Chapter Twenty One
Malam Terakhir yang Biasa
POV: Nora
Untuk malam terakhir sebelum seseorang menghapus dirinya dari dunia, Kira memasak mi instan dengan cara yang salah.
Dia memasukkan bumbu sebelum air mendidih, mematahkan mi menjadi empat, lalu membaca petunjuk di kemasan setelah semuanya telanjur masuk panci.
“Kamu teknisi sistem astronomi,” kataku. “Gimana caranya kalah sama mi?”
“Benda langit tidak memiliki petunjuk penyajian yang menyesatkan.”
“Petunjuknya tiga langkah.”
“Itu cara mereka menciptakan rasa aman palsu.”
Aku tertawa. Suaranya terdengar tidak pantas di apartemen yang dipenuhi peta akhir dunia. Karena itulah aku membiarkannya lebih lama.
Kami memilih apartemen Kira, bukan markas. Astral Gate masih terlihat dari jendela seperti luka hitam di atas kota. Darian dan Mika memegang giliran pemantauan. Selama enam jam, tidak ada yang boleh menghubungi kami kecuali ambang penghapusan naik drastis.
Kira membagi mi ke dua mangkuk. Punyaku mendapat telur yang bentuknya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
“Apakah aku dulu bisa memasak?” tanyanya.
“Tidak.”
“Bagus. Berarti Eclipse tidak mengambil semuanya.”
Aku tertawa lagi, lalu menangis di tengah tawa itu.
Kira tidak mengatakan jangan menangis. Dia mengambil tisu, meletakkannya dalam jangkauan, dan melanjutkan makan sambil menungguku bisa bernapas.
“Kamu belajar cepat,” kataku.
“Tentang mi?”
“Tentang air mata.”
“Aku diberi guru yang sering menyediakan materi praktik.”
Aku melempar tisu. Dia menangkapnya dengan satu tangan.
Setelah makan, kami memperbaiki buku Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang. Banyak tinta memudar setelah Nova dan Eclipse. Nama tempat tinggalnya tinggal separuh. Halaman tentang ciuman pertama kosong kecuali bekas tekanan pena. Aku ingin menulis ulang semuanya, tetapi Kira menahan pulpen merahku.
“Jangan isi bagian yang hilang dengan cerita yang harus aku percayai.”
“Aku nggak akan bohong.”
“Aku tahu. Tapi biarkan ruang kosong menjadi jujur.”
Kami menyimpan bagian kosong. Di halaman baru, kami menulis hal-hal yang dipilihnya setelah kehilangan nama.
Kira meminta kalimat cinta di gelangnya dihapus agar dia bebas memilih.
Kira menggenggam tangan Nora setelah mengetahui seluruh kesalahan mereka.
Kira takut mati dan ingin hidup.
Tanganku berhenti pada kalimat terakhir.
“Boleh kutulis?”
“Itu fakta.”
“Dulu kamu akan malu.”
“Kira yang dulu terdengar melelahkan.”
“Sangat.”
“Kenapa kamu mencintainya?”
Aku menatap buku, bukan wajahnya. “Karena dia selalu menolong tanpa membuat orang merasa berutang. Karena dia ingat aku suka bagian pinggir roti meski dia lupa nama jalan. Karena waktu semua orang memuji Rider Astra, dia cuma khawatir petugas kebersihan harus membereskan puing terlalu banyak.”
“Semua alasan itu sudah hilang.”
“Iya.” Aku menutup buku. “Tapi hari ini kamu membiarkan Mika menjelaskan ide buruk selama dua puluh menit supaya dia nggak merasa diabaikan. Kamu meminta data sebelum menolak transferku. Kamu takut, lalu tetap jujur. Kamu bukan salinan dia. Kamu cuma terus memilih jadi orang yang juga bisa kucintai.”
Kira memandangku cukup lama sampai aku harus menahan keinginan mengisi diamnya.
“Aku ingin hidup,” katanya.
Kalimat itu sederhana. Dari mulutnya, kalimat itu lebih besar daripada setiap serangan yang pernah kulihat.
“Bukan hanya karena ada kota yang harus dilindungi,” lanjutnya. “Aku ingin minum kopi besok. Aku ingin mengetahui kenapa kamu menyimpan bagian pinggir roti. Aku ingin belajar mencintai kamu tanpa buku.”
“Jangan bilang begitu kalau kamu tetap akan pergi.”
“Justru karena ingin tinggal, keputusan besok bukan pelarian.”
Aku berdiri terlalu cepat. Kursi jatuh. “Itu tidak membuatku merasa lebih baik.”
“Aku tidak mengatakannya untuk membuat kamu merasa baik.”
“Lalu untuk apa?”
“Agar kamu tahu aku tidak memilih kota karena hidup aku kosong.” Dia ikut berdiri. “Hidup ini baru mulai penuh. Itu sebabnya aku tahu persis apa yang aku berikan.”
Aku memukul dadanya sekali. Tidak keras. Dia membiarkannya. Pukulan kedua berubah menjadi genggaman pada kausnya.
“Aku benci kamu.”
“Data sebelumnya mengatakan sebaliknya.”
“Diam.”
“Baik.”
Dia memelukku setelah aku yang menutup jarak. Pelukannya tidak terasa seperti ingatan. Tidak ada keajaiban yang mengembalikan Kira lama. Ada lelaki yang sekarang memegangku hati-hati, memilih tekanan tangannya berdasarkan napasku, lalu mengusap punggung ketika tubuhku mulai gemetar.
Kami membuat kopi setelah itu. Aku menuang dua sendok gula ke cangkirnya.
“Aku bisa melakukannya sendiri.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Aku ingin.”
Dia menerima jawaban itu dan menambahkan setengah sendok lagi ke cangkirku ketika aku tidak melihat.
“Kira.”
“Eksperimen kontrol.”
“Kopiku jadi sirup.”
“Sekarang penderitaan kita setara.”
Kami membawa cangkir ke atap planetarium. Kota masih terjaga. Layar-layar publik memutar rekaman warga yang memilih kenangan mereka. Di bawah retakan langit, lampu rumah membentuk rasi yang tidak pernah ada di atlas mana pun.
Aku menyalakan musik dari pemutar suara Kira. File-nya rusak, sehingga lagu lama bercampur suara napas dan potongan rekaman. Kira mengulurkan tangan.
“Apa?” tanyaku.
“kamu meminta menari.”
“Kamu bilang tidak ada datanya.”
“Kita bisa menghasilkan data baru.”
Aku menerima tangannya. Dia memang kaku. Langkah pertama menginjak ujung sepatuku. Langkah kedua hampir menumpahkan kopi. Langkah ketiga menjadi lebih baik setelah aku menaruh satu tangannya di pinggangku.
“Ini manipulasi agar aku berdiri lebih dekat,” katanya.
“Baru sadar?”
“Aku sedang mengumpulkan bukti.”
Kami bergerak pelan di bawah bintang proyektor yang ditembakkan ke kabut. Sesekali retakan Astral Gate menelan cahaya, tetapi proyektor menggambarnya lagi. Aku menyandarkan kepala ke bahunya.
“Besok, setelah Last Astra, jangan cari aku,” katanya.
Aku berhenti.
“Jangan berani-berani.”
“Kalau aku masih ada tanpa ingatan, kamu berhak bebas dari siklus mengenalkan diri.”
“Itu bukan keputusanmu.”
“Nora—”
“Aku mungkin lupa kamu. Dunia mungkin lupa. Tapi kalau ada ruang kosong, aku yang memutuskan apa yang kulakukan dengan ruang itu.” Aku mengambil pita merah dari saku. Pita itu biasa kupakai mengikat gulungan konservasi. “Berikan tanganmu.”
Dia menurut. Aku mengikat pergelangan kami bersama, tepat di samping gelang namanya.
“Ini tidak akan bertahan terhadap konversi eksistensi,” katanya.
“Aku tahu.”
“Maka fungsi teknisnya?”
“Mengganggumu.”
“Berhasil.”
Aku menarik pita itu sampai tangan kami menempel. “Fungsinya membuatmu berjanji memilih hidup selama masih ada pilihan. Bukan hidup sebagai alat, bukan hidup karena aku minta, tapi karena kamu ingin melihat besok.”
Dia memandang simpul merah. “Dan kalau pilihan terakhir hanya Last Astra?”
“Kamu lakukan. Lalu apa pun yang tersisa darimu harus memilih hidup lagi.”
“Meski tidak tahu nama kamu?”
Tenggorokanku sakit. “Aku akan kenalan lagi.”
“kamu mungkin tidak ingat harus melakukannya.”
“Kalau begitu semoga aku masih punya kebiasaan buruk mendekati laki-laki menyebalkan.”
“Itu bukan rencana yang meyakinkan.”
“Satu-satunya yang kita punya.”
Kira mengaitkan jari kami. “Aku janji memilih hidup selama pilihan itu ada.”
Di bawah kami, jam kota melewati tengah malam.
Aku menyentuh wajahnya, memberi waktu untuk mundur. Dia tidak mundur. “Boleh?” tanyaku.
“Aku ingin.”
Ciuman pertama malam itu pelan, seperti pertanyaan. Ciuman kedua tidak meminta masa lalu kembali. Kira menarikku mendekat dengan tangan yang terikat pita, dan aku merasakan seluruh hal yang akan hilang: suhu kulitnya, cara napasnya tertahan sebelum dia mencium lebih dalam, jemarinya yang selalu menjadi lembut ketika menyentuh belakang leherku.
Aku tidak mencoba menghafal. Menghafal adalah bentuk lain dari ketakutan. Aku memilih berada di sana.
Ketika kami berpisah, dahinya tetap menempel pada dahiku.
“Kenalin diri kamu sekali lagi,” bisiknya.
Air mataku jatuh di antara kami. “Namaku Eleanora. Panggil aku Nora.”
“Aku Kira.” Dia melihat gelang, lalu menatapku. “Untuk malam ini, nama itu terasa milik aku.”
Kami duduk di lantai atap sampai kopi dingin. Tidak ada pidato terakhir. Kami membicarakan mi yang gagal, nama serangan buatan Mika, dan apakah bintang tetap ada saat matahari terbit.
Menjelang fajar, pita merah kami masih terikat.
Alarm BFA berbunyi pukul empat lewat tiga belas. Astral Gate memasuki fase penghapusan.
Kira berdiri. Wajahnya takut. Wajahnya juga tenang.
Dia tidak melepaskan pita itu.
“Waktunya?” tanyaku.
“Waktunya.”
Malam terakhir kami selesai bukan dengan salah satu dari kami pergi diam-diam.
Kami turun menuju Last Henshin bersama-sama.
- 1 Nama yang Hilang
- 2 Jangan Sentuh Sabukku
- 3 Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang
- 4 Matahari yang Memakan Bahagia
- 5 Suara Sebelum Tidur
- 6 Jalan Pulang
- 7 Rumah yang Tidak Kuingat
- 8 Kencan untuk Orang Pelupa
- 9 Air Mata yang Tidak Kumengerti
- 10 Kalau Aku Lupa Wajahmu
- 11 Kenalin Diri Kamu Sekali Lagi
- 12 Tujuh Core
- 13 Hari yang Hanya Diingat Satu Orang
- 14 Cium Aku Sebelum Hilang
- 15 Pemilik Pertama Astra
- 16 Adik yang Menyelamatkanku
- 17 Eclipse
- 18 Namamu Kira
- 19 Dunia Tanpa Rasa Sakit
- 20 Satu Janji Tersisa
- 21 Malam Terakhir yang Biasa reading
- 22 Last Henshin
- 23 Pahlawan yang Tidak Pernah Ada
- 24 Kita Bisa Mulai Sekarang