← Last Henshin

Chapter Nineteen

Dunia Tanpa Rasa Sakit

POV: Nora

Astral Gate terbuka tanpa ledakan.

Pukul lima lewat tujuh belas pagi, langit di atas Asterra terbelah seperti mata yang terlalu lama terpejam. Retakan hitam membentang dari observatorium lama sampai pelabuhan. Tidak ada api. Tidak ada gempa. Hanya cahaya pucat yang turun di antara gedung dan membuat seluruh kota mendadak diam.

Orang pertama yang menyerahkan ingatannya adalah seorang lelaki di halte depan BFA.

Dia memeluk foto anak kecil, menangis, lalu menatap bayangannya yang muncul di udara. Vesper berdiri di dalam setiap permukaan hitam—kaca, layar, genangan, bahkan pupil orang-orang yang memandang ke atas.

“Kalian tidak harus terluka lagi,” katanya kepada seluruh kota. “Berikan yang membuat kalian menderita. Aku akan mengembalikan kedamaian.”

Lelaki itu mengangkat foto. Cahaya hitam menarik sesuatu dari dadanya. Dia berhenti menangis. Foto terlepas dari tangannya.

“Siapa anak ini?” tanyanya.

Dia tersenyum setelah mengucapkannya.

Aku membenci senyum itu lebih daripada jeritan mana pun.

Dalam dua belas menit, tiga ratus tujuh belas warga berjalan menuju bayangan yang tumbuh di jalan. Mereka tidak dipaksa. Seorang ibu menyerahkan ingatan tentang putrinya yang meninggal. Seorang petugas medis meminta malam-malam di ruang gawat darurat dihapus. Anak muda yang baru kehilangan kekasih berkata dia cuma ingin tidur tanpa mimpi.

Vesper memberi mereka apa yang diminta.

Setelah rasa sakit hilang, kasih yang menempel padanya ikut menghilang.

“Gerbang menyerap resonansi emosional secara sukarela,” kata Darian dari pusat komando darurat. Markas utama masih rusak akibat Eclipse; kami bekerja dari planetarium karena kubahnya memiliki pelindung astral lama. “Kalau jumlah penyerahan melewati ambang, Vesper dapat memancarkan penghapusan ke seluruh kota.”

“Berapa lama?”

“Tiga hari. Mungkin kurang.”

Di kursi operator, Kira mendengar angka itu tanpa perubahan wajah. Gelang di pergelangannya masih bertuliskan namanya, sifatnya, dan kebebasannya untuk memilih. Sejak Eclipse, dia membaca gelang itu setiap bangun tidur.

“Kita serang Gate,” katanya.

“Dengan apa?” Mika menunjuk tujuh Core yang keruh di meja. “Eclipse bikin semuanya seperti habis berenang di got antardimensi.”

“Perumpamaan teknis yang mengesankan,” kata Kira.

Aku menoleh cepat. Humor kering itu kecil, tetapi nyata. Mika menutup mulut seolah takut suara lega akan membuatnya hilang.

Darian menampilkan simulasi. Serangan energi pada Gate justru memperbesar retakan. Vesper bukan tubuh yang berdiri di suatu tempat. Dia sudah menyebar melalui keinginan warga untuk lupa.

“Kita nggak bisa menebas keputusan orang,” kataku.

“Lalu kita hormati keputusan mereka?” tanya Mika.

Aku melihat lagi lelaki di halte. Dia duduk tenang di samping foto anak yang tak dikenalnya. “Keputusan yang dibuat saat seseorang percaya cuma ada dua pilihan—menderita atau kehilangan cinta—bukan keputusan yang utuh.”

Aku memakai Echo Sight pada jaringan kota.

Emas menyebar dari konsol ke kabel lama di bawah planetarium. Ribuan fragmen menyambar sekaligus: tangan yang membagi payung, pemilik warung yang tetap memberi makan pelanggan berutang, petugas kebersihan yang menggendong anjing terluka, seorang anak menyerahkan tempat duduk kepada lelaki tua. Bukan kemenangan besar. Bukan pidato pahlawan. Hanya manusia yang, selama ini, berkali-kali memilih satu sama lain.

Di antara fragmen itu, aku melihat Rider Astra jatuh dan bangun lagi. Warga tidak tahu siapa di balik helmnya. Namun harapan mereka menempel pada setiap lokasi yang pernah dia lindungi.

“Vesper menyiarkan rasa sakit paling keras,” kataku. “Kita harus menunjukkan bahwa itu bukan seluruh cerita.”

Darian memahami lebih dulu. “Jaringan peringatan kota dapat mengambil alih semua layar, tapi BFA tidak punya materi terverifikasi.”

“Aku punya Echo.”

“Echo Sight bukan rekaman stabil.”

“Astra Driver mengubah kenangan jadi energi. Balik prosesnya. Jangan bakar kenangan—siarkan jejaknya.”

Kira memandang Driver di dalam kotak pelindung. “Risiko?”

“Untukmu, aku belum tahu.”

“Jawaban yang lebih baik daripada berbohong.”

Kalimat itu tidak ditujukan sebagai hukuman, tetapi tetap mengenai tempat yang pantas.

Kami membangun pemancar dari proyektor bintang, jaringan BFA, dan kristal pusat Driver. Kira menolak memasang sabuk. Dia hanya meletakkan telapak pada kristal sementara aku menghubungkan Echo Sight dari sisi berlawanan. Ketika jari kami bersentuhan, dia tidak menarik diri.

“Kalau ini menyakitkan, bilang,” kataku.

“Definisikan menyakitkan.”

“Jangan mulai.”

“Aku sedang belajar pola komunikasi kita.”

“Pola kita adalah aku memarahimu dan kamu pura-pura tidak senang.”

Sudut bibirnya bergerak. “Data diterima.”

Siaran dimulai pukul sembilan.

Layar kota tidak menampilkan pidato. Kami menampilkan fragmen tanpa nama: petugas BFA yang menahan pintu agar delapan puluh enam orang keluar; Lani kecil mendorong kakaknya menuju cahaya; Mika kembali ke reruntuhan demi operator yang tertinggal; Darian mematikan laboratorium seumur hidupnya untuk mencegah transfer paksa; Kira melepaskan pedang di depan leherku karena sebuah janji lebih kuat daripada Eclipse.

Lalu rekaman warga masuk. Orang-orang mengirim video mereka sendiri. Seorang ibu memperlihatkan kamar putrinya dan berkata rasa kehilangan adalah harga pernah mencintainya. Petugas medis mengaku masih ingin mengingat pasien yang tidak tertolong karena nama-nama itu membuatnya lebih cepat menolong pasien berikutnya. Lelaki di halte melihat foto yang jatuh, mendengar suara anaknya dari video lama, lalu merangkak menjauh dari bayangan.

Di distrik utara, seorang pemilik toko membuka pintu bagi warga yang sedang melawan panggilan bayangan. Di stasiun, para penumpang saling menyebut nama orang yang ingin mereka pertahankan. BFA tidak mengarahkan gerakan itu. Harapan menyebar bukan sebagai slogan, melainkan tindakan kecil yang dapat ditiru. Setiap orang yang mundur dari bayangan membantu orang berikutnya percaya bahwa rasa sakit tidak harus ditanggung sendirian.

“Aku tidak mau sakit,” katanya ke kamera. “Tapi aku lebih tidak mau dia hilang dua kali.”

Bayangan di jalan mulai surut.

Vesper muncul di kubah planetarium. Wajahnya tenang, tetapi bintang-bintang palsu di sekelilingnya pecah.

“Kalian memuliakan luka karena takut mengakui betapa lelahnya kalian.”

“Tidak,” jawabku melalui siaran terbuka. “Kami mengakui lelah. Kami cuma nggak menyerahkan hak memilih apa yang pantas dibawa bersama rasa sakit itu.”

Gerbang berdenyut. Gelombang hitam menghantam pemancar. Kira melindungiku dengan tubuhnya meski tidak mengenal refleks itu. Kristal Driver menyala di antara tangan kami.

Satu per satu, tujuh Core di meja menjawab. Stellar, Solar Flare, Lunar Veil, Tempest, Terra Titan, Abyss Tide, dan Nebula Phantom memancarkan warna mereka, sedangkan jejak Nova dan Eclipse bergerak di pusat seperti dua luka yang belum sembuh.

Lyra hidup kembali.

COLLECTIVE HOPE RESONANCE DETECTED.

Seluruh kota menjawab siaran dengan cahaya kecil dari benda yang mereka pertahankan: foto, cincin, tiket, mainan, surat, kunci rumah. Echo Sight membuatnya tampak seperti jutaan bintang yang menolak padam.

ORIGIN HOLLOW ERASURE PATH AVAILABLE.

Darian membeku. “Lyra, tampilkan konfigurasi.”

Kristal memproyeksikan zirah putih tanpa wajah. Tidak ada slot Core. Tidak ada angka durasi. Hanya satu nama.

LAST ASTRA.

Aku merasakan Kira menegang di sampingku.

“Biaya aktivasi?” tanyaku.

Lyra diam terlalu lama untuk sebuah sistem.

PAYMENT: BEARER MEMORY, IDENTITY, HISTORY, AND ALL EXTERNAL RECORD OF EXISTENCE.

Tampilan kota menunjukkan warga mulai menjauh dari bayangan. Rencana kami berhasil. Harapan hidup kembali.

Namun di antara tangan kami, Astra System baru saja mengubah harapan itu menjadi senjata yang meminta harga lebih kejam daripada kematian.

Kira membaca tulisan di gelangnya.

Namamu Kira.

Cahaya Last Astra menyentuh huruf-huruf itu, dan untuk sesaat tinta merahnya menghilang.