← Last Henshin

Chapter Fourteen

Cium Aku Sebelum Hilang

POV: Kira

Rekaman 10 berdurasi enam detik dan tidak berisi suara apa pun.

Saya menemukannya dua hari setelah Nova Breaker, di antara file yang nomornya melompat dari delapan ke sebelas. Rekaman sembilan masih ada: suara saya mengatakan Nora mencuri roti, kopi, dan hampir sesuatu yang lain. Setelah itu, beberapa file hanya menampilkan pesan rusak. Nama Nora muncul di layar, tetapi suaranya telah berubah menjadi desis.

Saya memeriksa cadangan BFA. Kosong. Salinan di ponsel juga hilang. Vesper tidak hanya memakan kenangan di kepala. Ia mengikuti jejak emosional dan menghapus bukti yang dapat menuntun saya kembali.

Nora datang ke apartemen membawa sarapan serta buku biru. Saya menyembunyikan perangkat di bawah bantal.

“Kamu kelihatan seperti habis melakukan kejahatan,” katanya.

“Saya tinggal sendirian. Secara statistik, saya juga saksi utama.”

Dia menaruh makanan dan duduk. Saya mengenali Nora dari cara berjalan, pulpen merah, serta kebiasaan menyentuh ambang pintu sebelum masuk. Wajahnya masih asing. Hari kami resmi bersama sekarang juga asing.

Nora membuka buku pada halaman baru. “Kita mau ke pasar atau planetarium?”

“Tidak dua-duanya.”

Senyumnya turun sedikit.

“Bukan karena saya tidak mau,” tambahku. “Saya ingin menunjukkan sesuatu malam nanti.”

Sepanjang hari saya memperbaiki proyektor utama planetarium. Setelah tutup, kubah menjadi milik kami. Saya mematikan lampu lorong, menaruh dua cangkir kopi di kursi belakang, lalu menghapus semua label yang biasanya menjelaskan apa yang harus saya lakukan bersama Nora.

Dia datang pukul sembilan dengan jaket gelap. “Kencan rahasia?”

“Eksperimen.”

“Itu kata paling tidak romantis untuk mengundang pacar ke tempat gelap.”

“Saya juga menyiapkan kopi.”

“Sedikit membaik.”

Kami duduk saat kubah menampilkan bintang pagi, rasi yang tetap ada setelah matahari terbit meski tak terlihat. Saya memutar Rekaman 10. Enam detik keheningan memenuhi ruang.

“File lain juga hilang,” kataku. “Yang terhubung dengan kita.”

Nora memegang buku lebih erat. “Vesper?”

“Kemungkinan.”

“Kita buat salinan analog. Aku tulis ulang—”

“Itu masalahnya.”

Dia berhenti.

Saya mengambil buku biru dari pangkuannya. “Setiap kali lupa, saya membaca apa yang dilakukan Kira sebelumnya. Dia memilih kamu. Dia mencium kamu. Dia ingin masa depan dengan kamu. Lalu saya mengikuti petunjuknya.”

“Kamu bukan orang berbeda.”

“Bagaimana kalau suatu hari saya menyayangi kamu hanya karena buku menyuruh saya?”

Nora tidak langsung menjawab. Dia melihat bintang-bintang buatan bergerak di atas kami.

“Aku juga takut itu,” katanya akhirnya.

Kejujurannya lebih menenangkan daripada bantahan.

“Waktu Nova mengambil hari kita,” lanjut Nora, “sebagian diriku ingin menuliskan semuanya sedetail mungkin sampai kamu nggak punya pilihan selain percaya bahwa kamu masih mencintaiku.”

“Kenapa tidak dilakukan?”

“Karena aku melihatmu membaca ciuman pertama kita seperti laporan. Aku nggak mau buku ini berubah jadi kontrak yang kamu tanda tangani sebelum kehilangan ingatan.”

Saya menyentuh sampul biru itu. Selama ini saya menganggapnya tali penyelamat. Baru malam itu saya menyadari tali juga dapat menjadi ikatan kalau salah satu dari kami terlalu takut melepaskan.

“Setiap kamu lupa,” lanjutnya, “aku ingin membuka semua halaman, menunjukkan bukti, dan membuatmu kembali ke tempat yang sama. Tapi itu bukan cinta kalau kamu nggak punya ruang untuk bilang tidak.”

Saya menyerahkan buku kepadanya. “Kalau begitu beri saya ruang.”

Nora menutup buku. Dia meletakkannya di kursi seberang, lalu memindahkan pemutar suara ke atasnya. Tidak ada catatan di antara kami.

“Namaku Eleanora,” katanya. “Aku konservator museum. Aku keras kepala, terlalu suka mengatur, dan selalu mencuri kopi orang yang kusukai.”

“Informasi terakhir terdengar seperti pengakuan kriminal.”

“Belum selesai.” Dia menggeser tubuh menghadap saya. “Aku mencintai seseorang yang terus memutuskan pengorbanannya sendirian. Kadang aku marah sampai ingin melempar Driver ke laut. Aku juga tahu orang itu berusaha berubah. Aku nggak butuh kamu meniru perasaan yang hilang. Aku cuma butuh jawabanmu sekarang.”

“Pertanyaannya?”

“Tanpa buku, tanpa rekaman, tanpa cerita tentang siapa kita—kamu memilih apa?”

Saya memandangnya. Wajahnya tetap tidak terhubung dengan kenangan. Namun saya tahu dia menyisakan bagian roti paling renyah untuk dirinya lalu berpura-pura itu kecelakaan. Dia membaca dengan suara lebih pelan ketika saya hampir tidur. Dia marah dalam kalimat panjang dan terluka dalam kalimat pendek. Dia memberi saya kebebasan untuk pergi ketika seluruh dirinya ingin menahan.

Itu bukan instruksi. Itu seseorang di depan saya.

“Saya memilih perempuan yang sedang menunggu jawaban sambil menghitung berapa detik sebelum menampar saya.”

“Baru dua puluh tujuh.”

“Rekor yang baik.”

Saya mengambil kedua tangannya. “Saya memilih kamu. Bukan karena Kira di buku pernah memilih. Karena saya ingin tahu seperti apa besok kalau kamu masih ada.”

Napas Nora bergetar. “Kalau besok kamu lupa lagi?”

“Tanyakan lagi. Tapi malam ini jangan minta saya menyimpan sesuatu untuk besok.”

“Terus?”

Saya mengangkat satu tangan ke pipinya. “Biarkan saya memilihnya sekarang.”

Nora menutup jarak lebih dulu.

Ciuman itu tidak ragu seperti yang tertulis tentang ciuman pertama. Bibirnya menekan bibir saya dengan seluruh takut dan marah yang tidak mampu saya rasakan sepenuhnya. Saya menariknya lebih dekat, satu tangan di pinggang, satu di belakang leher. Dia mencengkeram jaket saya dan ciumannya menjadi lebih dalam, seolah menantang Astra System untuk mengambil sesuatu yang sedang kami ciptakan.

Jantung saya mengenali ritmenya. Tubuh saya mengingat cara berhati-hati, lalu berhenti terlalu berhati-hati ketika Nora menarik saya kembali. Tidak ada buku yang memberi instruksi. Tidak ada rekaman yang menjelaskan rasa hangat di bawah tulang rusuk.

Ketika kami berpisah untuk bernapas, dahinya menempel pada dahi saya.

“Itu jawabanmu?” bisiknya.

“Saya bisa ulang kalau datanya kurang.”

“Sombong.”

Dia mencium saya lagi, lebih singkat tetapi membuat tangan saya sulit dilepaskan. Saat dia mundur, saya tetap menggenggam ujung jaketnya, memastikan keputusan itu tidak berakhir bersamaan dengan ciuman.

Saya memahami sesuatu yang tidak dapat diukur Lyra: cinta bukan hanya kemampuan mengakses kenangan. Ia juga pola pilihan yang tetap muncul ketika semua petunjuk disingkirkan.

Alarm planetarium menyala.

Retakan Astral Gate muncul di kawasan pelabuhan. Belasan Shade berkembang menjadi satu Calamity sebelum BFA sempat mengirim tim.

Nora menutup mata. “Alam semesta benar-benar membenci ciuman kita.”

“Konsisten.”

Saya mengambil Astra Driver. Tujuh Core bergetar, tetapi Nova belum pulih. Stellar Form cukup untuk menahan Shade awal; jika Calamity sempurna, saya mungkin perlu Core lain.

Nora meraih lengan saya sebelum kami keluar. “Jangan gunakan Nova.”

“Tidak ada energi untuk itu.”

“Jangan bohong.”

Saya mengangguk. “Saya tidak akan pakai Nova.”

Dia masih tidak melepaskan. “Dan pulang.”

“Untuk?”

“Aku belum selesai marah karena kamu menyembunyikan harganya.”

“Alasan yang kuat.”

Di pintu planetarium saya menoleh. Nora berdiri di bawah proyeksi bintang pagi, buku tertutup di kursi belakang. Saya mencoba menyimpan gambar itu tanpa bantuan kamera.

“Nora.”

“Apa?”

“Kalau saya lupa ciuman tadi, jangan ceritakan rasanya.”

Wajahnya menegang. “Kenapa?”

“Saya mau menemukannya sendiri lagi.”

Dia berjalan mendekat dan memasukkan foto baru ke saku dalam jaket saya. “Kalau begitu jangan lama-lama.”

Saya berlari menuju kendaraan BFA. Di sepanjang perjalanan, saya terus menyentuh saku tempat foto itu berada dan bibir yang masih menyimpan hangatnya.

Saya pergi bertarung dengan satu ketakutan yang dapat dirasakan bahkan setelah Abyss Tide mengambil kesedihan: mungkin malam ini adalah terakhir kali saya mengingat bagaimana rasanya memilih Nora tanpa bantuan apa pun.