith retak, tetapi intinya berpindah ke ruang yang belum pernah dilewati siapa pun.
“Kira,” suara Nora masuk melalui komunikasi. “Tali kita.”
Tali tipis di sabuk saya membentang menembus kehampaan. Wraith dapat memindahkan ruang, tetapi tidak dapat menghapus hubungan antara dua orang tanpa memutusnya.
Saya menarik tali. Nora menancapkan ujungnya pada lantai dan Echo Sight menyalakan jejak seluruh perpindahan kami. Semua ruang yang dilipat memiliki satu titik persilangan: bayangan pertama di bawah pilar.
Saya melangkah ke sana sebelum Wraith sempat memindahkan inti.
NEBULA CIRCUIT. DISTANCE: ZERO.
Pukulan saya menembus cermin kosong. Seluruh dimensi pecah menjadi serpihan ungu. Saya menangkap Nora saat lantai menghilang, lalu kami jatuh kembali ke aula stasiun bersama para korban.
Zirah terurai sebelum saya menyentuh tanah.
Seorang pria berjaket BFA berlari menghampiri dan memegang bahu saya. “Kira! Kamu utuh?”
Saya mengenali suara Mika. Wajahnya tidak berarti apa pun. Mata, hidung, dan mulut ada di tempat yang benar, tetapi tidak membentuk seseorang yang kukenal.
“Mika?” tanyaku.
Senyumnya hilang.
Darian mendekat. Saya mengenalinya dari jas dan cara merapikan manset. Ketika helm medis dilepas dari kepala para petugas, seluruh aula dipenuhi wajah asing.
Lalu seorang perempuan dengan pulpen merah berdiri beberapa langkah di depan saya.
Tubuh saya bereaksi sebelum nama muncul. Napas berhenti. Tangan ingin terulur. Namun wajah perempuan itu sama asingnya dengan semua orang lain.
“Nora,” kataku berdasarkan sarung tangan dan suara di rekaman.
Dia mencoba tersenyum. “Iya.”
“Maaf.”
Satu kata itu menghancurkan senyumnya. Dia mengangguk terlalu cepat, menyerahkan tali kepada petugas, lalu berbalik.
“Aku kasih kamu waktu,” katanya. “Kamu nggak perlu langsung—aku nggak mau berdiri di sini seolah minta diingat.”
Dia berjalan menuju pintu keluar. Saya tidak merasakan sedih. Saya bahkan tidak mengetahui ekspresi apa yang ada di wajahnya. Tetapi tubuh saya dipenuhi kepanikan yang tidak membutuhkan pengenalan.
Saya meraih tangannya.
Nora berhenti.
Jemarinya memakai sarung tangan tipis. Pulpen merah menonjol dari saku. Ada bekas tinta di ibu jari—detail yang pernah membuat saya hampir menciumnya di tempat foto.
“Aku nggak ingat kamu siapa,” kataku. “Tapi tubuhku kayaknya takut kamu pergi.”
Bahu Nora bergetar. Dia tidak berbalik, tetapi jemarinya menutup di tanganku.
Di antara dua ratus orang yang baru menemukan jalan pulang, saya berdiri tanpa mengenali satu pun wajah.
Namun saya tahu tangan mana yang tidak boleh dilepaskan.
- 1 Nama yang Hilang
- 2 Jangan Sentuh Sabukku
- 3 Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang
- 4 Matahari yang Memakan Bahagia
- 5 Suara Sebelum Tidur
- 6 Jalan Pulang
- 7 Rumah yang Tidak Kuingat
- 8 Kencan untuk Orang Pelupa
- 9 Air Mata yang Tidak Kumengerti
- 10 Kalau Aku Lupa Wajahmu reading
- 11 Kenalin Diri Kamu Sekali Lagi
- 12 Tujuh Core
- 13 Hari yang Hanya Diingat Satu Orang
- 14 Cium Aku Sebelum Hilang
- 15 Pemilik Pertama Astra
- 16 Adik yang Menyelamatkanku
- 17 Eclipse
- 18 Namamu Kira
- 22 Last Henshin
- 23 Pahlawan yang Tidak Pernah Ada
- 24 Kita Bisa Mulai Sekarang