Chapter Seven
Rumah yang Tidak Kuingat
POV: Nora
Kira datang ke museum dengan peta buatanku tergantung di lehernya.
Kartu itu memuat denah dari apartemenku ke planetarium, kantor BFA, dan kedai kopi dekat museum. Setiap rute diberi warna berbeda. Di bagian belakang kutulis nomor teleponku, lalu Mika menambahkan kalimat: Kalau tersesat, jangan sok misterius. Telepon.
“Ini merusak citra pahlawan kota,” kata Kira.
“Pahlawan kota kemarin nyasar ke ruang penyimpanan sapu.”
“Saya sedang memeriksa keamanan gedung.”
“Selama empat puluh menit?”
Dia hendak menjawab ketika sirene Calamity mengguncang kaca museum. Peta digital di dinding berubah merah. Pusat anomali muncul di Distrik Pelabuhan Lama—blok permukiman yang sudah setengah dikosongkan sejak tanahnya retak akibat Astral Gate.
Kira membeku saat melihat nama jalannya.
“Kamu kenal tempat itu?” tanyaku.
Dia menatap titik merah beberapa detik terlalu lama. “Saya lahir di sana.”
Dua belas menit kemudian, kendaraan BFA berhenti di depan deretan rumah tua yang miring ke arah laut. Tanah bergerak seperti dada makhluk tidur. Sebuah Calamity setinggi enam lantai tumbuh dari jalan: tubuhnya tersusun dari beton, genting, pintu, dan jendela yang masih menampilkan bayangan keluarga di baliknya. Setiap langkahnya menarik fondasi bangunan lain untuk menyatu ke tubuhnya.
Warga berlarian sambil membawa tas, kandang burung, album foto—apa pun yang sempat mereka sebut rumah sebelum sirene berbunyi.
“Evakuasi sisi timur,” perintah Darian melalui saluran komunikasi. “Astra, tahan pusat massanya. Jangan biarkan mencapai tanggul.”
Kira memasang Astra Driver. Stellar Core menyala di antara tujuh slot.
“Henshin.”
STELLAR FORM. MEMORY CONVERSION ACTIVE.
Rider Astra menghantam kaki Calamity dengan Stellar Blade. Cahaya biru memotong lapisan beton, tetapi pecahannya kembali menempel. Makhluk itu membalas dengan lengan berupa rumah bertingkat. Astra menahannya, terseret sepanjang jalan, lalu menghantam sebuah gerbang berkarat.
Gerbang itu terbuka. Di belakangnya berdiri rumah kecil bercat hijau pucat, satu-satunya bangunan yang belum runtuh.
Kira tidak segera bangkit.
Melalui Echo Sight, aku melihat rumah itu menempel padanya seperti nyala hangat: tangan seorang ibu merapikan kerah sekolah, suara anak perempuan tertawa dari jendela, empat piring di meja makan. Fragmennya kabur, tetapi emosinya begitu penuh hingga dadaku sesak.
“Itu rumahmu,” kataku.
“Dulu.” Dia berdiri dan mengangkat pedang. “Sekarang masih ada tiga puluh dua warga di blok ini.”
Calamity menginjak jalan. Retakan merambat ke gedung susun tempat tim evakuasi belum keluar. Fondasinya amblas, membuat enam lantai bangunan miring sekaligus.
Lyra mengumumkan pilihan baru dengan suara tanpa belas kasihan. TERRA CORE AVAILABLE. FUNCTION: GRAVITY CONTROL AND ABSOLUTE DEFENSE. PROJECTED COST: MEMORY OF HOME AND FAMILY.
Core cokelat-emas terbentuk dari debu di dekat kakiku. Kira menatapnya. Lalu dia menoleh ke rumah hijau di belakang gerbang.
“Jangan,” kataku.
“Gedung itu jatuh dalam empat puluh detik.”
“BFA bisa—”
“Butuh empat menit.”
Aku menggenggam Core sebelum menyerahkannya. Echo Sight memperlihatkan apa yang akan menjadi bahan bakar: aroma sup dari dapur rumah itu, berat kepala adiknya di bahu Kira, suara ibunya menyuruh mereka pulang sebelum lampu jalan menyala. Bukan sekadar alamat. Seluruh pengertian pertama Kira tentang tempat ia dicintai.
“Kalau ini hilang, aku nggak bisa menceritakan semuanya kembali.”
Helm Astra terbuka, memperlihatkan wajahnya yang pucat. “Saya tahu.”
“Kamu bahkan belum sempat kembali ke sana.”
“Mereka juga belum sempat keluar.” Dia menunjuk gedung yang terus miring. “Nora, kali ini saya nggak merebut keputusan dari kamu. Tapi waktunya habis.”
Aku membenci bahwa dia benar. Aku lebih membenci bahwa menyerahkan Core terasa seperti ikut membakar rumahnya dengan tanganku sendiri.
Kutaruh Terra Core di telapak tangannya. “Bawa mereka pulang.”
Core masuk ke slot Driver.
TERRA TITAN. MEMORY CONVERSION ACTIVE.
Zirah Astra menebal menjadi hitam dan perunggu dengan garis emas seperti patahan batu. Pelindung besar membentuk bahu dan lengannya. Ketika gedung susun roboh, Kira berdiri di bawahnya dan mengangkat kedua tangan.
Jalan meledak di sekitar kakinya.
Gravitasi berbalik. Enam lantai beton berhenti satu meter di atas kepala Astra. Dia menggeram, lututnya turun menyentuh aspal, tetapi bangunan itu tidak bergerak lagi.
“Sekarang!” teriakku.
Aku dan petugas BFA masuk melalui sisi gedung. Kami membawa keluar seorang nenek, dua keluarga, lalu teknisi yang terjepit lemari. Di lantai terakhir, seorang lelaki menolak pergi tanpa kotak kayu milik istrinya. Aku hampir menyeretnya sebelum Echo Sight menangkap suara perempuan yang telah tiada di dalam cincin pernikahan itu.
“Bawa kotaknya,” kataku. “Tapi lari.”
Di luar, Calamity mengangkat tubuhnya untuk menelan gedung beserta Kira. Astra tidak dapat melepaskan satu tangan pun. Aku melihat rumah hijau, lalu jendela-jendela yang membentuk dada monster. Rumah-rumah itu bukan zirah. Mereka adalah jangkar.
“Kira, pusatnya ada di kenangan yang dipaksa tinggal!”
Aku menempelkan telapak tangan ke jalan. Echo Sight menghubungkan benda-benda yang dibawa para warga—kunci, album, tanaman dalam pot, kotak kayu—menjadi garis emas. Rumah bukan tembok yang dicuri Calamity. Rumah adalah hubungan yang tetap dibawa manusia ketika temboknya hilang.
Garis itu menjalar ke tubuh Kira.
TERRA CIRCUIT. FOUNDATION REDEFINED.
Kira menurunkan satu tangan. Gedung tetap mengambang, ditahan medan gravitasi. Dia mengepalkan tangan lainnya dan menghantam tanah. Gelombang emas memisahkan semua bangunan dari tubuh Calamity, menyusunnya turun tanpa penghuni di lapangan kosong. Inti hitam makhluk itu terbuka di antara fondasi-fondasi palsu.
Terra Titan menghantamnya sekali.
Calamity pecah menjadi hujan debu. Bangunan yang kami evakuasi mendarat perlahan, retak tetapi berdiri.
Ketika zirah Kira terurai, dia langsung menoleh ke rumah hijau. Aku menunggu wajahnya berubah. Tidak terjadi apa-apa.
Dia berjalan melewati gerbang seperti tamu yang takut salah alamat. Di dalam, debu menutupi foto keluarga yang masih tergantung miring. Seorang anak lelaki berdiri di antara ibu, ayah, dan gadis kecil. Wajah anak itu jelas milik Kira.
“Saya tahu itu saya,” katanya. “Tapi saya nggak tahu siapa mereka.”
Aku menyentuh bingkai. Fragmen mengalir: ibunya tertawa karena Kira kecil menyembunyikan sayur di bawah nasi; ayahnya memperbaiki proyektor bekas; adiknya menempelkan bintang kertas di langit-langit kamar. Aku menceritakan semuanya dengan suara yang mulai pecah.
Kira mendengarkan sopan, seperti mendengar kisah keluarga orang lain.
“Harusnya saya sedih?” tanyanya.
“Nggak ada yang harus.”
“Saya bahkan nggak tahu apa yang hilang.”
Kalimat itu meruntuhkan sisa ketenanganku. Aku menariknya ke dalam pelukan sebelum sempat berpikir apakah kami sudah sedekat itu. Tubuhnya kaku sesaat. Kemudian kedua lengannya menutup di punggungku, pelan dan hati-hati.
“Maaf,” bisikku.
“Kamu tidak mengambilnya.”
“Aku yang memberikan Core.”
“Kamu juga mengeluarkan semua orang dari gedung.” Tangannya mengencang. “Jangan ambil kesalahan yang bukan milikmu. Itu kebiasaan buruk saya.”
Aku tertawa pendek di antara air mata. Bahkan tanpa rumah masa kecilnya, dia masih mengenali cara menyelamatkanku dari rasa bersalah.
Malamnya, kami duduk di tangga rumah hijau sementara BFA memasang garis pembatas. Aku membuka buku biru dan menulis satu kalimat.
Rumah bukan cuma tempat yang kamu ingat. Kadang rumah adalah orang yang tetap tinggal.
Kira membacanya dua kali. “Ini cara halus menawarkan apartemen?”
“Sofaku pendek.”
“Saya tinggi.”
“Berarti jangan macam-macam sampai tersesat lagi.”
Dia menyentuh peta yang tergantung di leher, lalu menatapku. “Kalau tetap tersesat?”
Aku menutup buku. “Cari aku.”
Kira tidak mengatakan bahwa tubuhnya sudah pernah melakukan itu. Dia hanya menggeser tangannya di anak tangga sampai jari kelingking kami bersentuhan—sebuah kontak kecil di depan rumah yang tidak lagi dikenalnya.
Kali ini, akulah yang tidak menjauh.
- 1 Nama yang Hilang
- 2 Jangan Sentuh Sabukku
- 3 Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang
- 4 Matahari yang Memakan Bahagia
- 5 Suara Sebelum Tidur
- 6 Jalan Pulang
- 7 Rumah yang Tidak Kuingat reading
- 8 Kencan untuk Orang Pelupa
- 9 Air Mata yang Tidak Kumengerti
- 10 Kalau Aku Lupa Wajahmu
- 11 Kenalin Diri Kamu Sekali Lagi
- 12 Tujuh Core
- 13 Hari yang Hanya Diingat Satu Orang
- 14 Cium Aku Sebelum Hilang
- 15 Pemilik Pertama Astra
- 16 Adik yang Menyelamatkanku
- 17 Eclipse
- 18 Namamu Kira
- 22 Last Henshin
- 23 Pahlawan yang Tidak Pernah Ada
- 24 Kita Bisa Mulai Sekarang