Chapter Sixteen
Adik yang Menyelamatkanku
POV: Kira
Saya mengenali adik saya dari label di sebuah foto.
Lani—adikmu. Meninggal saat serangan pertama. Bukan salahmu.
Nora menulis kalimat terakhir beberapa minggu lalu. Saya tidak ingat wajah Lani, rumah kami, atau malam kematiannya. Namun setiap kali nama itu dibaca, dada saya menegang seperti tubuh sedang menjaga luka yang tidak dapat dijangkau pikiran.
Pagi itu, foto Lani menangis darah hitam.
Saya menjatuhkannya. Cairan menyebar di lantai apartemen lalu membentuk retakan berbentuk pintu. Suara Vesper keluar dari sisi lain.
“Kau terus hidup dengan rasa bersalah yang bahkan tidak dapat kauingat. Tidakkah kau ingin melihat apakah penderitaanmu pantas?”
Saya memasang Astra Driver. Sebelum Core disentuh, pintu menelan seluruh ruangan.
Saya jatuh ke observatorium dua belas tahun lalu.
Tubuh saya kembali berusia dua belas tahun, tetapi pikiran tetap dewasa. Alarm berbunyi. Atap terbuka pada langit yang dipenuhi tangan hitam. Di sebelah saya, seorang gadis kecil berlari sambil menggenggam tangan.
“Kak Kira, jangan lepas!”
Wajahnya terus berubah menjadi kabut, namun gelang bintang di pergelangan memberi nama: Lani.
Saya mencoba menariknya keluar. Koridor memanjang. Setiap pintu mengembalikan kami ke saat balok jatuh dan memisahkan tangan kami.
“Kamu gagal,” bisik Vesper dari dinding. “Ulangi sampai kau mengerti.”
Adegan berputar lagi. Lani terjepit. Saya berlari ke Driver. Cahaya meledak. Ketika menoleh, dia hilang.
Lagi.
Lagi.
Setiap pengulangan menawarkan pilihan berbeda, tetapi semuanya berakhir dengan adik saya terkubur. Saya mulai mempercayai versi yang selama ini hidup tanpa gambar di kepala: saya memilih menjadi pahlawan dan terlambat menyelamatkannya.
Suara Nora menembus dari jauh. “Kira, dengar aku!”
Garis emas merobek langit palsu. Nora masuk melalui Echo Sight dengan buku biru di tangan. Dia tampak dewasa, tetapi cahaya di sekelilingnya berkedip seperti memori yang dipaksa berada di tempat bukan miliknya.
“Ini bukan ingatan utuh,” katanya. “Vesper cuma memutar bagian yang rasa bersalahmu isi sendiri.”
“Hasilnya tetap sama.”
“Karena dia memotong bagian setelah kamu menoleh.”
Nora menyentuh gelang Lani. Echo emas menyebar ke seluruh observatorium. Adegan kembali bergerak, tetapi kali ini tidak berhenti ketika balok jatuh.
Saya melihat diri kecil terlempar di dekat retakan. Origin Hollow menurunkan lengan hitam. Saya membeku. Lani berada di belakang, cukup jauh untuk lari.
Dia tidak lari.
Lani mendorong saya keluar dari jalur serangan. Tubuh saya jatuh ke dekat Nora kecil dan Astra Driver. Lani kemudian meraih tuas pintu darurat, menutup sekat antara dirinya dan Origin Hollow agar anak-anak lain di lorong dapat melarikan diri.
“Lani!”
Dia menoleh sekali. Wajahnya akhirnya jelas—takut, menangis, tetapi tersenyum karena saya selamat.
“Kakak selalu nyuruh aku pulang duluan,” katanya. “Sekarang giliran Kakak.”
Sekat tertutup.
Dari balik kaca tahan ledakan, Lani tidak langsung menghilang. Dia menarik dua anak yang bersembunyi di bawah meja menuju pintu servis, lalu memukul tombol evakuasi dengan gelang bintangnya. Origin Hollow merobek dinding di belakangnya. Lani tetap menahan tuas karena pintu hanya terbuka selama tekanan dijaga manual.
Saya kecil bangkit dan mencoba kembali, tetapi Nora kecil memeluk pinggang saya. “Kalau kamu buka sekat, semua yang dia selamatkan ikut mati!”
“Dia adik saya!”
“Makanya dia tahu kamu akan kembali.”
Lani melihat kami dari seberang kaca. Dia menunjuk anak-anak yang sudah mencapai tangga, lalu menunjuk saya. Bibirnya membentuk satu kata: hidup.
Serangan hitam menelan ruangan. Hal terakhir yang dilakukan Lani bukan meminta diselamatkan. Dia memastikan pilihan pengorbanannya benar-benar memberi orang lain jalan keluar.
Ingatan pecah.
Saya kembali ke wujud dewasa dalam observatorium palsu, berlutut di tengah serpihan cahaya. Abyss Tide telah mengambil kemampuan untuk merasakan sedih, tetapi tubuh tetap gemetar. Air mata keluar tanpa emosi yang dapat dinamai.
“Dia memilih menyelamatkan saya,” kataku.
Nora berlutut di depan saya. “Iya.”
“Selama ini saya memakai kematiannya untuk membuktikan hidup saya harus dibayar.”
“Kamu anak dua belas tahun yang selamat karena adikmu mencintaimu.”
Vesper muncul di balik Nora. “Cinta memberinya kematian dan memberimu hukuman seumur hidup. Masih ingin mempertahankannya?”
Saya berdiri. Tidak ada kemarahan hangat, tetapi ada keputusan.
“Lani tidak mati supaya saya menyusul.”
Saya memasukkan Stellar Core.
“Henshin.”
Cahaya biru merobek dunia palsu. Saya tidak menyerang Vesper. Saya menghantam dinding pengulangan, membuka jalan bagi semua fragmen yang dia tahan. Observatorium runtuh menjadi ribuan kenangan milik para korban serangan pertama.
Vesper tersenyum sebelum menghilang. “Kau baru belajar bahwa pengorbanan tanpa izin menyakitkan. Mari lihat apa yang disembunyikan perempuan itu.”
Tablet jatuh dari tas Nora.
Layar menyala dengan tulisan: OWNERSHIP RECLAMATION PROCEDURE—PRIMARY RESONANCE: ELEANORA.
Zirah saya terurai. Saya membaca diagram transfer, peluang keberhasilan dua puluh tiga persen, serta kemungkinan Nora menerima seluruh residu memori yang terbakar.
“Sejak kapan?” tanyaku.
Nora tidak mengambil tablet. “Kemarin.”
“Anda akan memindahkan Driver.”
“Aku sedang mencari cara yang aman.”
“Dua puluh tiga persen bukan aman.”
“Belum. Makanya aku belum bilang.”
Saya memandang tangannya. Tangan yang menulis larangan berkorban sendirian. Tangan yang mencium, menahan, dan sekarang menyimpan prosedur untuk menggantikan korban.
“Anda marah ketika saya menyembunyikan harga Nova.”
“Karena kamu sudah memutuskan akan memakainya.”
“Dan Anda menyalin protokol, mendaftarkan resonansi, lalu menunggu angka yang cukup bagus untuk mengumumkan bahwa giliran Anda mati?”
“Aku tidak mau mati.” Suaranya meninggi. “Aku mau kamu berhenti kehilangan diri!”
“Dengan kehilangan diri Anda.”
“Setidaknya sistem itu milikku sejak awal.”
Kalimat itu melukai bagian yang bahkan Abyss Tide tidak mampu menutup. “Jadi semua ini salah saya karena memakai sesuatu milik Anda?”
“Bukan itu maksudku.”
“Saya tahu. Sama seperti Anda tahu alasan saya memakai Nova bukan karena ingin meninggalkan Anda.”
Nora menjadi sangat tenang. “Jangan samakan.”
“Kenapa? Karena pengorbanan Anda lebih pintar?”
“Karena aku sedang mencoba membuat pilihan yang tidak terus memakanmu!”
“Tanpa membiarkan saya memilih apakah saya bersedia hidup dengan harga Anda.”
Observatorium palsu terus runtuh. Kami berdiri di antara serpihan malam ketika Lani mengorbankan diri tanpa sempat meminta izin. Kebenaran itu membuat pertengkaran kami semakin kejam.
Nora mengusap air mata. “Kalau kuberi tahu, kamu akan bilang tidak.”
“Ya.”
“Nah.”
“Itu bukan alasan untuk menyembunyikannya.”
“Sama seperti kota bukan alasan untuk menyembunyikan harga Nova.”
Tidak ada jawaban yang tidak munafik.
Echo runtuh dan mengembalikan kami ke apartemen. Foto Lani tergeletak utuh di lantai. Di bawah label Nora, saya menambahkan satu kalimat dengan tangan gemetar: Dia menyelamatkanmu. Hiduplah dengan benar.
Nora berdiri dekat pintu. “Aku nggak akan menjalankan transfer tanpa persetujuanmu.”
“Tapi Anda belum menghapus protokol.”
“Belum.”
Saya mengambil jaket. “Saya perlu pergi sebelum mengatakan sesuatu yang tidak bisa dilupakan salah satu dari kita.”
“Kita putus?”
“Tidak.” Jawaban itu keluar tanpa ragu. “Saya marah. Saya tetap mencintai Anda, meski tidak ingat semua alasannya. Dua hal itu bisa benar.”
Dia mengangguk, terlalu terluka untuk mendekat.
“Berapa lama?” tanyanya.
“Sampai kita bisa bicara tanpa berlomba menjadi orang yang lebih pantas dikorbankan.”
Saya berjalan keluar tanpa mencium atau memeluknya. Di lift, tangan berkali-kali bergerak menuju tombol lantainya meski dia masih berada di apartemen saya.
Untuk pertama kalinya, saya tahu Lani tidak meminta saya mati demi membalasnya.
Saya hanya belum tahu bagaimana hidup tanpa mengubah cinta menjadi alasan untuk saling menghancurkan.
- 1 Nama yang Hilang
- 2 Jangan Sentuh Sabukku
- 3 Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang
- 4 Matahari yang Memakan Bahagia
- 5 Suara Sebelum Tidur
- 6 Jalan Pulang
- 7 Rumah yang Tidak Kuingat
- 8 Kencan untuk Orang Pelupa
- 9 Air Mata yang Tidak Kumengerti
- 10 Kalau Aku Lupa Wajahmu
- 11 Kenalin Diri Kamu Sekali Lagi
- 12 Tujuh Core
- 13 Hari yang Hanya Diingat Satu Orang
- 14 Cium Aku Sebelum Hilang
- 15 Pemilik Pertama Astra
- 16 Adik yang Menyelamatkanku reading
- 17 Eclipse
- 18 Namamu Kira
- 22 Last Henshin
- 23 Pahlawan yang Tidak Pernah Ada
- 24 Kita Bisa Mulai Sekarang