Chapter Twenty Four
Kita Bisa Mulai Sekarang
POV: Nora
Dua tahun kemudian, kursi kosong di dekat jendela menjadi bahan lelucon pelanggan tetap.
Mika menyebutnya kursi pemilik. Darian menyebutnya pelanggaran efisiensi ruang. Anak-anak planetarium percaya kursi itu disediakan untuk hantu pahlawan yang menjaga Asterra.
Aku tidak pernah memasang tanda larangan duduk. Namun setiap kali seseorang memilihnya, mesin kopi rusak, pesanan mereka salah, atau mereka pindah sendiri karena merasa silau. Pada akhirnya, kursi itu selalu kembali kosong.
Kedai Last Henshin berkembang tanpa menjadi besar. Enam meja bertambah menjadi sembilan. Aku masih bekerja sebagai konservator paruh waktu di museum dan membantu BFA kalau artefak Astral ditemukan. Darian membangun protokol baru yang melarang sistem memakai satu manusia sebagai sumber daya. Mika akhirnya mendapatkan nama resmi untuk satu manuver evakuasi dan memaksa semua orang menyebutnya Ren Rescue Route.
Tidak ada Hollow baru sejak Astral Gate tertutup.
Kota melanjutkan hidup.
Aku juga.
Aku tidak menghabiskan hari dengan mencari orang yang tidak kuingat. Ada pekerjaan, teman, tagihan, pelanggan cerewet, dan tanaman mint yang berkali-kali hampir mati. Aku tertawa tanpa merasa bersalah. Aku belajar bahwa kehilangan tidak harus memakan seluruh ruang agar dianggap nyata.
Namun beberapa pagi, sebelum membuka kedai, aku memutar file dua detik itu.
Nora.
Suaranya makin rusak. Aku berhenti mencoba menebak wajah pemiliknya. Setelah selesai, aku menyentuh gelang kulit dan membuka tirai.
Pada suatu pagi di awal musim hujan, seseorang mengetuk pintu tiga puluh menit sebelum jam buka.
Langit masih biru gelap. Hujan baru berhenti, meninggalkan jalan mengilap dan bau tanah. Seorang laki-laki berdiri di bawah papan Last Henshin dengan ransel kecil, jaket gelap, dan rambut hitam yang terlalu panjang di bagian depan.
Aku hampir berkata kami belum buka.
Lalu dia melihatku melalui kaca.
Tidak ada kilatan ingatan. Echo Sight tidak menunjukkan masa lalu. Dunia tidak mengembalikan apa pun.
Namun tanganku sudah membuka kunci sebelum pikiran selesai bertanya.
“Maaf,” katanya. “Saya lihat lampunya menyala.”
Suaranya membuat dada terasa seperti pintu yang dibuka dari sisi lain.
Dia tidak mengenaliku. Itu terlihat jelas dari cara sopannya menjaga jarak. Ada bekas luka tipis di telapak tangan dan pita merah kusam terikat pada ritsleting tas. Mungkin benda biasa. Mungkin bukan.
“Masuk aja,” kataku.
Dia berhenti tepat setelah ambang, mengamati kedai seolah mencoba memahami kenapa tempat itu terasa penting. Tatapannya berpindah dari papan menu ke rak buku, lalu berhenti pada buku biru yang masih kosong.
“Pernah ke sini?” tanyaku.
“Belum pernah ke Asterra.”
Jawabannya terdengar sudah dilatih.
Aku menyalakan mesin kopi. “Baru datang?”
“Tadi malam. Kereta terakhir.”
“Ada urusan?”
Dia meletakkan ransel di dekat kursi kosong, tetapi tidak langsung duduk. “Mencari kerja. Mungkin mencari tahu kenapa saya terus bermimpi tentang planetarium ini.”
Jantungku melakukan sesuatu yang tidak sopan.
“Mimpi seperti apa?”
“Bintang di dalam ruangan. Seseorang marah karena kopi terlalu manis.” Dia mengerutkan kening. “Kedengarannya bodoh kalau diucapkan.”
“Sedikit.”
Sudut bibirnya bergerak, nyaris senyum. Tubuhku mengenali gerakan itu sebelum aku sempat memberi nama.
“Pesan apa?” tanyaku.
Dia membaca menu cukup lama. “Kopi hitam.”
“Gula?”
“Dua sendok.”
Sendok di tanganku jatuh ke meja.
Laki-laki itu segera mengambilnya. “Anda baik-baik saja?”
Anda.
Satu kata formal itu hampir membuatku tertawa dan menangis bersamaan.
“Iya.” Aku mengambil sendok lain. “Cuma kurang tidur.”
Aku membuat kopi hitam dengan dua sendok gula. Kebiasaan tubuh menakar lebih cepat daripada pikiran. Ketika cangkir diletakkan di depannya, dia memilih kursi dekat jendela—kursi yang selama dua tahun selalu kosong.
Mesin kopi tidak rusak. Matahari belum cukup tinggi untuk menyilaukan. Dia tidak pindah.
Aku berdiri di balik meja sambil memarahi diri sendiri. Kesamaan bukan bukti. Mimpi bukan identitas. Pita merah bisa dibeli di mana saja. Sistem dapat menghapus sejarah, dan keinginan kuat dapat membuat seseorang melihat pola yang tidak ada.
Aku pernah belajar bahwa mencintai tidak memberi hak untuk memaksakan masa lalu kepada orang lain.
Jadi aku tidak mengambil buku. Tidak memutar file suara. Tidak menyentuh tangannya dengan Echo Sight.
Aku bertanya, “Namamu siapa?”
Dia memegang cangkir dengan kedua tangan. “Saya nggak tahu nama asli saya.”
Udara di kedai mendadak tipis.
“Dua tahun lalu saya ditemukan di pesisir utara, pagi setelah Fajar Pemulihan. Tidak ada identitas, catatan biometrik, atau laporan orang hilang yang cocok. Rumah sakit memberi nama sementara: Arka.”
Bukan Kira.
Aku tidak kecewa. Nama adalah miliknya untuk dipilih.
“Kamu suka nama itu?”
“Lumayan. Tapi rasanya seperti jaket pinjaman.”
“Nggak harus buru-buru menemukan penggantinya.”
“Anda bicara seperti pernah kehilangan nama.”
“Aku pernah kehilangan sesuatu. Sampai sekarang nggak tahu apa.”
Dia mengangguk tanpa mengasihani. Kami duduk dalam diam yang tidak terasa kosong.
Matahari mulai muncul di belakang planetarium. Bintang pagi memudar dari langit, tetapi aku tahu ia masih ada. Dulu seseorang mungkin mengajariku itu. Atau mungkin aku memilih mempercayainya sendiri.
Laki-laki itu melihat papan nama kedai dari balik kaca.
“Last Henshin artinya apa?”
“Transformasi terakhir.”
“Kedengarannya sedih.”
“Dulu iya.” Aku menatap meja-meja, buku kosong, dan kursi yang akhirnya terisi. “Sekarang menurutku itu juga bisa berarti bentuk lama selesai supaya sesuatu yang baru punya tempat.”
Dia minum kopi. Wajahnya menegang karena terlalu manis, lalu dia minum lagi.
“Kalau tidak suka, gulanya bisa dikurangi.”
“Tidak. Rasanya tepat.”
Bel pintu berbunyi. Mika masuk membawa roti dan mulai mengeluh karena aku membuka kedai lebih awal. Dia berhenti ketika melihat tamu di dekat jendela.
Tidak ada pengenalan di wajahnya. Hanya kebingungan singkat, lalu keramahan biasa.
“Pelanggan pertama hari ini?”
“Belum resmi,” kataku.
Arka berdiri untuk membantu saat kantong roti Mika hampir jatuh. Gerakannya cepat, tenang, dan tidak mencari terima kasih.
“Refleks bagus,” kata Mika.
“Entah dapat dari mana.”
Aku tahu kebiasaan bukan bukti, tetapi kali ini aku membiarkan harapan duduk bersama kami.
Setelah Mika pergi ke dapur, Arka memperhatikan gelang di pergelanganku. Tulisan Nora masih ada pada pelat logam.
“Nama Anda Nora?”
“Iya. Eleanora, tapi panggil Nora.”
Dia mengulangnya pelan. “Nora.”
File rusak di laci tidak menyala. Echo Sight tidak membuka fragmen. Namun cara namaku berada dalam suaranya membuat dua tahun kesunyian memiliki tepi.
Dia menyentuh ritsleting tas tempat pita merah terikat. “Aneh.”
“Apa?”
“Saya merasa seharusnya tahu cara membuat Anda berhenti menangis.”
Baru saat itu kusadari pipiku basah.
Aku tertawa dan menyeka air mata. “Taruh tisu dalam jangkauan. Jangan bilang jangan menangis.”
Dia mengambil kotak tisu, menaruhnya di meja dekatku, lalu menunggu tanpa mencoba memperbaiki apa pun.
Tubuhku tenang.
Dia tampak terkejut oleh pilihannya sendiri. “Apa kita pernah ketemu?”
Di masa lalu yang hilang, mungkin aku pernah berjanji akan mengenalkan diri lagi. Aku tidak mendapatkan kenangan itu kembali. Dia juga tidak. Tidak ada musik, armor, atau keajaiban yang mengembalikan kami menjadi orang lama.
Yang ada hanya fajar, kopi terlalu manis, satu kursi yang tidak lagi kosong, dan dua orang yang bebas memilih tanpa berutang kepada sejarah.
Aku mengulurkan tangan.
“Belum,” kataku. “Tapi kalau kamu nggak keberatan, kita bisa mulai sekarang.”
Dia melihat tanganku, lalu wajahku.
“Saya mau.”
Jemarinya menyambut jemariku.
Di luar, matahari terbit sepenuhnya. Kota tidak mengingat pahlawan yang menyelamatkannya. Buku biru tetap kosong. Nama Kira tidak kembali.
Tetapi lelaki di hadapanku memilih duduk lebih lama.
Dan kali ini, kami tidak membutuhkan masa lalu untuk menemukan jalan pulang.
- 1 Nama yang Hilang
- 2 Jangan Sentuh Sabukku
- 3 Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang
- 4 Matahari yang Memakan Bahagia
- 5 Suara Sebelum Tidur
- 6 Jalan Pulang
- 7 Rumah yang Tidak Kuingat
- 8 Kencan untuk Orang Pelupa
- 9 Air Mata yang Tidak Kumengerti
- 10 Kalau Aku Lupa Wajahmu
- 11 Kenalin Diri Kamu Sekali Lagi
- 12 Tujuh Core
- 13 Hari yang Hanya Diingat Satu Orang
- 14 Cium Aku Sebelum Hilang
- 15 Pemilik Pertama Astra
- 16 Adik yang Menyelamatkanku
- 17 Eclipse
- 18 Namamu Kira
- 19 Dunia Tanpa Rasa Sakit
- 20 Satu Janji Tersisa
- 21 Malam Terakhir yang Biasa
- 22 Last Henshin
- 23 Pahlawan yang Tidak Pernah Ada
- 24 Kita Bisa Mulai Sekarang reading